Hey Sofia

Hey Sofia
His Selfish First Kiss



halo readers 😊...


udah lama ga nyapa 😆😆


terima kasih masih menunggu kelanjutan cerita hey Sofia 🙏🙏


happy reading 🤗


hope you like it.


---------------------------------------------------------


''Kau boleh menganggap ku egois, tapi yang ku inginkan hanyalah cintamu''


****


Kau takkan pernah bisa lepas dari masa lalu, mereka meninggalkan kepingan-kepingan yang berserakan di sepanjang jalan yang bisa kau lihat setiap kali kau menoleh ke belakang, beberapa hal membuatmu tersenyum, beberapa yang lainnya mengingatkan mu tentang rasa sakit dan pasti ada semburat rasa penyesalan, seharusnya aku begini atau mestinya dulu aku begitu, itu 2 pertanyaan yang paling sering dilontarkan jika kau mengingat tentang masa lalu, bagaimana hidup mu Sekarang akan berubah jika dulu kau mengambil keputusan yang berbeda, berapa kali kau berharap tentang mesin waktu itu nyata? berapa banyak kesalahan yang ingin kau perbaiki? pertemuan yang seharusnya dihindari atau ucapan selamat tinggal yang mestinya tak perlu di katakan.


fia tak pernah benar-benar memikirkan itu sebelumnya, selain kenyataan paling menyedihkan yaitu kehilangan sang Ayah, semua yang terjadi dalam hidup nya baik-baik saja, ditemukan Louis mungkin adalah yang paling menempel di kepalanya, sejak usia 7 tahun fia tak pernah kenal arti kesepian karena Louis tak pernah jauh dari sisi nya tapi apa ini cinta? fia selalu memikirkan Louis dengan dada yang berdebar tapi apa ini cinta? saat Louis tak ada fia merindukannya tapi apa ini yang disebut cinta? dan bukan karena fia terbiasa akan kehadirannya?


Louis sudah 10 tahun menyayangi nya, ingin selalu memanjakan nya meski fia kadang bertingkah atau mendorongnya ke ujung kesabaran, Louis akan menerima semua tanpa keluhan, ini kan yang namanya cinta? bahkan setelah terpisah lebih dari 11.000 kilometer jauhnya ia masih Louis yang sama, walau musim berubah tapi perasaan nya kepada fia tidak, bukankah ini yang namanya cinta?


entah sudah berapa kali fia menolak nya, mendorongnya jauh dan bahkan menyakitinya Tapi Louis tak bergeming, bagi Louis baik itu dari dekat atau jauh, ia hanya ingin melihatnya, ia sudah pernah hidup tanpa bisa melihat fia dan percayalah itu menyiksa, dan sekarang ketika fia ada di hadapannya ia tak lagi bisa melepaskan nya tanpa perlawanan, ia berjanji untuk tidak membebani nya dan mengingatkan fia tentang masa lalu mereka mungkin tindakan yang ceroboh.


fia terdiam sejak meninggalkan restoran tanpa mengatakan satu kata pun seolah Louis tak ada disana, begitu Louis mengatakan tas punggung wajah fia berubah masam, ia tak lagi tertawa hanya sesekali tersenyum tipis dan kemudian fokus pada makanan yang sering nya cuma diaduk-aduk, Louis menyadari perubahan fia dan merasa kesal sendiri


Louis mengambil rokok pada satu tangan sementara tangan yang lainnya berada di stir pengemudi, dengan mahir ia menyalakan rokoknya dan menghisapnya seolah sudah biasa, Louis menurunkan kaca jendela mobil dan asap mengepul keluar melalui jendela seperti lokomotif,


fia bersandar dengan kepala ke belakang, melihat dari balik jendela pemandangan langit yang berwarna oranye kehitaman, pikirannya melayang keluar tubuhnya, fia sudah berusaha keras, menekan dan menghilangkan perasaan nya pada Louis yang ia sendiri tak yakin perasaan apa itu, cinta kah? atau hanya kenyamanan? yang ia tahu perasaan itu salah dan sudah seharusnya di lenyapkan meski dengan cara yang juga membuatnya hancur.


lagi-lagi fia bersikap egois, fia masih memiliki Ryan sedangkan Louis hanya memiliki dirinya sendiri, ia tak berani memandang Louis secara langsung, ia hanya melihat Louis dari pantulan kaca jendela dan seketika itu dadanya terasa sesak, fia baru berkedip setelah matanya terasa perih karena terlalu lama memandang Louis, ia merasa sangat jahat dan hina begitu menyadari ia menyayangi dua orang di waktu bersamaan dan dengan hati yang sama pula,


setelah lama ia menyangkal nya dan menahan nya sekuat tenaga akhirnya ia luluh, ternyata selain jahat dan hina ia juga lemah, fia menutup mulut dan matanya, tangannya membentuk kepalan me remas bagian bawah rok nya dengan kekuatan penuh hingga tukang tangannya menonjol dengan cara yang menyeramkan, seperti ada tangan tak kasat mata mencengkram hatinya yang kurang ajar karena dengan egoisnya mencintai mereka berdua, lalu dada fia seperti terhimpit dan sakit, apa yang harus ia lakukan? fia tahu apa yang ia mau dan ia yakin tentang itu, tapi itu berarti juga membuat yang lainnya tersakiti, siapapun pilihan fia, hasilnya akan tetap sama yaitu ada dua hati yang hancur, satu miliknya dan yang satu milik .....


bulu matanya yang panjang mulai bergetar dan bibirnya bergerak ke dalam, fia menahan tangis, ia tak boleh menangis disini, tidak saat Louis bersamanya, akhirnya fia menahan dirinya,


pikiran fia tertarik kembali ke dalam tubuhnya saat Louis memanggil namanya


"Sofia...?" fia membuka mata dengan sangat pelan dan kepalan tangannya meregang, pandangannya masih keluar jendela, kini langit sudah benar-benar hitam gelap tanpa ada cahaya bulan, lampu-lampu jalanan yang temaram mulai dinyalakan dan Louis masih menghisap rokok nya dengan gelisah,


"Hem..." fia menjawab tanpa bergerak, ia tak berani menoleh ke arah Louis, ia mengambil hisapan panjang terakhirnya, mematikan rokoknya di asbak dan meniupkan asap nya keluar jendela, Louis melihat fia, berpikir sejenak lalu berkata


"ada yang menganggu pikiranmu?" meski Louis tahu apa yang sebenarnya berkecamuk di kepala fia tapi ia bertanya agar Fia mau terbuka padanya, fia hanya menggeleng "tidak ada".


"so quite...." Louis meraih tangan fia dan menggenggam nya, fia terkejut tapi membiarkan tangan Louis disana,


"cuma mau cepat sampai rumah saja" perjalanan pulang memakan waktu yang lebih lama karena lalu lintas yang padat, mereka baru saja makan siang tapi saat waktunya makan malam mereka masih di jalan


"apa kau lapar? kau mau makan malam?" kembali fia menggeleng tapi kini dengan senyum di wajahnya, Louis menjawab singkat "ok"


lalu pandangannya kembali ke luar jendela dan keheningan melanda mereka, tak ada suara kecuali suara helaan napas mereka yang berat, Louis kembali mengambil rokok dan menghisapnya.


jam 7.30 tepat Louis memarkirkan Porsche hitam nya di depan rumah fia, ia beralih pada fia yang terlelap dengan mulut sedikit terbuka dan kepala bersandar di kaca, alih-alih membangunkan fia, Louis memilih menghisap habis rokoknya sampai ke ujung filter dari entah batang yang ke berapa, Louis bersandar dan melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 8.00.


tanpa adanya tanda-tanda fia akan segera terbangun Louis membuka seat belt nya dan memajukan dirinya untuk membangunkan fia, Louis mengguncang pelan bahu fia, fia mengeram protes dengan mata masih tertutup karena tidurnya diganggu, lalu Louis kembali mengguncang nya sedikit lebih memaksa, bukannya bangun fia malah bergeser dan kepala nya berpaling dari jendela menghadap ke wajah Louis begitu dekat dengan tiba-tiba sampai hidung mereka bertabrakan.


Louis tersentak dan menarik dirinya menjauh secara refleks, jantungnya berdetak semakin kencang dan tak karuan, Louis merengkuh wajah fia dengan kedua tangannya, fia masih terlelap tak sadar dengan apa yang ia lakukan terhadap Louis, wajahnya begitu polos dan cantik saat jatuh ke dalam mimpi, Louis selalu bisa menahan diri terhadap fia dan ia bangga akan hal itu, tapi sekarang bolehkah ia sedikit egois? Dengan wajah fia yang begitu dekat, bolehkah ia bersikap pengecut?


Louis hanya memandangi fia cukup lama dan dengan berani ia semakin mendekat pada fia hingga tak ada jarak diantara mereka, bibir Louis bergetar saat menyentuh bibir fia, Louis menutup mata dan mencium nya, tangan Louis gemetar di pipi fia, ini adalah ciuman pertama nya dengan gadis yang sangat di cintai nya, yang sangat diinginkan nya dan bisa menciumnya adalah mimpi yang menjadi nyata, Louis tak tahu mencium seseorang bisa seindah ini


Dada Louis membuncah bahagia dan sontak membuka mata saat fia membalas ciumannya, apa fia sudah bangun dan secara sadar menciumnya? tidak, fia masih tertidur lelap dan dalam mimpinya ia mencium seseorang, rasanya nyaman tapi semakin lama terasa makin nyata, fia mengernyitkan dahi nya dan memaksa matanya untuk terbuka


Yang dilihat fia adalah sepasang mata coklat yang paling indah, dalam setengah sadar fia mengikuti gerakan bibir Louis dengan pasrah, fia seolah tenggelam di dalam mata teduh yang ia kenal sampai ia kehabisan napas. Tunggu, dalam mimpi ia bisa kehabisan napas? mata fia melebar begitu sadar ia tidak sedang bermimpi, dengan sekuat tenaga fia mendorong dada Louis dengan kedua tangannya dan berteriak


"Kak...!!".


°


°


°


°


°


°