Hey Sofia

Hey Sofia
Firasat



halo readers 😊


happy reading 🤗


______________________________________


Setelah drama pelemparan batu itu Ramona tidak masuk sekolah, ada yang bilang dia pindah sekolah ke luar negeri, teman-teman yang lain dan para guru sangat menyayangkan kepindahannya karena yang mereka tahu Ramona gadis yang manis dan baik hati tapi bagi fia, ryan dan teman-teman nya kepindahan Mona adalah suatu kelegaan, jika Mona masih bersekolah disana setelah apa yang dia lakukan berarti Mona sudah benar-benar tidak waras. Meski ayu berpikir seharusnya dia dapat hukuman yang setimpal atas perbuatannya pada fia,


fia pun berpikir hal yang sama, tapi dibalik semua itu, jauh di dasar hati Fia senang atas kepergian Mona, dengan begitu Ryan tidak perlu membalaskan dendam nya, di benak fia gambaran tentang Ryan adalah matahari, ia selalu tampak lebih cerah dibandingkan dengan siapapun di sekitarnya, sangat mudah menemukannya di antara kerumunan orang karena ia mempunyai cahaya yang paling terang, fia tidak tahu bagaimana caranya membayangkan ryan yang pendendam dan marah, tidak. itu bukan Ryan


jadi fia bersyukur ia tidak melihat sisi lain Ryan yang seperti itu.


Sekarang, sudah 5 bulan berlalu dan fia seperti berjalan diatas hamparan bunga, begitu indah dan sempurna, dulu kehidupan seperti ini adalah mustahil bagi fia, sejak orang itu tiba-tiba muncul dan entah bagaimana menjungkir balikkan hidup fia menjadi multi warna, tidak lagi hitam putih tapi berwarna-warni dan terangkai indah layaknya permadani, hidup yang dirasakan fia begitu indah sampai ia memohon pada Tuhan untuk menghentikan waktu saat itu juga,


tapi setiap kelopak bunga yang dicabut dari tangkainya pasti ada jari yang terluka akibat tertusuk durinya, dan walaupun permadani kehidupan fia sangat indah pasti ada benang-benang kusut tak beraturan dan berantakan di baliknya, lalu duri apa yang menunggu untuk menusuk fia? dan benang kusut yang seperti apa yang mampu mengubah hidup fia?


gadis itu mungkin tak akan pernah siap dengan badai yang akan menerjang nya di depan.


zzt...zzt...zzt.. getaran ponsel memaksa dia untuk membuka mata, ia mengutuk benda yang merusak mimpinya, dengan kesal ia meraih ponsel nya yang lupa ia letakkan dimana, dengan mata berat ia meraba dan menemukan ponsel nya di bawah bantal, fia mengintip jam digitalnya yang menunjukkan pukul 04.12 pagi.


sial... siapa yang telepon pagi-pagi buta begini?


ia membuka matanya lebar-lebar begitu nama Ryan ada di layar ponselnya, ia langsung menggeser layar tanpa ragu.


"halo..."


"aku ganggu tidur kamu ya?" jawab Ryan dari seberang sana, suaranya serak seperti habis menangis dan terdengar menyedihkan.


"ga kok, kamu kenapa pagi-pagi telepon? kamu mimpi buruk?"


"Hem... padahal udah lama banget dan sekarang tiba-tiba aku mimpi itu lagi"


fia ingat sekitar 6 bukan lalu Ryan pernah bercerita tentang mimpi buruknya yang terjadi berulang-ulang, mimpi yang sama yang selalu menghantui nya, dan fia juga ingat waktu di danau ia pernah bilang kalau Ryan boleh menelpon nya kapan pun jika ia mimpi buruk lagi, ternyata hari ini datang juga, hari dimana fia bisa melakukan sesuatu untuk Ryan, jika selama ini fia bisa menerima begitu banyak dari nya, setidak nya ini yang bisa fia lakukan sebagai balasannya.


"kamu sekarang gabisa tidur?" tanya fia


"ga, kepala ku sakit banget"


"aku ga punya obat nya, karena udah lama ga mimpi buruk, aku jadi ga pernah nemuin dokter lagi untuk ambil resep"


Ryan meminum obat resep dokter untuk sakit kepala? kukira itu hanya sakit kepala biasa.


fia sudah merasa aneh dengan nada suara Ryan dan sekarang Fia merasa cemas, terdengar suara hembusan napas yang berat dari Ryan di susul dengan isakan.


"sayang, kamu nangis?"


fia meloncat dari ranjang nya, mendengar Ryan menangis, semakin fia merasa cemas


"aku ga tau kenapa aku nangis, rasanya ga karuan, hati aku sakit banget sampai mau meledak, rasanya kayak mau mati...."


Tut...Tut...Tut...Tut... suara sambungan yang terputus dari fia membuat Ryan makin frustasi


iya kan .... kamu aja ga mau deket-deket sama orang gila kayak aku.


Ryan melempar ponselnya hingga pecah, ia jatuh meringkuk sambil menekuk kedua kaki nya di lantai yang dingin di kegelapan malam tanpa ada lampu menyala, hanya cahaya redup dari bulan yang menerangi kamar itu, Ryan semakin dalam jatuh ke kegelapan hatinya, naif memang jika menggantung kan harapan pada seseorang, padahal manusia adalah makhluk paling egois yang hanya memikirkan diri sendiri, sama halnya dengan fia. dan rasa sakit menjadi lebih perih jika yang memberikannya justru orang yang paling kau sayang,


matanya terpejam, berharap saat ia membukanya semua sakit di kepalanya hilang.


Dalam kekalutannya Ryan membayangkan ada tangan lembut meraih nya, mengusap air matanya, menaruh kepala nya yang mau pecah dalam pangkuan, menghangat kan hati nya dengan usapan-usapan lembut di rambut, kepalanya sudah sangat rusak sampai ia tidak bisa membedakan kenyataan dan mimpi.


Dan disaat terpuruk nya itu ia membayangkan fia, Ryan hanya ingin mendengar suaranya, hanya itu yang ia butuhkan untuk kembali menjadi waras, ya. dia tidak butuh obat, dia butuh fia !!


"Ryan.... bangun sayang, buka mata kamu"


"aku ga mau buka mata, kalau aku buka mata aku takut kamu hilang"


"aku ga akan kemana-mana, ayo buka mata nya"


"ini mimpi aku, terserah aku mau buka mata atau ga!!"


"ini bukan mimpi, ini aku fia".