
Author POV.
"Dapat bintang nya?"
Fia hampir loncat dari ayunan saking kagetnya, Ryan muncul tiba-tiba dari balik pohon dibelakang Fia
"Astaga... bikin kaget aja!!"
"Kaget ya? he.. he.. he.."
Ryan keluar dari persembunyiannya dan duduk di ayunan sebelah Fia.
"Bintang nya banyak ya?". Tanya Ryan setelahnya.
"Sedang apa disini?" Fia tak bisa tidak curiga, matanya memicing memindai Ryan, tingkahnya malah membuat Ryan tersenyum, Fia sangat menggemaskan, batin Ryan.
"Mau ketemu kamu" Jawabnya enteng sambil tubuhnya berayun-ayun kecil
"Kok tahu aku disini?". Ryan berhenti berayun, menatap lurus ke mata Fia, berpikir sejenak lalu berkata "Karena setiap tahun dihari ini kamu selalu kesini kan?" Ekspresi Ryan berubah serius, dia menunggu reaksi gadis itu
"kamu ini stalker ya?"
walaupun fia bilang begitu tapi anehnya dia tidak merasa takut atau terancam sama sekali. Ryan awalnya takut akan reaksi Fia, takut Fia salah paham dan menganggap nya orang mesum tapi setelah melihat fia tidak marah Ryan pun tersenyum lega dan ya.... senyum Ryan menenangkan fia.
"kamu ga tau kan aku selalu memperhatikan mu sejak aku melihatmu sore itu tertidur di jendela 5 tahun lalu, aku selalu berada tepat di belakangmu tapi kamu tidak pernah sekalipun menoleh ke arahku, melirik pun ga"
Ryan memasang wajah pura-pura sedih yang lucu membuat Fia tidak bisa marah
"kamu tahu kata-kata mu itu sangat menakutkan, kamu seperti psikopat "
Fia membalasnya dengan pura-pura gemetar. tak ada nada suara terancam dari kata-kata Fia.
"Masa sih? Aku malah menganggap itu tindakan romantis lho ... bayangkan ada orang yang diam-diam memperhatikan mu dan peduli padamu selama bertahun tahun walaupun kamu tidak tahu tapi dia tetap setia .. seperti cerita novel romantis kan?"
Sekarang Fia benar-benar merinding
"Kalau orang lain yang mendengar itu pasti sudah takut dan kabur sekarang"
"Tapi kamu tidak"
Fia mengangkat bahunya "Perasaanku sedang baik"
Sebelum Ryan datang ke taman dia sudah mempersiapkan diri jika mungkin Fia butuh tempat untuk bersandar.. Ryan ingin memastikan Fia tidak sendirian.
dan akhirnya Ryan bisa melihat senyum Fia, penantian panjang yang pantas.
"Syukurlah.... karena saat itu kamu menangis kan?"
"Sekarang aku benar-benar takut nih"
Mereka tertawa ringan seperti baru mendengar lelucon lucu,
pandangan Ryan beralih ke sepeda yang terparkir didekat mereka
"Sepeda baru?" Tanya Ryan, Fia seharusnya sudah tidak heran lagi bagaimana Ryan bisa tahu itu
"Kado ulang tahun dari Ibu"
"Hei... ada yang berulang tahun, Happy birthday girl"
Selain Ayahnya dan Kak L tidak pernah ada laki-laki yang mengusap kepala Fia... pipi nya kini memerah seperti tomat matang.
Ryan menganggap ekspresi malu-malu Fia sangat menggemaskan, si gadis yang berulang tahun itu imut sekali, dalam hati Ryan berkata.
kamu selalu terlihat bercahaya buatku tapi hari ini kamu berpendar dimataku
"Tapi kamu berbeda, tahun-tahun yang lalu hari ini biasanya kamu sedih tapi hari ini kamu terlihat bahagia"
Ryan penasaran, jika hari ini ulang tahunnya kenapa dia dulu bersedih? apa tak ada yang mengucapkan selamat kepada nya?
"Sebenarnya sepuluh tahun lalu hari ini ....."
Fia mulai bercerita pada Ryan dengan tanpa beban, mengalir begitu saja seolah itu bukan kisahnya, seolah ia hanya membacakannya buku cerita, seolah mereka sudah mengenal lama dan level kedekatan mereka hampir sempurna.
ekspresi nya serius, menandakan Ryan benar-benar menyimak ceritanya, rasanya menyenangkan ada yang menemaninya saat ini, walaupun agak mengejutkan orang itu adalah Ryan.
"Aku selalu berpikir aku tidak pantas untuk bahagia, setiap aku merasa bahagia semua itu akan langsung direnggut dari ku, saat aku sedih karena kehilangan Ayah, ada yang selalu setia menemani ku, yang menghapus air mata ku membuat ku kembali tersenyum tapi beberapa bulan kemudian dia harus pindah dan aku kehilangan lagi, karena itu aku tidak mau lagi punya teman, aku tidak mau lagi merasa kehilangan"
Fia tertunduk.. Ryan tak mau Fia kembali sedih apalagi ini hari ulang tahunnya.
"Kamu baik-baik saja, semua akan baik-baik saja" Entah keberanian dari mana Ryan menggenggam tangannya dan meyakinkan semua akan baik-baik saja, tatapan matanya tulus. Fia merasa Ryan benar-benar meyakini apa yang dikatakan nya. Fia terpesona dengan tatapan nya dan dadanya menjadi sakit.