
〰️"In the absence of you, i would die"〰️
Fia melompat keluar mobil dan berlari, sebelum sempat sampai pagar rumah nya fia berhenti, ia tak bisa bergerak setelah Louis melingkarkan tangannya di bahu fia dan mengunci fia dengan memeluknya dari belakang,
"jangan berlari, jangan menghindari ku" kemudian dengan suara lirih Louis menambahkan kata "... please..".
fia bisa merasakan napas Louis di tengkuknya, dada fia berlomba naik turun
"walaupun kau marah tapi aku tak akan minta maaf atas apa yang ku lakukan tadi karena aku tidak menyesal"
"jangan begini kak, lepasin fia" meski fia meminta untuk dilepaskan tapi tubuhnya sama sekali tak berontak justru sebaliknya, tubuhnya pasrah atas kemauannya sendiri, seolah ia memang ingin dipeluk, namun fia teramat malu pada Louis, ia sudah memiliki kekasih tapi merespon pada ciuman laki-laki lain
fia takut Louis mengganggap nya murahan karena sekarang itu lah yang fia rasakan, ia tak punya muka untuk berhadapan dengan Louis dan juga dengan Ryan nanti, fia tertunduk jauh ke dalam hingga dagu menempel di dadanya, cairan bening yang dingin mengalir dengan sendirinya tanpa terencana melalui pipi dan menetes di tangan Louis, seperti tahu apa yang sedang berkecamuk di kepala fia, Louis berusaha menenangkan nya
"jangan menangis, sayang. ini salahku, kau boleh mencaci ku sampai hati mu puas, bagiku kau masih semurni dan sepolos seperti saat pertama kali kita bertemu dulu"
fia semakin terisak, suaranya serak saat ia berkata "... kak...".
kepala Louis terbenam di tengkuk fia , setelah ia merasakan seluruh tubuh gadis itu gemetar.
"aku mencintaimu fia, sangat mencintai mu sampai rasanya mau mati jika aku tak bisa melihatmu, karena itu jangan berlari lagi, jangan menghindari ku" fia memegang tangan Louis yang melingkar di bahu nya
"maafkan fia kak.."
"kalau kau mengharap maaf dariku, berjanjilah kau takkan pernah pergi dariku, biarkan aku ada di sisimu sebagai bayanganmu, aku janji takkan menganggu" Louis menunggu beberapa saat mengawasi setiap gerakan kecil fia, lalu Louis membuka kunciannya pada fia, membalikkan badan fia agar menghadapnya, Louis mengangkat kepala fia yang tertunduk dan menghapus air mata fia dengan kedua tangannya, setelah napas fia lebih teratur dan ia mulai tenang, Louis berkata "sekarang mau kah kau berjanji?" tak ada nada memaksa dari Louis yang ada hanya seperti permohonan, fia mengumpulkan tenaga sampai akhirnya ia punya keberanian menatap Louis tepat di matanya dan mengangguk seraya berkata "iya" seakan itu belum cukup untuk meyakinkan Louis fia menambahkan "fia janji" Louis menghela napas lega begitu mendengar jawaban yang di harapkan, ia menundukkan kepala dan menyatukan dahi mereka, fia bisa melihat bibir Louis bergerak saat ia mengatakan "terima kasih".
meski Louis tidak bisa memilikinya, setidaknya ia bisa tetap berada di dekatnya, ia akan menjaga dia seperti yang selama ini ia lakukan, mengganti waktu yang hilang selama ia pergi dengan terus berada di sisi nya, perasaan nya tulus dan cintanya tanpa syarat apapun, mungkin ini yang orang sebut cinta buta tapi bahkan orang buta pun masih bisa meraba, lalu ini apa? kebodohan kah?
fia tak sanggup lagi mendorong Louis menjauhinya, ada tali yang tak terlihat mengikat mereka berdua, talinya terbuat dari baja solid hingga tak mungkin untuk memutuskannya dengan cara biasa, karena itu mustahil bagi mereka menjauh satu sama lain.
seseorang mengamati mereka dibawah tiang lampu jalan yang padam, dalam kegelapan tak terlihat apapun kecuali matanya yang bersinar merah penuh amarah, seluruh tubuhnya menegang dengan napas yang memacu, jari-jarinya melengkung dan menekan kuat, ia melesat seperti anak panah yang membidik targetnya
"lepaskan tanganmu dari nya, brengsek!!!" ia menarik Louis di bahunya dan sebuah kepalan bertenaga jatuh tepat di pipi Louis hingga ia terhuyung tiga langkah ke belakang, tinjuannya begitu kuat hingga bukan hanya pipi Louis yang memar tapi juga tangan Ryan berdenyut seperti habis membentur tembok.
°°°°
Dengan langkah besar dan menghentak Ryan meninggalkan Maya di rumah kaca, wajahnya merah padam hampir mengerikan, tak ada jejak keramahan yang biasa yang ada hanya amarah yang memuncak seakan setiap saat ia bisa meledak, ia kembali ke meja hanya untuk mengambil tasnya dan berpamitan dengan cara angkuh.
Ryan memutuskan mengelilingi kota untuk mendinginkan hatinya, ia mengelana tanpa tujuan dan entah sudah berapa jauh, yang ia tahu kakinya sudah terasa tegang di bagian betis dan jari-jari kakinya mati rasa di dalam sneaker nya, sebelumnya Ryan tak perhatikan kemana ia berjalan, ia tersadar setelah merasakan sakit dan melihat sekelilingnya bahwa ia sudah jauh ke tengah kota, Ryan menuju taman tak jauh dari tempatnya berdiri, saat sore hari taman di penuhi anak-anak yang bermain bersama orang tua mereka,
tanahnya masih basah karena hujan semalam, Ryan berjalan dengan hati-hati dan sangat Pelan seolah tanah basah itu bisa melahap sepatu kesayangan nya, ia duduk di bangku taman yang kosong, angin dingin bertiup di wajah tampannya, warna merah sudah mulai memudar dari sana yang berarti suasana hatinya sedikit lebih baik, maka ia memutuskan untuk tinggal lebih lama disana dan mengistirahatkan kaki nya, sebuah earphone terpasang pas ditelinga nya dan memainkan lagu yang ia pilih.
Ryan berbaring di bangku taman dengan tas sebagai alas kepalanya, ia hanya sebentar menutup mata tapi begitu ia membukanya langit sudah berubah gelap, saat itu hampir jam 7 malam dan di taman hanya tinggal ia seorang, Ryan berlari ke jalan dan mengangkat tangannya memanggil taksi.
begitu turun dari taksi dan membayar, matanya menangkap dua sosok yang terasa tak asing sedang berpelukan, ah tidak. laki-laki itu yang memeluknya dari belakang, jarak mereka jauh tapi Ryan bisa tahu gadis itu menangis dari tubuhnya yang gemetar, lelaki itu pasti telah memaksakan kehendak pada gadis itu, Ryan mendekat pelan-pelan dalam kegelapan dengan mata yang tajam seperti pemburu yang mengintai mangsa.
kini mereka berhadapan dengan dahi yang saling menempel, wajah laki-laki itu terlalu dekat dengan gadisnya, seketika itu darahnya naik sampai ke ubun-ubun, emosi yang tadi hilang kini kembali lagi dengan kekuatan penuh, Ryan melesat sambil mengalirkan semua amarahnya pada kepalan nya untuk di hadiahkan di wajah lelaki itu.
seperti tidak cukup puas, Ryan mengambil langkah kedepan secepat kilat, tinjunya menarget tempat yang sama dan Louis kembali terdorong ke belakang, kali ini darah mengalir dari sudut bibirnya, begitu pula kepalan Ryan, wajah Louis seperti terbuat dari marmer, keras sekaligus indah.
fia mematung dalam keterkejutannya, mulutnya terbuka tanpa ia tahu, barulah setelah melihat darah di wajah Louis ia tersadar, ia menarik tangan Ryan sekuat ia bisa tapi Ryan seperti patung tak bergeming "yank, kamu apa-apaan?" Ryan tak menghiraukan pertanyaan fia malah ia memandang lurus ke arah Louis dengan mata berapi, pun dengan Louis.
sejujurnya Ryan bukanlah tandingan Louis, tubuhnya lebih tinggi dan ia punya otot yang bukan cuma hiasan, saat itu hati Louis terasa sakit dan mati rasa di seluruh tubuh karena perpisahannya dengan fia untuk ke sekian kalinya, karena itu Louis menerima pukulan Ryan hanya untuk memastikan kalau ia masih hidup, darah yang mengalir di bibirnya yang pecah tidak sebanding dengan hatinya yang tersayat-sayat, sakit di wajahnya itu hanya seperti di gigit semut.
"sekali lagi kulihat kau menyentuh nya, kau akan mati!!" fia shock, inikah sisi lain Ryan yang ia tidak tahu? waktu itu fia pernah melihat mata Ryan seperti ini sehari setelah aksi pelemparan batu oleh Mona, matanya membara penuh dendam tapi fia tak sempat melihat amarahnya karena waktu itu Mona sudah melarikan diri, saat itu fia merasa bersyukur tapi sekarang fia merasakan sendiri amarahnya yang meledak, mata fia bergetar ketakutan dan meregangkan pegangannya pada lengan Ryan, Ryan terlalu termakan emosi untuk menyadari reaksi fia, Louis lah yang menyadari ada secuil perubahan dari gadis itu "Sofia..." Louis mengambil langkah mendekat sebelum dihentikan oleh Ryan dengan nada mengancam
"akan ku patahkan kakimu jika kau berani mendekat!!!"
"apa kau sudah selesai?" tanya Louis dingin dan datar, Ryan mengangkat satu alisnya
"aku tanya apa kau sudah selesai!!!?"
fia menatap Louis nanar, apa ia juga takut terhadapnya? kali ini Louis melembutkan suaranya
"apa kau tidak lihat fia ketakutan?" seketika itu Ryan seperti tersambar petir, ia beralih ke fia dan tersentak melihat wajahnya yang pucat pasi.
apa ini karena aku? apa aku yang membuatnya takut?
mata Ryan yang semula menggelap berubah tenang sedetik itu juga, ia hanya terdiam memandangi fia, Louis mengelap darah dari bibirnya dengan punggung tangannya dan ia tahu ia harus pergi dari sana, kemudian Louis berpamitan pada fia, fia mengangguk pelan dengan tatapan cemas karena luka Louis.
mesin mobil meraung dan semakin lama suaranya semakin jauh, Ryan masih terpaku tak bersuara disana, kepalanya tertunduk malu dan sedih, fia mengambil tangan kanan Ryan dan meringis begitu lihat lukanya.
"apa sangat sakit?' tanya fia sambil meniup di lukanya
mata Ryan melebar mendengar pertanyaan fia, bukankah tadi ia sangat ketakutan karena Ryan terbakar emosi dan jadi gila? bagaiman sekarang ia khawatir dengan keadaan nya? Ryan terluka karena ulahnya yang kekanakan dan fia saat ini seperti ibu yang perhatian.
"ayo masuk, kita obati lukamu" Ryan menurut saat tangannya ditarik fia. Ryan duduk di sofa sementara fia dibawah kakinya mengolesi lukanya dengan obat, rasa menyengat dari obatnya membuat ryan berdesis... fia menatap nya dan bertanya "perih ya?" Ryan hanya menggeleng kepala nya
"tahan sebentar lagi, ini mau selesai" katanya menenangkan, Ryan tak tahan untuk bertanya
"kenapa...?"
"kenapa repot mengobati lukaku?"
kali ini fia mendongak
"dulu, kau juga mengobati lukaku"
jadi ini hanya sikap membalas Budi? entah kenapa hati Ryan sakit, fia tidak mengkhawatirkan nya seperti yang ia harapkan.
"dan juga....karena aku tak mau melihatmu terluka" belum selesai Ryan terkejut, fia menambahkan "entah kenapa kalau kau terluka, aku juga merasa sakit" Ryan merasa hatinya jatuh ke perutnya, mendengar itu boleh kan Ryan salah paham dan berpikir fia benar-benar menyayangi nya? senyum tipis menghiasi wajah Ryan.
fia selesai mengobati lukanya dan duduk di samping Ryan, ia baru sadar Ryan masih memakai seragam seperti dirinya, berarti Ryan belum pulang ke rumah? lalu apa yang ia lakukan sampai selarut ini? bukannya ia pergi dengan papa nya? apa mungkin Ryan langsung menemuinya setelah dari restoran? tapi kenapa ia tidak mengganti bajunya dulu? fia ingat saat didepan pintu Ryan membuka sepatunya yang penuh tanah di bagian bawahnya, kemana Ryan sebelum kesini? fia baru akan membuka mulutnya untuk bertanya sebelum Ryan mendahului nya
"maaf..." kata Ryan
"pasti tadi kau ketakutan melihatku seperti itu, maafkan aku"
"aku memang tadi takut, karena aku tidak pernah melihatmu semarah itu"
fia merapikan rambut Ryan yang tak berantakan dengan penuh perhatian kemudian tangannya turun ke pipi Ryan.
"tapi aku hanya takut kau semakin terluka karena kau tidak bisa menahan emosimu"
kalau Louis sampai membalas pukulannya mungkin Ryan bisa berakhir di RS, fia bersyukur Louis cukup dewasa untuk menarik diri dari perkelahian tadi.
Ryan mengambil tangan fia di pipinya dan menciumnya, Ryan teringat adegan yang membuat emosinya memuncak, Louis terlihat sedih saat memeluk fia dan saat itu dia juga menangis, apa yang sedang mereka bicarakan? Ryan sadar Louis tak membalas memukulnya bukan karena ia takut tapi ia bertingkah seolah ia pantas mendapatkan pukulan itu, ia tidak melawan meski Ryan yakin ia mampu, lalu Ryan bertanya dengan hati-hati
"Louis....." Ryan berhenti sejenak "ia menyukaimu kan?"
pertanyaan Ryan mengejutkan fia, ia tak siap dan tak tahu harus menjawab apa? kejujuran bisa sangat menyakitkan tapi ia juga tak mau membohongi Ryan, fia sudah menjadi jahat dan juga hina jangan sampai fia juga jadi pembohong, fia mengangguk pelan.
"lalu, apa kau juga menyukainya...?" fia tahu pertanyaan itu akan muncul setelah Ryan melontarkan pertanyaan pertama, fia hanya terdiam menatap Ryan dan kebisuan fia, Ryan tahu artinya. fia sudah siap menerima apapun itu dari Ryan, segala kekecewaan nya dan bahkan kemarahan nya, tapi reaksi Ryan diluar dugaan, Ryan membawa fia dalam pelukan nya, kepalanya bersandar di dada Ryan,
"kau dengar itu? jantungku berdetak hanya untukmu, tanpamu ia akan berhenti berdetak dan aku akan mati"
fia mendengar suara jantung yang berdetak teratur seperti lagu, Ryan membelai rambut fia dan memperdalam pelukannya
"aku tidak perduli orang lain, aku juga tidak perduli siapa yang kau suka tapi kau hanya milikku, aku tak akan membagimu dengan orang lain, aku tak perduli meski aku harus merantai mu dan mengunci mu di kamar tapi aku takkan membiarkan mu pergi dariku"
fia melepaskan diri dari dekapannya.
"maksudmu aku akan di kurung?"
"hanya jika kau berniat meninggalkanku"
fia menatap mata Ryan sungguh-sungguh, tak ada apapun disana selain keseriusan, kenapa baik Louis atau Ryan mudah sekali mengatakan kata mati jika sampai fia hilang dari jangkauan mereka, seolah mati adalah hal yang biasa dan nyawa bukan sesuatu yang berharga, lalu apa fia harus merasa tersanjung dan bangga kedua laki-laki itu mencintainya begitu dalam? jangan-jangan mereka berpikir kalau salah satu dari mereka tak ada hidup fia akan baik-baik saja? bahwa ia tak akan hancur dan menderita?
pandangan fia kabur karena air mata dan ia tak bisa mencegahnya dari mengalir,
"jangan pernah mengatakan kata mati semudah kau mengatakan kata cinta, karena kau tak tahu perasaan sakit dari orang yang ditinggalkan"
sorot mata Ryan yang tadinya tajam berubah lembut setelah mendengar kalimat terakhir fia.
"perasaan sakit dari orang yang ditinggalkan"
"perasaan sakit dari orang yang ditinggalkan"
"perasaan sakit dari orang yang ditinggalkan"
Ryan terus meneriakkan kalimat itu dalam pikirannya, apa itu berarti fia tak mau kehilangan dirinya sama seperti dia yang tidak mau fia jauh darinya? sebagai orang yang pernah ditinggalkan Ryan juga seharusnya tahu perasaan itu,
rasa bersalah melanda Ryan, bagaimana ia bisa begitu tidak peka dan egois? ini juga membawa kenangan fia atas kehilangan ayahnya, ia pasti sangat menderita sekarang saat orang-orang yang disayanginya berlomba-lomba untuk mati, Ryan membawa fia dalam kehangatan dekapannya, kali ini dengan cara yang paling lembut dan hati-hati seolah fia adalah boneka porselen yang memerlukan perlakuan khusus, Ryan membelai dan menyisir rambut fia dengan jari-jarinya yang panjang, menghadiahkan kecupan lama di puncak kepala fia lalu berkata
"aku takkan kemana-mana, aku akan tetap di sisimu apapun yang terjadi, apapun" Ryan memberi tekanan pada kata 'apapun' yang dimaksudkan untuk Ray, papa nya. dan Maya.
Ryan lupa kalau ia masih harus berhadapan dengan mereka, ekspresi Ryan mengeras mengingat hal itu, lalu melembut kembali setelah fia memeluknya
"aku berjanji" Ryan menambahkan.
°
°
°
°
°
halo readers 😊...
happy reading
ups udah jam set 2 pagi ternyata 😆