Hey Sofia

Hey Sofia
Reunited




I'll be courageous of you can pretend that you forgiven me.


~sofia~


Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif


Sofia tidak bisa berhenti menelpon Ryan meski selalu dengan jawaban yang sama, saat ia merasa tak berdaya, paling tidak hanya itu yang bisa ia lakukan, sudah lebih dari 1 jam Louis menemani fia berkeliling ke tempat yang mungkin Ryan datangi, gadis itu memegang ponselnya dan terus menelpon Ryan, ia menyapu jalanan dengan matanya yang awas dan kepanikan juga terpancar disana, Louis pernah melihat fia tertawa, menangis bahkan marah tapi ia tak pernah melihat fia khawatir tentang seseorang sampai membuatnya seperti orang gila.


sudah tengah malam dan Ryan masih belum ditemukan, fia tidak bisa terus berada di jalan, mencari Ryan yang entah dimana keberadaan nya, maka Louis membujuk fia untuk pulang


"Sofia, ini sudah tengah malam, kita harus pulang, ibu pasti khawatir"


"tapi Ryan masih diluar sana kak, fia harus temukan Ryan"


Louis menyerah dan menuruti keinginan fia, disaat seperti ini jika Louis memaksanya, fia bisa nekat dan mencari Ryan sendirian, itu justru jauh lebih berbahaya, bagi fia sekarang menemukan Ryan adalah yang terpenting, Louis bisa memikirkan alasan untuk Lili nanti.


seperti ada jarum tertancap di bangku yang membuat Sofia tak bisa duduk diam, Louis menggenggam jemari fia berusaha memenangkannya


"Sofia, tenanglah aku yakin dia baik-baik saja, kita akan menemukannya"


Sofia semakin menangis tak terkendali, ia teringat saat Ryan bertanya apa ia membencinya, tak mungkin fia bisa membencinya, itu yang ingin fia katakan tapi saat ia membuka mulutnya kata-kata yang keluar adalah


aku hanya berharap kita bisa kembali ke masa kita hanya sebatas teman.


Sofia pasti sudah gila hingga kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut nya, saat ia ingin menjelaskan pada Ryan, ia sudah menghilang dan membanting pintu di belakang nya, fia mungkin tidak melihat namun mata Ryan saat itu Semerah darah yang mengalir di nadinya, matanya menjadi sangat perih dan sakit di dadanya tak terperi.


"seharusnya fia tak pernah mengatakan itu padanya, seharusnya fia langsung menjelaskan saat itu juga, Sekarang Ryan hilang dan ini semua salah fia, bagaiman jika sesuatu terjadi padanya? fia takkan memaafkan diri fia"


Louis menepi dan berhenti di pinggir jalan, membuka sabuk pengaman nya agar ia bisa menghadap fia, Louis menangkup wajah fia dan berkata


"Sofia, kau harus tenang, kalau kau panik kau takkan bisa berpikir dengan jernih, kau bisa tenang kan?"


fia menatap mata Louis dan perlahan napasnya menjadi lebih pelan dan teratur, fia mengangguk sebagai jawabannya.


saat itulah ponsel fia bergetar, nama yang tertera di layar adalah Ryan, fia melirik Louis ,. memastikan apa yang ia lihat adalah benar, fia dirasuki ketakutan jika yang menelponnya bukan Ryan melainkan orang lain untuk memberinya kabar buruk, tangan fia bergetar hebat saat ia menggeser layar dan mendekatkan ponselnya ke telinga, lalu berkata dengan keraguan


"halo...?" fia menunggu beberapa detik, ketika tak ada jawaban ia hendak mengulang kata "halo" namun seseorang dari seberang sana lebih dulu menjawab


"Hem. "


jantung fia serasa jatuh ke perut, meski hanya sekedar 'hem' sederhana tapi fia tahu itu suara Ryan, fia mengambil napas panjang, yakin dengan apa yang ingin ia katakan pada Ryan.


"kau baik-baik saja?"


setelah jeda Ryan menjawab dengan singkat


"iya"


betapa leganya fia mendengar jawaban Ryan


"aku ingin bertemu, kau dimana?"


fia mendengar napas Ryan yang berat namun teratur, seperti nya Ryan sedang berpikir sebelum akhirnya memutuskan untuk memberi tahu Sofia dimana ia berada.


****


Louis mengantar fia ke danau di taman dekat rumah, karena panik fia melupakan tempat itu, tempat di mana mereka pertama kali kencan sebagai sepasang kekasih, sesampainya di taman, Louis memakaikan jaketnya pada fia karena malam itu sangat dingin dan ia gemetaran, fia meminta Louis menunggu nya dimobil sementara ia pergi ke danau sendirian.


Ryan masih mengenakan setelah jas 3 lapisnya saat bersandar di pagar batu tepi danau, di bawah tiang lampu Ryan tampak luar biasa anggun dan bersinar, gagah dan diluar imajinasi sangat tampan, benar-benar definisi dari kata pangeran, yang kurang hanya senyum diwajahnya. semakin fia mengikis jarak mereka semakin jelas fia melihat awan gelap menyelimuti Ryan, ia terperangkap dalam lamunannya sendiri hingga tak sadar fia sudah ada di sampingnya, Ryan bagai patung tak bergerak sedikitpun kecuali dadanya mengembang dan mengempis dalam irama pelan, udara dingin membuat hembusan napas Ryan seperti asap yang keluar dari mulutnya yang terlihat pucat, sudah berapa lama ia berdiri di sini?


"Yan..."


mendengar suara fia, Ryan terkejut namun reaksi tubuhnya menunjukkan seolah ia sudah menunggu fia, ia ingin memeluk fia tapi sesuatu menghentikannya.


"apa yang kau lakukan, berkeliaran di malam dingin seperti ini"


Ryan kembali bersandar seolah-olah tidak peduli dengan kehadiran fia.


"aku dengar yang terjadi, kenapa kau lari?"


"kenapa kau peduli?? bukankah kau sudah tidak mau lagi berhubungan dengan ku?"


fia tertunduk karena penyesalan, lalu berkata dengan suaranya yang gemetar


"maafkan aku"


Ryan menatap fia dan hatinya menjadi sakit.


"tak perlu meminta maaf, semua sudah terjadi"


"tidak, itu perlu!!"


fia mulai merasakan perih dimatanya lalu melanjutkan


"saat ku dengar kau menghilang, aku sangat takut"


fia mengepalkan kedua tangannya, berusaha mengeluarkan keberanian nya untuk mengatakan yang sebenarnya ia rasakan, fia tak berencana untuk menahan perasaannya seperti yang selama ini ia lakukan, mungkin karena ketakutan terbesarnya adalah tidak bisa bertemu dengan Ryan lagi, hingga berita tentang menghilangnya Ryan membuatnya sadar, ia tak mau Ryan pergi dari sisinya, fia mau menjadi egois dan memiliki Ryan untuk dirinya sendiri, fia pernah hidup tanpa Ryan dan setiap harinya adalah siksaan, fia tak mau hidup seperti itu lagi, fia ingin bahagia bersama Ryan tapi yang membuatnya takut adalah Ryan sudah tak mau menerimanya dan memaafkan kesalahan yang telah melukai Ryan,


fia akan menjadi lebih berani bahkan jika Ryan hanya berpura-pura memaafkannya.


"aku mencari mu dan menelpon mu terus menerus tapi tak ada jawaban dan aku menjadi gila karena takut sesuatu yang buruk terjadi padamu"


kini air matanya mengalir, menetes jatuh membasahi tanah, fia terisak hingga bicara pun hampir mustahil baginya.


"aku... takut... kehilanganmu, aku... takut.... tak... bisa... bertemu.... denganmu lagi...."


Ryan berdiri tegap menghadap Sofia, menahan kedua pundaknya dan mengguncangnya perlahan,


"apa maksudnya ini?"


Ryan membungkuk untuk melihat wajah fia yang sedari tadi tertunduk, ketika fia tidak menjawab Ryan jadi sedikit tidak sabaran


fia masih saja menangis dan tak bisa menjawab meski Ryan sudah sangat putus asa ingin mendengar jawaban nya.


"Demi Tuhan, katakanlah sesuatu, katakan perasaan mu yang sebenarnya padaku, apa mungkin kau ..."


Ryan hendak mengatakan 'peduli' sebelum fia memotongnya dan bilang


"aku mencintaimu.."


fia menghapus air matanya, kali ini fia menatap Ryan dengan berani, tanpa keraguan fia mengulang kata-katanya untuk meyakinkan Ryan.


"aku mencintaimu, sejak dulu dan tak pernah berubah, aku mencintaimu dan setiap hari semakin bertambah, aku mencintaimu sampai hatiku tak kuat menahannya"


tangan Ryan kini berada di kedua pipi fia, ia merasakan tangan Ryan yang dingin di wajahnya, tatapannya menjadi lembut pada fia


"apa itu benar? kau mencintaiku apa itu benar?" fia mengangguk yakin.


"sebesar itu kau mencintaiku?"


"sebesar itu aku mencintaimu"


"kenapa baru sekarang kau mengatakannya?"


"apa aku terlambat?"


ada nada penyesalan dari pertanyaan fia.


dahi Ryan menempel pada dahi fia, dan napasnya yang panas menyapu wajah fia lalu dengan suara yang mirip seperti bisikan Ryan berkata


"kau tepat waktu"


Ryan mencium kening fia dengan sangat lembut seakan dia akan retak jika ia menciumnya terlalu dalam.


"tanganmu sangat dingin" kata fia


"kalau begitu hangatkan aku"


fia melingkarkan tangan nya pada pinggang Ryan dan mendekatkan dirinya hingga tak berjarak.


"aku takkan meninggalkan mu lagi" janji fia


"hey, Sofia. hati-hati dengan kata-kata mu, kau yakin takkan menyesal? kau mungkin akan terjebak untuk hidup dengan ku selamanya"


fia menggeleng yakin, "aku yakin, aku ingin hidup dengan mu selamanya"


****


dahulu Ryan hanyalah sebuah nama bagi fia dan ia hanya seorang teman sekelas yang kebetulan duduk disebelahnya,


Sofia bersyukur Ryan cukup berani untuk mendekatinya, fia sadar itu tak mudah.


ketika pertama kali Ryan menyapanya, fia terpaku untuk beberapa saat, fia mengira mungkin Ryan salah mengenali nya dengan orang lain sampai ia mendengar Ryan menyebut namanya, fia terlihat angkuh dan tak tertarik tapi dalam hatinya dia gelisah dan untuk pertama kalinya jantung fia berdetak cepat karena orang lain.


****


Louis bersandar di mobilnya menunggu fia seperti yang ia perintahkan, sambil menunggu fia, Louis hendak merokok tapi ia lupa rokoknya berada di jaket yang ia pakaikan pada fia, saat itu ponsel Louis bergetar, telepon itu dari Liliana, Louis berpikir sejenak sebelum ia mengangkatnya,


Louis memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya pada lili, Louis yakin lili cukup bijaksana untuk mengerti situasinya, Louis hanya harus memilih kata-kata yang tepat tanpa membuat lili khawatir, Louis mengambil napas panjang sebelum ia menggeser layarnya dan berkata


"halo..."


Sofia datang bersama Ryan dengan bergandengan tangan, mau berapa kali lagi Louis melukai hatinya sendiri dengan tetap berada disana, pemandangan itu tidak Louis harapkan tapi ia membujuk hatinya untuk berkompromi karena paling tidak, fia bisa tenang hari ini karena sudah menemukan Ryan dan bahkan lebih dari itu, mereka kembali bersama lagi,


wajah fia tampak lebih bahagia dari pada beberapa jam yang lalu, itu yang terpenting kan? kebahagiaan Sofia.


Louis menjelaskan pada Sofia bahwa ia sudah mengatakan semuanya pada Lili dan ia harus pulang sekarang, sedang untuk Ryan, ia tak mau kembali ke rumah dan tak mungkin fia membiarkan Ryan tidur dijalanan, tingkahnya seolah fia juga ingin menemani Ryan kemanapun ia pergi. melihat itu, maka Louis mengambil inisiatif


"sofia, kau tidak boleh tinggal diluar, kau bisa sakit nanti dan ibu pasti sangat khawatir, pulanglah" Louis menatap Ryan dan berkata "kalau soal Ryan, dia bisa tidur di rumahku untuk malam ini"


setelah membuat kesepakatan, mereka bertiga menuju rumah fia untuk mengantar nya pulang, sampai di rumah, Lili sudah menunggu di depan pintu, fia berpamitan pada Ryan sebelum Louis membuka pintu penumpang dan membawa fia ke hadapan ibunya, Ryan hanya bisa melihat mereka dari dalam mobil saat Lili memeluk fia dengan kasih keibuannya, Ryan merasa lega karena Lili tidak memarahi Sofia.


****


setelah hari yang melelahkan itu, Lili memberi ijin untuk fia tidak pergi ke sekolah, fia tidur cukup lama untuk memulihkan kembali tenaganya, begitu fia bangun hari sudah hampir siang dan Lili sudah pergi bekerja, fia menyegarkan dirinya dengan mandi air hangat, setelah mandi dan berpakaian, fia mendengar suara bel rumahnya berbunyi, fia menuruni tangga menuju pintu lalu membukanya dan mendapati Ryan berdiri disana.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


halo, hope you enjoy this episode 🤗🤗