
halo readers 😊
happy reading 🤗
_____________________________________
"Yan...."
Ryan mendongak cepat begitu mendengar suara fia, sedikit terkejut tapi juga senang fia ada di hadapannya
dia mencariku? serius!!
senyuman tersungging diwajah nya yang rupawan.
" yank...?"
" kamu ngapain di sini?" tanya fia
" kok kamu bisa tahu aku di sini?"
" aku tuh punya radar, kalau kamu deket radar aku bunyi nguing....nguing ....nguing "
Ryan terkekeh dengan tingkah gemas fia, ia membuka kakinya guna memberi ruang untuk fia, lalu menarik tangan fia agar duduk didepannya, fia duduk dengan kaki lurus di atas pasir, ia selipkan kedua sisi rok nya di bawah pahanya, menjaga agar roknya tidak terkibas oleh angin pantai yang cukup kencang, kini kedua tangan Ryan melingkari pinggang nya, tubuh Ryan bersandar dipunggung fia dengan dagunya yang bersantai di bahu kanan fia.
" tadi kamu kenapa pergi ?"
" aku ga mau ganggu kamu, rasanya jadi kayak orang ketiga "
fia menoleh sedikit ke kanan agar bs melihat wajah Ryan yang terbenam di bahunya.
" masa kamu orang ketiga, kamu kan pacar aku "
mendengar itu Ryan menyeringai senang dan mengencangkan tangannya yang memeluk fia dari belakang,
" kamu marah ?"
" ga " kata ryan singkat
" cemburu ?" tanya fia lagi
butuh waktu beberapa detik bagi Ryan untuk menjawab pertanyaan fia, ia berpikir karena tidak tahu harus menjawab apa, ia hanya merasa gelisah dan mual ketika ingat kejadian tadi, kalau itu namanya cemburu, berarti iya
"sedikit" sangkal Ryan
" tsk... mana ada orang cemburu kayak kamu gini "
" aku ga mau jadi pacar cemburuan yang nyebelin, aku takut kamu marah terus tinggalin aku "
fia mengusap lembut tangan yang melingkar di perut nya
" kamu secinta itu sama aku ?"
Ryan mengangguk keras, dagu nya menghentak bahu fia, membuat nya meringis sakit
" banget ___ siapa sih dia? "
" kak L ? " cih Ryan malas menyebut namanya
" terserah "
fia melipat bibirnya menahan tawa
" dia itu sama kayak kamu, penyelamat hidup aku "
meski Ryan kesal di sama kan dengan Louis tapi mata nya membesar ketika fia mengatakan kalimat terakhirnya.
penyelamat? hyah... lumayan.
diam-diam Ryan tersenyum kegirangan.
" maksud nya?"
" kak L yang temenin aku waktu ayah meninggal, aku udah ga ngerti lagi deh kalau kak L ga ada "
" mungkin aku ga akan ada di sini kalau bukan karena kak L "
air matanya menetes tanpa perintah dan jatuh di atas tangan Ryan, Ryan merasakan basah di tangan kanannya, ia memutar bahu fia begitu sadar basah itu karena fia menangis, kini wajah fia jelas terlihat.
" kok nangis ?" Ryan merengkuh wajah fia dan menghapus air mata nya dengan kedua ibu jarinya
" kalau aku salah, aku minta maaf tapi kamu jangan nangis ya " Ryan panik, tubuhnya berguncang seperti anak kecil yang meminta ampun pada ibunya.
" aku ga nangis sedih, ini tangisan syukur karena aku punya kak L dan kamu, aku benar-benar ga kebayang kayak apa aku kalau ga ada kalian "
sambil tersenyum fia mengambil tangan Ryan dari pipi nya dan mencium kedua punggung tangan Ryan, mata nya melebar dengan perlakuan fia yang tiba-tiba, jantung nya serasa turun ke perut.
" makasih ya " lanjut fia
kali ini jantung Ryan benar-benar copot dari tempatnya, entah bagaimana sore itu fia jauh lebih cantik dari biasanya, dia bersinar seperti biasa sampai mata Ryan terasa sakit. ia mengecup kening fia lembut dan dalam
" sama-sama "
Ryan mengalihkan pandangannya ke arah matahari terbenam dan menunjuk kesana, fia mengikuti jari Ryan karena refleks
" lihat, sunset nya cantik ya "
" Hem " fia hanya tersenyum
" ini pemandangan yang kamu suka kan, kapan-kapan kita ke sini lagi, kamu bisa gambar sunset nya " lagi-lagi fia hanya tersenyum
" kamu kenapa?' tanya Ryan binhung.
" aku ga terlalu suka pantai "
***
sebelum fia menginjakkan kakinya di pantai, tubuhnya gemetar kencang dan ia merasa pusing, kalau saja ia tidak melihat Ryan terduduk di pasir mungkin fia sudah berlari pulang tapi fia tak mau Ryan salah paham, yang terpenting tidak mau membuatnya terluka dan melihat Ryan seperti itu fia jadi sedih, kesedihan itu melebihi ketakutannya, hal yang sama terjadi ketika ryan menelpon nya pagi itu, fia mengepalkan tangannya dan mengambil napas panjang, setelah tubuhnya berhenti gemetar dia melangkah mendekati Ryan. seberapa besar cinta fia sampai ia bisa mengalahkan semua ketakutan hanya demi Ryan?
sebentar lagi cinta itu akan diuji.
***
setelah beberapa detik fia memandang Ryan dan tersenyum
" aku punya kenangan buruk soal pantai"
mata Ryan sontak mengeras. Ryan benar-benar lupa bagaimana ayah fia meninggal, mereka mengalami kecelakaan saat menuju pantai, Ryan menjadi sangat bodoh dan mengutuk diri nya.
" maaf, aku ga bermaksud buat kamu sedih, aku benar-benar minta maaf.... bodoh aku bodoh banget " kata Ryan meminta maaf sambil memukul-mukul kepalanya, hukuman itu tak sebanding dengan kebodohannya.
fia menangkap tangan Ryan dan ditahan dengan tangan nya.
" kamu ngapain sih !!?" tanya fia sedikit marah
" tapi aku udah buat kamu sedih "
" ck... siapa yang sedih? aku ga pa-pa"
" beneran.... ?"
" bener !" fia coba meyakinkan
" aku malah seneng bisa buat kenangan baru sama kamu di pantai, kapan-kapan kita harus balik lagi kesini ya"
fia kembali ke posisi semula dengan Ryan yang memeluknya dari belakang,
" iya, kapan-kapan kita kesini lagi "
Ryan memejamkan mata dan semakin jatuh di bahu Fia, tangannya mengikat pinggang fia dan menikmati senja yang hangat.
" aku suka banget peluk kamu, bikin hati aku nyaman___ kamu pengisi daya aku"
" huh? "
" tadi tenaga aku udah habis, begitu kamu peluk tenaga ku penuh lagi.... kamu pengisi daya aku "