
"I've always been a silent admirer and i'm ok with that, as long as you happy, i'm alright"
***
"you"ll never see me as a man, don't you?"
Sofia mengutuk dirinya sendiri saat kata-kata itu terlontar dari mulutnya, fia tak pernah bermaksud untuk melukai Louis, percaya atau tidak hati fia juga hancur karena perasaannya pada Louis dulu tulus dan nyata bukan seperti yang orang bilang 'cinta monyet', tapi di hati Fia sekarang sudah ada Ryan, dia yang saat ini memenuhi pikiran fia bahkan tinggal disana, Louis selalu punya tempat khusus di hati Fia dan takkan ada yang bisa menggantikannya termasuk Ryan, tapi Louis sudah terlambat, Louis datang disaat fia sudah memiliki status sebagai kekasih Ryan, fia tak bisa mengkhianati Ryan dan ia memang tak berencana untuk itu, andai dulu Louis tak meninggalkannya, andai Louis kembali lebih awal sebelum Ryan memasuki hidupnya mungkin janji itu tetap berlaku, tetapi tak ada harapan dari sebuah kata 'andai' . fia butuh kepastian untuk agar hidupnya bisa terus berjalan, itulah yang coba fia lakukan, memberi kepastian pada Louis tentang hubungan mereka agar Louis tidak menggantungkan harapan pada fia, agar hidup Louis juga bisa berjalan meski itu tanpa fia, ya. caranya memang salah dan menyakitkan tapi adakah cara yang halus dan tidak menyakitkan jika itu menyangkut soal perasaan?
****
Ajaibnya, Louis bisa mengendalikan diri dan mengangkat kepalanya untuk memandang fia, air matanya masih mengalir bercampur air hujan, semakin lama mereka disana semakin besar kemungkinan dia jatuh sakit, fia tak tahan dingin tapi dia disini dibawah hujan dengan Louis menahannya, Louis yakin perut fia sakit menahan lapar karena ia juga sama, maka apapun yang Louis rasakan saat ini tidak lah penting yang penting saat ini adalah bagaimana membuat fia masuk ke mobil dan segera pulang untuk menghangatkannya. lihat fia Sekarang.... sekujur badan gemetaran. biarlah Louis menikmati rasa sakitnya tanpa fia tahu.
"aku takkan membuatmu merasa terbebani lagi, aku berjanji tapi aku mohon, masuklah ke mobil ... kita pulang"
tak ada lagi alasan untuk fia menolak masuk ke mobil, Louis membuka pintu penumpang dibelakang, memastikan Fia duduk disana, Louis tidak langsung masuk melainkan membuka bagasi mobil dan mengambil tas berisi baju bersih Louis yang memang disiapkan Sony untuk keadaan darurat jika Louis butuh baju ganti dan sepengetahuan Louis situasi ini termasuk darurat, Louis kembali ke fia untuk memberikan tas berisi baju itu padanya, fia menerimanya dengan wajah bingung
"ganti pakaian basah mu dengan baju yang ada di tas ini, aku akan menunggu diluar sampai kamu selesai"
Louis menutup pintu dan bersandar memunggungi fia, ia gunakan kesempatan itu untuk menata hatinya dan mengalirkan air mata terakhir sebelum ia menghapusnya, sedang fia menatap nya sedih, ia tahu Louis menangis dan itu meremukkan hatinya seperti itu terbuat dari kertas, tak mau Louis terlalu lama kehujanan diluar, fia cepat-cepat mengganti pakaian basah nya dengan kemeja dan celana Louis yang kebesaran, fia mengetuk kaca mobil sebagai tanda Louis bisa masuk.
****
"fia... bangun sayang" fia merespon suara lembut yang memanggilnya berkali-kali dengan sabar, fia membuka mata dengan kesusahan, saat ia mencoba bangun tangan sejuk menyentuh dahinya dan membuatnya bergidik sesaat, sampai akhirnya ia bisa membuka matanya dan melihat si pemilik tangan walaupun samar-samar, fia bergerak hendak duduk tapi kepalanya berputar dan ia kembali jatuh.
"masih pusing?"
fia mengangguk pelan sambil memegang kepalanya
"sedikit"
fia berhasil duduk dengan bantuannya, kini setelah fia berhasil mengumpulkan dirinya, pandangannya jadi sejernih krystal, fia menghela napas lega... ia memang sudah menunggunya pulang,
"ibu...."
Liliana duduk di sisi tempat tidur fia, ia mengusap keringat di dahi fia dengan handuk kecil,
"ya sayang..." jawab Liliana lembut.
"ibu kapan pulang?"
"tadi pagi, kamu kan ga kuat dingin, malah hujan-hujanan, jadi sakit kan"
Liliana mengambil semangkuk bubur yang masih hangat di nakas dan menyuapi anak gadis kesayangannya itu, fia melahap habis buburnya dan meminum obat setelahnya.
***
fia tidak yakin apa yang terjadi semalam, ingatannya sedikit kabur, terakhir yang fia ingat adalah ia mengetuk kaca mobil, fia juga ingat ia duduk di kursi penumpang belakang dan sesekali mencuri pandang ke Louis melalui kaca tengah, fia ingat rasa sakit yang berdenyut di hati nya karena melihat wajah Louis waktu itu,
air masih menetes dari ujung rambutnya, dengan cahaya yang redup di mobil, fia melihat wajah Louis yang sepucat hantu dengan tangan gemetar dan bibir yang ungu, Louis bisa saja memakai bajunya agar ia tidak tersiksa dan kedinginan tapi itu terasa Salah dan entah kenapa melukai harga dirinya, maka ia memberi bajunya pada fia dan itu terasa benar, paling tidak hati nuraninya masih bekerja dengan baik saat seluruh tubuhnya kesakitan, hanya terdengar suara hujan didalam mobil tanpa ada satupun yang berinisiatif membuka pembicaraan, fia melihat keluar jendela dan beristirahat dengan menutup matanya yang perih,
***
fia meloncat dari taksi yang membawanya ke LA grup, perusahaan yang dipimpin Louis, fia memasuki gedung itu tanpa rencana, gedung itu sangat besar di penuhi dengan orang-orang berpakaian formal berlalu-lalang, sedang fia hanya memakai overall panjang dengan kaus putih polos di dalamnya dan long cardigan milik Ryan serta sepatu sneaker satu-satunya yang ia punya, fia melangkah ke arah meja besar yang melingkar seperti memagari beberapa wanita cantik berpakaian rapi didalamnya, di meja itu ada tulisan front desk yang mencolok, fia tak yakin apa yang harus ia katakan saat salah satu dari wanita cantik itu bertanya "ada yang bisa dibantu?"
mungkin seharusnya fia menghubungi Louis dulu, akhirnya setelah fia berpikir sebentar dengan ragu ia menjawab pertanyaan nya
"mbak, saya mau bertemu dengan kak L"
wanita dengan nama Lana di name tag nya mengernyitkan dahi, fia langsung mengerti begitu Lana menunjukkan kebingungannya,
"ma... maksud saya pak Louis Arthur"
"oh... apa sudah ada janji?" tanya Lana, masih dengan senyuman di wajah oriental nya.
"harus ada janji dulu mbak?" tanya fia polos
"iya, Nona ada perlu apa kalau boleh tahu?" entah karena cara berpakaian fia yang kekanakan atau memang tubuh Fia yang mungil sehingga Lana memperlakukannya seperti bocah kecil yang tersesat.
"mau kasih oleh-oleh dari ibu untuk kak L... eh, maksud saya pak Louis"
"boleh saya tahu nama nona?"
"saya Sofia" Lana memandang fia dan berpikir dalam-dalam sebelum memutuskan untuk menghubungi seseorang lewat sambungan telepon dan menutupnya setelah mengangguk beberapa kali.
"mari nona Sofia, saya antarkan ke ruang pak Louis"
.
.
.
.
.
.
.
halo readers 😊
hope you enjoy hey Sofia...
tengkyu...