
"Sebenarnya aku sudah tahu apa yang terjadi di pesta kemarin"
Fia melihat heran pada Pria yang berlutut dihadapan nya.
"Apa? Tapi dari mana kamu tahu?"
"Pak Irwan"
Fia lupa kalau dia meminta Pak Irwan mengambilkan air minum tapi Pak Irwan tak pernah kembali.
"Pak Irwan tidak sengaja mendengar perdebatan kalian saat ingin memberikan minum untuk mu. Kemarin Pak Irwan tidak mengatakan apapun karena berpikir kamu yang akan mengatakannya sendiri padaku, Tapi hari ini saat Pak Irwan tahu kamu pergi dari hotel, dia pun menceritakan semuanya"
"Apa tepatnya yang Pak Irwan ceritakan?"
"Bahwa Dinda memaksamu meninggalkan ku, Bahwa Dinda mengancam mu dengan alasan proyek Resort"
"Ternyata Pak Irwan mendengar semuanya"
Ryan mengaitkan rambut Fia yang menutupi wajahnya kebelakang telinga.
"Kamu tahu betapa paniknya aku saat aku membaca pesan darimu?"
Kini tangan Ryan menggenggam tangan Fia yang gemetaran di atas lututnya.
"Dan apa kamu tahu kalutnya aku saat Pak Irwan menceritakan kejadian di pesta semalam? Seharusnya kamu katakan padaku, jangan merasakan sakit sendirian"
Fia masih tertunduk diam
"Aku tidak menyangka Dinda akan berlaku seperti itu, Aku terlalu bersemangat hingga mengabaikan perasaan mu, Maafkan aku ya"
Ryan menciumi kedua tangan Fia bergantian.
"Aku akan hentikan Proyek Resort nya, Aku takkan berhubungan lagi dengan Dinda"
Sofia mengangkat kepalanya menatap Ryan, Hal yang sejak tadi tidak ia lakukan.
"Tapi nanti kamu akan menderita kerugian besar dan Papa Ray juga takkan suka itu, Hubungan nya dengan Om Bagas juga akan canggung"
"Sofia, kapan kamu akan mengerti kalau bagiku yang terpenting adalah kamu, semua kekayaan yang aku punya takkan berarti kalau aku tak punya kamu, itu semua percuma, Lagipula kami juga pernah berada di ambang kebangkrutan dulu tapi buktinya kami bisa bertahan, Malah Azkaisar jadi semakin besar, Percayakan saja itu padaku, Dan soal Papa kamu jangan khawatir, Papa lebih sayang kamu dibandingkan aku, Anaknya, Papa paling benci jika ada yang melukai anaknya, Tenang saja dan serahkan semuanya padaku, justru ini lebih baik, kita bisa segera pergi ke London dan menemui ibumu untuk meminta ijin, kita bisa segera menikah, Kamu senang 'kan?"
Mendengar kata 'Segera menikah ' membuat Fia malu, ia tertunduk lagi demi menyembunyikan wajahnya yang pasti Semerah tomat.
"Sekarang katakan padaku, Kenapa kamu pergi kemarin malam?"
"Aku... Aku takut... Melihat punggungmu menjauh aku takut kamu akan pergi meninggalkanku seperti dulu"
Air mata Fia jatuh lagi, Ia sudah berusaha keras untuk menahannya tapi bayangan Ryan yang pergi meninggalkannya membuatnya sangat ketakutan, Ia biarkan saja air matanya mengalir walau matanya sudah bengkak.
"Aku tidak mau jadi orang yang ditinggalkan lagi kalau itu terjadi kurasa kali ini aku takkan bertahan"
"Kenapa kamu berpikir aku akan meninggalkanmu?"
"Aku... Aku sadar Dinda... Dia lebih segala-galanya dariku, dia lebih cantik, lebih pintar, punya karir bagus dan kalian punya status sosial yang sama, Apa.. Hiks... aku cukup untukmu? Apa kamu takkan malu memperkenalkan aku pada teman-teman mu bahwa aku hanya lulusan SMA? Bagaimana kalau suatu hari kamu bosan dan meninggalkanku?"
Susah payah Fia mengeluarkan isi hatinya, meski terisak dan terbata, Kata-kata itu mengalir begitu saja seperti air, Meski terdengar menyakitkan tapi entah kenapa hati Fia terasa lega seolah beban berat baru saja terangkat, Hal yang menggelisahkan dan membuat hatinya gusar keluar sudah meski ia tak benar-benar tenang, Paling tidak Ryan tahu apa yang selama ini menganggu pikirannya, Sebelumnya Fia hanya mengabaikan rasa ini tapi kehadiran Dinda membuatnya 'Terancam', merasa kecil jika dibandingkan dengan Dinda.
Ryan memeluk wanitanya yang sedang terisak, Hatinya pun remuk mengetahui kenyataan ini, Fia yang ia pikir baik-baik saja ternyata menyimpan luka selama bersamanya, Ryan merasa sudah melimpahkan nya dengan kasih sayang, memberikan semua yang ia butuhkan, Waktu dan Cinta ia berikan, Sekarang Ryan harus memikirkan apa lagi yang bisa ia berikan agar Fia nyaman.
"Aku takkan meninggalkanmu demi wanita lain atau alasan apapun, Aku sepenuhnya milikmu, hanya kamu"
Ryan menghapus lagi air mata Fia dengan tangannya, ah ia benci pemandangan ini, benci sekali melihatnya menangis padahal ia ingin menjadikan Fia wanita terbahagia di dunia, ia yakin sekali bisa melakukan itu namun ia gagal dengan sangat menyedihkan, Ia laki-laki yang gagal. Ryan menangkup wajah Fia dengan telapak tangannya yang hangat.
"Sofia, lihat Aku, Aku berjanji takkan pernah meninggalkanmu, Patahkan saja kakiku jika aku berniat pergi, 'ya"
Fia membuka matanya lebar-lebar karena tak menyangka Ryan berkata sampai seperti itu.
"Bahkan jika aku mati, jiwa ku akan selalu bersama mu"
"Yan....!!"
Fia menggelengkan kepalanya keras.
"Jangan berkata seperti itu..." Kata Fia memelas lebih seperti memohon.
Ryan menyatukan dahinya dengan Fia, mereka sangat dekat hingga hidung pun bersentuhan.
"I love you Sofia, I love you so much"
Ryan tak memberikan kesempatan untuk Fia menjawabnya nya, Ia menutup mulut Fia dengan menciumnya intens, berusaha meyakinkan Fia dengan sentuhan manisnya, menyegel bibir Fia untuk mensahkan janji-janji nya, Seperti biasa, Fia hanya mengikuti Ryan patuh tanpa menolak. Lama Ryan mencium Fia tak pernah terasa cukup sampai Fia sendiri yang menghentikan nya, Ia mendorong pelan dada Ryan agar menjauh dan Ryan akhirnya berhenti. Mereka saling menatap, memberikan waktu bagi keduanya mengambil napas, Ryan menyapu bibir Fia dengan ibu jarinya, membersihkan sisa Saliva di bibirnya.
Entah bagaimana mereka tiba-tiba sudah berbaring bersama di tempat tidur saling berhadapan.
"Kamu sudah lebih tenang?"
"Hmm .."
"Mendekat lah"
Ryan tawarkan lengan kirinya sebagai alas kepala Fia, lalu memeluknya ketika Fia dalam jangkauannya, Fia menutup mata karena kenyamanan yang diberikan Ryan lewat pelukan.
"Aku mengantuk"
Diciuminya puncak kepala Fia berkali-kali.
"Tidurlah, ada yang harus ku urus"
"Mau kemana?"
"Bicara dengan Papa, Aku akan mengakhiri semua yang berhubungan dengan Dinda, dia sudah berani melukai dan membuat wanitaku menangis "
Fia mendongak ke atas, wajah mereka begitu dekat hingga bisa merasakan napas masing-masing.
"Wanitaku..?" Tanya Fia sedikit tersipu-sipu
"Aku ingin panggil kamu istriku tapi kita belum menikah "
Tawa meledak diantara mereka, Ryan senang akhirnya Fia tidak sedih lagi, Inilah yang benar, Ketika Fia tertawa dan bahagia.
"Jangan pergi sebelum Aku tidur"
Ryan mencium kening dan turun ke hidung.
"As you wish, Love".
***
Setelah memastikan Fia tidur, Ryan menuju kamar Ray untuk bicara, Ia mengetuk beberapa kali, Terdengar suara Ray dari dalam.
"Siapa?"
"Ini Aku, Pah"
"Masuk"
Ryan menekan angka yang merupakan kode pintu kamar Ray, Ryan membuka pintu dan mendapati Sang Ayah sudah berpakaian rapi seperti akan pergi ke suatu tempat.
"Kebetulan kamu datang, Ayo ikut Papa makan siang, Sofia mana? ajak Fia sekalian"
"Sofia tidur, Pah"
"Sayang sekali, Apa Fia masih sakit? Padahal Papa ingin ajak kalian makan siang bersama Bagaskara dan Dinda, Semalam kamu pergi tanpa pamit dengan Dinda 'kan, anggap saja ini sebagai permintaan maaf"
"Pah, Ryan ingin bicara"
"Sudah tak ada waktu lagi, Ayo cepat jangan sampai membuat mereka menunggu lama"
Awalnya Ryan ingin menolak tapi begini juga bagus, Ia bisa langsung berhadapan dengan Dinda dan mengakhiri semua, walaupun mereka teman masa kecil tapi itu hanya berlangsung beberapa bulan saja lalu mereka berpisah selama belasan tahun, itu tidak cukup untuk mengetahui sifat masing-masing.
Setengah jam kemudian mereka sampai di restoran Jepang, Lokasi pertemuan antara Ray dan Bagaskara, Ternyata Dinda dan Bagaskara sudah menunggu mereka, Ray menghampiri meja mereka di ekori oleh Ryan.
"Bagas"
Ray menjabat tangan sahabat nya
"Kuharap Kami tidak terlambat"
"Tidak, Kami juga baru sampai, Halo Ryan"
Bagaskara beralih menyapa Ryan
"Halo, Om" Ryan menjawab ramah hanya demi kesopanan dan agar Ray tidak malu.
"Hai, Yan" Sapa dinda
"Hey.." Jawab Ryan singkat tanpa menatap Dinda.
"Halo, Om"
"Halo, Dinda, Kamu berdandan sangat cantik hari ini, Tapi Kamu 'kan memang selalu tampil cantik ya?" Puji Ray basa-basi.
"Ah, Om ini. Tentu kita harus selalu tampil cantik, Siapa yang tahu akan ada laki-laki baik yang tertarik " Dinda melirik Ryan yang tampak tak peduli.
"Apa ada yang kamu suka? Katakanlah, mungkin Om kenal"
"Ada yang Dinda suka. Om tapi dia masih tidak sadar"
Ray masih belum tersadar siapa laki-laki yang dimaksud Dinda
"Benar 'kan Om, Dinda cantik, laki-laki manapun pasti lebih memilih Dinda, Kecuali dia bodoh, Iya 'kan Yan?"
Ryan hanya terdiam menatap Dinda dengan raut wajah yang tak bisa di artikan.
***
Pesanan sudah sampai di meja, mereka menyantap dan menikmatinya kecuali Ryan, Ini adalah sushi kesukaannya tapi sulit sekali untuknya menelan, Sementara percakapan mereka berlanjut setelah makanan habis di atas meja, Ryan memikirkan bagaimana cara mengakhiri ini semua, Ryan sudah tidak tahan berada satu ruangan dengan Dinda karena selalu terbayang wajah Fia yang menangis karena wanita ini.
"Aku bangga sekali dengan Ryan, dia bisa membawa kesuksesan pada Hotel Azkaisar lebih dari Papa nya, Aku iri padamu Ray"
"Apa maksudmu? Dinda pun sangat pintar, Aku juga bangga padanya, Aku sudah menganggap Dinda seperti anakku sendiri, Aku juga ingin punya anak perempuan "
"Andai Ryan bisa jadi menantuku, Aku pasti akan sangat bahagia"
Ray dan Ryan saling tatap, Dari ekspresi Ryan, Ray bisa melihat kalau Ryan tidak berkenan dengan kata-kata Bagaskara karena Ray tahu seberapa besar cintanya Ryan pada Sofia, Ray masih berpikir positif, Teman kuliahnya itu memang suka bercanda.
"Kau lupa Ryan sudah bertunangan dan akan segera menikah, Kau juga sudah bertemu dengan Sofia 'kan?"
"Aku berharap Ryan mau menjadi menantuku, boleh 'kan?"
Ryan hampir membuka mulutnya untuk protes, Ia kesal sekali dengan Bagaskara tapi Ray mencegahnya, memberi gelengan pelan sebagai tanda.
Ray sepertinya tahu kemana arah pembicaraan ini, Ray meremas lutut Ryan karena ia juga sama kesalnya dengan Bagaskara.
"Bagas, itu sama sekali tidak lucu, Aku sayang calon menantu ku Sofia, Lagipula Dinda itu sangat cantik dan pintar, Dia bisa dapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari Ryan"
"Om, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan, Pasangan yang menikah saja bisa bercerai, apalagi hanya sekedar Pacaran atau Tunangan"
'Cukup!!' Teriak Ryan dalam hati, ia mengepalkan tangan menahan amarah, kalau saja ia tak bersama Ray mungkin meja itu sudah jungkir balik sekarang, Ayah dan putrinya sama saja, sama-sama tak tahu malu.
"Dinda, bisa kita bicara berdua saja" Kata-kata itu akhirnya keluar dari sela-sela gigi Ryan yang terkatup menahan marah.
Ryan bangkit dan berjalan menuju keluar restoran, Dinda tampak bingung, Ia memandang Bagaskara dan Ray secara bergantian sampai akhirnya mengikuti Ryan. Restoran itu sebagian besar terbuat dari dinding kaca sehingga orang yang didalam bisa melihat keluar tak terkecuali Ray dan Bagaskara, Mereka penasaran apa yang akan Ryan bicarakan dengan Dinda.
Ryan berhenti di bawah pohon yang cukup besar, Dada nya naik turun karena marah, Ryan mengambil napas lalu dihempaskan lagi, begitu berkali-kali agar ia tenang sampai Dinda ada di hadapannya.
"Kalau mau bicara kenapa harus keluar? langsung saja bicara, Kita kan bukan orang asing"
"Aku ingin membatalkan kerja sama kita"
Ryan tak mau berbasa-basi, Ia ingin segera mengakhiri ini dan menemui Sofia, entah kenapa ia sangat merindukannya.
"Apa?! Mana bisa begitu!! Aku sudah membayar uang muka para pekerja, Mereka akan mulai bekerja Senin besok, Proyek ini harus dilanjutkan atau aku akan rugi besar!!"
Dinda marah bukan hanya karena akan rugi tapi Proyek inilah yang akan mendekatkan Dinda dengan Ryan, Dinda tak mau kehilangan kesempatan ini.
"Aku akan bayar kerugiannya, berapapun itu, Aku tidak ingin melanjutkannya "
Dinda tidak bisa menyerah, Bagaimanapun ia harus bisa membujuk Ryan melanjutkan Proyek ini.
"Lupakan dulu kerugiannya, Bayangkan keuntungan yang akan kita dapatkan jika Resort ini di bangun, Kerajaan bisnis mu akan berkembang dan lebih sukses dari sekarang, Semua orang akan mengenalmu dan menghormati mu sebagai salah satu orang terkaya, Papa mu pasti akan sangat bangga "
"Aku tidak butuh lebih kaya dari sekarang, Dan Papa akan selalu bangga padaku dengan atau tanpa Proyek ini, Jadi, Ayo kita akhiri saja"
"Kamu gila ya?!!" Dinda semakin frustasi malah sampai memukul lengan Ryan saking gemas dengan nya yang keras kepala dan tak bisa dibujuk.
"Kenapa tiba-tiba ingin membatalkan perjanjian kita? Kemarin kita baik-baik saja, Bahkan kita dapat investor besar yang mau menanam modal, Hah?! Jawab!!"
Ryan membuang wajah nya ke sembarang arah.
"Aku tidak mau ada hubungan apapun pada orang yang menyakiti orang yang ku sayang"
Jawab Ryan tegas. Dinda butuh sedetik untuk memproses kata-kata Ryan, dan begitu ia mengerti, Wajahnya berubah dari marah menjadi mengejek.
"Apa yang dikatakannya? Wanita kampungan itu pasti menjelekkan aku 'kan? Dia menghasut mu supaya membenciku? Dia itu licik, Ular berbisa!!"
"CUKUP Dinda!! sejak tadi aku menahan diri karena menghormati Papa ku, Tapi sekali lagi kamu keluarkan kata-kata kotor untuk menghina Sofia, Aku takkan memaafkan mu!!"
Ryan hampir saja mengangkat tangannya ke wajah Dinda, Tapi Ia tersadar dan berhenti hanya beberapa inci dari pipinya. Dinda terlalu shock untuk membuka mata, tubuhnya gemetar ketakutan.
"Jangan hubungi aku lagi, Jangan dekat-dekat denganku atau Sofia, Semua yang berhubungan dengan pinalti pembatalan perjanjian dan ganti rugi akan diurus oleh pengacara ku."
Ryan berjalan melewati Dinda yang masih membeku di tempatnya, Terlalu shock untuk bisa bicara atau bergerak, Dinda tak menyangka reaksi Ryan akan seperti ini, Dia pikir kecantikannya bisa menggoyahkan hati Ryan, Jika mereka terus bersama, Dinda yakin Ryan akan memilihnya tapi kenyataannya jauh dari harapan.
Pemandangan itu juga tidak luput dari Ray dan Bagaskara, Mereka mengira-ngira apa yang membuat Ryan tampak begitu marah, Meski Ray mungkin sudah menebaknya, Kata-kata Bagas dan Dinda memang keterlaluan, Ray melirik Bagas, Wajahnya merah padam, wajar karena putri kesayangannya diperlakukan seperti itu, Ray menghela napas berat.
Ini akan jadi rumit. Dalam hati Ray berkata.
Ryan datang ke meja berniat untuk pamit, sebelumnya ia ingin meminta maaf pada Ray dan terutama Bagaskara.
"Om, Maaf untuk ketidaknyamanan nya, Tapi Aku tidak bisa melanjutkan Proyek Resort bersama Dinda"
"Apa maksudmu, Yan?" Tanya Ray terkejut.
Bagaskara memandangi Ryan dengan mata merah, Ia sekilas melihat Putrinya yang masih berdiri ditempat Ryan meninggalkan nya, Ia tak tahu apa yang terjadi?.
"Iya, Pah. Karena alasan pribadi Aku tak bisa bekerja sama dengan Dinda"
Bagaskara menggebrak meja dengan kasar, bunyi gelas terjatuh menggema ke seluruh ruangan, membuat semua mata beralih ke mereka.
"Omong kosong apa ini?!! Apa salah Dinda hingga kamu perlakukan seperti ini?".
"Om tahu benar apa yang salah, Bukankah Om dan Dinda yang memulai semua ini?"
"Ryan, Mana sopan santun mu?!"
Suara Ray pun meninggikan suaranya.
"Maaf, Pah" Ryan menunduk.
"Ini hanya salah paham, Kita bicarakan ini baik-baik 'ya"
Bujuk Ray pada Ryan dan Bagaskara.
"Ayo duduk dulu"
""Maaf, Pah. Tapi Ryan harus pergi menemui Tunangan Ryan, Sofia."
Ryan sengaja menekankan kata Tunangan sambil melirik Bagaskara.
"Om. Ryan harap kedepannya jika bertemu kita tidak perlu bertegur sapa dan urusi saja urusan kita masing-masing"
Lalu Ryan melangkah meninggalkan restoran.
"Ryan, tunggu!"
Ray pun mengikuti anaknya meninggalkan restoran, ditatapnya Dinda yang masih tidak bergerak. Ray mengejar Ryan sampai ke tempat parkir dan masuk ke mobil.
"Kita pulang Pak Ray?" Tanya Iman, Supir pribadi Ray.
"Kembali ke Hotel" Jawab Ray.
"Kamu kenapa sih? Papa tahu kamu kesal, Papa juga kesal dengan Bagas, Tapi reaksi mu berlebihan, Sampai-sampai membatalkan perjanjian, Proyek itu akan dimulai besok, Kamu tidak memikirkan kerugiannya? rugi waktu, rugi uang!!"
"Ryan punya alasan Sendiri, Pah"
Ryan menjawab tanpa melihat Papa nya malah melihat keluar jendela, Ryan hanya bersikap tegas, Ia tak mau Dinda atau siapapun di masa depan memandang rendah Sofia, Jika segini saja Ryan tak bisa melindungi Fia, Lalu apa yang bisa ia banggakan sebagai seorang Pria? Karena itu Ryan tak bisa memaafkan Dinda, Keamanan dan kenyamanan Sofia adalah yang utama.
"Alasan apa? alasan pribadi? Kamu harus bisa membedakan urusan pribadi dan bisnis, bisa kacau kalau seperti ini!! Lebih baik sekarang Kamu minta maaf dengan Dinda dan Bagas lalu lanjutkan kerjasama kalian"
Ryan menoleh ke arah Ray.
"Maaf, Pah. Ryan tidak bisa melakukan itu"
Ray memijat pangkal hidungnya, Ia hanya bisa menghela napas berat. Ryan kalau sudah memutuskan sesuatu akan sulit diubah, Ryan keras kepala sama seperti dirinya.
"Paling tidak berikan Papa alasannya"
Tanya Ray pasrah.
"Dinda sudah menyakiti Fia, Pah."
Ya, untuk apa ditutup-tutupi, Ray juga akhirnya akan tahu dan semakin cepat akan lebih baik, Ryan yakin sang Papa akan berpihak padanya.
Ryan menceritakan semua yang ia tahu lewat Pak Irwan dan juga kejadian semalam saat Fia pergi dari Hotel, Ray terkejut lalu kemudian memasang wajah datar.
"Papa tidak menyangka kejadiannya seperti itu, Lalu sekarang Sofia bagaimana? baik-baik saja kan?"
"Sudah lebih baik, Ryan meninggalkan nya saat Fia tidur tadi"
Ray tampak sedang berpikir, entah apa yang ia pikirkan dengan begitu serius.
"Pah, Maaf kan Ryan, Kejadian ini pasti membuat hubungan Papa dan Om Bagas jadi serba salah "
Ray mengibaskan tangannya di depan wajah.
"Jangan pikirkan itu, Buat Papa yang terpenting adalah kebahagiaan kalian, Kamu dan Sofia, Papa berhutang banyak padanya karena berkali-kali menyelamatkan nyawamu, Kamu harus menjaganya, buat Fia nyaman dan bahagia, Papa akan mendukung apapun keputusan Kamu"
"Pasti, Pah. Dan terima kasih atas pengertian Papa".
Ryan tersenyum tenang, Bersyukur memiliki Papa yang bisa mengerti dan mendukung nya. Pantaslah Ray diberikan kehormatan sebagai Papa terbaik setelah semua perjuangan dan pengorbanannya demi Ryan.