Hey Sofia

Hey Sofia
Selidiki dia



halo readers 😊


happy reading 🤗


______________________________________


"fia....!!" fia tersadar dan kembali ke Louis


" ya...?"


" temani kakak ya"


" kak, maaf fia mendadak ada urusan "


fia mengeluarkan ponsel nya, Louis mengangkat satu alis nya saat melihat ponsel fia yang retak


"fia minta nomer kakak, nanti fia telpon "


Louis berbalik dan bicara dengan seorang pria yang sejak tadi berdiri diam di belakangnya, pria 30 tahunan dengan kacamata dan setelan jas rapi, wajah nya serius tapi tetap terlihat tampan, ia membawa suitcase ditangan kanan nya, ia mengambil sesuatu dari suitcase dan memberikannya pada Louis, lalu dengan santai Louis kembali ke fia dan menyodorkan sebuah ponsel


" ini apa kak? "


Louis menggoyangkan ponsel pintar itu sebagai tanda, fia pun mengerti dan mengambilnya.


" bawa ponsel itu, nanti kakak yang telpon kamu "


" tapi kak..."


" ini ponsel pribadi kakak, cuma kakak yang tahu nomernya "


fia melihat ponsel yang mirip dengan yang ia lihat di counter Apel tadi,


ah tidak ini ponsel tipe yang sama, ini sangat mahal.


awalnya fia ragu tapi kemudian ia terima karena berpikir Louis hanya meminjamkan nya


" ok, fia bawa dulu ya kak "


ia memasukkan ponselnya dan ponsel Louis ke dalam tas.


" kakak, jangan lupa telpon fia ya, fia pergi dulu "


fia membalik badan menjauhi Louis tapi baru 5 langkah fia berhenti, ia memutar badan dan berlari memeluk Louis, Louis hanya berdiri mematung.


" fia seneng ketemu Kakak lagi "


fia melepaskan Louis, berjalan mundur sambil melambaikan tangan, tersenyum lebar dan berteriak


" Dah kak L "


kemudian berlari untuk mencari Ryan, Louis masih tidak bergeming, ia memandang gadis itu semakin lama menghilang dari pandangan nya, setelah fia benar-benar tak terlihat ekspresi Louis berubah serius, ia mengangkat tangan kiri memanggil sekretaris pribadinya, Sony birawan untuk mendekat menerima perintah.


" selidiki orang yang bernama Ryan


Sony menundukkan kepala sedikit tanda ia mengeri


" baik pak "


itu Louis lakukan bukan tanpa alasan, ingatan Louis setajam gajah dan ia sangat yakin pernah melihat Ryan di suatu tempat, ia hanya perlu usaha untuk mengingatnya.


###


Seminggu setelah Louis kembali ke Inggris, kakek nya meninggal dunia sehingga semua kerajaan bisnisnya diserahkan pada Louis Arthur Sr. Ayah nya. itu juga berarti harapan kembali ke Indonesia sangat kecil, hari-hari Louis lalui dengan berat karena terus merindukan fia, ia takut jika sekali saja louis menghubungi fia rasa rindunya akan semakin besar dan tak tertahankan, maka yang ia lakukan hanya belajar seperti orang gila untuk mengalihkan pikirannya dari fia,


lalu satu hari keberuntungan Louis mengambil alih, sang Ayah mengirimnya ke Indonesia untuk mengurus cabang perusahaan, sumpah demi apapun itu adalah hari paling membahagiakan untuk nya setelah bertahun-tahun.


begitu menginjakkan kakinya di Indonesia Louis langsung menuju rumah lamanya yang pernah ia tinggali, hanya untuk merasa kecewa ketika tahu fia sudah pindah, maka ia perintahkan Sony untuk mencari tahu keberadaan fia, beberapa hari kemudian Louis mendapat kabar kepindahan fia, informasi tentang dimana ia tinggal bahkan sekolah nya pun sudah ia kantongi, hal berikutnya adalah mengejar fia.


pertemuan waktu itu benar-benar sebuah kebetulan yang tak disengaja, Louis baru saja selesai meeting dengan client, dalam perjalanan pulang, ia membuka jendela mobil di kursi penumpang lalu mengapit sebatang rokok diantara bibirnya dan menyalakan nya, dihisap nya rokok dalam-dalam hingga mengeluarkan asap tebal berbentuk lingkaran. Louis menikmati rokoknya.....


ia baru sadar kalau ia melewatkan makan siang setelah perutnya berbunyi aneh, telapak tangannya mulai berkeringat, itu adalah reaksi tubuhnya setiap kali ia terlambat makan.


" mas Sony " panggilannya pada sekretaris pribadinya yang sedang menyetir


" kita cari makan dulu "


" mau makan apa pak ?"


" apa aja boleh "


" baik pak "


tak lama Sony berbelok ke salah satu mall, dengan mulus ia parkirkan mobil di basemen, setelah mesin mati, ia membuka seat belt turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Louis, Louis melenggang keluar dengan gagah dari dalam mobil, berjalan ke pintu masuk dengan Sony di belakangnya, ia memakai sweater turtle neck hitam dipadu dengan Long Coat coklat yang cocok dengan warna matanya. Louis layaknya prince charming dari negeri dongeng, ia mematikan rokoknya sebelum memasuki mall, ekspresi dingin dari wajah Louis menambah pesona nya yang bisa membuat orang jadi kehilangan akal, mereka memasuki lift, Sony memencet tombol 3 dan berdiri di belakang Louis. beberapa wanita yang sudah lebih dulu ada di dalam lift menahan napasnya, mereka baru pertama kali melihat mahluk indah seperti Louis.


Louis memang tampak lebih dewasa dari usiannya, itu diperlukan dalam pekerjaannya sebagai wakil direktur, usianya masih di bawah 25 tahun tapi sudah memimpin perusahaan raksasa di bidang kecantikan, tak jarang ia diremehkan atas kemampuannya, orang akan berpikir betapa ia sangat beruntung mempunyai orang tua yang kaya raya, makanya Louis selalu memasang wajah yang masam dan jarang tersenyum untuk memberi kesan serius.


sampai di lantai 3 Louis berjalan berburu makanan tapi ia terhenti saat melihat gadis cantik dengan mata besar cerah mirip dengan milik Sofia, oh dan senyum nya juga mirip, gadis ini seperti versi dewasa dari Sofia, Louis berkedip...


oh wait, it is her...!!!


mata Louis berbinar, ia merasakan aliran darah dengan derasnya menuju jantung, membuat jantungnya memompa lebih kuat,


ouch


Louis memegang dadanya dengan kedua tangan, hatinya berdenyut-denyut.


Louis memasuki pintu pondok pizza tanpa mengalihkan pandangannya dari fia, mengabaikan ucapan selamat datang dari karyawan yang menyambut nya di pintu, ia tidak peduli, ia hanya melihat fia, ia berjalan mendekati fia yang membelakanginya, Louis kenal rambut berkilau nya, itu rambut fia, Louis mengenali bahu nya, itu bahu fia.


Louis satu meter dibelakang Fia, mencoba mengatur napas nya yang memburu dan menenangkan jantungnya yang berpacu. dengan yakin ia memanggilnya


" Sofia ...?".