
Halo readers 😊
happy reading 🤗
______________________________________
Fia terbangun karena sinar matahari yang menerobos masuk lewat tirai yang terbuka di jendela, matanya mengerjap pelan merasa asing dengan kamar itu, oh iya, ini kan kamar Ryan, fia membalik badan dan telentang, pada saat ia bangun Ryan sudah tidak ada di samping nya, sekarang setelah cahaya masuk kamar Ryan jadi terlihat lebih jelas, kamarnya luas dan tertata rapi, lebih rapi dari kamar fia, di depan tempat tidur ada satu sofa panjang dan dua sofa kecil juga meja yang senada dengan warna sofa nya, di samping kiri ada home teather dan juga sofa panjang namun tanpa meja melainkan karpet, lalu ada lemari penuh koleksi DVD, ukuran lemari nya sama dengan lemari baju fia, pasti ada sekitar ribuan DVD disana,
kemudian ada walk in closet berisi koleksi pakaian dan sepatu Ryan. di sebelah kanan tempat tidur ada jendela kaca besar yang menghubungkan dengan beranda, meski sering datang ke rumah fia baru kali ini melihat kamar nya.
ceklek
Terdengar suara pintu di buka, Ryan masuk dengan membawa baki berisi makanan
"tuan putri udah bangun?" sapa Ryan sambil menaruh baki nya di meja, Ryan menepuk-nepuk tangan nya di sofa sebagai isyarat agar Fia bergabung dengannya di sofa, gadis itu pun menurut, ia duduk santai dengan kaki bersila diatas sofa.
"karena hari ini Minggu dan bibi Mae libur jadi sarapannya roti panggang isi coklat dan susu strawberry, atau kamu mau pesen makan aja? mau makan apa, aku pesenin?"
"ga perlu, ini aja"
fia langsung melahap roti panggang nya, dia sudah sangat kelaparan karena melewatkan makan malam kemarin,
"kamu ga makan?" tanya fia
"ga, aku liatin kamu makan aja udah cukup"
Ryan menopang dagu mengawasi fia makan, mungkin ini yang orang bilang 'kenyang cuma lihat kamu makan'.
"emang bisa kenyang?"
"bisa"
"bo'ong"
Ryan tertawa geli karena tingkah gemas fia.
"eh tunggu deh" Ryan mendekatkan wajahnya dan membuat dia terpaksa menahan napas,
"apa?" tanya fia
"ini mulut kamu ada coklat nya"
Ryan menyapu lembut bibir fia dengan ibu jari lalu menjilati jarinya seakan itu lollipop, jantung fia hampir copot dibuatnya
"manis" kata Ryan setelah mencicipi coklat dari jari nya
"kamu mau aku mati ya?" protes fia
"ish .. kamu ngomong apa seh?"
"kamu bikin aku jantungan tau ga?"
Ryan hanya tersenyum nakal dan puas setelah menggoda nya
"aku bisa sarapan tenang ga nih?"
"iya, iya aku ga ganggu".
Ryan bersandar pada punggung sofa dan membiarkan fia menikmati sarapannya.
***
fia turun ke ruang tengah setelah selesai mandi, disana Ryan sudah menunggu sambil menonton tv di sofa malas, fia memakai oversize t-shirt dan celana pendek di atas lutut, pakaian kebesaran fia ketika dirumah, dengan rambut masih tergulung handuk fia duduk santai bersila dibawah kaki Ryan
"ngapain duduk dibawah?" fia menoleh ke belakang
"kayaknya ada di laundry room"
"kenapa di taruh di laundry room seh?"
"ya karena ga ada yang pakai makanya di taruh di sana"
huft fia menghela napas malas
"pinjem" fia menyandarkan dagu nya di lutut Ryan
"ya sana ambil"
"ga mau, rumah kamu luas banget nanti aku nyasar"
jadi karena itu fia menghela napas, rumah Ryan memang sangat luas dan ia malas mengambil sendiri hair dryer nya.
sedang Ryan mengelus pipi fia lembut, tanpa bisa menolak permintaan nya.
"manja banget seh"
fia memamerkan gigi nya yang rapi dan bergeser agar Ryan bisa leluasa berdiri untuk mengambil hair dryer sesuai permintaan fia, Ryan tak keberatan dengan fia yang bermanja begitu, justru malah senang bisa memanjakannya bahkan kalau Ryan mampu ia akan mengambi langit beserta isinya dan menaruhnya di pangkuan fia, semua itu sanggup ia lakukan asal fia senang.
fia bolak-balik mengganti Chanel TV saking bosannya menunggu Ryan selesai mengeringkan rambut nya, setelah kering ia mencabut kabel dari stop kontak dan menggulungnya, Ryan menyusul fia yang kini duduk diatas sofa sambil termenung, luka fia sudah membaik, memar di pipi dan di tepian bibirnya juga sudah tidak terasa sesakit kemarin, lalu apa yang dipikirkan nya? Ryan tak tahan untuk bertanya.
"lagi mikirin apa?"
sambil memainkan ujung rambut fia
"mikirin Mona"
Ryan berhenti memainkan rambut, tangannya sekarang membentuk kepalan karena marah
"ga usah mikirin dia, biar Mona jadi urusan aku"
"kamu mau apain Mona?"
"aku ga akan maafin orang yang udah buat kamu celaka kayak gini"
fia juga sebenarnya marah, entah apa yang terjadi kalau Ryan tidak menariknya dari jalan waktu itu, pasti fia sudah tertabrak motor, dan bagaimana jika Ryan tidak menemukan fia kemarin? fia gemetar hanya dengan memikirkan itu.
ekspresi marah ini baru pertama kali fia lihat di Ryan dan itu membuat fia takut, maka fia alihkan pembicaraan soal Mona.
"kamu kenapa bisa suka sama aku?"
usaha fia berhasil, ekspresi marahnya hilang begitu saja. fia tersenyum puas
"maksud aku, kamu itu kaya, punya segalanya, pintar, ganteng dan banyak cewek-cewek cantik yang suka, tapi kenapa aku?"
ini pertanyaan yang membuat fia sering tidak bisa tidur, kenapa gadis biasa yang ga cantik-cantik banget (menurut fia) bisa disukai oleh mahluk yang biasanya cuma ada di negeri dongeng seperti Ryan, tapi bukannya dapat jawaban Ryan malah balik bertanya kepada fia.
"kamu sendiri kenapa bisa suka sama aku?"
emang kurang jelas apa seh? tadi kan udah di bilang kamu tuh ganteng dan kaya.
teriak fia dalam hati tapi tak berani diucapkan
"Dih, kan aku duluan yang nanya"
"aku bakal kasih tau kalau kamu duluan yang bilang"
fia berpikir sejenak, laku mengangkat kakinya bersila di sofa sambil menghadap ke arah Ryan dan menatap matanya dalam-dalam.
"karena kamu bisa dengar aku".