Hey Sofia

Hey Sofia
Ryan Yang Bermasalah




Satu minggu kemudian...


Ray memanggil Ryan ke kamarnya setelah makan malam untuk membicarakan tentang denda penalti pembatalan kerjasama dengan PT. BAGAS JAYA. Perusahaan kontraktor milik Bagaskara dan Putrinya, Dinda ayu.


"Ada apa Pah, Ryan dipanggil kesini?"


Tanya Ryan sambil merajuk, Karena sebenarnya ia akan ke kamar Fia dan menghabiskan malam bersamanya, Ryan sangat merindukan Fia, Ryan disibukkan dengan pekerjaannya dan hanya bertemu Fia saat sarapan. Fia pun tak kalah sibuk karena launching Webtoon terbarunya yang tinggal 2 hari lagi. Fia akan menghabiskan seharian menggambar di kamar, makanannya pun diantar ke kamar. Karenanya Ryan berencana pergi ke kamar Fia setelah makan malam, mana sanggup Ryan tidak bertemu Fia seharian, bisa gila dia, namun rencananya gagal karena Ray.


"Pak Paris sudah menghubungi Papa soal denda penalti Proyek Resort Lombok"


Ryan yang semula bersandar malas ke punggung sofa langsung menegakkan tubuhnya.


"Benarkah? Bagaimana hasilnya? Mereka minta berapa sebagai ganti ruginya?" Tanya Ryan penasaran.


"Awalnya mereka meminta 3 kali lipat dari dana yang sudah dikeluarkan tapi Pak Paris berhasil mengerucutkan jumlahnya jadi sama dengan dana semula, Negosiasi nya berjalan alot, untungnya tidak ada perjanjian hitam diatas putih diantara kalian jadi mereka juga tidak bisa menuntut apa-apa "


Ini menjadi pelajaran buat Ryan, dalam bisnis tak ada pertemanan, semua harus jelas hitam di atas putih, meski kali ini keadaan menguntungkan bagi Ryan.


Terlihat Ryan membuang napas lega.


"Syukurlah kalau begitu, akhirnya masalah ini selesai juga"


"Papa dengar Dinda sempat di rawat di Rumah Sakit karena stres. Yang Papa dengar dari Bagas, Dinda sudah menyukaimu sejak dari kecil makanya dia sangat shock dengar berita kamu sudah memiliki kekasih dan akan segera menikah. Bagas rela melakukan apa saja demi putri kesayangan satu-satunya, Karena itu dia mendukung Dinda untuk merebutmu dari Sofia. Bagas bahkan memohon pada Papa agar mau membujuk mu menjenguk Dinda di Rumah Sakit, Dinda tidak mau makan kalau kamu tidak datang"


"Sampai seperti itu Pah?"


"Yah, Bagas bilang kebahagiaan putrinya ada di tanganmu dan dia memohon agar kamu bisa mempertimbangkan soal rencana pernikahanmu dengan Sofia dan coba membuka hati untuk Dinda"


Brak


"Gila..!! Memangnya perasaan bisa di paksakan!!"


Tangan Ryan terasa perih karena menggebrak meja, Dia mengerti tentang kecintaan Ayah terhadap Anaknya tapi yang dilakukan Bagaskara keterlaluan, mendukung anak melakukan kesalahan padahal seharusnya dia bisa mengarahkan dan memberi pengertian pada Dinda kalau cinta tak bisa dipaksakan.


"Lalu apa yang Papa katakan pada Om Bagas?"


"Apalagi? Papa bilang kalau kebahagiaan anaknya bukan tanggungjawab kamu tapi Dia sebagai Ayahnya lah yang seharusnya membahagiakan putri kesayangannya, Tentu saja dengan cara yang benar dan tidak dengan merebut kebahagiaan orang lain. Papa tidak mau mengecewakan Sofia, Papa tidak mau melihat calon menantu Papa bersedih apalagi menangis"


Ryan memandang Ray dengan tatapan takjub, Ray adalah Ayah luar biasa yang sangat mengerti perasaan anaknya, Ray bijaksana dan peka, Yang terpenting adalah Ray menyayangi Sofia melebihi sayangnya pada Ryan.


"Papa memang yang terhebat, Ryan sangat beruntung diberikan Papa yang bijaksana dan mengerti perasaan anaknya, Terimakasih Pah"


Ryan mengatakannya sambil berkaca-kaca, rasa kagum dan syukur menjadi satu.


"Itu juga berlaku untuk kamu, awas saja kalau sampai Sofia mengeluarkan air mata karena ulah kamu, Papa tak segan-segan menghapus mu dari kartu keluarga dan menggantinya dengan Sofia"


"Iya, Ryan janji"


Entah kenapa ancaman Ray tak menakutkan bagi Ryan.


"Oh ya, Pah. bagaimana dengan dokumen yang Ryan minta kepada Pak Paris? Apakah sudah siap semua?"


"Papa hampir lupa"


Ray beranjak dari sofa menuju keruang kerjanya untuk mengambil map coklat titipan dari Pengacara mereka Pak Paris Wijaya. Ray kemudian meletakkan map coklat itu di meja dan langsung diterima Ryan, Setelah mengecek semua isi dokumennya, Ryan merasa puas dan memasukkan kembali isinya, Ryan sudah tidak sabar ingin menunjukkan dokumen itu pada Sofia.


"Kamu yakin dengan apa yang kamu lakukan?" Tanya Ray.


"Ryan yakin, Pah. Apa Papa keberatan dengan keputusan Ryan?"


"Tidak, Papa juga melakukan hal yang sama pada mama mu, Papa yakin Sofia takkan berkhianat, Dia wanita yang baik dan sudah semestinya diperlakukan dengan baik juga. Sepertinya para pria di keluarga Prasetya bertekuk lutut dihadapan wanita yang kita cintai "


Ray mengulum senyum, begitu juga dengan Ryan, Yah. kedua laki-laki berbeda generasi itu mempunyai pemikiran yang sama soal membahagiakan wanitanya.


Ryan tidak ingin Fia direndahkan hanya karena latar belakangnya, jangan sampai kejadian dengan Maya dulu dan Dinda kini terulang di masa depan, Ryan ingin Fia lebih percaya diri kalau ia pantas menjadi pasangan dari seorang Ryan Aji Prasetya. Malah Ryan yang sebenarnya bersyukur bisa di cintai oleh seorang bidadari seperti Fia, Fia menerima segala kegilaan Ryan dengan traumanya, berjalan bersamanya melalui jalan penuh duri hanya agar Ryan merasa aman. Dan dengan setia menunggu Ryan selama 10 tahun, mempercayai Ryan akan kembali.


Dimana lagi Ryan mendapatkan wanita sempurna seperti Sofia?


"Karena masalah Dinda sudah selesai berarti Ryan bisa berangkat ke London untuk bertemu Ibu Lily dan melamar Fia secara resmi"


"Pergilah, disini kan ada Irwan dan juga Alan. Papa juga akan memantau jadi jangan khawatirkan soal pekerjaan "


"Terimakasih, Pah".


***


Ryan kembali ke kamarnya untuk menyiapkan dokumen yang ia minta dari Pak Paris. Ryan tak sabar untuk segera menunjukkannya pada Fia, bahkan Ryan memanggil Fia untuk datang ke kamarnya.


"Kau sedang sibuk?" Tanya Fia saat melihat Ryan serius dengan beberapa dokumen di meja kerjanya, Ryan menoleh begitu mendengar suara yang paling ia suka di dunia dan tersenyum hingga menunjukkan barisan rapi giginya yang putih.


"Kemarilah" Ryan menepuk-nepuk pahanya mengisyaratkan Fia untuk duduk disana, Fia mendekat lalu duduk dipangkuan lelaki itu, Ryan melingkarkan tangannya memeluk Fia dan merebahkan kepalanya di punggung sang kekasih, nyaman sekali bisa memeluk Fia setelah lelah bekerja seharian, Ryan menghirup dalam-dalam aroma yang paling ia sukai di dunia itu.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Fia


"Aku sedang bahagia saat ini"


Fia tersenyum, ia bergeser agar bisa melihat wajah Ryan dengan jelas.


"Apa yang membuatmu bahagia?"


Ryan mendongak menatap wajah Fia.


"Urusan Dinda sudah selesai, Kita bisa segera pergi ke London bertemu dengan ibu"


"Benarkah? itu berita bagus, Kapan kita berangkat?" Tanya Fia antusias, Fia memang sudah sangat merindukan ibunya. Selama ini mereka hanya berhubungan lewat video call, adalah hal yang wajar karena mereka terakhir bertemu 2 tahun lalu.


"Kapan saja kamu mau"


Fia melihat ke langit-langit kamar tampak berpikir dan memicingkan matanya, Ryan pikir itu sangat lucu hingga ia menciumi lengan atas Fia berkali-kali.


"Bagaimana kalau setelah Webtoon terbaru ku launching?"


"Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan"


Ryan mengangguk setuju.


"Tapi, bagaimana dengan pekerjaanmu disini?"


"Jangan khawatirkan itu, Ada Pak Irwan, Alan dan juga Papa yang mengawasi, aman"


"Hmm.... Berapa lama kita di London?"


"Kita bisa sekalian berlibur jika kamu mau, mungkin seminggu?"


Tawar Ryan yang disambut antusias oleh Fia, Mereka jarang sekali liburan karena kesibukan Ryan yang hampir tak ada waktu luang, beruntung Ryan memaksa Fia tinggal di hotel jadi mereka bisa selalu bertemu meski hanya sekilas saja.


"Apapun yang kau inginkan, Aku ingin kau selalu bahagia, tersenyum seperti ini, kau paling cantik saat tersenyum"


Ryan menarik tengkuk leher Fia mendekatkan bibirnya dengan bibir Fia dan menciumnya. Fia suka perlakuan lembut Ryan, ciumannya terasa manis dan melumpuhkan, Fia merasa lemas. Satu tangan Ryan yang melingkar di pinggang Fia menarik tubuhnya semakin mendekat, Fia menangkup wajah Ryan seraya ciuman mereka yang semakin intens, Ryan menggigit pelan bibir bawah Fia agar terbuka dan lidahnya bebas menjelajahi mulut Fia. Mereka baru berhenti setelah kehabisan udara untuk bernafas, Ryan mengusap sisa saliva dibibir Fia.


"Aku ingin segera menikah denganmu" Ucap Ryan yang lebih mirip bisikan.


"Kita harus menikah paling lambat 1 bulan setelah bertemu ibu" Lanjut Ryan.


"Kau sangat yakin ibu akan merestui kita?" Jawab Fia sedikit menggoda Ryan.


"Aku tidak peduli, Kalau perlu aku akan menculik mu dan kita kawin lari, sudah kubilang aku akan lakukan apapun untuk mu, kau harus jadi milikku"


Fia mengecup sekilas bibir Ryan, ia sangat beruntung Ryan sangat mencintainya, yang terpenting adalah Fia merasa aman disisi Ryan, Fia merasa nyaman berada di pelukan Ryan seolah rintangan apapun tak berarti jika ia melalui nya dengan Ryan, Ia begitu mencintai laki-laki yang sekarang sedang menatapnya dengan penuh cinta dan beruntungnya laki-laki itu juga mencintainya lebih dari dirinya sendiri.


"Pernikahan seperti apa yang kamu mau?" Tanya Ryan.


"Aku ingin pernikahan bertema outdoor, seperti garden party, hanya dihadiri oleh keluarga dan orang-orang terdekat saja. Di penuhi dekorasi bunga hidup berwarna-warni, nanti dress code nya putih untuk para undangan dan kita akan memakai warna Peach atau Champagne. Tidak ada pelaminan, Kita akan berkeliling menyapa para undangan nanti" Fia bercerita dengan antusias dan yang mendengarnya tidak kalah antusiasnya. Ryan tersenyum mengingat Fia tidak pernah memikirkan Pernikahan sebelumnya tapi ia punya pernikahan impian yang detail seperti ini. Kapan wanita ini memikirkannya?.


Fia menatap Ryan meminta persetujuan akan idenya.


"Your wish is my command, baby" Lalu mengecup sekilas bibir Fia.


"Ada lagi yang kau inginkan?"


"Ah ... itu, Setelah menikah apa kita tetap akan tinggal di hotel?"


Ryan mencubit hidung Fia gemas, Fia menggembung kan pipinya sebagai bentuk protes.


"Tentu saja tidak, dasar konyol. Aku sedang membangun rumah untuk kita, belum rampung 100% tapi kupastikan akan selesai sebelum pernikahan"


"Kok, Kamu ga bilang sedang bangun rumah?"


"Kalau bilang bukan kejutan namanya, Itu hadiah pernikahan aku untuk Kamu."


"Aku sudah banyak menerima hadiah dari kamu dan Papa Ray, bahkan sebelum pernikahan, sudah cukup. Dan tolong beritahu Papa Ray untuk tidak lagi memberiku hadiah."


"Aku tidak bisa menjanjikan itu, Papa punya caranya sendiri membahagiakan orang-orang yang disayanginya. Kamu pikir dari mana aku belajar?"


Alis Ryan naik turun sambil menunjukkan jajaran gigi putihnya yang rapi. Fia mendengkus


"Like father like son". ucap Fia.


"Ada satu hal lagi yang ingin kutunjukkan, Karena ini aku memanggilmu kesini."


Ryan menyodorkan sebuah map coklat dari Pak Paris Wijaya kepada Fia.


"Apa ini?" Tanya Fia. Fia membolak-balik map itu. Di map itu tertulis Paris Wijaya Law firm and Advocate. Sepertinya berisi surat-surat penting.


"Aku ingin kamu menandatangani ini sebelum pernikahan kita"


Fia tercekat, Apa ini seperti yang Fia kira, Yang dilakukan orang-orang kaya sebelum menikah untuk mengamankan harta mereka jika suatu hari terjadi perceraian? Ya, Fia bisa mengerti Ryan, harta kekayaan Prasetya memang tidak main-main. Fia mengerti, sangat mengerti tapi ada sedikit rasa tercubit di hatinya, sakit karena pernikahan yang belum dimulai sudah diputuskan akhirnya.


"Apa ini Perjanjian pra nikah?" Tanya Fia dengan bibir bergetar, Fia menatap Ryan heran karena yang ditanya malah tertawa keras sampai hampir menangis.


'Apa yang lucu' rutuk Fia dalam hati.


Ryan mengusap air mata diekor maniknya.


"Dari mana kamu dapat pikiran konyol itu?"


"Lho, bukan ya?"


"Buka dulu dan baca betul-betul".


Fia membuka map coklat itu dan membacanya kata per kata, rahang Fia terbuka lebar dan tak percaya isinya, Fia membaca ulang untuk memastikan matanya tidak salah.


"Apa maksudnya ini?" Ketus Fia.


"Aku ingin mengganti kepemilikan sebagian aset-aset ku menjadi namamu"


Fia melompat dari pangkuan Ryan, membuat Ryan hampir terjatuh dari kursinya.


"Kamu bercanda kan?" cetus Fia


Ryan menatap lurus ke mata Fia.


"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?"


"Yan, Kamu tahu perasaan ku setiap kali kamu dan Papa Ray memberiku hadiah yang diluar nalar. Villa, Jet pribadi, Apartemen, Yacht...." Fia berhenti sesaat mengingat hadiah-hadiah mewah yang Ryan dan Ray berikan. Fia sudah menjadi kaya raya tanpa berusaha. Seberuntung itu dirinya, tapi ini sedikit melukai harga dirinya. Fia mencintai Ryan setulus-tulusnya hati.


"Mobil, Perhiasan dan bahkan sebuah Gedung, aku menerima itu semua tapi yang kamu lakukan ini berlebihan, aku tidak bisa menerimanya"


Fia melempar map ke atas meja kerja Ryan. Ryan menarik tangan Fia agar mendekat.


"Aku hanya ingin membahagiakan mu, aku ikhlas memberikannya, terima ya?" Bujuk Ryan.


"Yan, tidak selalu harta membuat orang bahagia, aku hanya butuh kamu, cukup kamu. Titik!!"


"Tolong terimalah, please.."


Ryan memohon sambil mencium tangan Fia, wanita yang berdiri di depannya tak bergeming, senyum Fia yang paling Ryan suka juga tak tampak. Fia merasa sangat kesal saat ini, Tak tahukah Ryan perasaan Fia? Fia memang berasal dari keluarga sederhana tapi dia bisa bekerja keras dan menghidupi diri sendiri, Orang gila mana yang menolak segala kekayaan yang di berikan padanya secara cuma-cuma, Ryan merasa tak ada yang salah dengan caranya membahagiakan Fia, kenapa Fia menolaknya? tanpa Ryan tahu Fia paling benci dikasihani. Fia menatap Ryan dengan tatapan yang tak bisa Ryan artikan. Fia membuang nafas berat, menggeser map coklat menjauh darinya dan melepaskan tangan Ryan.


.


"Aku mau kembali ke kamar"


"Sendirian" Lanjut Fia Saat melihat Ryan hendak beranjak dari kursinya.


Hari berikutnya, Fia benar-benar mengabaikan Ryan, pesannya tak dibalas, telpon pun tak diangkat, ingin mendatangi ke kamar, Ryan takut karena tahu saat Fia marah ia tak mau di ganggu. Tapi bagaimana Ryan bisa tenang? mana tahan Ryan diabaikan oleh Fia. laki-laki itu sudah uring-uringan sejak pagi, kesal karena kopi nya terlalu manis padahal dibuat dengan takaran yang sama setiap harinya, mengumpat saat lama menunggu lift. Puncaknya adalah saat memimpin rapat.


"Kalian menyebut ini laporan?!!"


Ryan melempar berkas laporan ketengah meja rapat, semua peserta rapat loncat dari tempat duduknya, kaget dan ketakutan bercampur, kecuali Pak Irwan yang duduk di belakang Ryan bersama Alan. Pria dengan lesung pipi itu terlihat masih memantau keadaan.


"Coba cek lagi dan katakan padaku dimana letak salahnya, Kutunggu 15 menit atau kalian serahkan surat pengunduran diri kalian!!"


Mereka panik dan mulai membaca lagi laporan itu, saat mereka tidak tahu dimana salahnya keringat dingin mulai mengucur deras, mereka saling melirik dan berbicara dengan isyarat mata. Apa kita akan di pecat? begitu kira-kira arti isyarat mata mereka


Alan membolak-balik berkas laporannya dan berbisik ke telinga Irwan.


"Seperti nya tidak ada masalah dengan laporannya" Bisik Alan seolah meminta persetujuan Irwan.


"Yang bermasalah adalah Pak Ryan"