
"You look beautiful"
Adalah kata-kata pertama yang Ryan ucapkan saat melihat Sofia dengan gaun pesta nya, Ia terpesona, menatap tak berkedip Sofia yang dibalut gaun simple dan tertutup namun melekat pas ditubuhnya yang hanya setinggi 162 cm, gaun warna Champaign yang berbentuk seperti bunga mekar terbalik itu memancarkan keindahan kulit Sofia membuatnya semakin berkilauan, bahkan make up tipisnya pun sempurna.
"Terima kasih, you're beautiful too"
Sofia bilang beautiful karena Ryan memang sangat indah, meski memakai tuxedo yang senada dengan Fia tak mengurangi gagahnya seorang Ryan Aji Prasetya, rambutnya kelimis dan ditarik kebelakang, wajahnya bersih dan senyumnya yang menawan seperti dewa-dewa Yunani kuno.
"Nothing compare to you my lady"
semburat merah muncul di pipi Fia kala Ryan mencium punggung tangannya tanpa mengalihkan pandangannya pada Fia, merasa malu dengan pujian Ryan, Fia mencoba mengalihkan perhatiannya.
"Ayo, Papa pasti sudah menunggu kita kan?"
"Sayang sekali, kau sudah secantik ini, bagaimana jika kita kencan? aku ingin menghabiskan waktu hanya berdua denganmu"
"Lalu pestanya? lagipula Papa sangat menantikan pesta ini kan? Bertemu dengan Om Bagaskara, aku tidak mau Papa kecewa"
"Baiklah" Ryan setuju meski dengan berat hati, sebenarnya Ryan juga menantikan pesta ini juga tapi setelah melihat Sofia yang begitu cantik, ia ingin berdua saja dengannya.
"Tapi sebelum itu...." Ryan mendekati Fia, menarik tubuh wanitanya hingga tak berjarak, ditarik tiba-tiba oleh Ryan membuat jantung Fia berdetak tak karuan, tangan dingin Ryan terasa panas di tengkuk Fia, sejak kapan tangannya berpindah ke sana Fia pun tak sadar, ia hanya tahu bahwa Ryan semakin dekat, wajahnya berhenti hanya beberapa Senti di wajah Fia, pria yang sudah tersihir dengan kecantikan Fia itu menatapnya lekat-lekat, Fia bahkan bisa melihat dirinya di bola mata Ryan yang sehitam malam, ibu jari Ryan bermain di pipi halus Fia.
"Apa...?" tanya Fia gugup.
"Boleh ya" Pinta Ryan "Sebentar saja" mohon Ryan pada Fia, ia mengerti apa yang diinginkan Ryan karena Fia juga menginginkan nya, Fia mengangguk pelan dan sedetik kemudian mereka berdua memejamkan mata, tak perlu melihat, insting lah yang mengambil alih, Fia mengikuti panduan bibir Ryan dengan patuh, sesekali membuka mulut dan menutup kembali untuk mengambil napas, Fia tampak menikmati sekali cumbuan Ryan hingga tanpa sadar kedua tangan Fia terangkat, ia bergelayut di pelukan Ryan, semakin hanyut dalam ciumannya sampai kaki Fia terasa lemas, merasa sudah cukup lama walaupun belum puas Ryan menghentikan ciumannya, menggigit pelan bibir bawah Fia karena gemas, menatap wajah cantik kekasihnya yang tanpa celah dan tersenyum.
"Ayo kencan setelah pesta selesai, hanya kita berdua" ajak Ryan.
"Baiklah"
"Aku tak sabar ingin segera menikah denganmu"
"Aku juga" balas Fia.
Ryan mengecup sekilas kening Fia kemudian mengandeng tangannya keluar kamar.
***
Ray sudah menunggu dengan tidak sabar di lobby, ia terus menatap lift dan sesekali melirik jam tangannya, Ray hampir saja ingin menyusul mereka ke atas namun pintu lift terbuka dan orang yang sudah ditunggu Ray akhirnya datang juga. Ray melipat kedua tangannya di dada, mengendus kesal dengan anaknya itu, Ryan dan Sofia berjalan mendekat dengan kikuk.
"Kenapa lama sekali sih, Papa sudah tunggu dari tadi lho!!"
Ryan dan Sofia salah tingkah, tidak mungkinlah mereka bilang alasan mereka lama turun, Pak Irwan yang mengamati keanehan mereka tersenyum tipis seakan mengerti lalu sebelum mereka semakin gusar Pak Irwan mengambil alih suasana.
"Pak, kita berangkat sekarang? nanti terlambat"
Ray beralih ke Pak Irwan, rupanya caranya berhasil mengalihkan amarah Ray, terlihat Ryan dan Sofia saling lirik.
"Baiklah, ayo kita berangkat"
Ray berlalu ke arah pintu keluar diikuti dengan Pak Irwan, sedang Ryan dan Sofia menghembuskan napas lega dan mereka berjalan beriringan.
Aku mengira pestanya akan meriah ternyata cukup sederhana, hanya dihadiri sekitar 30 orang saja itupun rata-rata seumuran dengan Papa Ray, mereka pasti teman-teman Om Bagaskara, hanya aku dan Ryan tamu mudanya, pertama kali aku melihat Dinda napasku tercekat, Dinda benar-benar luar biasa cantik, wanita berambut sebahu itu mempunyai bentuk tubuh ideal seperti model, kulitnya putih bersih dan terlihat sehat, wajahnya tenang dan tawanya juga cantik, yang membuatnya semakin bersinar adalah kepercayaan dirinya, padahal lawan bicaranya lebih tua tapi ia bisa membawa diri dan tidak berlebihan, ketika kami diperkenalkan oleh Ryan, aku bisa melihat dengan jelas kecantikan sempurna nya.
"Halo, senang akhirnya bisa bertemu denganmu, aku Dinda"
aku menyambut uluran tangannya, Dinda punya tangan terhalus yang pernah kurasakan selain tangan Ryan
"Aku juga senang bertemu denganmu, aku Sofia"
"Walaupun ini pertemuan pertama kita tapi aku merasa sudah mengenalmu lama, itu karena orang di sampingmu itu" Dinda menunjuk Ryan dengan dagunya, entah kenapa aku merasa tidak nyaman dengan tindakan Dinda, apa mungkin aku yang terlalu perasa?
"Ryan membicarakan mu sepanjang waktu"
"Oh ya? apa yang kalian bicarakan tentang ku?"
aku bertanya karena Ryan sama sekali tidak pernah membicarakan Dinda padaku, bahkan pertemuan kembali mereka di Lombok waktu itu, aku melihat ke arah Ryan yang juga sedang menatapku sambil tersenyum santai, Ryan lalu memeluk pinggangku agar mendekat dengannya.
"Aku hanya bicara yang baik-baik saja"
jawab Ryan dengan berbisik di telingaku lalu mencium keningku, sekilas aku melihat ekspresi wajah Dinda yang terkejut dengan sikap Ryan padaku, begitu ia tahu aku memperhatikannya ekspresi nya langsung berubah seperti semula.
"Ryan, ayo aku perkenalkan dengan investor besar kolega Papa, aku sudah bicara dengannya tentang proyek kita tapi beliau ingin bertemu langsung denganmu, ini kesempatan bagus karena kesibukannya beliau sangat sulit untuk ditemui"
Dinda menarik tangan Ryan seolah ingin menjauhkan Ryan dariku.
"Benarkah, tapi ...."
Ryan beralih menatap ku, meminta persetujuan dengan matanya, ia terlihat antusias tentang si investor atau apapun itu, mana mungkin aku melarang nya
"Pergilah, aku tidak apa-apa "
"Bolehkah? kalau begitu jangan jauh-jauh, tetaplah berdiri dimana aku bisa melihatmu, aku takkan lama"
Dinda menarik Ryan dengan tidak sabar, aku melihat ke sekeliling ballroom, Papa Ray sedang asyik berbicara dengan Om bagaskara dan beberapa teman lainnya, Ryan juga sudah bertemu dengan investor nya.
aku berdiri di depan meja panjang dengan banyak makanan yang menggiurkan, semua terlihat enak, ada Maccarone, shrimp cocktail, strawberry coklat dip, sushi, mini burger, mini pie, brownies dan banyak lagi, aku hanya mengambil beberapa Maccarone dengan warna yang berbeda ke piring kecil dan memakannya sambil melihat ke arah Ryan, setiap kali Ryan mencuri pandang ke arahku, aku melambaikan tangan dan tersenyum, mengatakan padanya aku baik-baik saja tanpa perlu bicara.
Yang menjadi perhatian ku adalah Dinda, ia tertawa, tersenyum tapi tangannya bergerilya ditubuh Ryan, aku kesal, sangat kesal, apa seperti itu yang namanya pembicaraan bisnis? aku ingin sekali kesana, menjauhkan Ryan dari wanita cantik yang jelas sekali sedang menggodanya, tapi aku tidak mau mempermalukan Ryan didepan semua orang dengan bertindak 'kampungan'.
Ditengah kesibukannya menyentuh Ryan, Dinda melirik ke arahku dan tersungging senyuman sinis yang ditujukan untukku, apa dia melakukannya dengan sengaja untuk memprovokasi ku? untuk melihat reaksiku? licik sekali.
"Nona Sofia!"
Suara Pak Irwan mengagetkan Fia, entah sejak kapan dia ada disana
"Apa nona menikmati makanannya?"
Pak Irwan melihat ke piringku yang hanya tersisa satu Maccarone.
"Yah, ini enak"
"Dimana Pak Ryan, kenapa nona sendiri?"
"Ryan sedang bertemu investor bersama Dinda"
Pak Irwan mengikuti arah pandanganku yang menatap Ryan, ia seperti mengerti akan kegelisahan ku terhadap Dinda, ah Pak Irwan ini sangat peka ternyata...
"Apa Dinda selalu seperti itu? kontak fisik maksudku"
"Jangan khawatir nona Sofia, Pak Ryan hanya melihat nona saja, buktinya setelah 10 tahun Pak Ryan kembali untuk nona, meskipun banyak wanita yang mendekati dan menggoda Pak Ryan, ia tak tertarik dan hanya fokus pada nona, Saya tahu betul bagaimana perjuangan Pak Ryan untuk kembali pada nona".
"Pak Irwan sudah lama bekerja dengan Papa Ray? apa bapak juga kenal dengan Dinda?"
"Saya kenal dengan Dinda dan keluarganya, Dinda memang cukup dekat dengan Pak Ryan, Dinda adalah anak satu-satunya sama seperti Pak Ryan, mungkin karena itu mereka jadi dekat, mereka memiliki satu sama lain, bahkan Pak Ryan sangat sedih saat Dinda pindah keluar negeri."
Aku mengangguk-angguk mengerti
"Begitu ya?"
"Itu hanya kenangan masa kecil, seperti yang saya katakan sebelumnya, nona jangan khawatir tentang hubungan Pak Ryan dan Dinda "
"Tapi, kenapa Pak Irwan memanggilnya Dinda dan tidak memanggilnya nona seperti Pak Irwan memanggil saya?"
Pak Irwan hanya tersenyum tanpa menjawab, entah apa yang dipikirkan nya, aku memakan Maccarone terakhirku saat aku melihat Dinda berbisik di telinga Ryan sangat dekat hingga bibirnya menyentuh telinga Ryan
uhuk uhuk....
Maccarone itu tersangkut di tenggorokan ku.
"Nona Sofia, nona tidak apa-apa? saya akan ambilkan air"
"Pak Irwan, saya tidak minum alkohol, tolong carikan air mineral"
"Baik, saya akan segera kembali"
"Disini kau rupanya?"
Dinda datang tiba-tiba, apa ia ingin melihat reaksiku setelah provokasi itu.
"Kau sedang tidak menangis kan?"
Jadi ia berharap aku menangis?
"Apa yang kau inginkan?"
"Aku inginkan Ryan, bisakah kau memberikannya?"
"Ryan bukan barang yang bisa seenaknya diberikan dan mengabaikan perasaannya "
"Aku selalu mendapatkan apa yang aku mau, SELALU, bagaimana pun caranya "
"Jadi seperti ini sifat aslimu? Wanita egois dam licik "
"Aku tak perlu berpura-pura dihadapan orang seperti mu"
"Terserah!!"
Aku memilih untuk pergi, berada didekatnya membuat ku sangat muak tapi Dinda mencengkeram lenganku, kuku-kukunya yang panjang menusuk kulitku, sepertinya ia sengaja ingin menyakiti ku
"Apa yang kau lakukan? lepaskan!!"
Dinda tersenyum sinis merasa puas
"Lepaskan!! akan kukatakan pada Ryan kelakuanmu ini!!"
"Coba saja, kita lihat siapa yang akan Ryan pilih, kau tahu jika proyek ini gagal Ryan akan mengalami kerugian yang sangat besar, kau mampu menanggung resiko nya? apa Om Ray akan memaafkanmu jika kau merusak kerja keras anaknya? pergi dan katakan pada Ryan kalau kau bisa!!"
Dinda menaikkan satu sudut bibirnya keatas, tahu bahwa ia berhasil menakutiku dengan ancamannya.
"Aku tak habis pikir dengan Ryan, bagaimana dia bisa menyukai wanita sepertimu, tidak cantik, tidak kaya, tidak berpendidikan pula, hanya tamat SMA dan tak punya pekerjaan mapan, tapi itu takkan lama lagi, aku akan membuatnya sadar dan lebih memilih ku yang sederajat dengannya, aku sangat kenal orang-orang seperti mu, menjebak pria kaya untuk kau nikahi dan hidup nyaman dengan menjadi istri mereka kan?"
Dinda merendahkan ku dengan tatapannya, harga diriku terasa di injak-injak olehnya, ini bukan yang pertama kali, dulu Maya juga menganggap ku sebagai parasit, apa semua wanita kaya dan terhormat memiliki pikiran yang picik seperti mereka? Dinda mengencangkan cengkeramannya di lenganku sampai menimbulkan jejak merah, lenganku berdarah, anehnya aku sama sekali tidak merasakan sakit disana, karena hatiku jauh lebih sakit.
"Yang kau pikirkan tentang ku itu salah, memang benar aku miskin, tidak cantik seperti mu, aku juga cuma lulusan SMA, lalu kenapa kau merasa terancam dengan kehadiran ku? apa nona besar kita ini tidak percaya diri hingga harus mengecilkan orang lain?"
Aku hempaskan tangan Dinda hingga lepas dan meninggalkan nya berdiri mematung di balkon, aku tutupi lukaku dengan tangan karena tidak mau menimbulkan kegaduhan yang akan membuat Papa Ray dan Ryan malu, tidak sulit menemukan Ryan karena ini bukan pesta besar dengan banyak undangan, aku bersyukur untuk itu, aku berdiri di belakang Ryan, mengatur napas yang tersengal mencoba menegangkan diri sebelum bicara dengannya, aku masih memegang lengan kananku yang terluka dengan tangan kiri ku.
"Yan..."
Ryan berbalik dan aku memasang wajah sedatar mungkin agar Ryan tidak curiga
"Hai Sayang..."
"Bisakah kita pulang? aku sedikit tidak enak badan"
"Kau sakit? perlukah kita ke rumah sakit?"
"Tidak perlu, aku hanya ingin beristirahat"
"Baiklah, ayo kita pulang"
Ryan merogoh ponselnya di saku celana dan menghubungi Pak Irwan untuk siapkan mobil.
"Aku akan mencari Papa untuk mengabarkan kalau kita pulang, sekalian berpamitan dengan Dinda, dimana ya dia?"
"Yan.... lakukan lah lewat telepon, aku benar-benar ingin pulang sekarang"
Tanpa curiga Ryan langsung setuju denganku, tentu aku tidak ingin bertemu lagi dengan Dinda, dan untuk Papa Ray, aku akan meminta maaf nanti.
Kami menunggu Pak Irwan di vallet parking, Ryan membuka jasnya dan ia pakaikan padaku agar aku tak kedinginan, baguslah, berarti aku tak perlu menutupi luka ku.
"Maaf, aku merusak rencanamu dengan Dinda"
"Apa yang kau katakan? tak ada yang lebih penting darimu, soal Dinda bisa aku selesaikan nanti"
Tak lama Pak Irwan datang dan membukakan pintu untuk kami, di dalam mobil Ryan menelpon Papa Ray.
"Iya Pah, Fia merasa tak enak badan karena itu Ryan mengantarnya pulang sekarang"
"Apa Fia baik-baik saja? yakin tidak perlu ke Rumah Sakit?"
"Tidak Pah, sepertinya Fia kelelahan, dia hanya butuh istirahat, jangan khawatir Ryan akan menjaganya"
"Baiklah, pastikan kamu jaga Fia dengan baik, kalau ada apa-apa segera hubungi Papa"
"Baik, Pah. Ryan akan mengirim Pak Irwan untuk menjemput Papa begitu sampai di hotel"
Ryan mematikan ponselnya dan menaruhnya di saku celana.
Apa yang harus kukatakan padanya? haruskah aku jujur tentang Dinda? dan bagaimana dengan ancamannya? hati ini sungguh tak tenang.
"Ada apa? ada yang sakit? dimana sakitnya?" tanya Ryan cemas, aku hanya menjawabnya dengan gelengan pelan.
"Lalu kenapa kau melihatku seperti itu?"
aku tidak bisa mengendalikan ekspresi ku saat ini, kegelisahan ku pasti terlihat jelas.
"I love you..." adalah kata-kata yang keluar begitu saja dari mulutku. Ryan tersenyum dan mencium keningku.
"I love you more"
Benar, Ryan mencintaiku, itu tak terbantahkan, apapun yang akan Dinda lakukan dengan rencana-rencana liciknya takkan pernah bisa memisahkan aku dengan Ryan, aku percaya padanya.
Aku menarik selimut sampai ke atas dada, Ryan duduk di sampingku, membelaiku lembut seperti seorang ayah menidurkan anaknya, Ryan begitu penuh dengan kasih sayang, aku beruntung sekali bisa dicintai olehnya, aku sadar kami berasal dari dua dunia yang berbeda tapi Ryan tak pernah membuatku merasa kecil, sebaliknya aku diperlakukan istimewa seakan aku spesial, seolah aku penting, aku bisa mati jika tanpa nya, Ryan segalanya bagiku, aku hanya ingin hidup tenang bersamanya, apa permintaanku berlebihan ya Tuhan?
"Yan .. bisakah aku meminta sesuatu?
"Hm ... apapun itu, katakanlah "
"Aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan Dinda"
Ryan tergelak dengan permintaanku, ya ini memang tidak seperti diriku, aku sendiri pun bingung, tapi aku benar-benar tidak suka Ryan dekat dengan Dinda, aku takut kehilangan Ryan
"Apa kamu cemburu dengan Dinda?"
Aku diam tak menjawab, terserah apapun namanya asal Ryan tak dekat-dekat lagi dengan Dinda.
"Aku dan Dinda hanya teman tidak lebih, Dinda memang suka menuntut perhatian lebih dari orang sekitarnya karena dia anak satu-satunya, dia terbiasa menjadi pusat perhatian, percayalah aku sangat mencintaimu, hanya kamu"
Aku bisa melihat ketulusan dimata Ryan.
"Aku percaya padamu, aku hanya tidak percaya padanya"
"Dinda bukan orang jahat, begitu kamu mengenal nya lebih dekat, kalian bisa jadi teman"
Tidak jahat? luka pada lenganku ini belum kering.
"Aku lihat tangannya menyentuh mu, bagaimana perasaanmu jika ada laki-laki lain yang menyentuh ku seperti Dinda menyentuh mu? apa kamu tidak marah?"
Ekspresi Ryan menegang, ia tertunduk seperti sedang menahan emosi, apa aku salah bicara?
"Aku tahu, aku pernah merasakan itu bahkan sampai sekarang "
Tidak perlu pintar untuk tahu maksud kata-kata Ryan, ia selalu cemburu pada Louis tapi ini berbeda, Louis tak pernah menyentuh ku tanpa alasan yang jelas, Louis tidak pernah sengaja ingin menggoda ku atau merebut ku dari Ryan, Louis tak pernah punya niat jahat, baginya kebahagiaan ku adalah mutlak meski dia yang harus berkorban, tapi aku juga sedih mengetahui kebenaran ini, Ryan tak pernah mengatakan tidak suka dengan kehadiran Louis di hidupku atau aku yang tidak peka? apa aku sudah menyakiti Ryan tanpa aku sadari?
"Bisakah kamu percaya padaku meski itu terdengar mustahil, hanya percaya padaku?"
"Istirahat lah Sofia, besok kita bicara lagi"
Ryan pamit, ia beranjak pergi tanpa menoleh lagi kebelakang, saat Dinda menghinaku, aku tidak menangis, saat Dinda menyakiti lenganku, aku juga tidak menangis, tapi melihat punggung Ryan yang menjauh dariku perlahan membuat air mataku berlinang, keluar begitu saja tanpa bisa ku tahan, aku sudah sangat menyakiti Ryan, tiba-tiba aku merasa takut kehilangan Ryan, takut ia pergi lagi dari hidupku seperti 12 tahun yang lalu, aku takkan sanggup menanggung rasa sedihnya lagi.