
Halo readers 😊
Happy reading 🤗
__________________________________
"iya om, nama lengkap saya Bunga Sofia Darmawan"
"oh begitu, nama yang cantik seperti orangnya" senyuman dan sikap ramah nya terkesan dipaksakan, ada apa? pikirnya. apa yang salah pada dirinya?.
"ok cukup kenalannya, sekarang kita makan yuk"
Ray merangkul dia dari samping dan menuntun nya ke meja makan, fia menoleh ke arah Ryan yang ada dibelakangnya, Ryan tersenyum dan mengikutinya, sampai di meja makan Ryan mengambil langkah ke depan dan menarik kursi untuk fia, lalu diikuti dengan Ryan yang duduk disebelahnya sedangkan Ray duduk di hadapan mereka,
"mudah-mudahan kamu suka dengan hidangan hari ini, om sengaja memanggil koki hotel untuk masak makan malam kita khusus buat kamu"
ok, sekarang Fia tau dari mana Ryan mendapatkan sifat murah hati nya, dengan isyarat tangan dari Ray para pelayan mulai menyajikan appetizer berupa salad buah, fia melirik Ryan dan ia tersenyum, ini pasti ulahnya batin fia berkata, selang berapa lama menu utamanya wagyu steak pun datang, fia sudah siap menyantapnya, dengan pisau dan garpu ia hendak memotong steak itu sebelum Ray mengajaknya bicara
"jadi, om panggil kamu apa nih? Sofia atau bunga?"
"apa aja boleh om"
"katanya kamu suka gambar ya? cita-cita kamu jadi komikus?"
"eh, kok om tau?"
fia melihat Ryan curiga, lagi-lagi ia hanya tersenyum dan asyik memotong steak nya, Ryan lebih pendiam malam itu, ia memberikan kesempatan pada Ray untuk lebih mengenal fia.
"Ryan banyak cerita soal kamu, kalau om telpon yang dia bicarakan cuma kamu, makanya om jadi penasaran sama kamu, ternyata Ryan ga bohong waktu bilang kamu cantik"
pujian dari Ray membuat fia memerah.
"udah pah, nih anak diajak ngobrol terus kapan makannya?"
Ryan menukar piring steak fia dengan piring steaknya yang sudah terpotong rapi, fia memandang bingung ke Ryan.
"biar kamu gampang makannya"
itulah hebatnya Ryan, ia selalu tau apa yang fia pikirkan sebelum itu terucap.
***
setelah selesai makan malam, mereka pindah ke ruang tengah dan mengobrol santai disana.
"jadi kamu tinggal berdua sama ibu kamu?"
"iya om, ayah sudah meninggal karena kecelakaan 6 tahun lalu"
Ray menurunkan matanya dan sudut mulutnya menekuk, itu ekspresi orang sedih
"pa, jangan tanya itu nanti bunga sedih"
"maaf sayang, om buat kamu ga nyaman ya?"
"ga kok om, fia baik-baik aja"
lagi-lagi Ray memasang senyum yang dipaksakan, Ray meminum kopi nya dengan cara biasa tapi fia bisa lihat ujung-ujung jarinya yang bergetar, ini membingungkan bagi fia, jelas-jelas senyumnya dipaksakan tapi Ray juga tidak menunjukkan penolakan pada fia atau memang ia tidak menyukai fia tapi tidak mau kehilangan muka di depan Ryan makanya ia rela bersusah payah begitu, ekspresi nya saat fia menceritakan tentang keluarganya jelas mengusik nya tapi ia mencoba berpikir positif, mungkin itu hanya rasa kasihan, bagaimanapun situasi fia dan Ryan hampir sama, mereka sama-sama kehilangan orang yang mereka sayangi dan berjuang melewati itu, mungkin itulah satu-satunya persamaan yang mereka punya, sebuah tali yang mengikat hati mereka menjadi satu.
waktu menunjukkan pukul 11 siang saat fia berhasil membuka matanya, masih menggunakan piyama dan wajah yang belum dicuci fia turun ke bawah, rasa lapar membuatnya melayang ke arah dapur, tanpa sadar ia mencari makanan, lagipula ini waktunya jam makan siang tapi kecewa karena tak ada apapun disana, matanya masih setengah terpejam saat ia mendengar suara tv di ruang tengah, suaranya terdengar seperti siaran olah raga, sejak kapan ibunya suka acara olahraga? rasa lapar fia berubah menjadi rasa penasaran dan menuju ruang tengah, matanya melebar melihat seorang pria duduk di sofa nya
"kak L"
Louis menoleh ke arah suara yang memanggilnya, fia bergabung duduk bersama Louis, bersandar malas dipunggung sofa, Louis menatap gemas wajah fia yang polos dan rambut yang acak-acakan karena baru bangun tidur, ia bahkan tidak sadar sudah membuat jantung Louis kewalahan karena ulahnya itu, kepalanya terangkat, mata besar nya melihat langsung ke mata Louis, membuatnya berhenti bernafas sejenak,
"ibu kemana?" tanya fia.
Louis mengalihkan pandangannya ke tv berusaha keras terlihat santai meski hatinya berdegup kencang,
"ke pernikahan anak temannya"
Louis menjawab sedatar mungkin sambil terus mengganti Chanel TV yang tidak ia tonton hanya untuk mengalihkan pikirannya dari fia, gadis itu masih setengah terlelap, ia menutup matanya dan bersandar pada bahu kiri Louis, ini bukan kali pertama fia bermanja padanya dan setiap kali ia melakukan itu nyawa louis seakan tercabut satu-persatu dari tubuhnya, Louis merasa dirinya sedang sekarat.....
" kak ngapain disini?" tanya fia
"kangen" jawab louis.
"oh.. "
"aduh kak L!!!"
fia memegang tangan Louis untuk melepaskan cubitan di pipinya dan ia berhasil,
"apaan sih... sakit!!!" kesal fia pada Louis, ia mengelus pipi nya dengan tangan kiri dan memukul louis di dada dengan tangan kanannya, Louis terpingkal-pingkal senang
"iya maaf, kamu sih tidur mulu" Louis masih tertawa sampai ingin menangis rasanya,
"ih jahat, kan bisa dibangunin aja, ga usah di cubit!!"
"iya udah jangan pukul lagi, ampun"
fia masih terus menghujani Louis dengan pukulan lemah nya, Louis menarik tangan fia hingga dia terdorong dan jatuh tidur di atas tubuh Louis, wajahnya sangat dekat dengan pria itu, jantungnya berdetak dengan kecepatan yang tak masuk akal, matanya bergetar hebat seperti sedang kerasukan, mereka membantu dalam keadaan itu selama beberapa detik,
"fia..." Louis lah yang pertama memecah kebekuan itu, ia sadar betul jika sedetik lagi lebih lama dalam keadaan itu Louis mungkin bisa kehilangan kendali atas fia,
"huh..?" tanya fia, matanya mengerjap mengambil alih kembali kesadarannya,
"berat" lanjut Louis
fia langsung bangun dan kembali ke posisi duduk dari awal, suasana canggung melingkupi mereka, sedang fia masih bingung apa yang baru saja terjadi.
"fia..."
"ya.." fia menoleh pada Louis
"mau makan?" ia mengangguk keras.
Dengan Bentley hitam nya yang mencolok Louis membawa fia ke restoran ternama, mereka punya blueberry cheese cake terenak yang pasti fia suka, restoran itu tidak terlalu besar tapi ramai pengunjung, tercium aroma manis seperti roti yang baru dipanggang, membuat fia makin lapar.
"kamu tunggu disini, kakak mau tanya apa masih ada meja buat kita"
"ok.."
Louis meninggalkan fia di dekat pintu masuk sementara Louis berbicara dengan pelayan restoran di meja kasir, fia menunduk dan memainkan sebelah kakinya.
"Sofia....?"
fia mendongak ketika ada suara yang memanggilnya, Raytama secara kebetulan juga ada disana, fia terkejut tapi menyapa nya ramah.
"halo om"
"kebetulan yang menyenangkan bisa ketemu kamu disini"
Ray melihat sekeliling mencari orang yang mungkin ia kenal.
"kamu sama siapa ke sini?"
"oh itu, fia datang bersama...."
"fia..." Louis datang dan langsung menghampiri fia, fia hendak mengenalkan Louis pada Ray
"kak, kenalin ini...."
ekspresi Louis saat melihat Ray membungkam mulut nya, ia seperti sedang melihat hantu, fia mengalihkan pandangan pada Ray, caranya tersenyum sama seperti waktu itu, dipaksakan. tapi masih terkesan ramah.
"kak...?"
Louis beralih ke fia dan tersenyum, senyuman yang sama seperti Raytama, Louis menarik tangan fia dan menjauhi nya tanpa berkata apa-apa,
"ayo, kakak udah dapat meja"
"eh tapi..."
fia tak bisa menahan Louis saat melewati Raytama.
"om maaf, fia masuk dulu ya"
mereka meninggalkan Ray di pintu masuk tapi masih sempat melempar senyuman ke fia, fia hanya pasrah ditarik Louis ke meja mereka dan tak mengerti apa yang baru saja terjadi
"kapan kamu ketemu papa nya Ryan?"
"lho, kok kakak tau dia papanya Ryan? kalian sudah saling kenal?".