
Seseorang yang lama kau rindukan, mengatakan dia juga merindukanmu, hati ku melompat-lompat kegirangan, seharusnya seperti itu tapi kenapa aku malah merasa takut? Bagaimana aku harus menghadapi Ryan?
Selama 10 tahun kami berpisah, secara fisik Ryan berbeda, Ryan berubah menjadi lebih bersinar terang dan indah, kilaunya sampai menyilaukan mataku, sebaliknya, aku berhenti ditempat, lalu bagaimana dengan perasaannya? mungkin dulu Ryan mencintaiku tapi aku bukanlah Fia yang berumur 17 tahun,*aku sudah tidak belia lagi seperti dulu, mungkinkah dia benar-benar kembali karena merindukanku?
Sejak Ryan kembali, dunia ku jadi jungkir balik dan pekerjaanku berantakan, aku tidak bisa berpikir jernih dan isi kepalaku kosong, aku tak bisa menggambar dan tak punya ide untuk memulai, mungkin karena itu juga kepala editor memanggilku ke kantor WOWTOON, aku sadar aku tidak memberikan yang terbaik untuk Daylight Star dan itu membuatku frustasi,
Ryan yang kutemui secara kebetulan saat aku hendak pergi menawarkan tumpangannya, Ryan benar-benar berubah, ia kini bisa mengendarai mobil sendiri, artinya dia sudah tidak trauma lagi, apa itu juga berarti ia sudah melupakan masa lalu dan hidup di masa sekarang? apa aku jadi bagian masa lalunya yang ia lupakan? aku ini apa dimatamu?.
Aku masih tidak mengerti alasannya kembali, apa yang diinginkannya dariku? kenapa ia selalu datang dan mengikutiku? jika ia terus seperti ini mungkin aku akan salah paham dan mengartikan semua kebaikannya sebagai rasa suka, bolehkah aku berharap? tapi bagaimana jika.....
Sekarang aku berhadapan dengan kepala editor Romi, beliau orang yang sangat baik dan juga merupakan mentor ku yang membimbingku sampai Daylight Star bisa ke season 4, beliau orang yang terus terang dan tidak suka basa-basi, aku suka sifatnya yang seperti itu, tapi untuk saat ini yang kurasakan adalah firasat buruk*.
"Halo sofie, menunggu lama?"
Pak Romi memang mengenalku dengan nama itu, aku menggunakan nya sebagai nama panggung.
"Tidak apa-apa pak, bagaimana kabar pak Romi?"
"Kau tahulah, bertahan setiap harinya"
Itu dia, senyuman canggung yang Romi berikan buatku semakin gugup.
"Saya ingin membicarakan Daylight Star, kau tahu, aku sangat suka dengan Webtoon mu karena ceritanya segar, Chocolate adalah karakter yang sangat kuat dan jarang aku temui di Webtoon lainnya, art mu juga sangat indah karena itu banyak yang tertarik membacanya"
kemana arah pembicaraan ini? Pak Romi tidak mungkin memintaku datang hanya untuk memberi pujian
"Di season pertama dan kedua Daylight Star berhasil meraih viewer yang cukup banyak, dan untuk season ke 3 meski ada penurunan tapi sambutan viewers masih baik karena itu kami memperpanjang kontraknya, tapi ada apa denganmu? di season 4 ini Webtoon mu mengalami kemunduran, art mu berantakan, ceritamu hilang arah dan entah mau di bawa kemana, bukannya mengembangkan konflik yang sudah terbentuk dan menyelesaikannya kau malah menghadirkan karakter-karakter baru yang tidak ada hubungannya dengan alur cerita dan membuat viewers jadi bingung, sudah sebulan season 4 terbit tapi viewers mu semakin menurun, kau juga sudah berjanji untuk memperbaikinya namun tidak ada hasil yang terlihat"
Sebulan? benarkah sudah selama itu sejak Ryan kembali?
"Sofie, ini sangat di sayangkan tapi kami terpaksa harus menghentikan kontrakmu dan hanya akan memberikan 10 episode untuk Daylight Star, maafkan aku Sofie tak ada yang bisa kulakukan"
"Tidak apa-apa Pak, saya mengerti, terima kasih atas kesempatan nya dan maaf tidak bisa memenuhi harapan bapak dan juga pihak WOWTOON"
Bagaimanpun aku tahu hal ini akan terjadi karena aku memang tidak memberikan yang terbaik tapi hatiku terasa hampa, aku melakukan ini selama 5 tahun, Daylight Star sudah menjadi bagian hidupku, aku menyibukkan diri dan melalui hari-hari kesepianku dengan membuat Webtoon ini,aku curahkan semua nya pada Chocolate, aku bekerja sangat keras menghidupkan setiap karakternya, sekarang aku juga harus merelakan Daylight Star. Sama sekali tak ada yang tersisa dariku sekarang setelah semua nya direnggut, dan hatiku menjadi lebih sakit saat melihat Ryan menungguku, aku ingin menjadikannya sandaran seperti masa lalu tapi itu tidak bisa lagi kulakukan saat aku sendiri tidak tahu posisiku di hati Ryan,lagi, aku merasa sendirian meski di kelilingi banyak orang, kenapa aku menjadi sangat marah?
"Kau sudah selesai meeting? apa kau punya rencana malam ini?"
"Aku hanya akan pulang dan istirahat"
"Kalau begitu ikut aku ke satu tempat, ada reuni kecil dengan teman-teman ku saat di Jerman tapi mereka semua orang Indonesia, kau mau kan?"
"Aku tidak yakin, apa yang akan kulakukan disana?"
*Aku benar-benar ingin pulang, mana bisa aku bertemu dengan orang asing saat suasana hatiku sedang buruk, tapi Ryan selalu mendapatkan keinginannya dan aku akhirnya ikut dengan terpaksa.
Ryan dan aku datang pertama di tempat yang sudah dijanjikan, kenapa harus di restoran Jepang? sambil menunggu, Ryan memesankan sushi untuk kami, aku masih tidak bisa menggunakan sumpit, apa Ryan lupa? aku hanya akan mempermalukannya di depan teman-temannya, bisakah suasana ini menjadi lebih buruk dari sekarang? tiba-tiba aku merasa mual*.
"Aku permisi ke toilet sebentar"
"Apa kau tahu tempatnya?"
"Aku akan bertanya"
*Aku mencuci wajahku dan melihat ke cermin, kenapa aku tidak pernah belajar menggunakan make-up? udara di ruangan ini terasa semakin menipis saja hingga dadaku sesak, aku tidak bisa bernapas, apa ini serangan panik? karena itulah aku merasa mual? Seharusnya tadi aku pulang saja dan beristirahat, mungkin sekarang masih sempat saat teman-teman Ryan belum datang, aku bisa pamit pulang.
Saat aku kembali, aku mendengar suara orang-orang berbicara, kurasa teman-teman Ryan sudah datang,hah.... sekarang aku tidak bisa melarikan diri, sebelum masuk ke pintu itu aku mengambil napas panjang, aku ingin tahu, sebagai siapa aku diperkenalkan oleh Ryan kepada teman-teman nya. Teman lama? Teman SMA? atau Cinta monyetnya?.
Saat aku ingin membuka pintu, tanpa sengaja aku mendengar percakapan mereka*
"Hei, Ryan. Bagaimana kabar Elisa?"
Elisa?
"Mana kutahu, aku kehilangan kontak dengannya sejak beberapa bulan lalu"
"Bukankah kalian pacaran? kudengar kalian malah akan menikah"
Menikah? jadi ini alasan Ryan kembali? ia akan menikah dengan wanita bernama Elisa, selama ini Ryan tak pernah peduli padaku, ia tidak kembali karena aku, untuk apa semua kebaikan dan perhatian yang ia berikan? aku tahu ini akan terjadi, 10 tahun adalah waktu yang lama untuk bisa merubah perasaan seseorang. Jadi selama ini hanya aku yang mengharapkannya, aku sendiri yang mempertahankan perasaan ini, aku pasti terlihat sangat bodoh didepannya. aku ingin segera pergi dari sini,
Fia hampir tak bisa berdiri, sekelilingnya terasa berputar dan buram tapi ia memaksa untuk terus berjalan, kemudian tanpa sengaja menabrak seseorang
"Ah, maafkan aku'
"Hei Lisa!! "
Seseorang meneriakkan nama gadis yang bertabrakan dengannya, Fia melihatnya dan merasa gadis itu sangat cantik,
Inikah Elisa yang mereka bicarakan? pantas saja, mana bisa ia dibandingkan denganku
"Kemarilah, kami semua menunggu mu"
Fia tak bisa menahan untuk menoleh ke belakang, ia ingin tahu ekspresi wajah seperti apa yang Ryan buat saat melihat Elisa.
Oh.... Ryan terlihat bahagia, kupikir datang kesini bisa membuatku melupakan kesedihan karena kehilangan Daylight Star tapi justru menambah rasa sakit di hatiku, terlalu banyak yang terjadi dalam satu hari dan aku tidak bisa menanggungnya.
Lalu seperti melayang, Fia menuju ke arah pintu keluar restoran
"Bunga..!!"
Fia tidak menghiraukan teriakan Ryan yang memanggil namanya, ia hanya ingin cepat pergi dari tempat yang menyesakkan dadanya, Ryan berdiri dan mengejar Fia, meninggalkan teman-temannya dan Elisa dalam kebingungan,
Langkah kaki lebar Ryan berhasil mengimbangi Fia, ia berdiri didepannya untuk menghentikan Fia.
"Bunga, kenapa kau pergi? apa kau sakit?"
Dia bertanya apa aku sakit? ya, hatiku sangat sakit sekali tapi aku punya hak apa untuk mengatakan padanya kalau yang ia lakukan padaku itu sangat menyakitkan, kami tidak ada hubungan apa-apa sampai aku harus merasa cemburu.
"Aku tidak apa-apa, aku hanya ingin pulang"
"Tapi kau terlihat kesal, ada apa? apa yang membuatmu marah? hmm.. katakan padaku agar aku tahu"
Aku tidak tahu kenapa aku marah, apa karena kau tidak membalas perasaanku? atau karena kenyataan bahwa kau sudah melanjutkan hidupmu? atau karena kau terlihat baik-baik saja saat aku perlahan hancur menjadi kepingan-kepingan kecil? aku tidak tahu apa-apa lagi
"Kembalilah ke dalam, teman-teman mu menunggu.... Elisa menunggu"
"Elisa? apa yang... tunggu, apa mungkin kau mendengar pembicaraan kami?"
Haruskah aku bilang iya dan mempermalukan diriku sendiri?
"Bunga, Elisa dan aku tidak ada hubungan apa-apa, aku bisa menjelaskannya padamu"
"Kau tidak perlu menjelaskan apapun, kita juga tidak punya hubungan apa-apa hingga kau merasa perlu menjelaskannya"
"Bunga, dengarkan aku dulu, kau salah paham...."
"Kau benar,mungkin aku memang salah paham, karena itu aku tidak mau salah paham lagi, tolong jangan mengejar ku, tolong jangan menghubungiku, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi"
"Bunga tolonglah...."
"Jangan panggil aku bunga, aku selalu benci nama itu!!"
####
*Apapun alasan yang ingin Ryan katakan, aku tak mau dengar, aku mencoba menyelamatkan harga diriku yang terakhir.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku berlari, sudah berapa jauh aku pergi, aku meninggalkan Ryan di belakang tapi aku masih merasakan tatapannya di bahuku, aku pernah jadi bagian dari hidupnya meski itu hanya 1 tahun, lalu kami berpisah selama 10 tahun, adalah hal yang wajar jika ia melupakanku, bahkan jika aku pernah meninggalkan jejak dihatinya, jejak itu pasti sudah terhapus seiring berjalannya waktu, keringat yang masuk ke mataku membuat mataku perih lalu setelah kurasa Ryan sudah cukup jauh tertinggal, tanpa bisa kutahan lagi akhirnya aku menangis.
Sebelum aku tahu, hari sudah menjadi gelap dan malam menjadi semakin dingin, berjalan dari taman tidak pernah sejauh ini, aku benar-benar lelah seperti tenaga dalam diriku tersedot habis. ini hanya tubuhku dan adrenalinnya*.
.
.
.
.
.
.
.
.Hope u like it
💜💜💜💜