
Nightmare with my eyes open
****
"Bunga lihat aku, aku sedang bicara padamu!!!"
Sofia membatu tanpa bisa bergerak kecuali bulu matanya yang bergetar hebat, fia merinding, ia takkan pernah terbiasa dengan ledakan emosi Ryan, putri dengan lincah langsung melompat diantara mereka
"yan, sudah bel masuk, sebentar lagi guru datang kalian bisa bicara lagi nanti" Ryan tak bergerak sampai guru masuk ke kelas dan ia terpaksa duduk.
fia merasa tegang sepanjang pelajaran, ia terintimidasi dengan tatapan Ryan padanya, tatapannya tajam dan mengancam.
Ryan menarik tangan fia sebelum ia sempat bernapas begitu bel istirahat berbunyi, saat seisi kelas membeku di tempat, Sofia bisa mendengar gema bertanya pada putri begitu mereka melewati nya "apa kita harus mengejarnya?"
"tidak perlu, banyak yang harus mereka bicarakan" sambil terus mengunci pandangannya ke arah fia yang sekarang sudah keluar dari kelas "kita hanya harus memastikan fia tidak merasa sendirian".
langkah Ryan yang lebar dan cepat tak bisa diimbangi fia, beberapa kali fia hampir tersandung tapi ia berhasil mengatur kakinya agar tidak tersungkur, pergelangan tangan fia memerah dan sakit karena genggaman Ryan yang kuat, fia merinding ketakutan, bukan karena amarah Ryan tapi karena ia mungkin tak bisa menahan perasaannya, ia sangat ingin menghambur dan memeluk Ryan sekarang.
semakin mereka berjalan menjauhi gedung sekolah, semakin gelisah pula fia, ia tak tahu akan di bawa kemana
beberapa meter di belakang sekolah terdapat hutan Pinus yang menjulang tinggi dan teduh, udaranya segar dan berbau tanah membuat fia sedikit pusing, sisa hujan semalam masih membekas di tanah dan rumput liar yang basah, rumput panjang menyentuh kaki fia saat ia melewatinya dan itu membuatnya geli.
Ryan berhenti setelah dirasa cukup, fia melihat gedung sekolah dan sedikit terkejut, jauh juga mereka berjalan, untuk apa Ryan membawa nya sejauh ini kalau hanya untuk bicara.
Ryan membelakangi fia, bahunya naik turun entah karena lelah berjalan lama atau karena marah, Ryan berdiri diam selama 3 menit tanpa melepas tangan fia, tidak tahu apa yang dipikirkan Ryan, apapun itu fia sudah siap dengan kemarahannya, setelah bahu nya stabil Ryan tiba-tiba berbalik dan memeluk fia dengan sangat erat sampai terasa sesak, sungguh jauh dari dugaan fia yang mengira Ryan akan marah seperti di kelas tadi.
Ryan membawa nya dalam dekapan yang dirindukan fia, aroma parfum Ryan yang menghanyutkan hampir membuat fia mengangkat tangan membalas pelukannya, fia menutup matanya dan merasakan kehangatan Ryan.
"maafkan aku" kata Ryan di telinga fia.
" kau pasti kaget waktu aku tiba-tiba pingsan, kau pasti juga takut saat dikelas tadi, maafkan aku, mulai sekarang aku akan perhatikan kesehatan ku agar kau tak khawatir lagi, aku juga akan lebih bersabar, aku sangat merindukanmu"
kenapa Ryan meminta maaf? membuat segalanya jadi lebih sulit bagi fia, bukankah lebih mudah jika Ryan marah? membentak atau apalah, jika Ryan sebaik ini fia Semakin merasa bersalah, fia sudah membuat keputusan, meski itu menyakiti Ryan atau mematikan fia dari dalam tapi ia percaya ini dilakukan demi Ryan, ini tidaklah mudah, malahan sangat berat, fia mengumpulkan keberaniannya dan menahan air matanya agar tidak jatuh, ia tak boleh lemah sekarang
jika menjadi kejam diperlukan untuk menyelamatkan Ryan maka itulah yang akan ia lakukan.
fia mengambil napas panjang dan kata-kata itu keluar dengan lancar seperti fia sedang membaca buku,
"Ryan, aku mau putus" Ryan tak bereaksi, sesaat hanya terdengar suara burung dan daun yang bergesekan karena tertiup angin, di dalam hutan Pinus itu cahaya matahari hampir tak bisa menembus sama seperti suasana hati mereka saat ini yang gelap dan hampa
"itu sama sekali ga lucu, jangan mengatakan itu walaupun cuma bercanda"
"aku tidak sedang bercanda, ini bukan lelucon"
tangan Ryan jatuh di kedua sisinya ia menatap fia dengan ekspresi yang tak pernah ia lihat sebelumnya, apa lagi ini? fia terus dikejutkan dengan reaksi Ryan yang berubah-ubah, selama setahun ini mereka bersama fia merasa tidak benar-benar mengenal Ryan, setelah memandang intens pada fia selama beberapa detik, Ryan akhirnya berkata
"permintaan ditolak, apapun alasannya aku ga mau putus".
Ryan menarik tangan fia berniat kembali ke sekolah, fia mencoba mengambil tangannya dan menahan Ryan
"yan, tunggu dengarkan aku dulu"
"ga perlu" fia merasakan genggaman Ryan yang menguat seakan ia tak mau melepaskan nya "Yan lepasin, sakit"
Ryan tersadar dan langsung melepaskan fia, ia berubah masam begitu melihat tangan fia yang merah, ia tak bermaksud untuk menyakitinya tapi saat ini hatinya hancur, bukan ini yang ia bayangkan ketika ia mendorong matanya untuk terbuka, ia menginginkan pertemuan yang manis, ia berharap dia berkata 'aku juga rindu' dengan suara nya yang manja tapi apa yang ia dapat? kata putus.
Ryan tak dapat menyembunyikan kekecewaan di matanya dan memang ia tak mau.
"kenapa? apa yang kulakukan sampai membuatmu marah?" fia berpaling, tak berani memandang Ryan atau kebohongannya akan terbongkar, ia mengusap lengannya dengan gelisah. "kau... kau tidak melakukan apapun yang membuatku marah"
"lalu apa alasannya?" Ryan semakin dibuat bingung dan tak sabar
"aku bertemu Maya, dia sangat cantik, kalian berdua cocok"
"apa?! jadi kamu minta putus karena maya?"
Ryan mengusap wajahnya yang tampan, bertanya dalam hatinya
bagaimana fia tahu tentang Maya? mungkinkah mereka bertemu di rumah sakit? karena itu fia tidak menemuinya disana? karena ada Maya?
"aku dan Maya tidak punya hubungan apapun, ingat saat bertanya padamu 'andai aku bukan siapa-siapa dan tak punya apa-apa maukah kau menerimaku?' itu karena papa mengancam akan membeku kan semua fasilitas ku dan aku harus berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan ku jika aku menolak bertunangan dengan Maya, tapi aku tidak peduli, asalkan bisa bersamamu aku rela kehilangan itu semua karena aku tak mau kehilanganmu"
"tapi aku peduli.... aku tak mau kau kehilangan semua hanya demi aku, aku takkan sanggup menanggung beban nya"
"apa itu aku di matamu? beban?"
"iya..." entah bagaiman kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut fia tanpa berpikir dahulu
"aku selalu merasa kecil dihadapan mu, aku tidak akan bisa berjalan beriringan denganmu karena dunia kita terlalu berbeda"
"kau berharap aku percaya omong kosong itu? kau anggap aku bodoh?"
"Yan...." jelas bukan itu maksud fia,. ia ingin menjelaskan tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokan nya tanpa bisa keluar.
"aku akan pergi...." fia berhenti sejenak, tidak yakin dengan apa yang akan ia katakan tapi sepertinya ia kehabisan alasan untuk mengakhiri hubungan mereka
"aku akan ikut kak L ke London dan mungkin akan kuliah disana"
"kau akan meninggalkan ku?" tanya Ryan putus asa
"aku dan ibu akan berangkat segera setelah lulus, kami mungkin akan lama disana, karena itu aku tak ingin kau menunggu ku"
Ryan tertawa penuh ironi
"jadi Louis bisa berkorban untuk mu tapi aku tak boleh melakukan sesuatu untuk mu?"
lagi-lagi Ryan salah paham, tapi sakit karena patah hati akan jauh lebih baik dari pada tahu tentang kecelakaan itu, hati nya bisa lebih dari sekedar hancur, hatinya mungkin tak bersisa lagi,
kemarahan Ryan pada fia bisa membuatnya lebih cepat melupakan fia dan ia bisa melanjutkan hidupnya tanpa rasa sakit, fia hanya berharap kebahagiaan Ryan meski itu berarti fia tak bahagia karena tanpa Ryan, ia hanyalah tubuh tanpa jiwa yang terlalu sakit untuk hidup tapi terlalu takut untuk mati,
meski ia harus membuang dirinya sendiri ke dalam neraka agar bisa memberi surga pada Ryan, ia dengan senang hati melakukannya,
"kau tahu bukan itu yang ku maksud"
"aku tak tahu apa-apa lagi sekarang, aku hanya tertidur selama sehari tapi begitu aku bangun aku kehilanganmu, lalu apa gunanya aku bangun? ini seperti mimpi buruk dengan mata terbuka, setidaknya....." Ryan mengatur napas nya, tangan nya terangkat ke wajah dan dengan punggung tangan nya ia mengusap air yang menghalangi pandangan nya, lalu dengan suara serak ia melanjutkan
"...... setidaknya saat aku tertidur tidak peduli betapa itu sangat menyakitkan tapi aku masih bisa melihatmu tersenyum, tertawa bahkan memanggil namaku, mungkin lebih baik aku tetap tertidur...."
"TIDAK!!!"
fia meraih tangan Ryan dengan tangannya yang dingin, melihat Ryan terluka hatinya benar-benar sakit, ia ingin berhenti, ia ingin menyerah, berkali-kali ia ingin memeluknya dan mengatakan ia juga merindukannya tapi akal sehat fia selalu menang melawan hatinya, akal sehat fia berkata jika Ryan tahu ia yang menyebabkan fia kehilangan ayahnya, apa Ryan masih bisa menunjukkan wajahnya lagi didepan fia? bukankah itu berarti fia bisa benar-benar kehilangan Ryan selamanya? mungkin fia sudah memaafkan nya tapi apa Ryan bisa memaafkan dirinya sendiri? ia akan hidup dengan rasa bersalah yang luar biasa dan mungkin tak bisa ia tanggung, fia tak mau itu terjadi.
"kau tak boleh tertidur lagi, kau harus hidup panjang dan bahagia"
fia menggoyang tangan Ryan untuk membujuknya.
"aku tidak bisa menjadi bahagia tanpamu"
air yang tadi Ryan tahan kini mengalir, ia merasakan asin di mulutnya dan itu tidak menyenangkan, maka ia buru-buru menghapusnya
"aku tidak pernah menanyakan perasaanmu terhadap Louis, dan aku tidak pernah meragukan perasaan mu padaku tapi waktu bisa mengubah itu semua"
Ryan melepaskan tangan fia darinya
"kau ingin aku bahagia kan? aku akan melakukan itu, anggap ini adalah hadiah terakhirku untuk mu"
Ryan menatap mata fia tanpa keraguan
"Bunga Sofia, hari ini aku membebaskan mu"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
halo readers 😊....
hope you all like this episode
jujur nulis ini tuh saya jadi ikut sedih.... berasa jadi Ryan 😆.
mudah-mudahan perasaan Ryan sampai ke kalian juga ya 😁.
happy long holiday.....
thank you for your support.... i purple you 💜.
sampa jumpa tahun depan 😘😘.