Hey Sofia

Hey Sofia
Kedatangan Louis




Persiapan pernikahan Ryan dan Sofia sudah 90%, sejak kepulangannya dari London sebulan lalu bersama Liliana, semua persiapan di serahkan pada WO profesional, mulai dari dekorasi, catering, home band bahkan suvenir. Acara lamaran sudah di gelar seminggu setelah mereka pulang dari London, semua terkesan terburu-buru karena Ryan mau nya begitu, Fia juga tidak menolak keinginan Ryan. Mereka sudah menunggu lebih dari 10 tahun, apalagi yang harus ditunggu?


Fia dan Lily kembali tinggal di rumah lama, sebelum menikah Fia ingin menghabiskan waktu sebaik-baiknya dengan Lily karena setelah pernikahan Lily akan kembali ke London, kini Fia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Lily, tidur di kasur yang sama bahkan tak jarang tidur sambil berpelukan, Fia benar-benar bermanja pada Lily, saat ini Fia merebahkan kepalanya dipangkuan Lily sambil menonton TV, sesekali Lily mengalur jari-jari terampil nya di rambut Fia. Menariknya pelan seperti sebuah pijitan di kepala.


"Ibu kenapa nonton sinetron istri teraniaya yang cuma bisa nangis dan menunggu karma sih?" Protes Fia.


"Kangen ibu sama sinetron ini, di London kan ga ada"


"Tapi Fia kesel nontonnya, jadi istri kok pasrah banget, disakiti ya berontak lah, masa cuma bisa pasrah sama keadaan" dengus Fia


"Kalau kamu jadi istri yang seperti apa nanti? pasrah sama keadaan atau berontak dan melawan kalau disakiti?"


"Jadi istri yang bahagia lah Bu, cintanya Ryan kan mentok di Fia, lagipula kalau Ryan berani macem-macem siap-siap aja jadi miskin, sebagian aset Ryan kan atas nama Fia dan nanti Ryan mau kasih setengah dari saham yang Ryan punya buat Fia, anak ibu auto jadi sultan" Fia tersenyum lebar sambil menaik-turunkan kedua alisnya.


"Kamu segitu percaya sama Ryan?"


"Ryan berkali-kali meyakinkan Fia Bu, ibu do'akan supaya Ryan selalu sayang sama Fia dan ga pernah berubah"


"Ibu selalu do'akan yang terbaik buat kamu" bulir-bulir kristal bening berjatuhan dari mata Lily, Fia bangkit dan duduk di sebelah Lily, dengan tangannya, Fia menghapus air mata sang ibu.


"Ibu kok nangis? Fia ada salah ya Bu? maafin Fia Bu" Lily menggeleng.


"Kamu ga salah, ini bukan air mata sedih, ibu bahagia, putri kecil ibu sudah besar, sebentar lagi akan menikah"


"Ibu, selamanya Fia adalah putri kecil ibu" Fia dan Lily berpelukan dan menangis bersama.


"Kalian kenapa menangis?"


Fia melerai pelukan keduanya lalu melihat ke arah suara pria yang berdiri di belakang ibunya, begitu juga Lily yang menoleh ke belakang, kedua wanita beda generasi itu terkejut mengetahui siapa yang datang.


"Kak L?"


"Louis.... " Lily berdiri menghampiri Ryan untuk memeluknya "Apa kabar kamu?"


"Baik, Tante"


"Kamu kenapa baru menemui Tante? sudah sebulan lho Tante disini, Kamu juga tidak datang ke acara lamaran "


"Maaf, Tante. Louis sedang diluar kota, ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, Tante apa kabar?" Tanya Louis sambil mencium kedua pipi Lily.


"Tante baik, Sayang"


'Pekerjaan apa sampai sebulan baru pulang?' Fia berkata dalam hati.


Louis melirik Fia yang melihatnya dengan mata memicing persis seperti anak kecil yang sedang awas karena takut mainannya direbut, ah ternyata Sofia tidak percaya dengan alasan Louis


"Ini ada oleh-oleh buat Tante" Louis menyerahkan beberapa goodie bag dengan merk ternama di tangannya dan berpindah alih ke Lily.


"Oh, terimakasih sayang, Tante bawa masuk dulu ya sekalian buat minum untuk kamu, Jasmine tea?"


"Ya, Tante terimakasih "


"Kamu sibuk sekali ya? kamu terlihat lebih kurus, Sibuk bekerja boleh tapi jangan abai dengan kesehatan mu"


Fia melirik tapi saat Louis memergokinya Fia langsung membuang muka berpura-pura menonton TV. Louis tersenyum tipis.


"Kamu apa kabar?" Tanya Louis.


"Nanyain kabar, gembira kayak yang peduli aja" Ketus Fia tanpa menoleh ke Louis, ia pura-pura mengganti channel TV yang bahkan tidak ia tonton.


"Fia, Kamu kok gitu sama Louis?!" Protes Lily.


"Lho, bener 'kan, Kak L ga peduli, buktinya telpon Fia ga diangkat, pesan Fia juga ga di balas, acara lamaran Fia juga Kak L ga datang, namanya apa kalau ga peduli?" Meski Fia mengatakannya dengan nada tinggi tapi entah kenapa matanya berkaca-kaca, Fia sebenarnya kecewa karena saat Fia terpuruk Louis selalu bersamanya tapi saat bahagianya Louis malah tidak ada.


"Kamu kayak anak kecil aja, 'kan Louis juga sudah bilang alasannya, Louis itu pengusaha sukses dengan ribuan karyawan, ya wajar kalau dia sibuk" Fia makin memberengut karena yang dikatakan ibunya mungkin benar tapi Fia masih tak bisa menekan kekesalannya.


"Ibu kasihan sama Ryan" Sontak Fia menoleh ke arah Ibunya.


"Kok ibu ngomong gitu?"


"Ya, kamunya sih, katanya sudah besar, sebentar lagi menikah tapi kelakuan masih seperti anak-anak, misuh-misuh ga jelas"


"Ibu ih, Jelek-jelekin anak sendiri di depan orang lain, Fia malu Bu" gumam Fia pelan.


"Siapa orang lain?" Fia melirik ke arah Louis untuk menjawab pertanyaan Lily. sementara Louis masih santai menyaksikan ibu dan anak itu.


"Louis sudah ibu anggap seperti anak sendiri, dia bukan orang lain, Fia"


"Jadi ibu lebih sayang Kak L daripada aku?" Fia kesal karena ibunya membela Louis tapi juga tidak bisa membantah


"Kalau iya, kenapa?" Lily sengaja menggoda Fia, anak itu. Matanya sudah memerah dan mengembun, sekali mengedipkan mata maka loloslah cairan bening itu, Lily tersenyum jahil dan melenggang santai ke dapur sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Louis, sadis juga Lily mengerjai anaknya. gumam Louis dalam hati. Louis melihat Fia yang susah payah menahan air matanya, Fia cengeng sekali kalau di depan Louis, benar kata Lily, Fia seperti bocah.


"Kamu sedih? Tenang aja, dari semuanya, aku paling sayang kamu"


Fia menoleh cepat ke arah Louis.


tes...


buliran bening yang sedari tadi di tahan akhirnya mengalir juga tapi buru-buru Fia hapus begitu ekor maniknya mendeteksi kehadiran Lily.


"Louis makan malam disini ya? nanti Tante masakin kesukaan kamu"


"Sebenarnya Louis mau mengajak Fia keluar Tante, sekalian makan malam, itu kalau diijinkan"


"Oh, boleh dong, tapi Fia belum mandi tuh dari pagi"


"Ibu..!" Lily terkekeh, sedang wajah Fia memerah malu.


"Sudah mandi sana, bau asem" Lily mengibaskan tangannya di depan hidung.


***