
"Pak Irwan mau kemana?" Irwan keluar ruangan tanpa pedulikan pertanyaan Alan, sampai diluar, ia segera menghubungi satu-satunya orang yang bisa meredam kemarahan Ryan, menghentikan kegilaannya yang tak masuk akal, tiga kali bunyi tersambung sampai akhirnya panggilannya di angkat.
"Halo" Sapanya ramah.
"Halo, nona Sofia. Saya minta maaf jika menganggu waktu nona tapi saya minta tolong bisakah nona datang ke ruang rapat sekarang?"
Sofia yang sedang menggambar di kamarnya langsung berdiri mendengar suara Irwan yang cemas.
"Ada apa Pak Irwan?"
"Ini soal Pak Ryan...."
"Baik, saya kesana sekarang" Tanpa menunggu Irwan menjelaskan, Fia sudah bisa mengira apa yang terjadi begitu nama Ryan disebut. Fia mengambil asal long cardigan milik Ryan yang tergeletak di kamar Fia, meninggalkan pekerjaannya dan segera menuju lantai 25, dimana kantor Ryan berada. Tak butuh waktu lama Fia sudah sampai di depan ruangan, Fia di sambut oleh Mitha, sekretaris Ryan.
"Halo, nona Sofia, ada yang bisa saya bantu?"
"Pak Ryan ada mbak Mitha?"
'
"Maaf, Pak Ryan sedang meeting...."
"Nona Sofia" Tiba-tiba Irwan datang entah dari mana.
"Saya sudah menunggu nona, Silahkan masuk"
"Tapi Pak, bukannya sedang ada meeting..."
"Justru ada tidaknya meeting ini tergantung pada nona Sofia"
Tanpa menunggu lagi Sofia diantar ke ruang rapat oleh Pak Irwan, meninggalkan Mitha yang kebingungan.
"Meeting nya kok tergantung nona Sofia? Presdir Hotel ini siapa sih sebenarnya?" gumam Mitha sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
tok...tok...tok
Tanpa menunggu jawaban, Irwan langsung membuka pintu dan menyilahkan Sofia masuk, Ryan menengok ke belakang, matanya membesar saat melihat Sofia disana, senyum tertarik ke belakang. Ryan berdiri menyambut Fia.
"'Yang, kamu kok bisa di sini?"
"Kalau kamu sibuk, aku bisa kembali lagi nanti"
"Jangan...!!" Ryan mengambil tangan Fia. "Kamu disini saja ya, sebentar lagi rapatnya selesai"
Dengan sigap Alan menarik kursi ke sebelah kursi Ryan. Mereka duduk bersebelahan, sambil terus memegang tangan Fia, Ryan melanjutkan meeting yang tadi tertunda, tampak wajah-wajah lega karena mereka tak perlu membuat ulang laporan yang sebenarnya tidak bermasalah, meski terkesan aneh karena Fia ikut meeting tapi berkat Fia lah meeting ini bisa cepat selesai.
"Pak Irwan hebat, bisa berpikir cepat mendatangkan nona Sofia" Puji Alan sambil mengangkat ibu jari saat ruang meeting hanya tinggal Ryan, Sofia, Alan dan dirinya.
"Yang hebat itu nona Sofia, dia bisa mengendalikan Pak Ryan semudah menjentikkan jarinya"
Alan mengangguk paham.
"Iya, saya ingat motto Pak Ryan, Harta, Tahta, Sofia. Begitu kan yang bapak ajarkan pada saya"
Irwan hanya membalas dengan senyuman, ia senang Alan menyerap semua yang ia ajarkan, ia jadi tenang jika pensiun nanti.
"Yang, sudah jam makan siang, temani aku makan ya" Ajak Ryan memohon
"Aku harus kembali ke kamar" jawab Fia datar saja. Karena memang ia harus selesaikan menggambarnya, Fia ingin selesai sebelum ia dan Ryan pergi ke London selama 1 Minggu, Fia tak mau liburannya terganggu.
"Kamu jangan melewatkan makan, nanti sakit"
"Aku akan makan dikamar aja"
"Sayang, aku minta maaf, tolong jangan begini" Ryan meraih tangan Fia, mencium dan meletakkannya di pipi Ryan, ia sama sekali tidak peduli bersikap seperti anak ABG didepan Irwan dan Alan, ia hanya ingin Fia memaafkannya, kembali seperti semula dimana ia bisa bermanja dengan Fia.
"Kamu itu seorang CEO, ribuan orang menggantungkan hidupnya padamu, bersikaplah seperti seorang pemimpin yang baik, jangan mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Aku tidak mau setiap kali kamu merajuk Pak Irwan meminta pertolongan dariku" Fia melepaskan tangannya di pipi Ryan, sedang Ryan hanya tertunduk, ya. memang hanya Fia yang bisa menundukkan Ryan. Irwan dan Alan tercenung melihat bos nya dibuat tak berkutik.
"Aku kembali ke kamar" ucap Fia, Ryan masih tertunduk lesu. Lalu Fia beralih ke Irwan.
"Pak Irwan, pastikan Ryan makan siang, beritahu aku kalau ia merajuk lagi"
"Ba.. baik nona Sofia"
Fia berjalan ke arah pintu, ia terdiam beberapa saat sebelum memutar kenop pintu, ia menarik nafas dan memejamkan mata, ternyata ia tidak tega juga, setelahnya kemudian Fia berbalik menghampiri Ryan yang masih dalam posisi tertunduk, entah marah atau malu. Fia memeluk Ryan tanpa aba-aba, yang dipeluk hanya terdiam karena shock.
"Aku tidak marah" bisik Fia.
"Yan... " Fia menepuk-nepuk punggung Ryan, dan pelukannya pun terlepas. Ryan membelai lembut pipi Fia.
"Nanti malam aku ke kamar ya..." ucap Ryan dengan suara selembut mungkin. Fia menanggapinya dengan anggukan tanda setuju.
Tak lama setelah Fia kembali ke kamar, Irwan datang membawakan makan siang.
"Pak Irwan tidak perlu repot membawa makan siang untuk saya, apa ini perintah Ryan?".
"Bukan nona, ini inisiatif saya, saya ingin mengucapkan terimakasih karena nona meeting hari ini berjalan lancar, saya sengaja meminta chef Lee membuat nasi goreng kimchi dan kimbab kesukaan nona".
"Terima kasih Pak, tapi sebenarnya saya yang harus minta maaf karena Ryan seperti itu karena saya"
Irwan berdehem... sepertinya ada yang ingin ia sampaikan. Fia dan Irwan kini sudah duduk di sofa.
"Ada apa pak?" Tanya Fia.
"Sebelumnya, mohon maaf jika saya terkesan ikut campur tapi Pak Ryan sudah menceritakan masalah rencana pengalihan sebagian aset pak Ryan menjadi nama nona"
Fia membuang nafas berat.
"Pak Irwan pasti berpikir saya sombong dengan menolaknya, Saya sebenarnya malu, saya tahu beberapa orang bergosip tentang saya cewek matre, hanya memanfaatkan kekayaan Ryan, bahkan ada yang mengatakan saya pakai cara licik untuk bisa mendapatkan Ryan, katanya saya pakai dukun" Fia tertawa sinis dengan fitnahan yang ditujukan padanya.
"Saya tidak marah dan mengerti tuduhan mereka, saya sadar diri, siapalah saya ini, hanya lulusan SMA, wajah juga tidak cantik-cantik amat dibandingkan gadis-gadis kelas atas di circle Ryan, memang aneh kalau Ryan jatuh cinta pada saya"
Pria yang seumuran dengan Ray itu menyimak dengan wajah serius sambil sesekali mengangguk. Fia sendiri heran bagaimana ia bisa dengan mudahnya bercerita dengan Irwan seperti ia adalah sahabatnya, padahal Irwan cukup tua untuk jadi Ayahnya, mungkin karena Fia memang merindukan sosok Ayah tempat untuk berkeluh kesah, ia dapatkan perasaan nyaman bercerita kepada Irwan.
"Saya menuruti semua kemauan Ryan, saya pindah ke hotel atas permintaan nya, semua hadiah mewah darinya juga saya terima karena Ryan memaksa, tapi yang Ryan minta sekarang itu berlebihan, Harga diri saya terluka, apa saya begitu menyedihkan hingga saya pantas dikasihani? Saya mencintai Ryan saat dia hanya seorang pemuda biasa, bukan pewaris keluarga Prasetya, Saya suka cinta kami yang dulu, begitu sederhana dan apa adanya, Saya rindu Ryan yang seperti itu, bukan Ryan yang memiliki dunia ditangannya dan menaruhnya di pangkuan saya"
"Saya mengerti" ucap Irwan. Lalu hanya ada keheningan sesaat diantara mereka
"Nona Sofia, saya melayani 3 generasi keluarga Prasetya, mulai dari almarhum Pak Rudiantara, Pak Raytama dan sekarang Pak Ryan, Saya tahu betul bagaimana keluarga Prasetya memperlakukan wanita yang mereka kasihi. Jadi saya yakin seyakin-yakinnya Pak Ryan tidak punya niat buruk, apalagi mengecilkan nona, justru itu adalah cara Pak Ryan mengatakan betapa ia sangat mencintai nona, caranya memang tidak biasa tapi itu karena Pak Ryan mampu, seperti yang nona katakan, Pak Ryan memiliki dunia di genggaman tangannya dan ia ingin menaruhnya di pangkuan nona."
Fia tampak berpikir, meresapi setiap kata dari Irwan.
"Nona Sofia kenal karakter Pak Ryan, apa nona benar-benar berpikir Pak Ryan hanya merasa kasihan dengan nona dan bukan karena rasa cintanya?"
Fia menggelengkan kepalanya lalu termenung.
"Maaf, saya sudah menyita waktu nona, kalau begitu saya pamit"
Irwan bangkit dari duduknya disusul dengan Fia, ia mengantar Irwan sampai ke pintu.
Malamnya sesuai janji, Ryan datang ke kamar Fia dan makan malam disana, suasananya canggung karena mereka lebih banyak diam. Setelah makan malam Fia melanjutkan menggambar di meja kerjanya sedang Ryan duduk di sofa dengan memangku MacBook nya. Mereka masih diam.
Setelah pekerjaan Ryan selesai, ia menghampiri Fia yang masih serius menggambar lalu Ryan berlutut di samping Fia agar sejajar dengannya, kedua tangan Ryan di tumpuk diatas meja, menaruh kepalanya disana dan memandangi Fia, Lama-lama dipandangi, Fia pun jadi salah tingkah dan tidak bisa fokus menggambar.
"Apa?" Tanya Fia, ia menghentikan aktivitas menggambarnya.
"Masih marah?" Ucap Ryan polos
"Aku tidak marah..." Jawab Fia.
"Tapi...." Ryan sengaja menggantung kata-katanya.
"Hanya sedikit kesal"
"Maafkan aku.." Ucap Ryan sungguh-sungguh, ini tidak adil. Fia tidak bisa menolak tatapan sendu Ryan ditambah permintaan maafnya yang seperti memohon. Fia menatap Ryan dan menghela nafas.
"Kamu takkan membatalkan rencanamu meskipun aku memintanya kan?" Pertanyaan Fia hanya di jawab dengan anggukan dari Ryan, lagi-lagi Fia menghela nafasnya. Lelakinya sungguh keras kepala.
"Apa yang akan Papa pikirkan jika tahu tentang ini?"
"Papa tahu" Jawab Ryan santai, Fia terbelalak tak percaya.
"Lalu apa kata Papa?" Tanya Fia penasaran
"Papa juga lakukan hal yang sama untuk Mama, jadi itu bukan masalah besar, Papa setuju" Seketika rahang Fia jatuh ke lantai. Benar apa yang dikatakan Irwan, para lelaki keluarga Prasetya sangat memanjakan wanitanya. Fia tak lagi punya alasan untuk menolaknya tapi paling tidak Fia ingin mengajukan syarat, ini sudah ia pikirkan sejak tadi siang.
"Baiklah, aku setuju" ucap Fia. Ryan mengangkat kepalanya dan tersenyum lebar.
"Tapi aku punya syarat"
"Katakan apa syaratnya?"
"Aku akan tanda tangan setelah kita menikah"
"Deal.."