Hey Sofia

Hey Sofia
This Love




Setelah dari pantai, Mereka makan malam di restoran yang letaknya di tepi pantai, Restoran dengan tema lautan itu cukup nyaman meski tidak besar, Lampu dibuat temaram untuk mendapatkan kesan romantis dan live musik membuat suasana malam semakin syahdu.


Seorang pelayan menghampiri dan mencatat pesanan mereka, sambil menunggu pesanan datang Ryan melangkah ke arah panggung, berbisik kepada sang penyanyi wanita dan mengambil alih mic nya, Fia penasaran apa yang ingin dilakukan Ryan.


"Tes .. tes... Selamat malam"


Suara Ryan berhasil mencuri perhatian pengunjung restoran lainnya, semua mata menatap Ryan, ada yang penasaran, tak sedikit juga yang terpesona dengan ketampanannya.


"Saya ingin mempersembahkan sebuah lagu untuk wanita cantik yang duduk di sana"


Ryan menunjuk ke arah Fia dan semua mata tertuju padanya, sedangkan Fia hanya tersenyum kikuk. Ryan duduk diatas kursi tinggi 4 kaki, standing mic juga sudah disesuaikan dan musik perlahan dimainkan.


"Bunga Sofia, dengarkan baik-baik" Pinta Ryan lalu disusul dengan sorakan dari pengunjung lainnya, wajah Fia semakin merah saja.


"It's amazing how you can speak right to my heart. Without saying a word, you can light up the dark.


Try as i may, i can never explain, what i hear when you don't say a thing.


The smile on your face let's ke know that you need me, There's a truth in you eyes saying you'll never leave me, The touch of your hand says you'll catch me whenever i fall.


You say it best, When you say nothing at all...."


Selama bernyanyi tak sedetikpun Ryan beralih dari mata Fia, mereka terus saling bertatapan, seolah hanya ada mereka berdua di sana, tak peduli setiap orang di restoran itu bersorak dan bertepuk tangan ketika lagunya berakhir.


Ryan kembali ke mejanya.


"Untung kamu ga jadi penyanyi"


"Kenapa kalau aku jadi penyanyi? suaraku jelek ya?"


Fia menggeleng.


"Aku takut kalau kamu jadi penyanyi banyak fans wanitanya, tuh lihat"


Fia menunjuk ke sekitar restoran dengan dagunya, benar saja. Semua mata khususnya wanita menatap kagum pada Ryan, mengapa tidak? Ryan tampan dan suaranya merdu.


"Kamu cemburu?"


"Haruskah aku cemburu?"


"Oh tentu tidak" Jawab Ryan sambil menirukan sebuah iklan. Lalu mereka berdua tertawa


"Permisi, Silahkan pesanannya"


Seorang pelayan mengantar pesanan kami dan satu-satu diletakkan di meja.


"Selamat menikmati, Jika perlu sesuatu silahkan panggil saya"


"Terima kasih. Mbak"


Jawab Fia ramah tapi yang di beri senyuman adalah Ryan. Fia sudah terbiasa dengan situasi ini dimana dia hanya dianggap pajangan hingga tak kasat mata, yah. Ryan memang selalu menarik perhatian kemana saja ia pergi tapi Fia tak ambil pusing.


"Berikan piring mu" Pinta Ryan.


Dengan telaten. Ryan memotong tenderloin steak milik Fia, itu sudah menjadi rutinitas Ryan setiap kali mereka makan steak, Fia menunggu dengan sabar sampai steak nya menjadi potongan kecil. Itu dilakukan agar Fia mudah memakannya.


Setelah main course selesai, Fia memilih Sorbet mangga untuk dessert nya, sedangkan Ryan lebih memilih hot americano, Fia bukan Coffee person dan Ryan tidak terlalu suka dengan yang manis-manis. Ryan mengajak Fia untuk berdansa saat lagu yang Ryan suka dinyanyikan. Ryan berdiri dan menawarkan tangannya pada Fia.


"Ayo berdansa dengan ku"


"Aku tidak bisa berdansa" Tolak Fia.


"Ikuti saja langkahku"


"Jangan salahkan aku kalau kakimu terinjak 'ya"


"Aku lelaki yang kuat"


"Tapi aku malu"


"Ayo, Sayang. Tanganku mulai pegal "


Dengan ragu Fia menyambut uluran tangan Ryan. Mereka bergabung dengan pasangan lainnya. Ryan menarik satu tangan Fia untuk diletakkan di pinggangnya dan satu lagi ia genggam, Langkah Fia yang kikuk menginjak kaki Ryan beberapa kali, Fia terus meminta maaf walau Ryan sebenarnya tidak marah. Ryan dengan sabar menuntun Fia.


"Ternyata benar kakimu ada 3" Goda Ryan.


"Sudah kubilang aku tidak bisa berdansa" Jawab Fia dengan pipi yang menggembung.


"Lingkarkan tanganmu di leher ku"


"Seperti ini?"


Lalu Ryan menarik pinggang Fia sampai tubuh mereka tak berjarak, dipeluk dihadapan banyak orang seperti itu membuat Fia malu, wajahnya memerah dan tertunduk, ia bahkan bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri. Tingkah Fia membuat Ryan gemas.


"Kita sudah pernah melakukan lebih dari ini, kenapa kamu malu hanya dengan pelukan?"


Fia mendongak dan memandang Ryan tajam


"Yan!.. kata-kata mu itu ambigu, orang yang dengar bisa salah paham" Protes Fia.


"Memang orang akan berpikir apa?!" Goda Ryan lagi, itu semakin membuat wajah Fia memerah. Fia memukul lengan Ryan.


"Yan!! Hentikan!!"


Bukannya meringis sakit, Ryan malah tertawa terbahak, Ryan berbisik di telinga Fia.


"Aku sangat ingin mencium mu saat ini, kau sangat menggemaskan"


Fia refleks menutup mulutnya dengan satu tangan dan mendelik.


Tangan Fia sudah kembali melingkar di leher Ryan. Ryan menunduk menempelkan kening mereka sambil memejamkan mata menikmati momen itu lalu melantunkan bait dari lagu yang dimainkan didepan wajah Fia, napas Ryan begitu hangat dan wangi kopi.


"...How you convince me to dance in the rain, Everyone's watching like we were insane. But i love the way you love me. Strong and Wild, Slow and Easy, Heart and soul, So completely. I love the way you love me ..."


Mereka bertatapan dan tersenyum penuh cinta, Fia merasa sangat bahagia hanya dengan perlakuan sederhana seperti ini dari Ryan membuat nya merasa dicintai.


***


Ryan dan Fia menikmati suasana festival lampion yang letaknya tak jauh dari restoran.


"Kalau melihat mu berpakaian seperti ini rasanya seperti kembali ke masa SMA dulu"


"Ada yang salah dengan bajuku?"


"Tidak, kamu cantik apapun yang kamu kenakan. Tapi aku jadi ingat waktu pertama kali aku melihatmu, kamu juga berpakaian seperti sekarang"


Fia menatap keatas dan berpikir keras.


"Bukankah kita bertemu pertama kali di Sekolah?"


"Salah.. Aku melihatmu pertama kali saat kamu tidur di jendela kamarmu, Lalu aku melihatmu lagi di taman, sejak saat itu aku tidak bisa melupakan mu"


Fia tidak pernah tahu cerita ini karena Ryan memang tidak pernah mengungkapkan nya hingga sekarang.


"Jadi ini kisah cinta pada pandangan pertama?"


"Aku tak tahu apa ini cinta pada pandangan pertama atau bukan, Tapi aku jadi selalu memikirkan mu saat kamu tak ada dan bertanya-tanya apa yang sedang kamu lakukan jika aku tak bertemu denganmu, Kamu tahu. Setiap hari aku selalu ke taman berharap bisa bertemu denganmu lalu satu hari aku tahu kita sekelas, Aku sangat senang, Aku ingin bicara denganmu tapi kamu seperti sulit untuk ku raih, kamu selalu sendirian dan tak pernah tertarik pada apapun, Saat istirahat pun kamu tetap di kelas untuk tidur, kadang kamu bawa bekal hanya roti dan susu strawberry, Aku sampai frustasi karena tidak tahu bagaimana cara mendekatimu"


Ryan tersenyum dan menggeleng, merasa konyol jika mengingat saat itu. Mendengar cerita Ryan, ada perasaan hangat di hati Fia, Bagaimana Ryan mengingat setiap detail kecil tentang dirinya membuat jantung nya berdetak tak terkendali, Jika seseorang bisa jatuh cinta pada orang yang sama berkali-kali, mungkin itu yang Fia rasakan sekarang. Fia mengisi sela-sela ruang kosong jari Ryan dengan jarinya dan menggenggam nya erat seolah tak mau berpisah.


"Akhirnya saat kelas 3, Aku berpikir inilah kesempatan terakhir ku, mungkin aku takkan bertemu denganmu setelah lulus, Jadi ku beranikan diri untuk menyapamu, Aku bersyukur untuk hari itu karena sekarang kau jadi milikku "


Ryan mengangkat tangan yang Fia genggam dan mencium nya.


***


"Ada stan Boba, apa kamu mau?"


"Antrian nya panjang "


"Kamu duduklah di sana, Biar aku yang antri, Kamu mau rasa apa?"


Ryan menunjuk bangku batu kosong di dekat tiang lampu.


"Aku mau Honey Milk Tea"


"Duduk manis dan tunggu disini, aku akan segera kembali".


Fia duduk sesuai perintah Ryan, Sementara Ryan bergabung dengan orang-orang yang lain untuk antri. Perhatian Fia beralih pada gadis kecil yg bermain gelembung bersama Ayahnya, gadis kecil itu melompat kegirangan, berlarian ke sana kemari mengejar gelembungnya, Tiba-tiba gadis kecil itu menangis ketika gelembung nya pecah tepat didepan wajahnya dan mengenai matanya, Sang Ayah mencoba menenangkan anak gadisnya dengan memeluk dan meniup matanya.


"Pesanan datang"


Ryan duduk disamping Fia dan memberikan Honey Milk Tea.


"Terima kasih"


Fia meminumnya dan merasa terpenuhi, Ini adalah minuman kesukaan Fia yang mampu meningkatkan mood nya.


"Gadis kecil yang cantik"


Rupanya Ryan memperhatikan Fia sedari tadi, Kini Si gadis kecil sudah kembali ceria setelah di bujuk oleh Ayahnya. Fia juga pernah seperti itu, bermain bersama Ayah dan dibujuk ketika Fia merajuk. Tiba-tiba mata Fia memanas dan berair tapi tidak sampai jatuh air itu sudah di hapus dan niat menangis dibuang jauh-jauh.


"Kalau kita punya anak perempuan pasti akan cantik seperti mu"


"Kamu suka anak kecil 'ya?" Tanya Fia


"Tidak tahu, tapi kalau itu anakku pasti aku akan menyayanginya 'kan?" Fia manggut-manggut tanda mengerti dan kembali menyedot Honey Milk Tea nya.


"Kalau kamu? apa kamu suka anak kecil?"


Fia terdiam sejenak sambil mengunyah Boba nya lalu menggeleng.


"Aku tidak pernah berpikir akan menikah atau bersuami, lebih-lebih memiliki anak" Jawab Fia santai. Ryan tak tampak kecewa atau pun terkejut, Dia pun dengan santai meminum Lemon Tea nya.


"Alasannya?" Tanya Ryan penasaran.


"Aku melihat ibuku berjuang sendirian membesarkan ku, aku tahu betapa beratnya tanggung jawab sebagai seorang istri atau ibu, Kurasa aku tak sekuat ibuku, bagaimana jika aku gagal menjadi istri dan ibu yang baik, bagaimana jika aku tak bisa mendidik anak-anak ku kelak dan mereka kecewa padaku? aku takut"


"Aku mengerti maksudmu, Ayo kita belajar sama-sama, aku juga akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu dan anak-anak kita kelak"


Fia tersenyum mendengar kata 'anak-anak'.


"Anak-anak? Berapa anak yang kamu maksud?"


"Beberapa... Karena kita akan sering kita membuatnya"


"Mulai deh genit nya"


"Aku ga genit 'Yang, aku tuh serius banget sama kamu"


"Jangan terlalu percaya diri, Bagaimana jika nanti hatimu berubah? Karena hati adalah hal yang paling tidak bisa kita kendalikan".


"Aku akan buktikan sama kamu kalau hatiku takkan berubah"


"Dan bagaimana kamu akan membuktikan nya?" Tantang Fia


"Tunggu dan lihatlah nanti, Aku punya kejutan untukmu"