
"fia.... bangun... jam berapa ini? bangun kamu harus sekolah! ayo cepat bangun!!"
fia membuka mata tiba-tiba dan terduduk di tempat tidurnya, berpikir
apa yang tadi aku bermimpi? bagaiman aku bisa terbangun di kamarku?
"fia! kok malah diam? cepat mandi dan turun untuk sarapan"
"ah, iya"
fia yang masih belum sadar sepenuhnya bergegas bangun dari tempat tidurnya dan langsung berlari ke kamar mandi tapi ia menyadari sesuatu dan berhenti
"eh, tapi jam segini kenapa ibu masih di rumah? ibu ga kerja?"
"mandi dulu sana, ada yang mau ibu bicarakan sama kamu"
fia tak menaruh curiga tentang apa yang ingin di bicarakan ibunya, fia mandi kilat dan berganti dengan seragam sekolahnya, ponselnya berbunyi dengan nada dering khusus, hingga ia tahu siapa yang mengirimnya pesan tanpa perlu melihat, sebuah pesan dari Ryan membuatnya bersemangat pagi ini
'*good morning sunshine... tidurmu nyenyak? aku tidak sekolah hari ini, aku kau mengantar papa ke bandara, jangan nakal karena aku tidak ada 😆.
i Miss u future wife*.
future wife? jadi yang semalam itu bukan mimpi? Ryan benar-benar melamar ku.
didepan fia saat ini berdiri seorang gadis yang familiar dengan nya, gadis itu tak seberapa cantik tapi dia tersenyum dengan bahagianya, wajahnya memerah karena malu mengingat kejadian semalam. gadis dalam cermin itu adalah fia.
bagaimana sebuah pesan singkat sederhana dari Ryan bisa membuat jantungnya berdegup kencang? fia mengatur napasnya agar tenang dan setelah tenang ia keluar kamar menuju dapur untuk sarapan dimana Lily sudah menunggu nya di meja makan, fia duduk manis dan meminum susu strawberry nya, Lily mengambilkan sepiring nasi goreng untuk fia makan bersama ibunya.
"fia, ibu mau bicara sama kamu"
"ibu mau bicara apa?"
Lily meletakkan sendok nya secara terbalik, ia merasa cukup dengan sarapannya, ia terlalu gugup hingga kehilangan selera makan.
"ibu sudah tidak bekerja lagi, ibu resign"
"kenapa ibu resign?"
"ibu putuskan untuk menerima tawaran Louis untuk pergi ke London"
fia menjadi lemas seketika mendengar ibunya ingin pergi ke London, susah payah ia menelan makanan yang tersangkut di tenggorokan nya, ia baru saja kembali bersama dengan Ryan, lalu apa mereka harus berpisah lagi?
"ibu, fia ga bisa tinggalin Ryan lagi, fia sudah janji"
."ibu tahu, ibu ga minta kamu untuk pergi sama ibu"
"maksud ibu?"
"ibu akan tetap pergi walaupun tanpa kamu"
"kalau ibu pergi terus fia gimana bu?"
"ibu sudah bicara dengan Louis, dia berjanji akan jaga kamu, ibu percaya sama Louis, lagi pula kamu juga ada Ryan kan? kaku ga akan kesepian"
"ibu... bukan itu maksud fia.. fia ga bisa kalau ga ada ibu"
fia sedikit kesal dengan Louis, kenapa Louis tak mencegah ibu untuk pergi ia bahkan berjanji untuk menjaga nya, fia tak butuh di jaga, ia sudah cukup besar untuk bisa mengurus dirinya sendiri, yang fia butuhkan adalah ibunya, membayangkan hidupnya tanpa ibu adalah hal yang paling mengerikan karena itu tanpa terasa air mata fia mengalir turun.
"jangan menangis sayang, nanti kamu ga cantik lagi"
Lily mencoba menenangkan fia dengan memeluknya
"apa ibu ga bisa merubah keputusan ibu dan tinggal disini sama fia?"
"kamu tahu ibu kan, kalau ibu sudah memutuskan sesuatu....."
"ibu ga akan merubahnya.." lanjut fia
"fia, ibu memutuskan ini dengan pertimbangan matang dan pemikiran panjang, ibu sempat khawatir sama kamu tapi Louis berhasil meyakinkan ibu kalau kamu akan baik-baik saja selam ada Louis, makanya ibu bisa pergi dengan tenang"
"terus kapan ibu pergi?"
"dalam 3 hari"
"secepat itu?"
"Louis sudah menyiapkan semua nya, Tante Renata juga sudah menunggu ibu untuk datang"
***
selama ini fia memang terbiasa hidup sendiri karena Lily yang sibuk bekerja tapi mereka masih bertemu di hari libur, terkadang sebelum pergi sekolah fia akan mampir ke kamar Lily hanya untuk melihat ibunya, begitu pun dengan Lily, sepulang kerja ia selalu menyempatkan diri untuk menengok fia dan memberinya kecupan di kepala saat fia tertidur tapi ini berbeda, mereka berpisah ribuan kilometer jauhnya.
dalam perjalanan ke sekolah fia sempat berpikir untuk ikut Lily ke London, tapi bagaimana dengan Ryan? ia akan hancur jika fia pergi lagu dari nya, fia juga takkan bertahan dengan udara dingin disana, jika ada yang bisa ia lakukan untuk mencegah Lily pergi, fia akan butuh bantuan dan satu-satunya orang yang fia tahu bisa membantunya adalah Louis, fia berhenti sejenak di gerbang sekolah, mengeluarkan ponsel yang Louis berikan dari tas nya, ponsel itu seperti jalur khusus untuk fia menghubungi Louis, tak perduli sesibuk apapun Louis jika itu telepon dari fia, ia akan mengangkatnya.
nada sambung berbunyi 2 kali sebelum akhirnya Louis angkat
"Sofia.."
"kak, sibuk ga? fia mau ketemu"
"mm... aku ada waktu setelah jam 3, ada apa?"
"ada yang mau fia bicarakan, sepulang sekolah fia kesana ya"
"ok.. aku kirim mobil kesana saat jam pulang"
"iya, terima kasih kak"
"ada lagi?"
"itu aja..."
"ok, i'll hang up now, see you"
fia berharap Louis bisa membantunya membujuk Lily untuk tetap tinggal, fia memasukkan kembali ponsel nya ke tas dan berjalan menuju gedung sekolah, seseorang berteriak memanggil namanya sebelum fia masuk,
"kak Sofia...!!"
fia menengok untuk melihat dan mendapati Rendy berlari ke arahnya, plester luka menutupi beberapa bagian wajahnya bekas perkelahian nya dengan Ryan, lukanya pasti cukup parah, saat tak ada lagi bekas luka di wajah Ryan, Rendy masih mempunyai luka yang belum sembuh, fia masih tak tahu kenapa mereka berkelahi, setahu fia mereka tak saling kenal dan Ryan bukan tipe pencari masalah tapi tidak tahu dengan Rendy, fia mengenalnya hanya sebatas teman bicara di bis, secara pribadi fia tak tahu orang seperti apa Rendy itu, sepanjang yang fia tahu
"hai Rend.."
napas Rendy terengah-engah karena habis berlari, fia menunggu sampai Ryan mengambil napasnya kembali lalu fia bertanya tentang luka nya
"itu terlihat sakit, kau baik-baik saja"
fia menunjuk ke arah luka di wajah Rendy.
"ga pa-pa, ini sudah hampir sembuh"
"oh, syukurlah kalau begitu"
yang membuat Rendy terluka adalah Ryan dan Ryan adalah pacarnya, situasi canggung apa ini? untunglah Ryan tidak ke sekolah hari ini kalau tidak, mungkin akan ada perkelahian lagi, fia kemudian berjalan memasuki gedung sekolah diikuti dengan Rendy disamping nya
"aku tidak melihat kakak di bis tadi"
"aku berjalan kaki"
"oh, pantas saja"
"tapi nanti kita bisa pulang bareng kan?"
"maaf, aku sudah ada di janji"
"oh begitu"
Rendy terlihat kecewa tapi fia tidak tahu alasannya, Rendy mengekor di belakang fia dan tanpa terasa fia sudah sampai di depan kelas nya, fia memasuki kelas dan langsung bergabung dengan teman-teman nya yang sudah berkumpul, Rendy tertinggal di pintu kelas mematung sambil memperhatikan fia, fia tak menyadari kalau Rendy mengamati tiap gerak-gerik nya, Rendy terpesona dengan tawa fia yang tanpa usaha, betapa ia ingin sekali menjadi orang yang membuatnya tertawa seperti itu, suatu haru pasti datang waktu dimana dia menyadari kehadiran Rendy dan mereka bisa berjalan berdampingan sebagai sepasang kekasih, kalau saja waktu itu Ryan tidak merusak rencananya, Rendy yakin fia pasti sudah menjadi miliknya.
Sofia sekarang tak punya kekasih, Rendy akan mencari kesempatan lain untuk menyatakan cintanya, sebelum orang lain mengambil fia pergi darinya, Rendy baru pergi setelah bel masuk berbunyi.
saat istirahat pun Rendy mengikuti fia, ketika fia sedang makan bersama teman-teman nya, Rendy tiba-tiba datang ke meja mereka.
"kak, ini minuman untuk kakak"
Rendy meletakkan jus melon di depan fia
"tapi aku ga pesan minuman ini Ren"
"aku yang traktir"
lalu Rendy pergi tanpa fia sempat menolak atau mengatakan terimakasih, fia dan teman-temannya hanya saling memandang aneh.
"siapa dia?" tanya ayu
"Rendy, adik kelas" jawab fia santai sambil memakan mie gorengnya
"Rendy yang berkelahi dengan Ryan?" tanya Rani bersemangat
"Hem..." fia menjawab dengan mengangguk karena mulutnya penuh dengan makanan.
"wah, kalau Ryan tahu bisa terjadi perang dunia lagi nih"
"kenapa?" tanya fia polos lalu meminum susu strawberry nya
"kamu tahu kenapa Ryan dan Rendy berkelahi?"
tanya putri serius
"ga tahu, Ryan juga ga bilang"
"Sofia, kalau aku perhatikan Rendy suka sama kamu"
fia tertawa seolah baru mendengar lelucon bagus
"ga mungkin lah, dia cuma baik aja"
"satu-satunya alasan yang masuk akal kenapa mereka berkelahi adalah karena Ryan cemburu dengan Rendy" jelas putri
fia berpikir kalau ada benarnya juga, mungkin Ryan memang cemburu, fia ingat Ryan pernah memukul Louis karena cemburu tanpa dengar penjelasan apapun, kalau itu benar berarti fia harus berhati-hati dengan rasa cemburu Ryan, bertindak tanpa berpikir dan mengikuti emosinya memang terdengar seperti Ryan tapi kalau Rendy menyukai nya, itu masih di ragu kan, kemungkinan besar yang terjadi adalah Ryan salah paham karena melihat fia dekat dengan Rendy waktu itu, seperti saat Ryan salah paham dengan Louis, ya pasti seperti itu.
"fia, sebaiknya kamu jauhin Rendy, jangan sampai Ryan melihat kalian dekat dan terjadi perkelahian lagi" lanjut Rani.
"jangan terlalu percaya pada orang lain dan hati-hati dengan orang yang terlihat di baik, kamu ga tahu isi hati nya"
Putri peringatkan fia karena sifat fia yang menganggap semua orang itu baik mengkhawatirkan nya, fia harusnya belajar dari kejadian dengan Ramona agar jangan terlalu percaya dengan orang lain.
fia memang tidak pernah sengaja bertemu dengan Rendy, justru Rendy yang selalu datang padanya, seperti saat pulang sekolah, fia sedang menunggu mobil jemputan Louis di gerbang sekolah saat Rendy menepuk bahunya dan mengagetkan fia.
"astaga, Rendy!!"
"maaf, anget ya? kak, pulang bareng yuk"
"aku..."
sebelum fia menyelesaikan kalimatnya, sebuah Audy hitam yang sangat fia kenal berhenti didepannya, lalu seseorang keluar dari kursi pengemudi dan menyapa Sofia
"nona Sofia, saya datang menjemput nona"
fia beralih pada Rendy untuk berpamitan
"Ren, jemputan ku sudah datang, aku duluan ya"
supir itu membukakan pintu di kursi belakang untuk fia lalu pergi meninggalkan Rendy yang kesal, ia mengepal kedua tangannya dan berpikir
baru saja fia putus dengan Ryan, sekarang sudah dapat penggantinya, apa dia benar-benar hanya menyukai orang-orang kaya seperti Ryan...
.
.
.
.
.
#stayathome
stay save and healthy 💪💪