Hey Sofia

Hey Sofia
Frustasi



Halo readers 😊


terima kasih sudah membaca Hey Sofia semoga ga bosen ya 😀


Happy reading


-------------------------------------------------------------


Author POV.


Setelah selesai latihan Ryan menyegarkan dirinya dengan mandi di loker room, selesai memakai baju Ryan bergegas dengan tidak sabar menuju tempat janjian dengan Fia, Ryan melihat sekumpulan gadis yang sangat ia kenal berkumpul di kantin dan ia mempercepat langkahnya, begitu dekat Ryan kecewa gadis yang ingin di temui nya tidak ada di sana


"Bunga mana?"


Rani, Gema, Ayu dan Putri memandang Ryan shock sebagai reaksi awal, sedetik kemudian mereka langsung panik dan memahami situasinya, putri berpikir mungkin Fia dalam bahaya, ia langsung berdiri dan di ikuti teman-teman nya


"kita harus cari Fia!!" perintah putri,


Ryan yang masih bingung mencoba mencari tahu apa yang terjadi


"Tunggu, jadi Bunga ga sama kalian? terus Sekarang di mana Bunga?"


tanya Ryan ikut panik. keempat gadis itu saling berpandangan, entah bagaimana harus mengatakan pada Ryan jika Fia sudah pergi lima belas menit yang lalu.


"Jawab dong, kalian bikin aku panik nih, sebenarnya ada apa?"


***


Ryan berlari menuju gerbang sekolah dan teman-temannya berpencar ke seluruh sekolah, toilet dan memeriksa ruang kelas satu persatu, hasilnya nihil, Fia tidak ditemukan dimana-mana. Ryan meremas rambutnya kasar karena frustasi ketika Fia tidak ada di gerbang sekolah.


Setelah Rani menceritakan tentang pesan teror dan insiden yang mungkin bukan kebetulan yang dialami Fia membuat amarah Ryan meledak, bagaimana ia bisa begitu buta hingga menutup mata dari apa yang Fia alami, seharusnya ia lebih peka, seharusnya ia curiga dengan tingkah aneh Fia beberapa hari kebelakang, pasti Fia takut mengalami ini semua, menanggung nya sendirian,


"Aargh ...!!"


Ryan memukul angin karena ia begitu marah dengan dirinya sendiri, begitu bodoh karena tidak bisa melindungi kekasihnya.


"Sial, Brengsek!!"


semakin ia memikirkan Fia semakin ia kesal dengan dirinya sendiri, ia menendang tanah tempatnya berpijak, wajahnya memerah karena emosi, dada nya memburu naik turun, Ryan membungkuk dengan kedua tangan di lutut. Ryan mengeluarkan ponsel dari kantung celananya, mencoba menghubungi Fia untuk entah yang ke berapa kalinya, meski nadanya tersambung tapi jawaban diseberang sana masih sama, Nomer yang anda tuju tidak dapat dihubungi.


"Dimana kamu, sayang?"


Putri dan teman-temannya datang menghampiri, melihat mereka tidak datang bersama Fia membuatnya semakin frustasi, Ryan kembali ke posisi berdiri, dengan napas terengah-engah karena habis berlari Putri menyampaikan kabar buruk.


"Kita udah cari di dalam sekolah tapi Fia ga ada"


Ryan berpikir sejenak seperti punya rencana,


"Gema, minta penjaga sekolah untuk bantu cari Bunga. Ayu, terus coba telpon sampai Bunga angkat. Rani, Putri dan aku akan mencari ke sekitar sekolah"


mereka bergegas melakukan perintah dari Ryan


sayang, aku pasti akan menemukan mu. tunggu aku


***


Susah payah Fia berusaha bangkit, meski ia takut tapi Fia tidak mau menunjukkan nya kepada 3 orang yang sekarang di hadapannya.


Fia sama sekali tidak mengenal mereka bertiga, dengan tangan terlipat di dada nya, gadis yang berada di tengah mulai membuka mulut nya


"Lo, ga perlu tau siapa kita, Lo udah berapa kali diberi peringatan tapi emang Lo batu dasar cewek murahan" Kata gadis berambut pirang yang ada ditengah.


"Aku tanya siapa kalian?!!"


Fia meninggikan suaranya mencoba terdengar kalau ia tidak takut meski kaki nya gemetar. Fia yakin ia tidak pernah melihat mereka di sekolah walaupun mereka memakai seragam sekolah Harapan Pelita, tunggu. Apa mereka memakai itu untuk menyusup ke sekolah? dari mana mereka mendapatkan seragam itu? ya, ada dalang di balik semua ini.


"Bacot Lo, diem cewek sialan!!"


Kini gadis mungil yang tadi memancing Fia keluar ikut bicara, mereka semakin mengikis jarak dan semakin dekat dengan Fia,


ini bahaya.


Fia memutar otaknya untuk bisa lari dari sana, Fia mencari ponsel nya ah sial!! ponsel ku ada di tas dan tas nya tergeletak di tanah dibelakang mereka, kini Fia terpojok ke dinding, ia tak bisa lagi mundur, sudah tak bisa lagi lari.


"Mau apa kalian?!" tanya Fia saat mereka berhenti tepat di depannya, gadis yang ada ditengah menekan kasar kening Fia dengan jari telunjuk nya hingga kepala Fia terbentur dinding, ia melakukan nya beberapa kali akibatnya kepala Fia terbentur berkali-kali.


Fia mengulum bibirnya menahan sakit. Kepalanya berputar.


"Lo, ga pantes sama Ryan. Lo cuma cewek murahan ga tau diri"


sambil terus ditunjuk kening nya.


mata Fia membelalak lebar memandang dengan penuh amarah, reaksi Fia hanya membuat mereka tersulut emosi.


"Berani Lo melotot sama gue?!"


Gadis yang ditengah memberi isyarat kepada dua temannya untuk menahan tangan Fia, kini Fia benar-benar tidak bisa bergerak. mereka meremas kuat tangan Fia dan menahannya hingga gadis itu kesakitan.


plak


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi nya, Fia meringis kesakitan


"Lo pikir Lo siapa, hah?"


plak


Satu tamparan lagi mendarat ditempat yang sama membuat tepian bibir Fia berdarah, rasanya perih, matanya pun perih, tapi Fia menahan tangis nya dan rasanya menjadi semakin perih.


bagaiman ini? bagaimana aku bisa keluar dari situasi ini? seseorang tolong aku.


batin Fia menjerit tapi bibirnya kelu tak bisa bicara karena bengkak setelah berkali-kali di pukul. Fia mencoba melepaskan cekalan di kanan dan kirinya, tapi pegangannyamalah semakin erat.


"Pengecut! kalian berani karena aku cuma sendiri kan?! lepaskan aku dan kita selesaikan ini berdua"


sudut bibir gadis itu terangkat, ia mencengkeram kuat dagu Fia.


"Begini lebih asyik " bisiknya di telinga Fia, lalu disusul dengan kekehan dua gadis di kanan dan kiri Fia.


"Sinting..!" pekik Fia. Setelah dagunya terbebas. Fia meludah di wajah gadis berambut pirang, ia tersentak karena tak siap dengan tindakan Fia, ia usap bekas ludah Fia yang bercampur darah dengan amarah yang memuncak.


"Sialan lo, anjink" Dengan sekali dorongan keras di kepala Fia membuat kepala bagian belakangnya terbentur keras hingga memburamkan pandangan mata Fia, sekuat tenaga Fia berusaha mempertahankan kesadarannya.


"Cukup girls"


Samar-samar Fia mendengar suara yang tak asing baginya, ia mencoba mengingat siapa pemilik suara itu, menajamkan matanya ke arah gadis yang baru bergabung bersama mereka, sejak tadi ia hanya memperhatikan ketiga temannya mengerjai Fia, dia cukup puas dan berharap Fia sadar diri bahwa dirinya tak pantas untuk Ryan, lalu menjauhi Ryan. Fia yakin mengenal suara itu, suara teman sekelas nya, Fia yakin itu.


si gadis yang menampar nya menyingkir dari pandangan Fia membuat Fia bisa melihat si pemilik suara itu. Fia membulatkan matanya ketiga dengan jelas netranya mengenali gadis itu.


"Ramona??"