
Dua tahun berlalu sejak ryan kembali, dalam dua tahun itu Ryan berhasil mengembalikan kejayaan hotel Azkaisar seperti sedia kala bahkan melebihi pencapaian yang pernah di raih oleh Raytama, ini sangat membanggakan baginya, bisa melihat Ryan bangkit dari keterpurukannya, bahkan mengatasi traumanya adalah yang paling membahagiakannya, Ray mengakui pengaruh Sofia pada Ryan begitu hebat, ia selalu tahu apa yang mampu dilakukan gadis itu pada hidup Ryan, Ray tak menyesali keputusannya membawa Ryan ke jerman, itu adalah keputusan yang tepat demi meyelamatkan hidup Ryan, meski tak dapat dipungkiri penderitaan luar biasa yang dialami Ryan dan Sofia saat mereka terpisah. Kini mereka kembali bersama, menjadi lebih kuat dari sebelumnya, menulis kisah mereka kembali dengan tinta warna-warni, kisah mereka belum berakhir, kisah mereka baru saja dimulai.
Setahun yang lalu Ryan dan Sofia terbang menemui Lili untuk meminta restu dan sekaligus memperkenalkan diri secara resmi, Lili menyambut mereka dengan hangat, saat itu adalah yang paling mengharukan dimana Ryan bersimpuh meminta maaf kepada Lili, maaf karena telah membuatnya kehilangan suami tercintanya, maaf karena membuat Fia kehilangan Ayah yang sangat disayanginya, maaf karena datang terlambat, butuh waktu lama untuk Ryan mengumpulkan keberanian menghadap Lili, kecelakaan itu sudah tidak lagi mengganjal di relung hati terdalam baik untuk Ryan, Sofia bahkan Lili. mereka sepakat untuk memulai lembaran baru.
Ryan meminta Fia untuk tinggal bersamanya di hotel, awalnya Fia menolak keras tapi setelah Ryan membujuk dan memohon akhirnya Fia pun setuju, lagi pula mereka tinggal di kamar yang berbeda, Ryan memang tinggal di hotel karena ia sedang membangun istana untuk mereka berdua tinggali kelak ketika mereka menikah nanti, Fia bukannya tidak tahu bahwa ia menjadi perbincangan di antara para karyawan hotel, mereka melabeli Fia dengan banyak nama, Benalu, Cinderella, putri dari tempat kumuh, penyihir dan masih banyak lagi, kata-kata yang mereka ucapkan di belakang Fia tidak membuatnya sakit hati, mereka tidak tahu rasa sakit saat harus berpisah dari Ryan, betapa Fia tersiksa setiap detik dari hidupnya tanpa kehadiran Ryan, Fia tak mau merasakan itu lagi, tak mau ada jarak lagi antara dia dan Ryan. Fia mengerti betul Ryan adalah Most wanted bachelor dengan wajahnya yang seperti dewa, masih muda dan kaya raya. jika dibandingkan dengannya yang bahkan kuliah saja tidak lulus, datang dari keluarga biasa-biasa saja memang jauh berbeda. Ryan dikelilingi gadis-gadis cantik yang sekelas dengannya tapi Fia yakin dengan cinta Ryan, setelah semua yang mereka lalui bersama, setelah semua yang dilakukan Ryan demi kenyamanan Fia adalah bukti bahwa Ryan hanya akan melihat kearah Fia saja, bukan waktunya lagi untuk Fia merasa rendah diri, dia pernah melepas Ryan demi wanita lain dan hasilnya buruk, Fia tak mau lagi melakukan kesalahan yang sama.
Ryan memperlakukan Fia dengan sangat baik, semua yang bahkan belum Fia pinta ia berikan, Fia adalah prioritas pertamanya setelah pekerjaan, kantor Ryan juga berada di hotel jadi Ryan bisa melihat Fia setiap saat, Ryan menyempatkan waktu untuk makan bersama Fia bahkan saat ia sedang sangat sibuk, Ryan akan datang ke kamarnya hanya untuk menyapa, makan malam di rooftop hotel adalah kesukaan Fia, suasana malam bertabur bintang benderang di langit yang gelap dan suara musik melankolis itu sangat romantis, tapi ada yang berbeda malam itu, biasanya cafe dipenuhi orang tapi malam itu hanya ada mereka berdua, dekorasinya pun diubah, biasanya lampu-lampu bohlam bergantung di pohon kelapa buatan tapi sekarang lampu-lampu kecil kelap-kelip seperti kunang-kunang lalu sejak kapan jalannya dipenuhi kelopak bunga mawar seperti ini? Ryan menuntun Fia ke sebuah meja putih dengan 2 kursi, Ryan menarik kursi untuk Fia duduk, harum bunga mawar memenuhi udara malam itu dan ratusan lilin yang ditata rapih mengelilingi mereka terasa hangat, ini akan menjadi malam yang sempurna.
"Ada apa ini?"
"Kau suka?"
"Ya, tapi kemana orang-orang?"
"Hari ini rooftop hanya milik kita"
"Kau bisa lakukan itu?"
"Hotel ini milikku, aku bisa lalukan apa saja"
"Baiklah tuan pemilik hotel.... apa ada yang spesial sampai kau lakukan semua ini?"
"Aku tidak perlu alasan untuk membuatmu bahagia, karena itu tujuan hidupku, membuatmu bahagia"
Sofia terkadang lupa betapa Ryan sangat mencintainya, seiring waktu berjalan Ryan tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa, ia lebih tenang, dulu Ryan cenderung emosional, jika mereka bertengkar dan kalau ia marah akan tampak jelas di wajahnya, sekarang saat marah ia hanya akan menghela nafas dan duduk diam, menunggu sampai marahnya mereda, saat itu terjadi biasanya Fia menjaga jarak, memikirkan kenapa mereka sampai bertengkar? lalu teringat rasa sakit saat-saat mereka berpisah seketika itu dada Fia menjadi sesak, tidak seharusnya masalah kecil diributkan, bagaimana jika Ryan lelah dengannya? dan Fia menurunkan egonya, mereka tidak boleh bertengkar, mereka sudah berjanji untuk hidup bahagia. Fia membaca perubahan ekspresi wajah Ryan, saat Fia merasa Ryan sudah tidak marah lagi. Fia akan mendekatinya, memeluknya dan meminta maaf. Ryan memang tidak pernah berencana untuk marah lama dan bagaimana mungkin Ryan tahan dengan wajah memelas Fia? ia akan langsung membalas pelukan Fia dan mengatakan "aku tidak mungkin marah padamu, aku hanya sedang menghukum diriku sendiri karena tidak pengertian, harusnya aku lebih sabar denganmu" dan Fia pun menangis mendengar kata-kata itu.
Setelah mereka selesai makan malam, Ryan mengantar Fia ke kamarnya yang berada di sebelah kamar Ryan.
"Boleh aku masuk?"
Tanya Ryan, Fia mengerutkan kening keheranan
"Sejak kapan kau butuh ijin untuk masuk ke kamarku?"
Ryan hanya tersenyum malu dan mengikuti Fia masuk, setelah menutup pintu Ryan memeluk punggung Fia dan menahan Fia dalam dadanya, Ryan suka sekali aroma shampo Fia yang tak berubah sejak mereka sekolah dulu, Ryan tenggelam diantara tengkuk Fia, memejamkan matanya dan berkata
"Aku rindu sekali"
sambil mempererat pelukannya seakan ia takut Fia hilang
"Aku juga rindu"
Ryan memang sedang di sibukkan dengan pembukaan hotel baru, ia harus meninggalkan kota selama 1 Minggu, Ryan baru kembali tadi pagi dan langsung menyiapkan makan malam romantis untuk Fia. Ryan bahkan belum beristirahat sejak kembali dari luar kota.
"Apa yang harus kulakukan denganmu? aku pergi untuk bekerja tapi yang kupikirkan hanya kamu, aku tidak bisa berkonsentrasi karena terlalu merindukanmu"
"Kita selalu video call setiap malam"
"Itu tidak cukup"
"Apa yang membuatmu cukup?"
Ryan membalikkan badan Fia, menyapu wajah Fia dengan tatapannya, menyisir pipinya dengan hanya ibu jari lalu bergeser ke bibir Fia yang polos. mulut Fia yang sedikit terbuka seperti memberi ijin baginya, dan sedetik kemudian bibir Ryan mengunci bibir Fia, seperti baru pertama kali mencium Fia jantung Ryan berseru kencang meneriakkan namanya dan setiap kali namanya disebut darah memompa deras, mengalir cepat ke seluruh tubuhnya dengan hasrat kuat, gerakan bibir Ryan semakin cepat dan membuat Fia kewalahan mencuri nafas, diantara mereka kini tak berjarak, tangan Ryan menyusuri punggung Fia dengan liar, sulit baginya membendung kerinduan hingga tak ada apa-apa lagi di kepalanya kecuali ingin memiliki Fia, Ryan mendorong Fia sampai ke dinding sambil terus menciumi nya dengan serakah, ciuman Ryan berpindah dari bibir ke leher Fia, memberikan kesempatan untuk nya bernafas, pikiran Fia kosong, bibirnya berdansa dengan bibir Ryan tanpa lagu, Fia menyukai sensasinya tapi ia juga takut dengan yang mungkin terjadi setelah nya, Ryan jelas takkan berhenti hanya dengan ciuman malam ini, begitu lidah Ryan berusaha masuk ke dalam, Fia pun tersadar, Ryan menjelajah dengan lidahnya, Fia berpikir dari mana ia belajar mencium seperti ini? tidak seperti Ryan yang biasanya, ciumannya mendesak dan tidak sabaran, Fia mendorong Ryan dengan tangan lemahnya, Ryan tak bergeming malah makin menghimpit, Fia bisa merasakan lekukan tubuh Ryan dan ujung jarinya di pinggang Fia, ia sama sekali bukan tandingannya tapi ini harus berhenti disini, saat Ryan tak mau mendengarkan satu-satunya cara adalah menggigit lidah Ryan yang menjelajah di mulut Fia.
"Ah .... sakit"
protes Ryan pada Fia,
"Apa yang kau lakukan?"
Dan Ryan pun tersadar, ia menunduk malu tapi tak menyesal, ia hanya sangat merindukan Fia dan sangat menginginkan nya,
"Aku tidak bisa menahan diri, setiap kali aku melihatmu, aku ingin menyentuh mu, setiap kali aku menyentuh mu, aku ingin memelukmu dan setiap kali aku memelukmu aku menginginkan lebih"
Mereka hanya saling bertatapan setelah pengakuan Ryan, tak ada raut menyesal di wajah Ryan hanya antisipasi. Ryan juga tak melihat ekspresi marah pada Fia.
"Maksudku, kita sudah dewasa, bukan lagi anak SMA dan aku.... kau terlihat...."
lagi-lagi Ryan menatap Fia tanpa meneruskan kalimatnya, Fia tak tahu harus berkata apa, ia pun hanya terdiam
"Sebaiknya aku kembali ke kamar..."
Fia mematung menatap Ryan hilang di baik pintu kemudian roboh, kakinya menyerah karena lemas,
"Apa yang barusan terjadi, aku terbawa suasana dan.... Tapi bagaimana dengan Ryan? dia pergi dengan keadaan seperti itu, apa dia akan baik-baik saja?"
***
Ryan kembali ke kamar dengan hati gelisah, ia menyiram kepalanya dengan air dingin untuk meredam panas tubuhnya, sekalian saja dia mandi karena tubuhnya juga basah, Ryan sudah berganti baju saat pintu kamarnya di ketuk.
"Fia.... kau disini, masuklah"
"tidak perlu"
Fia jadi salah tingkah, akan aneh jika ada yang melihat nya berdiri di depan kamar Ryan tapi terlalu malu untuk masuk.
"Ada yang ingin kukatakan..."
"Katakanlah, ada apa?"
"Aku juga sama.... aku juga selalu ingin dekat denganmu, inginkan yang lebih sama sepertimu, aku hanya ingin melakukan nya dengan urutan yang benar"
Urutan yang benar? apa artinya itu?
"Apa maksudmu dengan urutan yang benar?"
Fia semakin salah tingkah... ia terlalu malu untuk mengatakan yang sebenarnya ia inginkan.
"pikirkan sendiri... aku mau ke kamarku"
Fia berlari menuju ke kamar karena terlalu malu, ia tidak ingin menjadi pacar yang menuntut untuk di nikahi tapi jika Ryan menginginkan lebih darinya, ia harus menikah lebih dulu, seperti yang Ryan bilang, mereka bukan anak SMA lagi, Fia juga bertambah tua setiap harinya.
Fia terbaring tak bisa tidur, tak pernah terbesit olehnya hal-hal tentang pernikahan, memiliki suami apalagi anak tapi sekarang berbeda, ia membayangkan menikah dengan Ryan dan memiliki anak yang mirip dengannya, dia pasti sangat lucu tanpa sadar kedua sudut bibirnya tertarik kebelakang, ia tersenyum bahagia tapi bagaimana dengan Ryan? apa dia siap menikah? Ryan sedang berada di puncak kesuksesan nya, mungkin dengan menikah akan menghambat karier nya, bagaimana jika ia tidak menginginkan pernikahan seperti Fia menginginkan nya? Rasa cemas itu membuat Fia terjaga semalaman.
***
Fia berharap bisa menghindari sarapan, kalau ia membuat alasan, Ryan pasti tahu ia berbohong tapi bagaimana ia bisa menunjukkan pada Ryan mata pandanya? Fia berusaha menutupinya dengan make up sebaik mungkin meski tangannya amatir, setelah dirasa cukup Fia segera bersiap-siap, berpakaian casual dengan sepatu Converse favorit nya.
Ryan dan Sofia selalu sarapan bersama tak peduli sesibuk apapun hari itu, Ryan selalu menyempatkan waktunya yang sedikit, seluruh waktu didunia takkan pernah cukup jika dihabiskan bersama Fia.
Jika Fia merasa canggung karena kejadian semalam lain halnya dengan Ryan, ia tampak senyaman biasanya, mungkinkah Ryan tidak mengerti maksud Fia kemarin? mungkinkah hanya Fia yang memikirkan tentang pernikahan? atau Ryan hanya tidak ingin menikah dengannya? Fia tak bisa menelan makanannya, pikiran itu membuatnya sedih dan kecewa, Fia hanya terdiam dan bermain dengan garpu, memutar-mutar aglio e olio nya.
"Kenapa tidak dimakan? kau tidak suka? mau makan yang lain?"
Tanya Ryan.
"Tidak, aku hanya sedang memikirkan sesuatu"
"Oh ya, kapan Webtoon terbarumu di release? kau sudah sangat bekerja keras untuk itu"
"Pada akhir bulan ini"
"Aku tak sabar untuk membacanya karena kau merahasiakan nya dariku, aku sangat penasaran"
"Benarkah?"
"Apa kau cemas karena itu? wajahmu tampak lelah"
Ryan membuat gesture seakan menunjukkan lingkaran hitam dibawah mata Fia
"Aku mencoba menutupinya dengan make up, tidak berhasil ya?"
Fia tertawa canggung untuk menutupi rasa malunya
"Kau selalu tampak cantik bagiku, dengan atau tanpa make up"
"terimakasih"
Fia tak pernah terbiasa dengan pujian-pujian Ryan, ia menunduk malu, wajahnya pasti merah saat ini.
"Aku sungguh-sungguh.... kau yang tercantik di mataku"
Dalam ruangan itu tak hanya ada Ryan dan Sofia, tapi juga ada mas Irwan, pria paruh baya yang juga sekretaris pribadi Ryan, dan beberapa karyawan hotel, bagaimana Ryan bisa mengatakan itu tanpa canggung?
"Apa kau akan pergi ke workshop?"
"Ya, aku akan membeli perlengkapan melukis dulu lalu ke workshop, anak-anak butuh perlengkapan baru untuk melukis, meskipun ini pekerjaan sukarela tapi aku senang melakukannya, membantu anak-anak mewujudkan impian mereka membuat ku bersemangat"
"Lalu kau? apa impianmu?"
Fia berpikir sejenak... Apa yang dia inginkan sudah terwujud, menjadi author dari Webtoon sukses bahkan Daylight Star sudah diadaptasi menjadi buku, itu semua berkat Ryan. Apalagi yang mungkin ia inginkan?
"Aku ingin membuka galeri dimana hasil karya anak-anak bisa dipamerkan, dengan begitu mereka bisa lebih percaya diri"
Satu tahun lalu salah satu teman Fia mengajaknya melakukan kerja suka rela, membantu anak-anak tak mampu melukis dan menggambar, awalnya Fia melakukan nya hanya untuk menghabiskan waktu tapi rasa sayang kepada anak-anak mulai tumbuh, ia bahagia, sesuatu yang tak pernah ia sadari kalau sebenarnya ia menyukai anak-anak.
"Hati-hati di jalan, jangan terlambat pulang"
"Semoga meeting nya berjalan lancar.."
"Tunggu sebentar"
Ryan menghentikan Fia ketika akan masuk ke dalam mobil, betapa terkejutnya Fia saat Ryan turun ke kaki Fia untuk membetulkan tali sepatunya yang lepas.
"Ryan.. Apa yang kau lakukan?"
"Ikat tali sepatu mu dengan benar atau kau bisa terjatuh"
"Jangan lakukan itu, berdirilah"
Ryan tak menghiraukan kata-kata Fia, membuatnya makin salah tingkah karena semua mata mengarah ke Ryan dan Fia, mereka sama terkejutnya dengan Fia.
"Semua orang sedang melihat"
"Biarkan saja, aku hanya mengikat tali sepatu pacarku, apa salahnya?"
Yang salah adalah bagaimana mungkin seorang wakil presiden direktur mengikat tali sepatu dan itu dihadapan seluruh karyawan hotel, setelah selesai Ryan berdiri, merapikan setelan jas designer nya, Ryan memeluk Fia dan berbisik di telinga nya.
"Aku mengerti maksudmu, aku akan melakukannya sesuai urutan seperti yang kau inginkan"
seketika itu wajah Fia memerah karena malu, jika bisa, ia ingin menggali lubang dan masuk ke dalamnya, melihat Fia bertingkah lucu Ryan pun tertawa.
"Aku harus pergi.." kata Ryan sambil mengecup kening Fia lembut dan lama seolah tak mau berpisah.
"Kita makan malam diluar, aku punya kejutan untukmu"
"Kejutan apa"
Ryan meraih dan mencium punggung tangan Fia.
"Jika kukatakan sekarang bukan kejutan namanya"
***
Pukul 5 sore Fia sudah kembali ke hotel, setelah membersihkan diri, Fia bersiap untuk makan malam, Fia tampak cantik dengan memakai knitt dress mini berlengan panjang warna dusty pink yang lembut, potongan lehernya berbentuk huruf 'v' yang panjang, rambutnya ditarik kebelakang dan membentuk gunungan kecil tepat ditengah, tidak lupa ia memakai kalung matahari pemberian Ryan, kalung satu-satunya didunia.
Mereka berdiri didepan sebuah gedung yang terletak di pusat kota, tanpa Fia tahu kejutan apa yang disiapkan Ryan.
"Apa yang kita lakukan disini?"
"Kau suka gedung ini?"
"Ini hanya sebuah gedung, apa yang spesial tentang itu?"
"Karena ini gedung milikmu"
"Apa? jangan bercanda"
"Aku tidak sedang bercanda, ini memang gedung milikmu"
Fia menatap Ryan tak percaya, ini bukan ulang tahunnya tapi mengapa Ryan memberinya hadiah, hadiah yang sebesar gedung, ah tidak, ini memang gedung!
Fia lupa betapa murah harinya Ryan, kebiasaannya adalah memanjakan Fia, jika Fia menolak pemberiannya maka Ryan akan memberi 2 kali lipat, dan jika Fia menolak lagi maka Ryan akan memberinya 3 kali lipat, begitu seterusnya sampai Fia setuju.
"Kau memberiku gedung? untuk apa?"
"Kau bisa membuka galeri senimu dan memajang karya anak-anak seperti yang kau impikan, kau bisa membuka kelas untuk pemula, apapun yang ingin kau lakukan"
Fia menahan napasnya tak percaya, baru tadi pagi ia mengatakannya, malam ini Ryan langsung mengabulkannya, kapan dan bagaimana ia menemukan gedung?
Aku benar-benar beruntung memiliki Ryan di sisiku bukan karena kemewahannya tapi ia selalu mendorong ku menjadi yang terbaik dari apapun yang kulakukan, dia membukakan jalan dan bahkan menggelar karpet merah menuju mimpiku, ia membuka semua pintu yang kupikir sudah tertutup untuk ku, aku benar-benar tak tahu jadi apa aku tanpanya.
"Sebuah gedung itu berlebihan"
"Kau tidak suka?"
"Bukan tidak suka tapi aku menerima begitu banyak darimu sedangkan aku tak memberikan apapun, aku merasa ini berlebihan"
"Aku memiliki segalanya karena aku memilikimu, aku tak butuh apapun lagi"
"Apa Papa tahu tentang ini?"
"Aku menghasilkan uangku sendiri, untuk apa aku menggunakan nya itu terserah padaku, lagipula jika itu tentangmu Papa takkan mengeluh, kau menyelamatkan anaknya, apapun yang diberikan padamu takkan pernah cukup bahkan jika aku membayar mu seumur hidup, apa kau mengerti sekarang kenapa aku memberikan semua ini? kau memaafkan ku, kau menerima ku yang berdosa padamu, entah bagaimana caramu membersihkan jiwaku hingga aku bisa berdamai dengan diriku sendiri, kau memberiku hidup baru, tidakkah kau lihat apa yang sudah kau lakukan padaku? dengan mu bernapas saja aku sudah sangat bahagia, jadi jangan pernah merasa kecil karena tidak memberikan apa-apa"
Apa mungkin ada yang mencintaiku sebesar Ryan? ketulusan Ryan membuatku merinding tapi kenapa aku menangis?
Fia menyembunyikan wajah nya di dada Ryan, melingkarkan tangannya di tubuh Ryan dan disambut oleh Ryan dengan kecupan di kepala Fia.
"Terimakasih"
"Kau siap untuk kejutan berikutnya?"
"Kejutan apa lagi?"
"Kejutanmu ada di dalam, ayo masuk"
Gedung itu berbentuk setengah lingkaran yang sangat besar, bagian atapnya terbuat dari kaca tebal, Fia dapat melihat bintang dari sana, di dalam gedung terdapat taman bunga sakura yang sengaja dibuat oleh Ryan, Fia terpesona, terpana, matanya bergetar dengan keindahannya, bunga sakura bermekaran dan beberapa ada yang berjatuhan seperti conveti yang menyambut kedatangan mereka. Fia mengambil kelopak bunga yang jatuh di hidungnya dan ia sadar, ini semua nyata.
Ryan tahu dari ekspresi Fia bahwa ia berhasil, Fia tampak sangat cantik berada diantara bunga-bunga itu, ia lah bunga yang sesungguhnya. Ryan bersandar di punggung Fia, kedua tangannya mengunci tubuh Fia.
"Ini sangat indah"
"Tak ada yang seindah dirimu, tapi aku senang kau suka"
"Kapan kau menyiapkan ini semua?"
"Beberapa waktu lalu kau bilang ingin ke Jepang melihat bunga sakura kan? aku selalu sibuk dengan pekerjaan ku dan tidak bisa mengajakmu kesana maka aku membawa bunga sakuranya Padamu"
"Tapi itu sudah lama sekali"
"Aku sudah bilang kan kalau aku akan mengabulkan semua keinginan mu tak peduli apapun itu"
"Apapun keinginanku? bahkan jika aku minta bulan sekalipun?"
"Aku bisa memetik semua bintang di langit dan menaruhnya di pangkuanmu"
"Kau gila, kau tahu itu?"
"Ya, aku gila karena kamu, makanya kamu harus bertanggung jawab"
"Dan bagaimana aku harus bertanggung jawab?"
Ryan membuka kunciannya, memutar tubuh Fia agar saling berhadapan, menatap mata Fia dengan kesungguhan.
"Hiduplah denganku"
"Apa?"
Ryan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dari kantung nya jas nya.
"Dua tahun lalu aku ingin memberikan ini padamu tapi saat itu aku tidak punya apa-apa, karena itu aku bekerja keras agar bisa sukses dan menjadi pantas untukmu"
Ryan membuka kotak kecil itu, di dalamnya terdapat sebuah cincin berlian merah muda berbentuk hati yang cahayanya menyilaukan.
"Sekarang aku memiliki segalanya tapi segalanya itu tak ada artinya jika aku tidak milikimu"
Ryan menyematkan cincin berlian 24 karat itu di jari manis Fia dan mengecupnya dengan lembut.
"Bunga Sofia, maukah kau menikah denganku?"
Matanya bergetar, Fia gagal menahan tangis yang keluar, Fia selalu membayangkan rasanya menikah dengan Ryan tapi Fia tak tahu rasanya akan sebahagia ini, suaranya bergetar, ia sangat mencintai pria yang ada di hadapannya, lebih dari separuh hidupnya ia habiskan untuk mencintai Ryan, tentu saja ia ingin berteriak mengatakan 'iya, aku mau' tapi sesuatu masih mengganjal dihatinya dan ia tak bisa berhenti memikirkan sebelum benar-benar memastikannya.
"Apa kau yakin?"
Dengan sambil terisak Fia bertanya, bukan itu jawaban yang ingin Ryan dengar, reaksi Fia membuat Ryan mengira bahwa Fia tidak menginginkan nya seperti ia menginginkan Fia.
"Apa maksudmu? bukankah sudah jelas? Aku mencintaimu, aku ingin menikah denganmu, apa kau tidak mau?"
"Bukan itu maksudku, lihatlah dirimu, kau sukses dan kaya raya, kau juga indah pasti kau bertemu banyak wanita cantik dan berpendidikan tidak seperti aku, menikah bagiku hanya sekali seumur hidup, kau yakin ingin menghabiskan hidup mu denganku? kau takkan menyesal?"
Ryan menghela napas, tersenyum pada Fia sambil menghapus air matanya.
"Aku benar-benar sangat sangat mencintaimu, sampai hembusan napas terakhirku, aku hanya akan mencintaimu seorang, 10 tahun aku hidup tanpamu dan aku hampir mati 2 kali, kau lah yang membuatku tetap hidup, karena berpikir ingin bertemu denganmu lagi aku masih bertahan"
Fia bisa merasakan napas panas Ryan menyapu wajahnya ketika kening mereka disatukan Ryan, kedua tangan merengkuh wajah Fia, dengan ibu jarinya, Ryan mengusap pipi Fia yang sudah kering dari air mata.
"Sofia, hidupku ada di tanganmu, apapun yang ingin kau lakukan dengan hidupku, aku akan terima dengan ikhlas, sebesar itu aku mencintaimu jadi jangan pernah berpikir sedikitpun kau tak pantas untukku, aku lah yang beruntung bisa dicintai olehmu tolong jangan tolak aku"
Pinta Ryan sambil memohon, Ryan mengecup kening Fia lama dan lembut lalu turun ke kedua mata Fia, dan mendarat di bibir Fia, Ryan menciumi Fia seperti sedang putus asa, takut Fia menolak lamarannya, mulut menutup dan membuka berkali-kali, posisi kepala berubah-ubah tapi tak ada tanda ciuman Ryan akan cepat berhenti, Fia mengikuti gerakan bibir Ryan, menuruti keinginan Ryan yang terus menciuminya dengan penuh perasaan, Ryan merasakan kelembutan bibir Fia dengan sedikit rasa strawberry, ini membuat Ryan gila, bagaimana ia tidak mencintai gadis ini yang meski jutaan kali ia cium tapi jantungnya masih berpacu kencang seperti itu adalah ciuman pertama nya.
"Jadi, apa jawabannya?".