

I can be your lover, i Will be your protector but i'll never be your brother
fia menegak habis sebotol air mineral kecil yang Louis berikan. karena ketakutan tenggorokan fia kering kerontang seperti habis berjalan di tanah tandus untuk waktu yang lama, Louis masih berlutut dengan bertumpu pada satu kaki di depan fia, ia biarkan fia mengatur napasnya yang tersengal-sengal akibat menangis dan air yang dihabiskan fia sebagai pengganti cairan yang terkuras karena berbagai alasan, cuaca hari ini keterlaluan menyengat seolah mengumpulkan amunisi untuk menyerang nanti malam, serangan berupa badai yang mungkin lebih dahsyat dari kemarin malam, saking teriknya kemeja Louis yang tadinya basah karena tangisan fia kering seketika dalam hitungan menit saja.
Louis beralih duduk di samping fia dan mengambil botol kosong dari tangannya
"kamu ga pa-pa?ada yang sakit?"
Louis mengawasi fia dengan seksama, wajar ia menanyakan itu karena tadi ia melihat fia terduduk di bawah hampir terinjak-injak beruntung Louis menemukan fia di waktu yang tepat, jika tidak entah apa yang akan terjadi padanya, Louis meringis mengingat kejadian tadi, pantaslah fia menangis karena ia pasti sangat ketakutan, dalam keadaan seperti itu walau pelan dan berbisik Louis bisa mendengar dengan jelas sejelas teriakan bahwa fia memanggil nama orang itu, nama Ryan dan bukan namanya padahal jelas-jelas fia sedang bersama nya, apa fia kecewa karena Louis yang datang dan bukannya Ryan, tidak bisa kah fia mengeluarkan Ryan dari kepalanya sebentar saat Louis jelas-jelas ada dihadapannya, dalam bentuk darah dan daging, bisa disentuh sesukanya dan bukan bayangan yang semu dan tidak nyata yang bisa hilang jika terkena cahaya, tak bisakah Louis menjadi cahaya itu yang mengikis habis bayangan Ryan di kepala fia?
fia menggeleng pelan menjawab pertanyaan Louis, ia masih sedikit syok tapi sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, Louis menyilang kan rambut fia ke belakang telinganya,
"apa kau lelah? mau pulang?"
tawar Louis yang lagi-lagi di jawab dengan anggukan kepala, Louis berdiri dan disusul dengan fia,. Louis mengaitkan tangannya ke fia erat, tangan fia terasa kontras ditangan Louis, begitu kecil dan rapuh hingga seperti akan remuk jika Louis menggunakan sedikit tenaganya, tapi mau bagaiman lagi? sedikit genggaman yang terlalu erat masih lebih baik dari pada kehilangan fia lagi, fia menurut saat Louis menariknya mendekat, baru setelah sampai di mobil Louis melepaskan fia, membuka pintu dan menyilakan fia masuk, Louis membungkuk mendekatkan dirinya ke fia untuk memasang sabuk pengaman nya, saat itu Louis menangkap ekspresi wajah fia yang datar tapi masih ada semburat rasa sedih di matanya yang cerah.
setelah memasang sabuk pengaman fia Louis berdiri dan menutup pintunya, Louis kemudian berputar dan masuk ke bangku pengemudi, fia menyandarkan punggungnya di kursi berlapis kulit kualitas terbaik yang membuat siapapun nyaman duduk disana, ia memanjangkan kakinya yang pendek mencoba mencari posisi paling rileks dan begitu tubuhnya pas gua menempelkan kepalanya di kaca pintu.
"apa kau lapar? kau mau sesuatu?"
tawar Louis sebelum menginjak gas mobilnya dan melaju pergi, seperti sebelumnya fia menjawab hanya dengan gelengan kepala, ia lebih pendiam saat ini dan itu membuat Louis jengkel, Louis memegang erat setir kemudinya hingga tangannya nyeri. ia tahu persis apa yang fia pikirkan, kemampuannya menganalisa situasi dan membaca ekspresi terkadang sangat menguntungkan dalam memimpin perusahaan nya, kecerdasannya mampu membuat keputusan-keputusan tepat tanpa kesalahan, itulah bagaimana Louis berhasil menjalankan perusahaan meski usianya tergolong muda, tapi sekarang kemampuan nya itu bagai Boomerang yang berbalik menyerangnya, Louis lebih memilih jadi bodoh dan tak memahami situasi ketimbang sakit karena mengetahui segalanya yang terjadi di kepala fia.

Fia sangat merindukan Ryan, hatinya sakit sampai ke sela-sela yang hanya bisa dijangkau oleh Ryan, fia gemetar ketakutan ketika berada di kerumunan orang-orang yang asing dan menabraknya seolah ia tak terlihat, wajah-wajah yang tak fia kenal berteriak di telinganya, suaranya menggema di kepala fia seperti mendengarkan musik keras dengan speaker besar, fia kehilangan arah dan berjalan tergopoh, wajah Ryan terlintas di kepala nya, begitu nyata hingga ia pikir Ryan benar-benar ada dihadapannya, lalu sesuatu sekeras beton menghantamnya jatuh, sikap fia defensif dengan mengaitkan jari-jarinya yang lemah dibelakang kepalanya dan tanpa sadar membisikkan nama Ryan,

fia memejamkan mata dan melipat bibirnya menahan tangis, rindunya pada Ryan begitu menusuk dan tak tertahankan, dan seiring tangis nya yang tak keluar fia memegang erat tali sabuk pengaman di dadanya sampai meninggalkan bekas merah di yg telapak tangannya.
ketika fia membuka matanya setelah terlelap, Louis sudah memarkirkan mobilnya di sebuah restoran, langit menjadi gelap karena waktu sudah menunjukkan pukul 7, fia mengerjap mengumpulkan kesadarannya, memposisikan tubuhnya ke posisi duduk sempurna, menengok keluar jendela ke bangunan yang tidak ia tahu, ini jelas bukan rumahnya.
"ini dimana kak?" pandangan fia beralih ke Louis yang sedang membuka seat belt nya.
"restoran, kita makan dulu"
"fia mau pulang" fia terang-terangan menolak,
"iya, kita pulang setelah makan, kamu lapar kan?" setelah Louis mengatakan itu tiba-tiba perut fia terasa perih karena telat makan dan kelaparan, mereka belum makan sejak siang mereka meninggalkan taman bermain, Louis sudah frustasi dengan fia dan ia juga sudah sangat kelelahan, saat terjebak macet sore tadi membuatnya terpojok ke batas kesabarannya.
Louis mengeluarkan sebungkus rokok dari kantung celananya, mengambil sebatang dan berhasil menyematkan di bibirnya yang tipis,pemantik api sudah ada diujung rokok siap untuk dinyalakan tapi begitu matanya menangkap sosok yang sedang tertidur pulas Louis mengurungkan niatnya.
sebenarnya Louis bukan perokok aktif, hanya saat Louis merasa stress atau frustrasi seperti ini Louis merokok, biasanya 2 atau 3 batang rokok cukup untuk memberi efek menenangkan tapi belakangan ini bahkan 2 bungkus rokok yang Louis habiskan masih membuatnya gusar.
Louis melenggang keluar dari mobil dan melempar kunci ke petugas vallet parking yang sebelumnya sudah membukakan pintu untuk fia dengan senyuman ramah, ini adalah restoran fine dining berlabel Michelin star, fia berdiri di atas red carpet yang menjulur sampai ke pintu masuk, fia mematung disana tanpa berani bergerak, apa Louis tidak salah membawanya ke restoran ini? setahu fia restoran fine dining mewajibkan pengunjungnya untuk berpakaian formal, ya Louis memang selalu berpakaian rapi dengan long Coat yang sudah menjadi kebiasaannya tapi fia? ia hanya mengenakan kaus, celana jeans panjang dan sneaker mengingat betapa panas nya pagi itu maka dia mengenakan pakaian yang paling nyaman untuk nya,
berjalan beriringan dengan Louis di tempat umum saja sudah mengikis rasa percaya dirinya, Louis selalu tampil sempurna dengan wajahnya yang juga sempurna, memancarkan aura membuat orang yang melihat nya langsung terpesona, tubuhnya tinggi kokoh dan berotot dengan massa yang pas berbanding terbalik dengan fia yang kurus dan kecil, dan sekarang... di dalam sana pasti banyak orang-orang seperti Louis, itu membuat fia semakin menciut.
fia lebih memilih makan di restoran biasa dari pada disini atau bahkan di tempat makan kaki lima tapi tentu saja itu bukan standar Louis.
Louis yang sejak tadi mengawasi fia bisa menebak dari ekspresi wajahnya.
"kak, yakin mau makan disini?" Louis tahu apa yang ia maksud, tertulis jelas di dahi nya.
"ada aku, siapa yang berani mengusir kamu?"
fia menggoyang tangan Louis dengan nada memohon "kak"
Louis memutar tangan hingga ia bisa menggenggam fia untuk mendorong nya masuk "tenanglah fia, ayo kita masuk"
fia melepas tangannya tapi mengikuti Louis dibelakang,
mereka memasuki pintu yang dibuka oleh pelayan penjaga pintu yang menyambut mereka dengan ramah, Louis berhenti sejenak, melihat sekeliling seperti mencari sesuatu, tak lama Louis mengangkat tangan begitu menemukan apa yang dicarinya. seorang pria menghampiri mereka dengan tangan terbuka dan senyum diwajahnya. "Tuan Louis, apa kabar? suatu kehormatan anda datang ke restoran kami, jika anda memberi kabar sebelumnya kami akan menyambut Anda dengan lebih pantas"
Gery king adalah nama yang tertera di name tag nya dan ia adalah manager disini, padahal usianya jauh melebihi Louis tapi ia begitu menghormati Louis terbukti dari sambutannya yang hangat, fia masih bersembunyi di balik sikap sempurna Louis, ia menyapu seisi restoran dengan tatapan mengawasi, sepertinya fia terlalu paranoid tak ada yang memperhatikan nya karena semua orang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri, Sekarang fia bisa sedikit mengendurkan tubuhnya yang semula kaku
"kami hanya kebetulan lewat dan kelaparan, apa ada tempat yang kosong, yang agak pribadi"
Louis menekankan kalimat terakhirnya seperti memberi perintah.
"kami akan menyiapkan tempat pribadi untuk Tuan Louis sesuai permintaan kalau anda tidak keberatan menunggu sebentar"
"Hem.." jawab Louis
Gery langsung beringsut pergi dengan langkah sedikit tergesa-gesa, Louis berbalik menghadap fia
"sudah kubilang kan, ada aku takkan ada yang berani mengusir mu" ada nada bangga sedikit sombong di kata-kata Louis
"kakak sering kesini?"
"aku pemegang saham terbesar disini, bisa dibilang ini Restoran ku"
"walaupun restoran kakak tapi kalau datangnya sama orang yang penampilannya seperti fia.... " fia menunduk, mengamati dirinya sendiri dari bawah sampai ke dadanya kemudian mendongak melihat Louis dan meneruskan kata-katanya dengan sedikit tersipu "apa ga malu...?".
sebelum Louis sempat menjawab fia, sebuah suara indah yang manja memanggilnya
"Louis...?"
.
.
.
.
.
halo readers 😊
sebelum nya saya mau berterima kasih untuk semua yang masih setia menunggu kelanjutan hey Sofia, maaf karena tidak bisa memberi jadwal pasti update terbaru karena agak susah cari waktunya...
terima kasih atas like dan love nya.
i purple you 💜