Hey Sofia

Hey Sofia
I'm seriously in love with you



halo readers 😊


happy reading 🤗


___________________________________________


Suasana canggung fia rasakan di meja makan, kalau saja ibunya tidak mengetuk disaat yang tepat mungkin fia sudah pingsan ditempat, fia melirik Louis yang duduk di hadapannya, ia terlihat biasa saja, padahal fia sangat terganggu dengan ucapannya di kamar tadi.


memangnya kapan aku berjanji akan menikah dengan kakak?


batin fia berteriak, ia hanya mengaduk-aduk makanannya dan masih memandangi Louis dengan bingung.


" kamu masih suka kastil puding kan? "tanya Liliana


" masih Tante, makasih udah repot buatin dessert kesukaan Louis "


" iya sama-sama "


emangnya kapan kak L makan kastil puding


seketika wajah dia menegang setelah tiba-tiba ia mengingat sesuatu.


Astaga...!!! ini seperti de ja vu


gambaran kejadian saat fia meminta Louis menikah dengannya menari-nari di kepala fia, ia tertunduk malu begitu sadar kalau itu dia, dialah yang membuat Louis berjanji menikahinya, fia sudah lama mengenal Louis dan ia tau tatapan mata itu, sejak dulu Louis adalah orang yang serius, bermain dengan perasaan orang bukanlah wataknya, entahlah..... semua begitu tiba-tiba, pikiran fia jauh dari jernih untuk bisa menyimpulkan sesuatu, yang pasti ia tahu adalah hari itu louis bertingkah aneh.


"hati-hati di jalan, kamu harus sering-sering Dateng ya "


Louis pamit saat waktu menunjukkan pukul 9 malam


" iya Tante, Louis janji kalau ada waktu akan sering main kesini "


" janji ya..."


Louis menjawabnya dengan tersenyum


" Tante, Louis pinjam fia sebentar boleh?"


" boleh tapi jangan terlalu malam ya "


Liliana masuk dan menutup pintu dibelakangnya, meninggalkan Louis dan fia diluar, mereka berjalan disepanjang danau di taman, tanpa canggung Louis menggandeng tangan fia, mereka melewati pohon besar tempat fia dan Ryan kencan di hari pertama mereka jadi sepasang kekasih, fia tersenyum sendiri mengingatnya, tak terasa sudah 8 bulan mereka bersama dan itu 8 bulan terbaik di hidup fia,


tiba-tiba fia merindukan Ryan, ia baru sadar belum mendapat kabar dari Ryan sejak mereka berpisah siang tadi, fia juga lupa dimana ia menaruh ponselnya, terakhir adalah saat fia membuka pintu untuk Louis, ketika bunyi bel terdengar fia sedang ada di kamar, ponselnya pasti tertinggal disana.


udara dingin di taman membuat fia merinding, terlebih fia hanya menggunakan kaus dan celana pendek di atas lutut, Louis membuka Coat nya untuk dipakaikan ke fia, tubuh fia tenggelam di coat milik Louis, postur tubuh Louis yang tinggi dan gagah bukan tandingannya, fia perhatikan wajah Louis yang lelah.


ia mengeluarkan sekotak rokok dari kantungnya, mengambil satu batang dan disematkan di antara bibirnya, ia mencari pemantik di kantung lain dan menyalakannya, sudah habis 2 batang rokok ia hisap dan mereka masih berjalan tanpa tujuan, kaki fia terasa nyut-nyutan, Louis baru saja hendak menghisap rokok ketiga sebelum fia menghentikannya.


"udah ngerokok nya, kebanyakan ga bagus tau "


tanpa menjawab Louis memasukkan lagi rokok itu dan keheningan pun berlanjut,


" kak..."


" mm .." jawab Louis singkat, ia memang tidak banyak bicara dan fia tahu itu.


" kakak lagi ada masalah ya ?"


" cuma lagi banyak pikiran aja "


" mikirin apa sih ?"


mikirin gimana caranya kasih tau kamu tentang Ryan.


"jangan khawatir, ini cuma hari yang aneh aja"


" iya kan.... kakak juga ngerasa hari ini aneh kan, tadi juga kakak cuma bercanda kan waktu di kamar fia"


Louis berhenti dan menarik tangan kanan fia


"itu bukan bercanda, semua tentang kamu itu serius"


"kak..." fia merasakan sakit di tangan nya karena genggaman Louis yang erat


" i'm seriously in love with you"


"kak...!!"


Louis meletakkan tangan fia di dada nya


"and im seriously want to marry you"


fia berhasil mendapatkan tangannya kembali


" tapi fia kan udah punya pacar, dan fia sayang sama Ryan"


"i don't care, aku ga perduli kamu pacaran sama siapa tapi kamu harus tetap nikah sama aku"


"kok maksa gitu?"


"fia, listen to me. Ryan is not good for you, just trust me on this, please...."


ada kesungguhan dari nada Louis tapi ini membingungkan bagi fia, Louis cuma sekali bertemu Ryan, itu pun hanya beberapa menit, bagaimana ia bisa menilai Ryan dan mengatakan ia tidak cukup baik untuk nya? fia menurunkan paksa tangan Louis yang ada di bahu nya.


"ga tau ah, fia bete"


ia pun berlari meninggalkan Louis


"fia, jangan lari nanti kamu..."


bruk


"....jatuh"


fia jatuh berlutut tanpa peringatan, ia duduk dan melihat lututnya sudah mengeluarkan darah, dalam sekali lompatan Louis sudah berada di samping fia


"kamu ga pa-pa, sini kakak lihat"


"sakit...."


kata fia sambil menangis


"ayo, naik ke punggung kakak"


fia memeluk Louis dari belakang saat ia berdiri tanpa kesusahan seolah fia begitu ringan, Louis membawa fia ke apotek 24 jam yang tidak jauh dari sana, Louis membeli d*tol, kapas dan plester luka, ia membersihkan lukanya dengan sangat ahli dan ditutup dengan plester sebagai sentuhan terakhir, mereka pulang dengan fia yang masih betah bergelayut di punggung Louis.


"kayaknya dulu fia pernah kayak gini deh"


"sering"


"tapi punggung kakak beneran hangat, fia suka"


"makanya nikah sama kakak ya"


fia memukul lembut bahu Louis


"tuh kan mulai deh, jangan ngomong yang aneh-aneh ah kak"


"kamu tahu kakak serius, jadi ga usah pura-pura"


langkah Louis terhenti bukan saja karena mereka sudah sampai di gerbang rumah fia tapi karena ada pria yang mematung di depan mereka dengan tatapan kosong.


Ryan nyaris tanpa ekspresi hingga fia tak bisa menebak apa yang dipikirkannya, fia langsung turun dari punggung Louis


"yank, malam-malam kok bisa ada disini?"


tanya fia panik, ia takut Ryan salah paham, pandangan ryan lalu turun ke lutut fia. wajah nya yang tadi datar sekarang menjadi cemas


"lutut kamu kenapa lagi?"


lho, dikira bakal marah tapi malah khawatir sama lutut aku.


"ga pa-pa tadi jatuh tapi sekarang udah diobatin"


"fia kamu masuk dulu, kakak mau ngomong sama Ryan"


"mau ngomong apa? fia mau denger"


"yank, kamu masuk sana, diluar dingin nanti kamu sakit"


"ya udah aku masuk"


Ryan dan Louis menyaksikan fia berjalan ke pintu, sebelum masuk fia tersenyum pada Ryan dan ia membalasnya, fia masuk dan menutup pintu dengan berat. kini tertinggal Ryan dan Louis berhadapan


"apa kau menyukai fia?" Ryan menggeleng


"aku mencintainya"


"kau mau melakukan apapun untuk fia?"


"aku akan lakukan apapun untuk nya"


"bisa kau tinggalkan fia?"


entah kenapa Ryan tak terkejut mendengarnya, dengan nada suara sedingin es Ryan berkata


"tak akan pernah"


"jangan salah paham, aku sama sekali tidak membenci mu, aku lakukan ini demi kebaikan kalian terutama fia"


"kurasa dia sudah cukup dewasa untuk tahu apa yang terbaik untuk nya"


Ryan dengan acuh meninggalkan Louis dan kembali ke rumah, begitu pun Louis, ia kembali ke Bentley hitam yang diparkir tak jauh dari sana, Louis membuka pintu dan melayang masuk ke kursi pengemudi. ia duduk diam untuk beberapa menit


andai saja aku tidak tahu tentang masa lalu mu, aku pasti dengan suka rela akan menyerahkan fia padamu, sepertinya kau benar-benar tulus padanya


lalu suara mesin mobil menyala dan Louis pergi dari sana