
"When you move your mouth to speak, i feel the blood rush to my feet"
"Louis....?"
Louis berbalik mengikuti arah suara itu, fia melongok dari balik Louis dan menatap terpesona dengan pemilik suara itu, seorang wanita dengan kecantikan paripurna yang belum pernah fia lihat sebelumnya, wajah nya mungil dengan mata besar, bibir nya yang merona dan menggoda, dan tubuhnya yang seksi dengan bagian-bagian yang terlihat besar namun pas dan tak berlebihan, fia saja terperangah membuka mulutnya melihat kecantikan wanita itu apalagi Louis? fia mendongak memandang Louis, diluar dugaan Louis memasang wajah datar seperti tak tertarik dengan kecantikannya yang mustahil.
"Anna.."
Louis menyapanya dengan kaku, ia memasang wajah masam seperti biasa, sejak kecil Louis tidak pintar beramah tamah, wajahnya selalu tampak marah jika berhadapan dengan orang lain, anehnya Louis selalu berhasil membuat wanita menengok ke arahnya dengan pandangan penuh kekaguman setiap kali Louis lewat seperti bunga yang dikelilingi lebah.
Anna mengambil langkah ke depan, mengelus lengan kiri Louis dengan cara paling menggoda dan berkata dengan manja
"senang sekali bisa bertemu denganmu disini, kau tak pernah membalas pesanku"
Louis melihat kearah lengan yang Anna sentuh, menunjukkan ketidaksukaannya dengan tatapan dingin yang langsung dimengerti Anna, dia mengambil kembali tangan kurang ajarnya dan kembali menaruh ditempat yang memang seharusnya.
"aku sibuk"
"tapi kau sempat datang kesini, apa kau sendirian? sayang sekali aku sudah mau pergi, lain kali hubungi aku dan aku bisa menemanimu makan"
"apa kau tidak lihat..." Louis mendorong fia yang sejak tadi menguping dibelakang hingga bersisian dengannya
"aku tidak sendirian" Louis mengunci bahu fia agar mendekat dengannya, fia tampak terkejut dan tidak siap dengan tindakan Louis yang tiba-tiba hingga ia terhuyung ke depan hampir jatuh sebelum Louis menahannya, Anna melihat fia dengan pandangan merendahkan dari atas ke bawah dan berakhir di mata fia, dia berdecak dengan angkuh dan melipat kedua tangannya di dada, fia tidak sadar dengan sikap Anna yang melihatnya seolah fia gelandangan yang diambil Louis dari jalanan, dengan polosnya fia menyodorkan tangan hendak mengenalkan diri seperti orang normal kebanyakan.
"halo, saya Sofia" fia mengenalkan diri dengan sopan karena jelas Anna lebih dewasa dari nya, Anna menyambut tangannya dengan enggan.
"Anna, jadi ini Sofia yang terkenal itu?"
fia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya begitu tahu Anna mengenalnya, belum lagi ia pulih dari rasa terkejutnya lagi-lagi Louis membuatnya shock dengan kata-katanya.
"iya ini Sofia calon istriku" fia beralih memandang Louis dengan mulut terbuka tak mengerti kenapa ia diperkenalkan sebagai calon istrinya, Louis melirik fia dan melihat tanda tanya besar di matanya tapi Louis tak menghiraukan fia yang menuntut penjelasan, Louis malahan semakin menarik fia agar merapat padanya,
"CK.... kukira Sofia orang yang seperti apa ternyata jauh dari yang ku bayangkan"
Anna kembali bersedekap dan memutar bola matanya
bagaimana gadis seperti Sofia yang Kumal, kurus dan jelek bisa berdampingan dengan Louis yang menawan, ini Louis yang selalu digilai wanita-wanita cantik sekelas model internasional seperti aku, harusnya aku lah yang sedang dirangkul Louis, kecantikan ku lah yang setara dengan ketampanan Louis.
perasaan dikalahkan oleh gadis kecil yang jauh berada dibawah kelas nya membuat Anna marah, sudah lama ia mengejar Louis, mereka adalah teman saat kuliah dulu, seberapa pun kerasnya Anna menggoda Louis, yang ia bicarakan hanya selalu seputar fia sampai telinganya panas, Louis selalu membanggakan Sofia didepannya dan begitu Anna tahu ternyata Sofia gadis rendahan yang miskin, harga dirinya seakan tercabik-cabik. Anna seorang wanita cantik yang bisa mendapatkan laki-laki manapun hanya dengan menjentikkan jari merasa terhina jika Sofia adalah saingannya sungguh tak sebanding tapi itulah yang membuatnya meradang, Sofia bukan siapa-siapa tapi ia kalah dari nya.
Anna secara terang-terangan memperlihatkan kebencian pada fia dan tatapan matanya yang membakar membuat fia menelan ludahnya.
Anna mendekati Louis dan berbisik ditelinga nya.
"kau harus benar-benar memeriksakan matamu ke dokter, Louis"
Louis membalas berbisik ditelinga Anna dengan nada suara sedingin es
"apa kau tak merasa kau lah yang harusnya ke rumah sakit untuk menemui dokter ahli syaraf? sepertinya kau mengalami kerusakan otak"
restoran itu berada di dataran tinggi dengan garasi tempat parkir yang terpisah dari gedung utama, kebun bunga matahari mengelilingi restoran yang tepat berada di tengahnya seperti pagar bunga, Louis dan fia ditempatkan agak terpisah dengan pengunjung lain, dekat dengan kaca besar dan pemandangan jalan raya dibawahnya,
hidangan lezat dan menggiurkan sudah tersaji diatas meja tapi fia hanya diam memandang makanan dan tak bisa menahan wajah kesalnya, bukan karena perlakuan Anna yang kasar, sejujurnya fia tahu apa yang dikatakan Anna itu benar, fia bukanlah siapa-siapa hanya gadis miskin yang kebetulan dikenal Louis, fia sama sekali tak tersinggung dengan kata-katanya yang buat fia kesal adalah Louis yang tidak menanyakan pendapatnya sebelum memutuskan sesuatu.
"jangan diam saja , ayo makan"
"kenapa kakak bilang begitu ke Anna?"
Louis menghela napas panjang, ia meletakkan kembali makanan yang baru akan masuk ke mulutnya, ia benar-benar tidak punya tenaga untuk perdebatan, ia lelah, kelaparan dan suasana hatinya sedang benar-benar buruk sejak taman bermain ditambah ia bertemu Anna yang menyulut emosinya dan sekarang fia.
tak bisakah ia menunggu sampai Louis menghabiskan makanannya? ia benar-benar kelaparan hingga tangannya gemetar, kenapa fia harus menguji kesabaran nya sampai ke ujung? Louis menekan pangkal hidungnya dan punggungnya menempel di kursi
"bilang apa maksud kamu?"
"bilang kalau fia calon istri kakak"
"apa yang salah dari itu?"
"kakak selalu memaksa kan kehendak tanpa dengar dulu pendapat fia"
Louis menyipitkan matanya bingung
"fia bilang mau pulang tapi kakak ajak fia kesini, fia bilang ga mau ke tempat ini tapi kakak maksa terus kakak bilang kalau fia calon istri kakak, itu apa namanya kalau bukan memaksakan kehendak? kakak lakukan sesuka hati kakak tanpa tahu fia suka atau ga?!!"
Louis menutup mata menahan amarahnya selama fia bicara, tangannya mengepal keras hingga tulang-tulang nya menonjol dan baru membuka mata saat fia selesai mengatakan isi hatinya, Louis menjawab dengan penuh penekanan emosi disetiap kalimatnya.
"pertama, kakak ajak kamu kesini karena kakak tahu kita berdua kelaparan dan ini adalah satu-satunya restoran disepanjang jalan yang kita lalui dan kakak ga pernah maksa kamu untuk ikut, kamu jalan dengan kaki kamu sendiri.
kedua, apa kamu lupa siapa yang merengek mau menikah?"
sontak fia melebarkan matanya, tak ada yang salah dengan kata-kata Louis tapi entah kenapa itu sangat menusuk fia, padahal fia tidak tersinggung sama sekali dengan waktu Anna mengatakan kebenaran tentang fia, tapi jika itu keluar dari mulut Louis terasa beribu-ribu kali lebih menyakitkan. fia sadar Louis yang selalu bersikap dingin dan angkuh tapi tidak pernah di hadapan fia, ia selalu lembut dan perhatian, baru kali ini sikap dinginnya ditujukan pada fia, malu dan kesal fia berdiri berniat pergi
"terserah, fia mau pulang!"
dengan langkah lebar fia meninggalkan Louis yang sedang memejamkan mata mencoba menekan emosinya agar tidak keluar, skala emosinya sekarang berada di angka 5 dan terus menurun, Louis membuang napas berat memanggil fia.
"Sofia!!"
fia berhenti hanya untuk memandang Louis dengan mata nya yang merah lalu berbalik dan setengah berlari menuju pintu.
Louis melempar kain putih kecil di pangkuannya ke atas meja dan berlari mengejar fia, begitu fia ada dalam jangkauan, Louis menghentikannya dengan menarik lengan fia, bagaimana fia bergerak begitu cepat hingga tanpa sadar mereka sudah ada di jalan jauh dari restoran
"fia!! tunggu kakak ambil mobil, kita pulang bersama"
fia menghempas tangan Louis kasar hingga lepas,
"ga perlu, fia bisa pulang sendiri!"
Louis tertegun sesaat dengan fia yang keras kepala. kembali fia meninggalkan Louis di tempat nya berdiri, Louis memutar tubuh berlari ke restoran mengambil mobilnya untuk mengejar fia.
begitu Louis masuk ke mobil nya tetesan air sedikit demi sedikit jatuh di atas kaca, Louis menengok lewat kaca mobilnya dan ia tahu apa itu "shit!!"
Louis menginjak gas keras meski tahu fia takkan pergi jauh berjalan kaki tapi dalam keadaan hujan amarah Louis berubah menjadi kecemasan, dengan kecepatan penuh hanya butuh 3 menit bagi Louis menemukan fia, dia bahkan tidak mencoba untuk berteduh dari derasnya hujan dan membiarkan tubuh kecilnya basah kuyup, Louis membunyikan klakson untuk menarik perhatian fia dan itu berhasil.
fia terlalu malu untuk kembali ke restoran saat hujan pertama jatuh diatas kepalanya yang panas, fia melihat sekeliling dan baru tersadar restoran itu berada diatas bukit dimana hanya ada pohon jati sepanjang mata memandang, dengan absennya cahaya bulan karena hujan suasana nya menjadi semakin gelap dan menyeramkan, fia melipat tangan untuk mengelus kedua lengannya mencari kehangatan, bibirnya sudah membiru dan bergemeretakan secara liar, udara semakin dingin saat hujan turun semakin deras, fia refleks menengok kebelakang begitu mendengar suara klakson berbunyi, fia kenal Bentley itu, itu mobil Louis yang berjalan lambat di sisi nya.
Louis menurunkan kaca mobilnya dan memohon agar fia masuk ke mobil tapi gadis itu tak bergeming, malah mempercepat langkahnya seolah tak peduli tubuhnya sudah menggigil, dengan berteriak Louis meminta lagi ke fia
"Sofia!! jangan keras kepala dan masuk ke mobil sekarang!! apa kau sungguh mau berjalan 3 km ke jalan raya dalam keadaan hujan? apa kau pikir ada kendaraan umum di daerah sini?!"
"fia akan cari taksi!!"
Louis mendahului fia dan memutar setir nya tajam ke kiri hingga terdengar bunyi decitan akibat ban yang bergesekan dengan aspal hanya untuk menghentikan fia, Louis meloncat keluar mobil, menerobos hujan dan berdiri dihadapan fia,
"apa kau sudah gila?! kau bisa sakit!! ayo masuk ke mobil!!" kali ini Louis tak berhasil menarik tangan fia karena gadis itu menolak dengan sekuat tenaga
"kakak ga bisa maksa fia" Louis memegang kedua bahu fia dan mengguncangnya pelan
"memangnya kapan kakak maksa kamu? kakak cuma mau kamu masuk mobil atau kamu mau benar-benar kehujanan sampai sakit?"
"fia ga suka kakak ungkit-ungkit janji untuk menikah, itu cuma omongan anak kecil yang ga berarti, kakak buat fia merasa terbebani tau ga?"
badai bergemuruh didalam hati Louis dan petir menyambar tepat disana, seketika Louis lemas tak bertenaga, kedua tangannya lunglai jatuh dari bahu fia tanpa perlawanan, Louis tertunduk menutup mata membiarkan hujan menyamarkan air matanya yang menetes tanpa peringatan, toh fia takkan bisa membedakan. Dalam riuhnya suara hujan yang konstan Louis berbisik
"you'll never see me as man don't you?"
.
.
.
..
.
halo readers 😊
terima kasih masih setia menunggu kelanjutan hey Sofia... i purple you 💜