Hey Sofia

Hey Sofia
The Worst Nightmare



~ One day with you is like my whole life in happiness ~


Ryan berada di sebuah Padang rumput yang tak berujung, langitnya biru cerah dan awan nya putih mengembang sempurna, Ryan tak ingat kapan terakhir kali ia merasakan udara sesejuk ini, ia merasa gelitik di kakinya saat melangkah, ia menunduk dan melihat ternyata ia bertelanjang kaki, ia jatuh terlentang dengan tangan terbuka dan mata tertutup


Ryan terbangun dengan isakan samar dari seorang wanita, begitu ia membuka mata langit berubah menjadi merah dan hitam, tercengang, ia bangkit secepat kilatan cahaya, belum pulih dari kebingungan nya, Ryan kembali mendengar suara isak tangis yang kini makin kencang dan jelas, Ryan berputar dan mendapati sekumpulan orang berbaju hitam berkerubung membelakangi nya, walau hanya terdengar suara isak tangis wanita tapi Ryan bisa tahu mereka semua menangis dari bahu mereka yang bergetar.


Rasa penasaran menguasai Ryan, ia ingin tahu apa yang mereka tangisi, perlahan ia mendekat dan melihat dari balik sela-sela kaki yang terbuka ada sebuah nisan, mereka menangisi seseorang yang telah meninggal, nisan itu tertutup sebuket bunga anggrek yang sengaja ditaruh disana hingga Ryan tak bisa melihat nama yang terukir di batu nisan itu,


Ia semakin mendekat entah karena alasan apa, tubuhnya terdorong dengan sendirinya, salah satu dari mereka merasakan kehadiran Ryan dan berpaling untuk melihatnya, Ryan meloncat dan mundur selangkah begitu mata wanita itu menatap nya langsung, matanya merah menyala dengan alis yang bertaut dan suara yang membuat Ryan merinding, wanita itu berkata sambil menunjuk ke arahnya "ini ulah mu, semua ini karena mu!!" mendengar kata-kata itu semua orang akhirnya berpaling memandangnya.


Ryan jatuh terduduk dan terkejut tak terkira, semua mata mereka merah menyala seperti lampu neon, mereka semua menunjuk dan mengatakan kata-kata yang sama dengan wanita tadi "ini ulah mu, semua ini karena mu!!" berulang-ulang terus dengan suara yang bukan dari dunia ini,


Ryan gemetar luar biasa dan mundur seraya mereka melayang mendekat, Ryan ingin berteriak minta tolong tapi tenggorokan nya tercekat, tak peduli berapa kali ia coba, tak ada suara keluar dari sana, Ryan semakin gelisah ketika kini mereka berdiri tepat di hadapan nya dan mengelilingi nya, ryan semakin beringsut di tempatnya duduk tanpa bisa bergerak.


Ryan mendongak ketakutan, melihat mata dari setiap wajah yang tak ia kenal, sementara mereka berusaha menerkam nya dengan jari-jari panjang mereka secara bersamaan, Ryan menutup mata, mengayunkan tangannya ke atas secara sporadis, kasar dan putus asa.


Ryan membuka mata dan sadar ia hanya menghempas udara, dadanya bergerak cepat naik turun dan napasnya putus-putus seperti habis berlari, sekali lagi ia di Landa kebingungan, bagaimana bisa ia tiba-tiba berada di kamarnya? tubuhnya basah dengan keringat, ia mengusap wajahnya yang tampak kelelahan, setetes darah jatuh di tangan Ryan, ia mengusap hidungnya pelan.... lagi-lagi ia memimpikan mimpi yang sama.


***


fia melihat Ryan bersandar di tiang lampu dengan wajar, satu kaki di bawah dan satu lagi di tekuk ke tiang, kedua tangannya di saku celana dan meskipun ia tertunduk tapi kontur wajahnya yang sempurna tetap memancarkan keindahan, Ryan seperti baru keluar dari lukisan, bagaiman ia bisa sangat tampan bahkan dengan hanya memakai seragam?


fia mengambil langkah lebar ingin segera sampai di sisi Ryan, dengan earphone yang menempel di telinga nya, Ryan tak merespon saat fia memanggil, ia baru sadar kehadiran fia ketika ia tepat berada di hadapannya, Ryan meluruskan kaki nya dan kepalanya jatuh lemas di bahu fia


"eh... kenapa?" tanya fia cemas


"sebentar saja, biar seperti ini" ada nada putus asa dari Ryan dan keinginan yang besar untuk menenangkannya muncul sebagai reaksi awal fia, ia mendekat agar bisa melingkarkan tangannya di pinggang Ryan dan berharap pelukan ini bisa menghangatkan hati nya, fia menepuk lembut punggung Ryan yang lebar, meski fia tak tahu apa yang Ryan alami tapi ia ingin Ryan tahu dia ada untuknya.


"ayo bolos sekolah" ajak Ryan pada fia "huh?" Ryan bicara di telinga fia jadi tidak mungkin ia tidak mendengarnya, fia hanya memastikan yang ia dengar adalah benar Ryan mengajaknya bolos, meskipun fia tidak terlalu menonjol disekolah tapi ia selalu menjadi murid yang taat dan tidak pernah bolos sebelumnya, yang ia rasakan saat ini adalah Ryan sedang dalam suasana hati yang buruk dan yang ia inginkan hanya membuatnya jadi lebih baik. sedikit nakal mungkin tidak apa-apa


"ok, ayo kita bolos"


***


Ini adalah jam sekolah dan mereka berjalan bergandengan di tengah kota tentu saja ini mengundang perhatian orang-orang, mudah bagi Ryan karena ia memakai jaket baseball nya tapi seragam fia tak terbungkus apapun, ia merasa risih dan Ryan sadari itu


"ayo kita pergi ke tempat yang agak ... tertutup"


tertutup yang Ryan maksud adalah warnet, dimana Ryan bermain game online sementara fia duduk disampingnya dengan setia sambil memainkan ponsel, menatap layar ponsel terlalu lama membuat mata fia lelah dan akhirnya tertutup


Ryan melihat fia tertidur dan ia sangat cantik, Ryan membuka jaketnya dan menutupi bagian atas tubuh Fia kemudian kembali meneruskan game nya.


5 jam berlalu.....


saat fia membuka mata Ryan sedang asyik dengan ponselnya, sudut mata Ryan menangkap pergerakan di sampingnya, gadisnya mengerjap dan mengusap matanya sambil berusaha duduk tegak


"sudah bangun?" tanya Ryan sambil membantu fia duduk. fia mengangguk "sudah selesai main game nya?"


"Hem.... dari satu jam yang lalu"


"kenapa aku ga di bangunin?"


"aku sudah mengambil waktu belajarmu, aku tak mau mengambil waktu tidurmu juga" Ryan menepuk-nepuk kepala fia membuat rona merah di pipi nya "sekarang kita mau kemana?" sebelum menjawab suara meraung keluar dari perut fia, spontan ia memeluk perutnya dan menunduk menahan malu, Ryan seperti menonton pertunjukan komedi di TV dan tidak bisa jika tidak tersenyum "memberimu makan...."


***


Ryan memakai kan jaketnya pada fia dan ia langsung tenggelam di dalamnya, Ryan lupa betapa sangat menggemaskan gadisnya itu, ia hampir membuka mulut lebar-lebar dan ingin melahap fia bulat-bulat,


Ryan mengambil tas fia dan membawanya dengan tangan kiri sedang tangannya yang bebas menuntun fia sepanjang jalan menuju restoran,


fia dibawa ke restoran Jepang seperti yang Ryan suka, satu hal yang Ryan tidak tahu adalah fia tidak mahir dengan sumpit, ia berkali-kali mencoba mengambil makanannya hanya untuk berakhir dengan kegagalan,


Ryan mendapati adegan canggung fia dan sumpit nya adalah sesuatu yang lucu, Ryan tak bisa menahan tawanya saat ia tertunduk,


fia sangat manis dari ujung kepala sampai kaki, luar dan dalam tapi ia tidak tahu itu, fia tak sadar telah memporak-porandakan hati Ryan dengan tingkah laku nya yang tak direncanakan tapi berhasil membuat Ryan berdebar.


fia akhirnya menyerah, ia meletakkan sumpit diatas meja dengan frustasi


"seharusnya kau bilang kalau jarimu itu kaku" goda Ryan.


"seharusnya kau bilang kalau mau ke restoran Jepang" jawab fia ketus


"oh, jadi ini salahku? salahku karena kau tidak bisa menggunakan sumpit?"


fia bersandar, menyilangkan tangannya dan mendengus, ia tak punya tenaga untuk menjawab Ryan karena ia kelaparan


Ryan berdiri dan pindah duduk ke sebelah fia, mengambil makanan dengan sumpit tanpa kesulitan dan mendekatkannya ke mulut fia sambil berkata "buka mulut" fia menatap Ryan dan membuka mulutnya tanpa mengalihkan pandangan


"hari ini aku akan melayani mu"


***


"aaa....." suapan terakhir masuk ke mulut fia melalui tangan Ryan, ia mengambil tisu dan membersihkan mulut fia dari makanan yang menempel, begitu mulut fia kosong, Ryan mengambil gelas berisi air dan meminumkan nya pada fia, selama itu fia tak berkomentar dan dengan nyaman menerima pelayanan dari Ryan.


"Dengan apa aku membayar pelayanan ini?" kenyataan nya adalah Ryan memang suka memanjakan fia


"cukup dengan kau mencintai ku dan hanya aku, kau hanya boleh melihat ke arah ku dan tidak yang lain" kata-kata Ryan bersifat ambigu yang berarti mengandung 2 makna bahwa ia memohon pada fia untuk hanya mencintai nya dan juga peringatan untuk tidak menduakan cintanya pada orang lain, siapapun itu.


orang lain yang dimaksud adalah Louis, Ryan tahu fia merasakan sesuatu pada Louis lebih dari sekedar kakak dan kehadiran Louis sedikit banyak mengusik ketenangan Ryan, sebelumnya ia mengalah, menahan perasaan cemburunya karena tidak mau fia merasa terkekang, tapi kejadian hari itu mau tidak mau memaksa Ryan mengambil sikap, menunjukkan pada Louis bahwa fia adalah gadis miliknya, namun kejadian waktu itu juga memberi harapan pada Ryan kalau fia memilihnya, Ryan hanya butuh jaminan dan itu yang ia lakukan.


fia memandang Ryan dan melihat keseriusan di matanya yang hitam seperti malam tanpa bintang, ia tahu apa yang Ryan rasakan, semua ketidak amanan Ryan sebenarnya cukup beralasan, setelah gejolak perasaan dan kebingungan yang selama ini gencar menyerang fia, akhirnya ia bisa memantapkan hatinya tanpa setitik keraguan, bahwa ia hanya mencintai Ryan. dengan senyum terkembang fia menjawab


"aku sedang melakukan nya" tanpa berkedip, menunjukkan kalau fia sama serius nya dengan Ryan saat ini, puas dengan jawaban fia, Ryan merengkuh kedua pipi fia dengan tangannya dan mencium keningnya


"maka aku akan melayani mu dengan sangat baik"


Mereka memasuki ruangan bergaya retro yang tidak terlalu besar dan cahaya yang redup, terdapat sofa panjang yang nyaman dan layar TV yang lebar lalu ada bola disko yang menggantung di tengah langit-langit, ternyata Ryan membawanya ke tempat karaoke, ketiga tempat yang mereka datangi merupakan pengalaman baru buat fia, Ryan membawa nya ke tempat karaoke hanya berarti satu hal, Ryan suka menyanyi tapi ia benci keramaian, dulu sekali Ryan pernah berjanji akan bernyanyi untuk fia dan sepertinya ini saat Ryan menepati janji nya


"aku tidak cukup berani untuk bernyanyi di depan orang banyak, jadi aku membawamu kesini, seumur hidupku, aku hanya akan bernyanyi untukmu"


masuk akal.... ruangan ini tertutup jadi hanya ada mereka berdua, fia duduk di sofa sedang Ryan di depannya duduk diatas bangku kayu tunggal dengan gitar ditangan, fia baru tahu Ryan bisa memainkan gitar sampai hari itu, kenyataannya adalah ia mahir memainkan biola dan piano.


Ryan menutup mata sambil menghembuskan napas mengeluarkan rasa gugup di dirinya, ia membuka matanya dan menatap langsung ke mata fia lalu berkata


"aku ga pernah pandai dalam kata-kata tapi lagu ini kuharap bisa mewakilkan apa yang kurasakan padamu...... bunga Sofia, aku mencintaimu".


sudut mata fia membentuk kristal bening karena kata-kata Ryan, ia bilang mencintainya dan itu membuat paru-paru fia tersedot keluar, Ryan memang tidak pernah penuh dengan kata-kata manis, ia hanya mengungkapkan apa yang ia rasakan pada fia tanpa tambahan pemanis.


Ryan mendekat ke microphone dan mulai memetik gitarnya, jari-jari Ryan menari di atas senar dengan mulus, fia pernah membayangkan seseorang bernyanyi untuk nya tapi ia tak tahu rasanya akan semendebarkan seperti sekarang, Ryan membuka mulutnya dan mulai bernyanyi ....


fia terpana, suara Ryan sangat jernih dan menenangkan, penampilan Ryan yang tampan dengan gitar ditangan tampak sangat keren dan mengalihkan perhatian fia sesaat, lalu ia kembali fokus mendengarkan nyanyian nya.


**You touch these tired eyes of mine


And map my face out line by line


And somehow growing old feels fine


I listen close for i'm not smart


You wrap your thoughts in work of art


And they're hanging on the Walls of my heart.


I may not have the softest touch


I may not have the words as such


And though i may not look like much


But i'm yours.....


You heeled these scars over time


Embrace my soul you loved my mind


You're the only angel in my life**....


fia tak berhenti berdebar sampai dadanya sakit, tiap lirik yang Ryan nyanyikan menusuk tepat di hati Fia dengan cara yang menyenangkan, mata Ryan terkunci di fia selama bernyanyi, matanya yang hitam seperti malam bersinar seperti ada bintang di dalam nya, berkilauan dan membuat fia terpana, pada saat memasuki interlude Ryan menaruh gitarnya, mengambil microphone dan berjalan ke arah fia sambil meneruskan sisa liriknya.


I may not have the softest touch


I may not say the words as such


Ryan sampai didepan fia, sambil berlutut dihadapan fia, Ryan menyanyikan lirik terakhirnya, ia mendongak menatap mata fia yang basah dengan air mata terharu


I know i don't fit in that much


But i'm yours.....


lagu itu sudah benar-benar selesai...


Ryan menarik kepala fia turun, menciumnya pelan dan hati-hati, bibir fia sangat lembut dan manis seperti permen kapas yang langsung meleleh begitu masuk mulut, lalu ada rasa strawberry dari lipgloss fia yang berasa sama.


***


Matahari sudah setengah turun saat mereka berjalan pulang, tapi begitu fia melihat pasar malam mereka berbelok arah, awalnya fia menarget mesin pencapit boneka namun mereka gagal mendapatkan boneka dengan sangat menyedihkan,


melihat fia murung, Ryan tidak tinggal diam, tak jauh dari sana ada bilik-bilik permainan, salah satu yang menawarkan boneka sebagai hadiahnya adalah permainan dengan senapan mainan, Ryan hanya perlu menembak sasaran bebek yang berjalan, untuk dapat memenangkan boneka kelinci paling besar Ryan harus menjatuhkan semua bebek itu, dari 15 bebek Ryan hanya dapat menembak 5 bebek, alhasil fia hanya mendapat boneka koala seukuran genggaman tangan


Ryan tak menyembunyikan kekecewaannya dan meminta maaf tapi fia malah tersenyum dan sedikit menggoda Ryan dengan menggelitik pinggangnya, Ryan bereaksi berlebihan karena ternyata ia mudah geli dan itu semakin membuat fia menyerang Ryan dengan brutal sampai Ryan menangis tertawa.


sekumpulan orang memutuskan pulang berbarengan dengan mereka dan semua menuju pintu keluar yang sama, melihat begitu banyak nya orang, Ryan membawa fia dalam pelukannya agar tidak terdorong dan mencegahnya terluka.


Mereka makan malam sebelum pulang, kali ini fia bisa menggunakan sendok dan itu memudahkannya makan dengan lahap, fia memisahkan yang tidak ia suka di makanannya dan menaruh di piring Ryan, sebagai pacar yang baik, Ryan mempunyai kewajiban untuk memakan semua yang tidak fia suka.


Akhirnya langit sudah benar-benar gelap saat mereka benar-benar berniat pulang, meski udara dingin tapi fia tidak kedinginan, karena jaket Ryan membungkus fia, ini sama saja dengan Ryan sedang memeluknya setiap saat, fia sungguh menyukai aroma Ryan seolah itu adalah candu dan ia tak bisa bertahan tanpa menghirupnya.


fia begitu terbawa suasana, tanpa sadar genggaman tangan Ryan terlepas dan ia tertinggal beberapa langkah di belakang, fia merasakan tangannya hampa lalu menoleh mencari keberadaan Ryan, fia menemukan Ryan berdiri satu meter jauhnya, ia tertunduk sambil kedua tangan menekan kepalanya, seluruh tubuh Ryan gemetar dan mengeluarkan keringat,


Erangan samar terdengar di telinga fia


apa suara itu baru saja keluar dari mulut Ryan?


seketika itu fia dilanda kecemasan luar biasa, itu erangan kesakitan yang memekikkan telinga hingga membuat hati Fia sakit


"yank, ada apa? kau baik-baik saja?" tanya fia dengan suara serak, Ryan menatap lurus ke arah fia dan ia menangis, seolah itu belum cukup membuat fia gila karena ketidak Tahuan, darah segar mulai mengalir dari hidung Ryan, fia membeku di tempat.


apa yang terjadi? bukankah tadi Ryan baik-baik saja?


sekarang Ryan terlihat sepucat kertas putih dan tampak tak berdaya, meski gemetar tapi fia berhasil memaksa kakinya untuk melangkah maju,


mata fia membelalak lebar dengan kedua tangan menutup mulutnya, air mata mengalir begitu saja saat melihat Ryan jatuh keras ke tanah seperti sepotong kayu.


Ryan berbaring tak bergerak.....


~Satu hari bersamamu sama seperti seumur hidup ku dalam kebahagiaan~