Hey Sofia

Hey Sofia
Aku hanya melihatmu



**My love has nothing to do with you, even though i'm the only one who loves you, it's still love**


###


pernahkah kau mencintai seseorang selama lebih dari separuh hidupmu tapi ia melihat ke arah lain? Dialah alasan mu membuka mata di pagi hari dan namanya lah yang kau sebut ketika malam kau menutup mata, pertama kali aku melihat nya aku baru tahu keindahan seperti itu nyata adanya, kenapa ia selalu berpendar-pendar dalam pandangan ku? bahkan setelah bertahun-tahun berlalu ia tak kehilangan daya magis nya. Aku hanya melihatnya seorang.


Dulu kupikir cinta sejati adalah saat kau memikirkan nya sepanjang waktu dan kau tahu dia juga memikirkan mu. Aku salah, Cinta sejati adalah saat kau bahagia dengan melihatnya tersenyum untuk alasan apapun itu, cinta sejati adalah saat kau tenang karena kau tahu ia senang, aku kehilangan hak ku untuk memilikimu saat aku meninggalkanmu, aku kehilangan hak ku untuk mempertahankan mu disisi ku ketika aku mengabaikan mu yang meminta ku tinggal. Tapi aku hanya melihat mu.


Aku mencintaimu dan itu tak ada hubungannya dengan mu, aku baik-baik saja bahkan saat kau mengatakan kau mencintai orang lain, aku hanya akan berdiri di kegelapan sambil mengagumi mu yang berpendar untuk nya, aku tidak akan berdiri terlalu jauh dari mu agar setiap kali kau membutuhkan ku, aku ada. tak perlu meneriakkan namaku, hanya perlu memandangku dan aku akan datang padamu dalam satu kedipan mata. Karena aku hanya melihatmu.


Aku sudah menyerahkan hati ku padamu, bahkan jika kau tidak menginginkan nya ia tetap milikmu, aku mencintaimu dan kau boleh tidak mencintai ku, bagaimanapun juga aku tetap milikmu. Karena aku hanya melihatmu.


###


Seminggu berselang setelah kepulangan Ryan,


Ryan dan fia bergandengan tangan sepanjang lorong sekolah, meski sudah ribuan kali mereka melakukan itu, fia masih belum terbiasa dengan kehangatan yang Ryan berikan melalui tangannya, tanpa canggung mereka memasuki ruang kelas, begitu fia lihat sekumpulan 4 gadis yang sedang bersenda gurau tanpa berpikir fia melepaskan tangan Ryan dan meninggalkannya kebingungan di pintu untuk menghambur dalam pelukan teman-temannya, Ryan mendesah karena hal ini selalu saja terjadi padahal mereka bertemu setiap hari, Ryan berjalan melewati sekumpulan sahabat yang masih berpelukan menuju bangkunya, Ryan mendengarkan musik melalui earphone nya sambil terus memperhatikan fia, ia tampak begitu ceria dan itu menghasilkan senyuman di bibir Ryan.


angin hangat berhembus dari jendela yang terbuka, tirai putih panjang melambai mengikuti arah angin yang membawanya, begitupun rambut panjang fia yang menari-nari di wajah nya, di bawah cahaya yang menerobos melalui sela-sela fia terlihat seperti bidadari, ia cantik tanpa harus berusaha, lamunannya membawa Ryan ke masa saat fia diluar jangkauannya, ia ingat ketika pertama kali melihat fia tanpa rencana, fia tertidur di jendela kamarnya, lalu secara kebetulan Ryan kembali melihatnya sedang berayun dengan wajah sendu di taman, Ryan tak mengenalnya tentu saja, tapi perasaan ingin melindungi begitu kuat terasa saat ia tahu fia menangis, apa di kehidupan sebelumnya Ryan berhutang pada fia hingga Ryan merasa harus membayarnya dengan seluruh hidupnya benar-benar hanya untuk membahagiakan fia, entah ini takdir atau hanya kejadian random, fia terus berada dalam jarak pandang Ryan, dan selama masa itu tidak sekalipun Ryan lihat fia tersenyum,


Lalu keajaiban itu datang, Bunga Sofia Darmawan berada di satu kelas yang sama dengannya, saat itu ia hanya tahu namanya Bunga, seharusnya ia punya kehidupan seperti bunga yang dipuja karena keindahannya,


saat itu pelajaran baru saja berakhir dan jam istirahat dimulai, kelas sudah mulai kosong tapi fia tetap di bangkunya, tangannya terlipat di atas meja dan kepalanya jatuh disana, ia tertidur dengan wajah menghadap Ryan, tubuhnya bereaksi tanpa sadar dan mengikuti fia, Ryan menatap fia yang tertidur lelap dan berkata dalam hatinya


apa yang membuatmu selalu tampak sendu? kau cantik Bunga Sofia Darmawan, jadilah bungaku, jadi milikku.


°°°


"Ryan...!!" Ryan tertarik dari lamunannya berkat teriakan Ayu yang memekik, fia mengangkat dagu nya dan tersenyum, Ryan mengerti maksudnya dan hanya menjawab dengan gelengan sambil tersipu malu, Ayu memutar bola matanya karena melihat Ryan yang salah tingkah kemudian mengutarakan maksudnya memanggil Ryan,


"kita mau ke Cafe sepulang sekolah nanti....."


"ga boleh....!" Ayu tidak sempat menyelesaikan kalimatnya tapi Ryan sudah mencela dan itu membuat Ryan merengut, akhirnya fia buka suara


"yank... boleh ya, udah lama ga ngumpul bareng" fia sengaja membuat suaranya terdengar seperti permohonan dan bukannya permintaan, Ryan benar-benar lemah terhadap fia, Ryan berpikir sesaat "boleh tapi aku ikut". fia dan temannya hanya saling memandang, Gema dan Rani mengangkat bahu dan semua pandangan tertuju pada putri, menerima tekanan yang begitu besar dari teman-temannya Putri pun mengangguk setuju, Ryan tersenyum puas secara terang-terangan.


Tangah Ryan santai melingkari bahu fia, menarik kepalanya mendekat agar dapat mencium aroma rambut fia yang menyegarkan, saat bel berbunyi, lorong dipenuhi dengan anak-anak yang tidak sabaran ingin segera meninggalkan sekolah, bahkan ada beberapa yang berlarian hingga menabrak orang didepan, Ryan menurunkan tangannya ke lengan fia tapi tidak mengurangi tenaganya, mencoba mencegahnya bertabrakan dengan anak lain tapi seberapapun besar usahanya ia tetap tak bisa menghindar, lorong itu tidak terlalu lebar dengan ratusan anak berjalan bersamaan tentu bertabrakan merupakan hal yang pasti dan tak terhindarkan dan kenyataan itu membuat Ryan kesal, bibirnya membentuk kerutan dan itu tampak lucu bagi fia, keadaan itu terjadi setiap hari saat mereka pulang sekolah tapi reaksi Ryan seolah itu baru pertama kali terjadi dan Ryan yang merajuk benar-benar menggemaskan, baru lah setelah kaki mereka keluar pintu, tulang rahang Ryan tak lagi menegang, mereka menuju tempat parkir yang berada di balik gedung sekolah, rencananya ia dan fia akan menumpang di mobil putri, putri hapal dimana ia memarkirkan mobilnya dan langsung menuju ke sana, Ryan dan fia berjalan tak jauh dibelakang mereka, mata Ryan menangkap satu mobil yang tampak tak asing, pandangannya turun ke bawah plat nomer nya untuk memastikan kalau dugaan nya benar, Ryan menarik fia ikut mendekati mobil itu, pintu mobil terbuka dari dalam dan seseorang keluar dari kursi pengemudi dan mata Ryan melebar.


mobil itu terparkir tak jauh dari tempat putri memarkirkan mobilnya, saat putri dan yang lainnya sampai di mobil, mata mereka mengikuti kemana Ryan dan Sofia pergi.


"pah, lagi apa disini?" tanya Ryan heran


"halo om, apa kabar?" baru saja Ray akan menjawab Ryan tapi tertahan karena fia menyela nya, maka ia menjawab fia demi kesopanan,


"halo fia, kabar om baik, kamu sendiri gimana?"


"fia baik juga om, terimakasih" Ray tersenyum ramah, pandangannya jatuh pada tangan Ryan dan Sofia yang terkait lalu kembali menatap mata fia masih dengan senyum yang sama lalu beralih ke Ryan,


"papa sengaja datang mau mengajakmu makan siang"


fia menarik tangan Ryan, ia hanya saling bertatapan tanpa mengatakan apapun tapi Ryan bisa membaca pikiran fia dan ia mengangkat bahu sebagai responnya


"papa kamu sudah datang ke sini, masa kamu tolak"


wajah Ryan berubah masam


"aku ga pa-pa kok, kamu pergi sama papa kamu aja ya"


fia memang tidak apa-apa tapi Ryan yang kenapa-napa, ia tak tahan membayangkan pria-pria yang menatap fia setiap fia lepas dari pengawasannya, ia juga tak tega dengan sang papa yang sudah datang menjemputnya, masih dengan wajah tertekuk Ryan dengan berat hati mengangguk, Ray dalam kebisuannya memandangi kedua sejoli itu dan bagaimana Ryan begitu patuh dengan kata-kata fia seolah kata-katanya adalah hukum yang wajib di patuhi, tak di ragukan gadis itu mengendalikan ryan, bagian terbaiknya adalah kendali Ryan ke arah positif, yang mana itu bagus, Ray harus mengakui pengaruh fia dalam hidup Ryan bahkan sebelum mereka menjalin hubungan, Ray suka ke mana fia membawa Ryan dan ia melakukannya semudah membalikkan telapak tangan, tapi bagaimana juga itu harus dihentikan.


Ayu disebelah sana sudah mulai tak sabar dan bertanya setengah berteriak padahal mereka hanya berjarak beberapa meter saja


"fia... Ryan... jadi ikut ga?" Ryan, fia dan Ray menengok secara bersamaan, Ray memasang wajah pokernya, Ryan mendelik kesal dan fia hanya mengangkat tangannya yang bebas, mereka memutuskan menunggu di dalam mobil.


"ok, tapi jangan pulang malam-malam ya, kalau sudah sampai rumah telepon aku"


"iya" Ryan mengecup sekilas puncak kepala fia dan membuat pipi nya memerah, dengan berat Ryan melepas fia dan berjalan menuju mobil, sebelum menyusul Ryan, Ray berpamitan pada fia.


"Sofia, om pinjam Ryan dulu ya"


"iya om, hati-hati dijalan"


Ray menunggu fia dan masuk ke mobil, suara mesin terdengar meraung halus dari Mercedes-Benz E-class yang mengkilap itu, fia bergeser memberi jalan bagi Ray, Ryan menurunkan jendela untuk melambaikan tangan dan fia membalasnya, fia melihat mobil Ray hilang dibalik gedung sekolah kemudian ia merasakan getaran dari dalam tas nya, fia mengambil ponselnya, yang bergetar adalah ponsel milik Louis, tanpa ragu fia langsung mengangkatnya.


"halo...."


"kamu dimana?" jawab suara dari seberang sana yang terdengar sangat lembut


"di sekolah, baru aja pulang"


"aku ada di depan gerbang"


°


°


°


°


°


°


°


°