Hey Sofia

Hey Sofia
Aku peduli pada nya? Yang benar saja!!



Author POV.


Sedetik kemudian Fia sudah bisa mengendalikan perasaan nya, ia memasukkan form karir itu ke dalam tasnya dengan kasar seperti membuang sampah. Pak Arif sudah meninggalkan ruang kelas karena sebentar lagi jam istirahat.


Dengan ekspresi bosan Fia memasukkan tangannya ke kantung jaket Hoodie yang biasa dia pakai ke sekolah, bersandar kebelakang dan merentangkan kakinya


"Hah.."


menghela napas panjang ....


Pandangannya beralih dari jendela ke sekelompok anak perempuan yang ribut soal cafe yang baru buka didekat sekolah.


"Katanya tempatnya asyik, enak dijadiin tempat hang out, Instagramable lagi, yuk kita kesana".


Rani si gadis manis itu sedang berusaha membujuk teman-temannya.


"Nantilah kalau sudah dapat uang jajan lagi ... uang jajan ku habis, he..he..he". Gema menolak halus, Gema anak paling imut dikelas ini meskipun usianya 16 tahun tapi tubuhnya seperti anak SMP, dia benar-benar mungil dan cantik.


"Ah elah... kamu maksa kesana karena ada waiters yang ganteng itu kan?". Berbeda dengan Gema yang mungil. Ayu justru sangat tinggi, gadis berambut pendek itu tingginya 171 cm dan merupakan atlet voli kebanggaan sekolah, sedikit tomboy tapi sangat cantik.


"Ya... itu bonus nya".


Elak Rani sambil tersenyum genit. Sedangkan Putri yang sedari tadi sibuk dengan make up-nya akhirnya buka suara.


"Udah... Kita pergi kesana pulang sekolah, aku yang traktir".


Putri menaruh Compact powder diatas meja


"Aku baru dapat bayaran".


Putri memamerkan Ponsel yang menampilkan aplikasi M-banking kepada ketiga temannya. Lalu mengedipkan matanya.


"Aasyikkk.... "


Rani yang kegirangan memeluk Putri sahabatnya yang juga seorang model itu. sedikit menyesakkan karena terlalu banyak mahluk cantik dikelas ini.


Aku juga pernah seperti mereka punya sahabat yang selalu menemani dalam keadaan apapun, selalu support... teman untuk tertawa, menangis, penghapus air mata, persis seperti mereka... dulu, saat semua terlihat mudah dan baik-baik saja. ingatanku ini membuat napasku semakin berat dan menghela napas tidak meringankan dadaku sama sekali, lalu pandangan ku perlahan kabur, terhalang genangan air mata, membuatku tak bisa melihat dengan jelas anak-anak yang sedang bermain bola basket dibawah sana.


**ai**r mata sialan ini...


Buru-buru Fia menghapus air matanya sebelum jatuh, saat itulah Ryan melirik.


Bel istirahat berbunyi anak-anak berhamburan keluar dan kelas pun sepi seperti yang Fia inginkan. Ia menumpuk beberapa buku diatas meja dan dengan malas merebahkan kepalanya disana. Dia tertidur....


rambutnya yang tertiup angin membelai-belai wajahnya, rasanya gatal sampai Fia kesal, seingatnya ia sudah menutup jendela.


Ryan POV.


Seharusnya aku menikmati makan siangku dengan tenang di kantin tapi bayangan bunga yang menangis membuat ku tak tenang dan nafsu makan ku hilang, apa dia baik-baik saja? dia bahkan tidak makan siang, ah aku kesal sendiri dan menghantam sendok di meja, sejak kapan aku khawatir dengan anak itu?


Bisa gila!!!


Itu Fia, duduk ditempat nyamannya dalam posisi favorit nya, aku mendekati nya pelan-pelan tidak mau ia kaget dan terbangun, aku berdiri cukup dekat dengan nya, anak ini biasa saja, tidak ada yang spesial padanya kecuali kulitnya yang putih bersih, pipinya yang mulus dan kemerahan, alisnya yang tebal dan rapi alami, bulu matanya panjang dan lentik, hidungnya mancung sempurna dan bibirnya ... bibirnya penuh dan merekah....


deg


"ah sial"


Aku memegang dada ku dan menoleh ke jendela mencoba menormalkan kembali irama jantung ku yang ga karuan, aku menghela napas hu...ha...hu..ha..


setelah kembali normal aku memandang gadis itu lagi dan tanpa paksaan aku tersenyum, hampir 10 menit aku berdiri seperti orang bodoh di sana, merasa iri dengan keringat yang meluncur mulus dari dahi nya.


ah.... ia kepanasan....


Ku buka saja jendela nya, aku duduk didepannya, kami hanya berjarak satu meja tempat ia menaruh kepalanya, ia tampak terganggu dengan rambutnya yang tertiup angin, alisnya bertaut dan dahinya mengerut, apa ia kesal?


dia imut


Author POV.


Fia membuka matanya kesal, terkejut karena Ryan duduk tersenyum didepannya, dalam hati Fia bertanya


Kenapa ia tersenyum? Dan sejak kapan dia disini?


"Sudah bangun?". Tanya Ryan. Tanpa berniat menjawab Fia malah balik bertanya.


"Kamu yang buka jendela nya?" Ketus Fia. Gadis itu kesal karena tidurnya terganggu.


Ryan mengangguk...


"Kamu kepanasan, tuh lihat keringatnya banyak".


Dengan sapu tangannya Ryan hendak mengelap keringat Fia, Fia refleks menghindar lalu Ryan melempar sapu tangannya.


"Tuh, lap sendiri aja kalau ga mau di lap in"


Sapu tangannya harum, aroma khas pantai yang sejuk dan menyegarkan, ini aroma tubuh Ryan, pasti pafume nya mahal sedangkan Fia hanya memakai minyak telon sehabis mandi.