
Tak peduli berapa kali pun Fia mencuci, wajah merahnya tak kunjung padam, Fia mengambil tisu tangan di sisi kiri wastafel dan mengeringkan wajahnya.
ah.... seharusnya aku memakai make-up waterproof tadi, sekarang wajahku benar-benar polos, bagaimana aku bisa keluar dari toilet dan menemui nya dengan wajah berantakan ini?
Tapi fia sadar dia tidak bisa terus bersembunyi di toilet, Ryan menunggu nya di luar, dan sekarang Fia terjebak.
Tenanglah jantungku... jangan berbunyi terlalu keras, orang lain bisa mendengar mu... Ryan bisa mendengar mu.
ada apa dengan ku? kenapa satu kata itu saja bisa membuat kakiku lemas? benar-benar memalukan.
Bagaimana bisa Ryan bilang ini kencan saat tak ada kejelasan tentang status mereka, Fia bingung, ia jadi meragukan perkataan Ryan, juga, ia tak mau keGRran, setelah dirasa jantungnya mulai normal, Fia mengatur napas agar gugup nya hilang,
ya Sofia jangan permalukan dirimu sendiri.
Saat fia akan keluar dari toilet, dia melihat Ryan menunggu di sana, mondar-mandir dengan wajah nya yang terlihat gelisah, kedua tangannya dimasukkan ke kantung celana, lalu dua orang gadis cantik menghampirinya, yang satu berambut pendek dan sangat manis, yang satu lagi berambut ikal panjang, sangat tinggi dan cantik, serius cantik. Ryan sedikit terkejut saat mereka menyapanya, rupanya ia tidak menyadari kedatangan mereka.
"Halo, dari tadi kami lihat kamu sendirian, boleh kenalan ga?"
ekspresi Ryan berubah serius, tangannya masih tersimpan rapi didalam kantung celana tidak ada niat untuk menyambut uluran tangan dari gadis cantik itu. Dibiarkannya tangan itu mengambang di udara.
"Maaf, saya menunggu seseorang". Jawab Ryan dingin dan datar, Fia mengerutkan keningnya, tak biasanya Ryan bersikap dingin begitu, Ryan selalu ramah dan murah senyum.
Gadis itu menarik tangannya, mendengus kesal tapi langsung bisa mengatur ekspresi wajahnya menjadi ceria kembali.
"Kalau begitu boleh minta nomor telepon nya ga?". Gadis itu menyodorkan ponselnya, lagi-lagi Ryan mengabaikannya. kedua tangan masih betah di dalam kantung celananya.
"Kalau tidak ada yang penting tolong pergi, saya tidak mau pacar saya melihat dan nanti salah paham"
Dalam hati, Fia senang dengan sikap tegas Ryan, dan itu membuat mereka pergi sambil menggerutu tak karuan, kesal sekaligus malu. Tapi siapa pacar yang Ryan maksud itu?
***
POV Ryan.
"Oh... eh kencan?"
"Lho... bukan ya?"
Setelah aku bilang itu Bunga pamit ke toilet, dan sekarang sudah 15 menit dia di sana, BODOH seharusnya aku tidak berkata seperti itu, sekarang bagaimana aku bisa menghadapinya nanti? ah dasar sial!!!
Aku sedang menunggu Bunga dengan harap-harap cemas, bukan pernyataan cinta seperti ini yang ku rencanakan. Disaat itu pula dua orang gadis yang sudah memperhatikan ku sejak aku dan Bunga masuk mendekatiku. Aku tahu maksud mereka.
Akhirnya dua gadis itu pergi juga, aku sudah mengacau tadi paling tidak aku bisa menyelamatkan sisa malam ini. Bagaimana jika Bunga melihat aku dengan kedua gadis itu? bisa gawat.
***
Sofia sadar, ia tak mau lagi terjebak di situasi seperti kencan tadi dan mungkin Ryan mengatakan pacar hanya untuk mengusir kedua gadis tadi, Fia meyakinkan dirinya untuk tidak terbawa perasaan, paling tidak ia harus menyelamatkan sisa malam ini
###
Setelah selesai nonton mereka melanjutkan dengan makan malam, Ryan membayangkan makan malam yang romantis seperti candle light dinner tapi Fia memaksa untuk makan di Macdonald, dua double cheese burger dipilih Fia untuk menu makan malam mereka, seperti orang kelaparan Fia melahap rakus cheese burger nya tanpa Ryan tahu kalau itu sebenarnya hanya untuk menutupi rasa gugup dari gadis itu, Fia ingin secepatnya malam ini selesai sebelum sandiwara nya terbongkar.
"Pelan-pelan makannya" Ryan membersihkan sisa roti Bun yang tertinggal di sudut bibir Fia dan dengan nyaman memakannya tanpa merasa jijik.
Uhuk..uhuk..
Ryan melihat tingkah aneh Fia dan berpikir kalau ia tidak nyaman karena apa yang ia ucapkan sebelumnya dan itu membuat Ryan kesal, meski tak berselera Ryan menghabiskan burgernya, jika tidak dimakan itu hanya akan membuat Fia makin merasa tidak nyaman karena dia yang memilih makanan itu.
Mereka menunggu beberapa lama sebelum taksi yang Ryan pesan datang, udara malam jadi semakin dingin hingga membuat Fia sedikit gemetar, Ryan menyadari dia kedinginan dan dia tak akan mengeluh soal itu, tanpa berpikir panjang Ryan membuka cardigan nya dan dipakai kan pada Fia, Fia hampir melompat karena terkejut saat kulit mereka bersentuhan ketika Ryan memakaikan cardigan itu, sentuhan Ryan terasa seperti sengatan listrik di kulit Fia.
"Seharusnya kamu pakai pakaian yang lebih tebal"
kau kan tidak kuat dingin. batin Ryan berkata.
"Aku tidak apa-apa kok"
"Iya, aku tahu, aku hanya tidak ingin kamu sakit, di pakai ya" bujuk Ryan.
"Iya, makasih"
Cardigan Ryan terasa sangat nyaman hampir seperti pelukan hangat bagi Fia, ada aroma Ryan di Cardigan nya, aromanya manis seperti roti yang baru saja keluar dari oven namun sekaligus lembut seperti aroma Lily. Dan perjalanan pulang pun terasa sangat singkat, saat Fia baru akan membuka pintu pagar, Ryan menahan tangannya.
"Bunga, ke taman sebentar yuk"
"Tapi ini sudah malam"
"Sebentar aja kok, janji".
Ryan memohon dan masih memegang tangan Fia, gadis itu pun menuruti ajakan Ryan, setelah 10 menit hanya berayun pelan di ayunan, Ryan mulai mengatakan apa yang membuatnya gelisah.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai readers 😊
terima kasih sudah membaca hey Sofia
maaf masih banyak kekurangan-kekurangan di sana sini.
apa ya yang membuat Ryan gelisah?
tunggu kisah Ryan dan Sofia selanjutnya ya...
i purple you all 💜💜