Hey Sofia

Hey Sofia
Awal Dari Sebuah Akhir



halo readers 😊


happy reading 🤗


______________________________________________



Ryan menikmati makan malam bersama papa nya, Ryan perhatikan sang papa mendadak jadi pendiam setelah bertemu dengan temannya siang tadi,


5 hari sudah sejak Ray bertemu dengan fia untuk pertama kalinya tapi sekalipun ia tak pernah menanyakan lagi kabar fia, padahal dulu Ray sangat penasaran dan selalu menanyakan Sofia, Ray begitu bersemangat begitu tahu Ryan punya pacar, pasalnya sang anak tidak pernah menunjukkan ketertarikan apapun terlebih soal wanita, tidak seperti remaja kebanyakan yang suka hangout di cafe atau apapun, ia hanya menghabiskan harinya mendengar musik.


Ray menyilang kan sendok dan garpu di atas piring kosongnya,. mengelap mulut dengan kain putih di pangkuannya,


"Ryan, papa mau kamu ikut papa ke Jerman"


Ryan pun selesai dengan makanannya, ia meneguk segelas air sebelum menjawab papa nya


"Ryan kan masih sekolah pah"


"selesai sekolah papa mau kamu kuliah di Jerman"


"kuliah di Jerman? Ryan ga mau pah, Ryan mau kuliah disini aja"


"keputusan sudah dibuat, kamu kuliah di Jerman, titik!"


Ray menatap tajam pada Ryan, seketika itu ia sadar papa nya ternyata serius,


"pah, kok mendadak gini? ga tanya dulu pendapat Ryan"


Ryan mencoba mengubah pikiran papa nya meski itu kecil kemungkinannya,


"ini demi kebaikan kamu, kamu harus mempersiapkan diri sebagai calon penerus papa dan papa baru bisa mengawasi kamu kalau kamu ikut papa ke Jerman"


"pah, Ryan janji akan giat belajar dan membanggakan papa, tapi biarkan Ryan kuliah disini pah"


"kamu boleh kuliah disini, tapi papa akan berhenti support kamu, kamu bisa pikir kan sendiri cara kamu biayai hidup dan membayar kuliah kamu"


Ryan mengepal tangan diatas lututnya


"itu ancaman?" tanya Ryan dingin.


"itu pilihan, kamu bisa hidup nyaman dengan semua fasilitas yang kamu nikmati seperti sekarang tanpa khawatir tentang biaya hidup atau tetap disini dan kehilangan semuanya, berjuang sendiri dari nol, itu terserah kamu"


Ray melipat tangannya di dada, memandang kaku tak berkedip pada Ryan, merasa percaya diri akan pilihan anaknya, Ryan tak pernah merasa kekurangan selama hidupnya, ia terbiasa dengan makanan yang disediakan diatas piring emas, dia pasti akan menyerah dengan pilihan yang diberikan papa nya,


bulu mata Ray sedikit bergetar dan sikapnya yang tadi angkuh tiba-tiba melonggar ketika Ryan menarik satu sisi mulutnya ke atas, ia bersandar di punggung kursi yang terbuat dari kayu jati, mengambil gelas berisi air yang tinggal setengah dan digoyangkan pelan sehingga air di dalamnya berputar, Ryan berpikir sesaat kemudian menyeringai dan meletakkan kembali gelasnya di meja


"Ryan ga akan pergi pah, itu pilihan Ryan"


Ryan menatap dengan sungguh-sungguh, melihat reaksi keluar dari wajah papa nya,


Ray menghela napas karena perlawanan anaknya. ia sudah menduga ini akan menjadi lebih dari sekedar percakapan, ini adalah perdebatan.


"apa ini karena bunga? dia alasan kamu tidak mau pulang ke Jerman?"


"papa kenapa jadi aneh gini sih? papa bukannya suka sama bunga? pertemuan kemarin juga baik-baik aja, Sekarang papa maksa Ryan pulang ke Jerman, pake bawa-bawa bunga lagi, sebenarnya niat papa apa?"


"papa bukannya suka atau ga suka sama bunga, kamu harus sadar kalau kamu satu-satunya pewaris papa, tidak peduli kamu pacaran dengan siapa pada akhirnya kamu harus menikah dengan orang yang bisa mendukung karir kamu, karena itu dari sekarang kamu harus mempersiapkan diri dan putus dari bunga, dia ga akan cocok dengan keluarga kita, papa ga bisa terima bunga"


"sejak kapan papa jadi sepicik ini? Ryan sayang sama bunga, ga. malahan Ryan cinta sama dia, Ryan ga mau nikah kecuali itu sama bunga"


kursi Ryan tertarik ke belakang saat ia berdiri menjauhi papa nya yang terduduk merasa frustrasi,


"Ryan, duduk dulu papa belum selesai ngomong!!"


Ryan berhenti, tangannya mengepal menahan marah, matanya tertutup dan ia mengambil napas panjang, tanpa menatap papa nya ia berkata


"Ryan kecewa sama papa"


dan melanjutkan langkahnya menuju kamar, ia menghentak keras disetiap langkah hingga suaranya menggema di seluruh rumah, Ryan sampai didepan pintu kamarnya, ia membukanya dengan tidak sabar dan menutupnya kasar dengan satu tangan,


Ryan jatuh telentang diatas ranjangnya yang empuk, dadanya memburu naik turun, ia mengulang kembali percakapan dengan sang papa di kepalanya lalu merasa kesal


"ah... sialan!!"


ia menendang udara berkali-kali, sejujurnya Ryan tidak tahu apa yang akan ia lakukan, ia tidak pernah berkeringat apalagi mengotori tangannya demi uang, semua diberikan padanya dengan percuma.


"aaarrrggghh......!!!"


Ryan menutup wajah nya dengan bantal, matanya terpejam dan ia jatuh dalam tidurnya.


Dalam kegelapan aku melihat wajah yang sangat bercahaya, ia tersenyum anggun padaku....


hei... apa yang lucu hingga kau tertawa keras begitu?


Dan apa yang membuatmu murung?


tolong jangan menangis... hatiku sakit kalau kau terluka.


Ryan terbangun dengan napas tersengal-sengal seperti habis berlari, ia melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 malam, fia hadir dimimpi Ryan dalam berbagai ekspresi, mimpi itu meyakinkan Ryan bahwa ia tak rela kehilangan itu semua, setiap ekspresi fia berharga dan ia tidak berencana untuk menukarnya dengan apapun di dunia, Ryan bangkit dari tidurnya dan mengambil ponsel diatas meja, ia kembali duduk di tepian ranjang dan menelpon orang dengan nama kontak 'kesayangan'. tiga kali bunyi beep dan seseorang menjawab


"halo"


suaranya lembut dan menenangkan.


"aku lagi belajar, sebentar lagi kan ujian. kamu udah belajar?"


"aku ga perlu belajar juga udah pinter yank"


"ish sombongnya...."


Sofia memang tidak pernah melihatnya belajar tapi nilainya selalu yang tertinggi di sekolah, itu karena Ryan memang terlahir jenius, ia hanya perlu membaca sekali dan bisa langsung mengingatnya. Sofia menutup bukunya dan berbaring diatas tempat tidur.


"yank.."


"apa?"


"kangen..." meski hanya lewat telepon tapi kata-kata Ryan membuat fia memerah


"besok juga ketemu"


"mau nya sekarang"


"ga bisa, ibu masih ngobrol sama kak L dibawah"


Ryan seperti menelan pil pahit kekecewaan, hanya ada keheningan beberapa saat disana, Ryan tidak bisa berhenti merasa takut kehilangan fia, kalau papa nya serius dengan apa yang dikatakan nya, maka apa yang bisa ia tawarkan pada fia? mau kah ia menerima Ryan apa adanya?


lalu ada sedikit harapan ketika ia mengingat kenapa ia begitu jatuh hati pada fia, karena kepribadian nya, karena kesederhanaan nya, dan karena fia tidak hanya cantik diluar saja,


"yank..?"


suara malaikat dari seberang sana menarik Ryan kembali pada kenyataan.


"ya?"


"kok malah diem?"


"oh... aku lagi mikir"


Ryan berhenti sesaat, bukan ragu, justru karena keyakinannya pada fia yang membuatnya gugup


"kalau misalnya aku ga kayak aku yang sekarang, kamu masih mau ga sama aku?"


Ryan mengepal sprei menunggu jawaban fia


"Gimana maksudnya?"


fia terduduk dan bersandar pada kepala ranjangnya


"kalau aku cuma orang biasa yang ga punya apa-apa terus kamu gimana?"


"papa kamu bangkrut? apa sih? aku ga ngerti?"


fia menggaruk kepala nya yang tidak gatal, sedang Ryan di seberang sana menepuk keningnya


"serius kamu ga ngerti maksud aku?"


"iya aku ga ngerti, ga ngerti kenapa kamu masih ga kenal aku, ga ngerti kenapa kamu meragukan perasaan aku ke kamu dan aku ga ngerti sama diri aku sendiri yang bisa cinta banget sama kamu ga peduli kamu pewaris kekayaan atau cuma orang biasa yang ga punya apa-apa"


bibir Ryan tertarik jauh ke belakang dan telinganya memerah, ia tersenyum sampai mengeluarkan suara


"aku seneng di gombalin gitu sama kamu, bikin jantung aku deg-degan"


kata Ryan kegirangan sambil menepuk-nepuk dada nya


"aku lagi ga gombal yank.. dari awal aku lihat kamu sebagai orang yang udah buat dunia aku jungkir balik, ga pernah lihat kamu sebagai pewaris kekayaan Aji Prasetya_ udah kayak penjahat kamu tuh"


Ryan mengernyitkan dahi nya


"kok penjahat yank?


"iya penjahat, kalau aku deket kamu hati aku kayak mau meledak saking bahagia nya"


"yang itu gombal kan?"


tanya Ryan curiga


"iiyyaa" jawab fia manja


fia tertawa dengan mulus, sedang Ryan terdengar seperti terbahak-bahak, seketika itu ia lupa akan rasa gelisah nya dan fia tidak menaruh curiga akan apapun.


****


pagi nya fia terbangun karena bunyi alarm yang nyaring, saat itu sudah pukul 6 pagi, fia terduduk berjuang membuka matanya yang berat, dengan langkah gontai ia menuju kamar mandi dan membuka piyama nya dalam perjalanan, dibiarkan piyamanya bergeletakan di lantai, setelah mandi dan memakai seragam fia turun ke lantai bawah, sepiring roti bakar coklat dan segelas susu strawberry yang disiapkan ibunya sebelum kerja habis dalam hitungan menit, fia memakai tas di punggungnya dan keluar rumah dengan sedikit tergesa-gesa,


di persimpangan jalan itu Ryan sudah menunggu fia, ia bersandar santai di tiang lampu jalanan sambil mendengarkan musik nya, Ryan mendengar langkah kaki yang sangat ia kenal mendekat dengan cepat ke arahnya, ia berdiri dengan anggun dan tersenyum pada gadis yang melambaikan tangan padanya dan ia merasa harus membalas lambaian itu, sebelum sempat ia lakukan tubuhnya terdorong ke belakang kira-kira dua langkah jauhnya,


dari mana datangnya kekuatan itu di tubuh mungil seperti punya fia?


Ryan membalas pelukannya dengan cara biasa dan mengecup puncak kepala fia yang ada di dadanya sambil membisikkan


i Miss you.


Ryan memasangkan sebelah earphone nya ke fia dan berjalan ke sekolah dengan bergandengan tangan seperti hari-hari sebelumnya, udara terasa lebih dingin pagi itu, tanda awal datangnya musim hujan, langit pun terlihat lebih gelap di banding kemarin dan sebagai tanda awal berakhirnya masa-masa indah mereka.