Hey Sofia

Hey Sofia
What lies beneath




~ life is sucks and then you die ~


****


sofia tak ingat bagaimana ia sampai di rumah, di dalam kamar yang hanya diterangi cahaya bulan dari balik jendela fia menangis tanpa suara, ini adalah lelucon yang gila!!


mana boleh nasib mempermainkannya dengan kejam begini? hatinya seperti di sayat-sayat dan ditaburi garam dengan niat untuk menyakitinya, andai itu bukan Ryan, fia pasti dengan senang hati membencinya, tapi ini Ryan......


sekuat apapun fia menolak inilah kebenaran, lalu apa yang harus ia lakukan? membenci seseorang dengan hati yang sama yang di gunakan untuk mencintainya, apa itu bahkan mungkin? semakin fia memikirkannya semakin keras ia menangis, ia membungkam mulutnya dengan kedua tangan, menahan agar suaranya tak keluar.


karena lelah menangis, fia tertidur diatas bantal yang basah. ke esokan pagi nya tubuh fia terasa panas karena demam, lili yang khawatir sengaja mengambil cuti untuk merawat putri kesayangannya, meski lili menyadari mata fia yang bengkak tapi ia tidak menaruh curiga,


karena sifatnya yang tak tahan dingin, fia sering sekali demam, itulah mengapa lili selalu menyetok obat dirumah mereka untuk keadaan seperti ini, sementara untuk demam nya, banyak tidur akan membuatnya lebih cepat pulih, tapi bagaimana dengan sakit nya yang lain? oh, andai ada obat untuk sakit di hatinya itu.


sebuah kejutan manis dari teman-temannya memasuki pintu kamar fia, sebuah pengalihan sempurna yang fia butuhkan, dan benar saja, dengan kehadiran Rani tak mungkin kamar itu jadi sepi.


"tadinya kupikir karena kau dan Ryan menghilang selama 2 hari kalian liburan bareng" begitu rami menyebut Ryan, wajah fia berubah masam, ia tertunduk lesu.


"ku dengar Ryan di rawat di rumah sakit" lanjut Gema, fia hanya bergumam "mm" bahkan ia tak mampu menarik sebuah senyum sederhana jika sudah menyangkut Ryan,


"ya ampun, sekolah bareng, kemana-mana bareng sampai sakit pun bareng, kalian pasangan yang tak terpisahkan ya"


putri sejak tadi mengawasi fia, ia selalu menjadi yang paling sensitif dan hanya dia lah yang merasakan ada yang salah, matanya memerah tapi bukan karena demam, putri memegang tangan fia dan terkejut, ternyata fia gemetar karena menahan tangis, "fia ada apa? kau merasa sakit?" begitu putri bertanya, Rani, Gema dan ayu menjadi tegang, fia hanya menggeleng tapi tangis nya tak terbendung, Gema mengusap punggung fia dengan kekhawatiran "sofia, kamu ga pa-pa?".


"aku..... aku..." sebenarnya fia juga tidak yakin apa yang harus ia katakan, karena ia tak tahu status hubungan mereka saat ini, tapi semua hal sepertinya membalikkan badan dari fia, seolah tak ada harapan untuk hubungan mereka hingga tak ada pilihan selain bilang putus. ".... dan Ryan putus" sesaat hanya ada keheningan kecuali suara isakan fia,


fia membuat kata putus terdengar sangat menyedihkan, seperti sungai yang mengalir dengan alami, fia menceritakan semua pada teman-teman nya, dari mulai kecelakaan sampai kebenaran yang ia baru tahu semalam, putri mencoba menghiburnya,


"fia, apapun yang akan kau lakukan, kami akan mendukung mu, ingat kau tidak sendirian, ok. jangan sedih lagi ya" kelima sahabat itu membentuk bola besar di atas tepat tidur saat mereka memeluk fia bersamaan.


fia selalu bersyukur ia mengikuti saran Ryan waktu itu untuk mencoba berteman, kini ia punya sahabat yang benar-benar tulus saling menyayangi dan di saat seperti ini mereka memberikan kehangatan yang fia butuhkan, namun ketika tiba waktunya fia sendirian, perasaan sedih mengusik ketenangan nya lagi, ia tak bisa bersikap seolah tidak peduli pada Ryan, bagaiman kabarnya? apa ia sudah sadar? apa ia menanyakan nya? tapi apa semua itu penting sekarang?


Dari balik selimut nya fia mendengar suara pintu di buka dan langkah kaki mendekatinya, begitu fia berbalik, Louis sudah duduk di sisi tempat tidurnya, ia terlihat sangat bercahaya di kamar fia yang temaram


"ibu menelpon, katanya kau sakit" ini lah tipikal Louis, tak peduli sesibuk apa dia jika itu menyangkut fia, dia akan melupakan segalanya, fia adalah prioritas nya yang paling utama.


fia duduk bersandar di kepala ranjangnya, dan menjawab singkat dengan "mm" yang sederhana, Louis mengecek dahi fia dengan tangannya, suhu tubuh mereka yang kontras membuat fia merinding,


"kau sudah lebih baik?" andai fia bisa mengatakan ia baik, tapi tidak, semuanya tidak ada yang baik, semua kacau dan berantakan, fia tertunduk dan merasa heran kenapa hari ini ia tidak bisa berhenti menangis? air matanya terus saja mengalir tanpa ada tanda-tanda akan kehabisan


"apa ada yang salah? dimana kau merasa sakit?" tanya Louis panik, fia menggeleng malas


"kak, fia sudah tahu semuanya"


"tahu apa?"


"tentang kecelakaan.... tentang Ryan... semuanya"


"apa..... bagaimana?.... siapa yang memberi tahu mu?"


Louis yang biasanya dingin dan tenang bisa menjadi gugup dan panik seketika dengan satu kalimat itu, bagaiman tidak? Louis susah payah menutupi itu dari fia, mencegahnya dari terluka,


tidak banyak yang tahu soal Ryan, hanya lili, Louis dan Ray, dua orang itu tidak mungkin maka yang tersisa hanya....


"apa itu Ray?" wajah Louis berubah serius.


"Hem..." fia tersenyum ironi "karena itu kan kakak bilang Ryan ga baik buat aku... kenapa ga bilang langsung aja sama fia kak?"


Louis membawa fia dalam pelukannya, tubuh kecil fia yang gemetaran menemukan kenyamanan dalam dekapan Louis, ia tak menahan diri dan mengangkat tangannya di sekitar pinggang Louis, "aku Hanya mencoba melindungi mu"


"lindungi fia kak, hati fia sakit.... sakit sekali sampai fia ga kuat, ini keterlaluan.... apa fia tidak pantas bahagia?"


Louis menarik fia menjauh, merengkuh wajahnya dan menatap fia tajam dengan matanya yang coklat dan menenangkan


"kau pantas untuk bahagia, jangan pernah berpikir sebaliknya"


"lalu ini apa? fia ga ngerti, kenapa harus Ryan? setiap kali fia ingat kecelakaan itu atau saat fia ingat Ayah, hati fia sakit dan kalau fia ingat Ryan, hati fia hancur, fia ga bisa benci Ryan, fia juga ga sanggup tanpa dia, lalu apa yang harus fia lakukan? bilang sama fia kak, fia harus gimana?" suara tangis nya teredam di dada louis yang lebar, perasaan putus asa menguasai fia dan mengambil alih sepenuhnya saat akhirnya kalimat itu keluar dari mulut fia,


Louis selalu bersikap tenang dan tidak peduli tentang apapun, jika sesuatu terjadi ia hanya akan menganggap itu tidak pernah ada dan berlalu pergi, namun ada satu yang memicu kemurkaan nya, yaitu tangisan fia, saat ini jari-jarinya melengkung membentuk kepalan begitu dalam hingga terasa sakit.


fia tertidur dalam pelukan Louis, tangannya sedikit kebas saat ia membaringkan fia dengan hati-hati, Louis memandangi fia dan berkata pada dirinya sendiri.


"aku akan melindungi mu, aku akan mengobati sakit mu, aku akan membuat mu melupakan segalanya, kau hanya harus bersandar pada ku, akan kulakukan semua untukmu" Louis membelai rambut fia dan mencium nya di kening sebelum ia melangkah keluar.


Louis sudah mempunyai rencana, tapi untuk itu Louis membutuhkan bantuan Lili, tak ada pilihan lain selain mengatakan semuanya pada Lili, di tengah malam Lili mengendap-endap tanpa suara ke kamar Sofia, ia menatap nanar pada putri tercintanya, Louis sudah menceritakan semua dan ia tak bisa menahan rasa sedih untuk putrinya, betapa malang situasi yang dihadapi fia, betapa sakit Lili melihat nya menderita.


di tatap nya wajah fia dan kesedihan mendalam merasukinya, Lili dengan terburu-buru keluar dari kamar fia sebelum tangisannya membangunkan fia. setidaknya dalam tidur ia merasa sedikit damai, paling tidak dalam mimpinya ia tidak merasa kesakitan, jadi biarlah ia tidur lebih lama.


****


Hal pertama yang Louis lakukan ke esokan paginya adalah bertemu Ray, melihat wajah Louis yang dingin dan arogan Ray bisa tahu maksud kedatangannya. Louis pun tak mau basa-basi


"Sofia sakit, ia demam sejak kemarin"


"aku turut sedih mendengarnya" Louis mencibir Ray terang-terangan


"oh, yang benar saja, apa kau berusaha membodohi ku? kau lah yang menyebabkan Sofia sampai sakit, apa yang kau harapkan setelah mengungkapkan kebenaran nya? bahwa fia akan melompat kegirangan?"


"aku tidak mengharapkan itu, aku hanya ingin melindungi anakku" bahu Louis menegang menahan amarah, ia mengeram dan dari sela-sela giginya yang terkatup ia berkata


"kau, **** tua egois !! Sofia adalah korban dan kau sekali lagi mengorbankan nya hanya untuk melindungi anakmu? apa kau sudah benar-benar gila? apa hati nurani mu sudah mati sampai kau harus bergantung pada gadis itu dan menghancurkan bukan hanya hidupnya namun juga hatinya sekali lagi, kau sungguh tak tahu malu!! seorang presiden dari kerajaan hotel internasional menindas gadis kecil untuk kepentingan nya sendiri"


Ray secara mengejutkan tetap bersikap tenang, ia sepenuhnya sadar apa yang ia lakukan pada Sofia dan ia pantas untuk mendapat cacian dari Louis, tapi ia hanyalah seorang Ayah yang sangat mencintai anaknya, Louis takkan paham. karena itu Ray hanya akan menerima semua kata-kata sampah yang keluar dari louis dan menelan nya,


"aku mengerti kau marah....." meja kopi di depannya bergetar berkat tinju Louis yang mendarat disana


"aku.... marah......? oh, kau akan berharap tidak pernah melihat ku marah, karena untuk Sofia aku akan membalikkan dunia jika perlu"


"Ryan bisa mati..... trauma dikepala nya akibat kecelakaan itu muncul kembali, menurut dokter itu di picu gejolak emosional nya belakangan ini"


sejak Ryan bersama sofia, hatinya dipenuhi rasa bahagia yang meluap-luap, bahkan rasa cintanya terlalu besar untuk hatinya yang kecil, pikirannya hanya tertuju pada Sofia, ia membutuhkan fia seperti ia membutuhkan udara untuk bernapas, Sofia mengalir disetiap nadinya, membawanya langsung ke jantung dan membuatnya terus berdetak, sayang. perasaannya yang terlalu kuat membuat alam bawah sadar Ryan mengenali fia dan bereaksi terhadapnya.


6 tahun lalu, Ryan dan Sofia berbagi ruang IGD yang sama setelah kecelakaan, saat dokter memberi tindakan padanya, Sofia pun dalam proses untuk diselamatkan, setengah sadar Ryan melihat lampu terang di atas kepalanya, seluruh badannya kesakitan tapi ia tak punya tenaga untuk berteriak namun telinganya mendengar sejelas dan senyata rasa sakitnya, bajunya di koyak, sesuatu seperti metal yang dingin menyentuh kulitnya, dalam kesakitan ia melihat seorang gadis di sebelahnya....


gadis itu sangat polos dan cantik, tapi matanya tertutup dan wajahnya dipenuhi darah yang mengalir dari kepala nya, lalu pandangannya tertutup tirai yang ditarik oleh salah satu perawat, Ryan tidak pernah bertemu lagi dengan gadis itu sampai takdir sendiri yang meletakkan nya di tangan Ryan, dalam sosok bernama Sofia.


"karena itu.... karena itu aku melakukan ini, aku hanya ingin menyelamatkan nyawa anakku, hanya itu" kesedihan mendalam terdengar dari kata-kata Ray, seorang ayah akan melakukan apapun di anaknya, itu terdengar wajar....


Louis melonggarkan tubuhnya


"kalau begitu bawa anakmu pergi dari sini, bagaimana pun caranya,ia tidak boleh berkeliaran disekitar Sofia lagi atau kupastikan ia takkan selamat!"


"aku pasti akan membawa Ryan pergi, beri aku waktu, paling tidak sampai Ryan Lulus"


"pastikan kau pegang janji mu!!