Hey Sofia

Hey Sofia
The truth about you



~Katakanlah kebenaran walaupun itu pahit. ~ Omong kosong!!!~


Dilorong IGD yang dingin dan sepi Sofia duduk termangu, ia belum pulih sepenuhnya dari pemandangan mengerikan yang baru saja terjadi, Ryan jatuh tepat didepan matanya. selama ini Ryan tidak pernah mengeluh, dia bahkan tidak pernah terkena flu lalu kenapa tiba-tiba ia pingsan?.


Sofia menangis tanpa suara sambil menunggu dokter selesai memeriksa Ryan, dalam kekalutannya fia ingat ia harus menghubungi Ray, fia merogoh tas Ryan mencari ponsel, Ryan mengunci ponselnya dengan pin nomer, fia memasukkan tanggal lahir Ryan ...


kode salah.


mungkin karena terlalu panik fia tanpa sadar memasukkan tanggal yang salah, fia mencoba sekali lagi ...


kode salah.


fia mengambil waktu sejenak dan berpikir untuk mencoba peruntungan nya sekali lagi ...


kunci terbuka.


PINnya adalah tanggal lahir fia.


***


Ray datang dengan terburu-buru dan berlari, di belakangnya mengikuti seorang gadis cantik yang tak pernah fia lihat sebelumnya, fia berdiri saat Ray mendekatinya dan bertanya dengan panik "Sofia, bagaimana keadaan Ryan?" sebelum fia sempat menjawab pintu IGD terbuka dan dokter meminta wali Ryan, Ray berlari dengan tidak sabar, mereka berdiri terlalu jauh untuk fia bisa mendengar pembicaraan mereka namun fia bisa membaca gerakan tubuh Ray, ia memegang dadanya dan menghela napas lega, sang dokter muda menunduk sedikit dan mengajak Ray masuk, sementara gadis yang datang bersamanya menatap fia dengan Canggung, fia menatap balik dan memberi senyum formalitas.


"kau Sofia?"


"iya" fia menyambut uluran tangannya walaupun ia ragu.


"aku Maya" orang cantik memang berbeda, bahkan suaranya pun seperti alunan harpa, halus, jernih dan lembut.


"apa kau mengenalku?" tanya fia


"tidak, tapi aku mendengar banyak tentang mu dari om Ray"


Maya merasa terhibur dengan ekspresi bingung Sofia, dalam penglihatan Maya, ia tampak sangat bodoh, lihatlah wajah itu, mata yang bengkak dan sekujur tubuh berkeringat, ia juga sangat kecil dan kurus, tidak mungkin Ryan sebuta itu kan? atau mungkin Ryan hanya menggunakan Sofia sebagai alat untuk melawan Ray, yang Maya dengar Ryan menolak untuk kuliah di Jerman dan itu membuat hubungan ayah dan anak merenggang, pasti karena itu kan?


ya, itu adalah satu-satunya teori yang masuk akal, kalau bukan tidak mungkin Ryan akan melirik pada Sofia 2 kali.


saat Ryan menolaknya mentah-mentah dirumah kaca waktu itu, Maya pikir Sofia pastilah gadis cantik yang paling tidak selevel dengannya, Maya terkejut saat Ray memanggil seorang gadis dengan peluh di wajahnya sebagai Sofia, ia memiringkan kepalanya melihat fia dari atas ke bawah dan tertawa dalam hati, bagaimana bisa saingannya adalah gadis itu? apa ia bahkan pantas bersaing dengannya?


Ray keluar dengan sikap lebih tenang, tidak seperti saat ia datang, Ryan sudah dipindahkan ke ruang perawatan dan sudah lebih baik meski belum sadar, Ray mengirim fia untuk pulang, saat fia memohon untuk bisa menemui Ryan, Ray malah mengajak fia ke sudut dan berbicara dengannya.


"fia, om bisa minta tolong sama kamu?"


"iya om, fia bisa bantu apa?" fia bertanya tanpa curiga.


"kalau om boleh egois, om minta tolong kamu untuk berhenti bertemu dengan Ryan" fia terlalu polos untuk bisa mengerti maksud Ray, ia hanya menatap Ray dalam kebingungan, maka Ray membuatnya jadi lebih jelas.


"gadis yang datang bersama om, namanya Maya, dia adalah calon tunangan yang om pilihkan untuk Ryan"


"om....?"


fia diam dengan ekspresi datar, ia bukannya tidak dengar yang Ray katakan, ia hanya sedang mencernanya, tapi tidak membutuhkan orang pintar untuk mengerti maksud Ray, yang fia pikirkan adalah apa Ryan tahu soal ini? apa karena ini Ryan bertingkah aneh tadi pagi? fia tertunduk dan menutup matanya keras, menahan air matanya agar tidak jatuh.


lalu tiba-tiba fia ingat kata-kata Ray yang bilang 'tunangan yang om pilihkan untuk Ryan' fia mendongak dan menatap Ray tepat di matanya, ia terkejut karena tidak menyangka fia yang polos dan manis juga punya tatapan tegas mengintimidasi, fia hanya seorang gadis kecil yang mendadak punya aura kuat jika memang itu diperlukan, ternyata Ray terlalu meremehkan kepribadian fia tapi ini bukan saat nya kagum.


Tadi pagi Ryan mengatakan ia mencintai fia dan fia bisa merasakan ketulusan nya tanpa ragu sedikitpun, maka fia memilih untuk percaya pada Ryan.


"om, mungkin kita harus menunggu Ryan sadar dan mendengar pendapat Ryan soal ini"


sedetik yang lalu fia terlihat lemah bahkan hampir menangis tapi sekarang gadis itu sangat percaya diri dan tahu apa yang ia lakukan.


"Sofia, kamu ga percaya dengan om?"


mendengar Ray meninggikan suaranya fia tetap tenang,


"bukan begitu om, fia pernah berjanji untuk tidak meninggalkan Ryan dan fia tidak berniat untuk melanggarnya, kecuali Ryan sendiri yang datang dan bilang tidak butuh fia lagi"


Ray tahu ini takkan mudah tapi ia tak menyangka fia akan setegas ini mengutarakan pikirannya, meski fia jelas melawannya tapi Ray tidak melihat itu sebagai sesuatu yang kurang ajar atau menganggap fia tidak sopan, fia hanya tahu apa yang ia inginkan dan ia berpegang teguh pada itu. fia adalah gadis luar biasa dengan kepribadian kuat tak heran Ryan memilihnya dan berani melawannya hanya untuk mempertahankan fia, tapi anak satu-satunya sedang berbaring didalam sana, Ray tidak bisa berdiam diri disana dan mengagumi gadis yang ada di depannya, jadi Ray berencana untuk mengungkapkan kebenaran.


*******


Pagi ini setelah Ryan terbangun tiba-tiba dari mimpi buruk, kepalanya sakit tak tertahankan, ia meraih nakas dan membukanya dengan tidak sabar, tangannya menyapu isi laci tapi tak menemukan apa yang dicarinya, ia ingat obat terakhir yang ia minum adalah 3 hari yang lalu dan ia belum kembali ke dokter, dalam kesakitan Ryan meringkuk di ranjang sambil me remas kasar rambutnya, pandangannya mulai gelap karena menahan sakit.


Ryan mengambil ponsel dengan niat menelpon fia, saat Ryan baru mengetik pola nomer untuk membuka kunci, matanya tertutup sepenuhnya.


Ryan menunggu fia di tempat biasa, setelah pingsan Ryan merasa sangat kelelahan, ia tidak ingin sekolah, jika ia meminta fia bolos, maukah fia mengikutinya?


melihatnya tertawa benar-benar sangat menenangkan, jadi Ryan menarik kesimpulan sepihak, jika ia bisa membuat fia tertawa di sisa hidupnya mungkin Ryan tidak butuh obat lagi.


begitu hari mulai gelap, kepala Ryan terasa terbakar, jika ada dinding disana, ia pasti sudah membenturkan kepalanya, sebagai gantinya Ryan menekan kuat-kuat kepalanya yang serasa akan meledak, ia sangat kesakitan sampai air matanya mengalir tanpa ia kehendaki, Ryan melihat ke arah fia begitu ia memanggil namanya, dan wajah cemas bercampur ketakutan fia adalah yang terakhir ia lihat sebelum semua menjadi gelap.


******


"Sofia, om mau menceritakan sesuatu tentang Ryan padamu" Ray berubah menjadi sangat serius dan hati-hati dalam memilih kata-kata nya, kedua telinga fia terbuka.


"istri om.... " Ray berhenti sesaat, raut wajahnya sedih seperti teringat kisah lama yang menyakitkan


"ibunya Ryan mengidap kanker dan ia sudah berjuang selama 5 tahun, tanpa Ryan ketahui kami melakukan pengobatan secara diam-diam, barulah di saat-saat terakhir nya kami memberitahu Ryan karena ibunya sudah sangat lemah, begitu Ryan tahu ia sangat shock dan menolak mempercayai nya, dalam kesedihannya Ryan pergi membawa mobil saat semua orang lengah, lalu sesuatu yang buruk pun terjadi, Ryan mengalami kecelakaan, ia menabrak sebuah mobil dengan kecepatan tinggi, mobil itu berguling beberapa meter dan merenggut satu nyawa, di dalam mobil itu ada Ayah, ibu dan juga gadis kecil mereka"


jantung fia berdetak kencang saat ia sadar ia familiar dengan cerita Ray, entah kenapa dadanya jadi sakit


"Sang ibu hanya terluka ringan tapi sang Ayah meninggal, namanya..... Darmawan"


fia jatuh terduduk begitu mendengar nama Darmawan, begitu banyak hal berkecamuk di kepalanya dan fia masih mencerna informasi yang di jejalkan Ray, itu terdengar tidak masuk akal, fia jelas-jelas ingat yang menabrak mobil mereka adalah sebuah truk, jadi pasti Ray bohong kan? ini hanya salah satu caranya memisahkan ia dan Ryan, pasti begitu.


Ray duduk dengan pelan-pelan disamping fia, Ray telah mengingatkan fia tentang kenangan buruk itu, fia memutar kepalanya memandang Ray dengan tajam "om bohong kan?!" fia menuding Ray tanpa keraguan


"jelas-jelas fia melihat truk yang menabrak, kenapa om tega melempar kesalahan pada Ryan hanya untuk memisahkan kami? om, segitu bencinya sama fia?"


"Sofia, tenanglah...." Ray tulus menenangkan fia, bagaimanapun ini pasti mengejutkan baginya.


"setelah kecelakaan, om memohon kepada ibu mu, bahkan om berlutut meminta ibu mu untuk tidak melanjutkan kasus ini ke pihak berwajib"


"ibu tahu....?" Ray mengangguk hati-hati


"ibu mu dengan kebaikan hatinya setuju dan memaafkan Ryan, mungkin karena waktu itu Ryan usianya sama dengan mu"


"jadi tidak pernah ada truk?" Ray menggeleng pelan


"itu adalah apa yang kami ingin kau percaya... . kami menanamkan nya di kepalamu"


Seperti ada tangan besar tak kasat mata mencengkram jantung fia dan mengeluarkannya dengan paksa sehingga meninggalkan lubang menganga di dada fia, ia secara alami memegang dadanya yang berdenyut,


"tolong jangan salahkan Ryan.... setelah kecelakaan Ryan mengalami luka berat di kepalanya hingga tak sadarkan diri selama satu Minggu, begitu ia bangun Ryan menanyakan tentang ibunya, sayangnya . ... ibunya juga meninggal dihari Ryan kecelakaan, Ryan sangat terpukul dan merasa bersalah karena tidak bisa menemani ibunya disaat-saat terakhir"


Ray menutup mata menahan kesedihannya, fia masih tidak percaya, bagaimana seorang bocah 12 tahun bisa mengendarai mobil? mungkin karena fia dalam kebingungan hingga ia mengabaikan fakta bahwa justru karena Ryan adalah bocah berumur 12 tahun dan tanpa keahlian mengemudi kecelakaan itu bisa terjadi,


"beberapa hari kemudian Ryan mengetahui lewat berita bahwa ada korban jiwa dalam kecelakaan itu... sekali lagi Ryan terguncang dengan kenyataan bahwa seseorang kehilangan nyawa akibat perbuatannya. Ryan menjadi seperti mayat hidup dengan tatapan kosong tanpa jiwa, ia hanya bocah kecil tapi sudah mengalami banyak hal traumatis" suara Ray menghilang diujung kalimat, ujung matanya sedikit lembab dan berair


"lalu mimpi-mimpi itu mulai datang akibat rasa bersalahnya.... Ryan terbangun ditengah malam, berteriak dan menangis ketakutan adalah hal yang biasa saat itu, Ryan menghabiskan masa kecilnya antara dokter dan psikiater, kemudian satu hari om menemukan Ryan tergeletak di lantai dengan darah keluar dari hidungnya, Ryan koma selama 2 Minggu, hingga akhirnya ia tersadar dan ia sama sekali tak ingat tentang kecelakaan itu, om pikir ini adalah kesempatan untuk memulai semuanya dari awal, ini semua adalah salah om yang tak bisa menjaganya dengan baik, om benar-benar minta maaf padamu dan ibu mu Sofia"


fia menatap Ray dengan mata yang bergetar dan air yang mengalir keluar dengan deras seperti bendungan yang jebol, ia benar-benar kehilangan kata-kata, bahkan kehilangan pikirannya.


ekspresi Ray pun melembut namun sarat dengan kesedihan mendalam


"kalau Ryan tahu tentang ini.... mungkin ia takkan mampu menahan rasa sakit nya"


Disaat kedua orang itu larut dalam kesedihannya ada sosok di balik tembok dengan senyum terkembang di wajahnya .... ia merasa diberkati.


.


.


.


.


.


**Halo readers 😊


terima kasih masih menanti kelanjutan cerita Sofia


maaf ga bisa update sering-sering 🙏🙏 but you are the best 👍👍


i purple you...


thank you**.....