
Sekitar jam 1 pagi Ryan dan Sofia baru kembali ke hotel, karena kelelahan Fia sampai tertidur di mobil, Ryan bersandar pada stir dan menimbang haruskah ia membangunkan Fia? namun urung ia lakukan karena melihat Fia begitu lelap tidurnya, Ryan membuka Rolls Royce putihnya, berlari kecil mengitari mobil dan membuka pintu Fia, perlahan Ryan melepaskan seat belt dan dengan sangat hati-hati mengangkat Fia dalam pelukannya, wanita manis itu masih terlelap dalam dekapannya,
Ryan menuju lobby dan langsung mengarah ke lift, seorang manager hotel yang melihat menghampiri mereka.
"Pak, biar saya bantu"
Ryan menautkan alisnya
"Bantu? kau pikir aku akan membiarkan tunanganku disentuh laki-laki lain? sudah gila ya?"
Sang manager salah tingkah, niat baiknya malah membuat marah boss nya, Ryan memang dikenal tegas dan disiplin, ia masih muda dan baru di dunia bisnis sehingga sering dianggap remeh oleh orang lain, nyatanya ia bisa membawa Azkaisar menjadi hotel nomer 1 dan terkenal di seluruh dunia, Ryan punya aura mendominasi yang membuat karyawan nya segan.
"Maaf, Pak. saya cuma berpikir mungkin Pak Ryan akan lelah jika menggendong nona Sofia sampai kamar, Griya Tawang ada dilantai paling atas hotel ini, itu ada di lantai 25" bisik sang manager hati-hati, ia takut bossnya tidak suka,
"Maksudmu aku harus membangunkan nya agar dia bisa jalan sendiri ke kamarnya? minta di pecat ya?!" sang manager panik.
"Maaf pak, bukan begitu maksud saya..."
"Sudah jangan banyak bicara, cepat tekan tombol lift nya"
"Baik Pak.."
Begitu pintu lift terbuka Ryan pun masuk sedang sang manager mematung di tempatnya sambil berpikir
Tunangan dia bilang? kapan mereka bertunangan?
"Andika, kenapa berdiri saja?! cepat tekan tombol lantai nya!"
"Ah.... iya baik Pak"
Pintu tertutup dan Ryan naik ke atas sambil menggendong Fia, tanpa merasa pegal di tangannya, Andika sang manager berdiri kebingungan.
Perlahan Ryan membaringkan Fia di tempat tidur nya, menarik selimut hingga ke batas pinggang, dress yang digunakan Fia bisa sangat berbahaya jika tidak ditutupi dan Ryan pun ikut tidur disamping Fia, kini mereka berhadapan, Ryan memandangi wajah terlelap Fia dan terpesona meski itu bukan pertama kalinya ia melihat Fia tidur, tanpa sadar Ryan tersenyum,
Dia bisa membuatku jatuh cinta bahkan tanpa berusaha, Sofia. aku bertekuk lutut di hadapan mu. Terimakasih sudah mencintaiku, terimakasih sudah menerima orang gila ini, terimakasih sudah datang ke kehidupan ku, terimakasih sudah menungguku, akan ku buat kau sangat bahagia hingga kau takkan menyesal memilih ku, kau takkan punya waktu untuk mengeluh, aku berjanji.
Ryan mencium kening Fia lembut dan lama,
"Selamat malam sayang" bisik Ryan.
Ryan menyusul Fia ke alam mimpi, pantaslah mereka begitu lelah, setelah malam yang mendebarkan di gedung itu, Ryan dan Fia bermain di pantai, menyalakan kembang api dan berlarian dengan bertelanjang kaki, merasakan pasir dan dinginnya air laut di malam hari, beralaskan kain mereka tidur beratapkan langit berbintang, membicarakan masa depan dan berencana membingkai hidup bahagia.
Fia terbangun dan mendapati Ryan tidur disampingnya, baik ia dan Ryan masih menggunakan baju yang sama seperti semalam, Fia lega karena itu berarti tidak ada hal aneh yang terjadi semalam, Fia tahu Ryan memang bisa dipercaya.
Fia menelusuri wajah Ryan dengan matanya, sesekali jari telunjuknya meluncur di kening dan pipi Ryan, kulitnya sehalus beludru bahkan lebih halus dari kulitnya Fia, bulu matanya yang panjang dan alisnya yang rapih membuatnya makin sempurna, bahkan titik hitam kecil di atas alisnya pun indah.
Bagaimana pria sempurna ini jadi milikku? kaulah wujud dari sebaik-baiknya pria, terimakasih sudah mencintaiku, terimakasih sudah memilihku, terimakasih karena sudah kembali, aku sangat bahagia dan takkan pernah menyesal, aku janji.
Semalam, dengan berlinang air mata Fia menerima lamaran Ryan, pria itu berlutut dengan satu kaki dihadapan Fia, memintanya menjadi pendamping hidup.
"Sofia, aku hanya bertekuk lutut padamu, takkan ada siapapun yang bisa menempati tempat di hatiku selain kamu, percayalah padaku".
Fia mengingat lamaran semalam dan tersenyum sendiri.
Dengan sentuhan lembut dari Fia, Ryan pun terbangun, mereka saling melempar senyum terbaiknya.
"Good morning sunshine" sapa Ryan
"Selamat pagi" balas Fia.
"Jam berapa ini?" Ryan duduk dan bersandar di kepala tempat tidur untuk mengambil ponsel yang ada di nakas, Fia pun ikut duduk disampingnya.
"Jam 10, kau tidak bekerja?"
Ryan menggeleng dan menguap.
"Aku sudah kirim pesan pada Pak Irwan kalau hari ini aku mengambil cuti "
"Kasihan pak Irwan"
"Dia memang dibayar untuk itu, jangan kasihan dengan laki-laki lain, nanti aku cemburu "
Ryan menatap Fia serius tapi Fia malah tertawa
"Masa kamu cemburu sama orang yang pantas menjadi ayahku?"
"Kamu itu cantik, siapapun bisa tergoda sama kamu"
Wajah Fia seketika memerah, ia melempar pandangannya keluar jendela untuk menutupi rasa malunya, Ryan memeluk Fia dari samping dan menyandarkan kepalanya di bahu Fia.
"Kenapa tidak tidur di kamarmu sendiri?"
"Aku ketiduran" jawabnya santai,
"Apa kau menggendong ku semalam?"
"Hmm... sampai kamar "
"Pantas tidurku nyenyak, dekapanmu hangat, tempat ternyamanku ada dalam pelukanmu "
Sekarang berganti Ryan yang dibuat malu oleh Fia, Ryan tersenyum seperti anak kecil yang kegirangan.
"Fia...."
"Hmm..."
"Good morning kiss..." pinta Ryan menengadah dan menutup mata nya menunggu Fia, kedua tangan diletakkan di pipi Ryan lalu sebuah kecupan singkat Fia berikan, merasa tidak puas Ryan pun berkata
"Lagi.."
Fia kembali menciumnya namun kali ini Ryan memegang kepala belakang Fia agar gadis itu tak bisa lari, jadilah Ryan mendapatkan keinginannya, ciuman yang dalam dan lama, mereka baru berhenti saat terdengar suara perut Fia yang kelaparan.
"Kau lapar?"
"Iya"
"Ya sudah, aku akan kembali ke kamar dan mandi, aku akan menjemputmu lagi, kita sarapan.."
Ryan turun dari kasur dan menuju ke pintu.
"Makan siang..." ralat Fia, mereka melempar senyum, Ryan sangat terkejut saat membuka pintu dan mendapati Ray sudah berdiri di sana.
"Papa.."
Fia pun langsung melompat dari tempat tidur saat sadar siapa yang datang. Ray melirik kedua nya dengan tatapan menyelidik.
"Halo, Om." sapa Sofia
"Halo, Sofia" Jawab Ray santai
"Papa kapan sampai?"
Jelas sekali Ray tidak suka dengan pemandangan yang menyambut nya dari Jerman tapi ia masih bisa mengendalikan diri di hadapan para karyawan hotel.
"Baru saja, Irwan bilang kamu ambil cuti hari ini, dan Andika bilang semalam kamu mengantar Fia ke kamar tapi tidak keluar lagi".
Ryan menatap pak irwan dan Andika dengan tatapan setajam pisau yang siap menghunus ke arah mereka, nampak Irwan memandang datar dan Andika menundukkan kepala, Ryan merasa seperti sedang melakukan kesalahan padahal tak terjadi apa-apa antara Fia dan dirinya.
"Pah, Ryan bisa jelasin.." Ryan berhenti bicara saat tangan Ray terangkat menyuruhnya untuk diam.
"Katakan saja di kamarmu, ayo jalan"
"Baik Pah.."
Ayah dan anak itu saling berhadapan, Ray dengan tatapan tajamnya dan Ryan tak berani memandang sang Ayah, ia duduk dengan gelisah menunggu sang Ayah bicara,
"Katakan, jelaskan semuanya"
"Semalam aku kelelahan jadi ketiduran di kamar Fia tapi aku bersumpah kami hanya tidur, tidak melakukan apa yang papa pikiran"
"Yang benar kamu...!?"
"Pah, aku sayang dan cinta sama Fia tapi aku juga sangat menghormati nya, percaya sama aku"
Ray memicingkan matanya mencoba mencari kebohongan pada putranya itu.
"Papa kalau tidak percaya padaku setidaknya percayalah pada Fia, dia wanita baik-baik"
Tentu saja Ray tidak pernah meragukan karakter Fia, Ray langsung mengendurkan alisnya dan otot-otot di wajahnya menjadi rileks seketika.
"Baiklah, Papa percaya pada Fia".
Ryan bisa bernafas lega tapi kemudian ia protes karena Ray lebih percaya pada Fia ketimbang dia, anaknya sendiri.
"Yang anak Papa itu aku atau Fia sih?"
"Papa hanya takut orang-orang akan bergosip tentang kalian"
"Biarkan saja lah. Pah, aku saja tidak perduli apa kata orang "
Ray menjadi marah mendengar kata-kata Ryan dan refleks melempar majalah tebal yang ada di dekatnya ke arah sang anak kesayangan, Ryan yang tak sempat mengelak hanya pasrah saat majalah itu mendarat di kepalanya.
"Papah!! apa-apaan sih, sakit tau!!"
"Anak kurang ajar! apa kau tidak memikirkan Fia? apa yang dipikirkan orang-orang saat ada seorang gadis yang memasukkan laki-laki yang bukan suaminya masuk ke kamar? harusnya kau lebih berhati-hati, Papa tidak mau menantu kesayangan Papa jadi bahan gosip orang-orang"
Seperti terbangun dari mimpi, Ryan baru menyadari hal itu, kenapa tidak terpikirkan olehnya bahwa mungkin orang akan berpikiran jelek tentang Fia, Ryan merasa semua baik-baik saja karena Fia juga tidak pernah melarangnya, ah... betapa ia merasa sangat bodoh sekarang.
"Maaf, Pah. Ryan takkan mengulangi nya lagi, tapi kepala Ryan benar-benar sakit Pah, tega banget sih sama anak sendiri" keluh ryan sambil terus menggosok dahinya.
"Makanya dewasa.... Ngomong-ngomong Papa buru-buru kembali dari Jerman karena rencana mu mau melamar Fia, bagaimana? kamu di terima?" Tanya Ray penasaran, Ryan yang semula kesakitan tiba-tiba melengkungkan bibirnya dan menjawab dengan bangga
"Diterima dong... Fia setuju menikah dengan Ryan "
Ray pun terlihat membuang napas lega, tidak sia-sia ia datang dan mendapatkan kabar bahagia ini.
"Bagus sekali, itu baru namanya anak Papah, jadi kapan rencananya kalian akan menikah?"
"Kami baru akan membicarakan itu sambil makan siang ini, Papa mau ikut?"
"Tidak, Papa lelah setelah bepergian tapi Papa akan ikut untuk makan malam "
"Baiklah, kita bicarakan lagi nanti malam, Ryan pergi dulu Pah, selamat beristirahat ".
***
Saat malam tiba, Ray, Ryan dan Sofia menikmati makan malamnya di salah satu restoran yang ada di hotel, beberapa karyawan yang selalu membicarakan Sofia di belakang tak percaya ia bisa mengambil hati Raytama Aji Prasetya, seorang pengusaha bertangan dingin, yang memiliki ratusan hotel yang tersebar di seluruh negara, Azkaisar. Hotel bintang 7 yang terkenal mewah dan elegan, kebanyakan dari mereka berpikir kalau hubungan antara Sofia dan Ryan hanya sementara karena tidak mungkin Ray akan menikahkan putra satu-satunya yang merupakan pewaris tunggal dengan gadis biasa seperti Sofia, kisah mereka seperti Cinderella dalam kehidupannya nyata, tentu saja Sofia adalah Upik abu nya.
Beberapa karyawan menatap iri, ada juga yang bermimpi bisa seberuntung Sofia, menikah dengan high quality bachelor, tampan dan kaya raya, mereka juga sering menyaksikan betapa boss nya itu sangat mencintai Sofia, mulai dari perlakuan istimewa seperti mengosongkan restoran setiap kali mereka makan, alasannya hanya agar Sofia tidak terganggu dan bisa menikmati makanan nya dengan santai, selalu menyempatkan diri bertemu Sofia meski ia sangat sibuk bahkan sampai mengikatkan tali sepatu gadis itu, dan kini mereka bertiga terlihat akrab seperti sebuah keluarga bahagia. Fia sudah terbiasa dengan tatapan iri dan tidak suka dari karyawan hotel, ia sadar Ryan menempati puncak tertinggi Piramida dan Fia cukup beruntung untuk berada di dasar dari Piramida yang sama.
"Selamat atas pertunangan kalian, Papa sangat bahagia karena sebentar lagi anggota keluarga Prasetya bertambah dan lebih Bahagia lagi karena orang itu kamu, Sofia. Ryan sangat beruntung bisa memilikimu walaupun dia sebenarnya tidak pantas untuk bidadari seperti kamu"
Ray melirik sang anak yang sedang merajuk, ia tidak percaya Papa nya sendiri menjatuhkan harga dirinya di depan Sofia, meski Ryan tahu Papa nya hanya bercanda.
"Terimakasih, Om. Fia juga sangat beruntung bisa dicintai oleh Ryan dan diterima di keluarga Om"
"Sofia, mulai sekarang biasakan panggil Papa, jangan Om, mengerti?"
"Baik Pah"
Fia senang bisa mendapatkan lagi figur Ayah yang lama ia rindukan, Ray adalah sosok sempurna dari seorang Ayah, ia baik, bijaksana, mencintai keluarga dan tidak memandang seseorang dari status sosialnya,
"Papa sudah siapkan sebuah villa di Ubud, tempatnya sangat indah, persis ditepi pantai, kamu bisa menikmati sunset atau sunrise dihalaman dan villa itu sudah atas nama kamu, itu hadiah pertunangan dari Papa"
"Terimakasih Pah, tapi Fia tidak perlu hadiah semahal itu, Papa merestui hubungan kami buat Fia itu sudah cukup"
"Pft..."
Fia melirik sekilas ke arah Ryan yang tertawa tiba-tiba, apa yang lucu? batin Fia.
"Papa punya sebuah Yacht, memang tidak besar tapi kalau kamu mau, itu bisa jadi milikmu"
Rahang Fia hampir jatuh ke atas meja, ia baru saja menolak sebuah Villa dan kini Ray memberi nya sebuah Yacht? semudah itu seolah Yacht hanyalah mainan anak-anak.
"Tapi Pah, Fia benar-benar tidak bisa menerima hadiah semewah itu"
Fia menengok ke arah Ryan yang menatapnya sambil tersenyum dengan ekspresi aneh, ia mencoba memberi sinyal pada Ryan untuk membantunya menolak hadiah pertunangan dari Ray yang Fia rasa diluar nalar tapi Ryan pura-pura tak peduli dan melanjutkan makannya, Fia memutar bola matanya tak percaya.
"Kamu juga bisa memiliki satu unit apartemen di Manhattan, New York. Papa punya satu lantai atas nama Papa di Apartemen itu"
Bukan satu unit tapi satu lantai milik Papa Ray? sekaya apa calon mertuaku ini Tuhan?
"Tunggu dulu Pah, Fia..."
Ray memotong kata-kata Fia sebelum ia bisa menolak lagi hadiahnya.
"Atau kamu mau jet pribadi? ambillah satu punya Papa, sayang juga jika tidak pernah digunakan, ambillah untukmu "
"Apa..?"
Fia kehabisan kata-kata, sebenarnya seberapa kaya kah calon Papa mertuanya itu, Fia tak tahu bahwa kekayaan keluarga Prasetya jika dikumpulkan bisa memberi makan sebuah negara kecil satu hari penuh.
"Terima saja Sayang..."
Ryan akhirnya membuka suara setelah makanan di piring nya habis.
"Semakin kau menolak hadiahnya, semakin banyak pula Papa memberi, kau pikir dari mana aku dapat kebiasaan itu?" Ryan tersenyum sambil mengerlingkan matanya ke arah Fia, ia pun baru tersadar betapa Ayah dan Anak ini begitu mirip dalam hal kemurahan hati, Fia bingung, kenapa mereka terlalu mudah memberi hadiah, apapun akan diberi asal orang yang mereka sayang bahagia. Fia pun menyerah dengan keinginan Ray memberi hadiah-hadiah itu.
Ayah dan anak sama saja!!.
Fia menggeleng tak percaya
"Baiklah Pah, Fia akan terima hadiah dari Papa tapi Fia hanya akan menerima Villa di Ubud saja"
Ray terdiam, memang ia tak pernah salah menilai orang, calon menantunya itu selain pintar dan cantik juga tidak silau dengan harta kekayaan keluarga Prasetya.
"Baiklah, sisanya akan Papa berikan sebagai hadiah pernikahan"
Ray tersenyum puas, sedang Fia menghela nafasnya, ternyata apapun yang ia katakan, Ray akan tetap memberinya semua hadiah-hadiah itu, maka Fia hanya bisa pasrah, Ray melirik nakal putranya karena kali ini ia kalah dari Ray dalam hal memanjakan Fia, Ryan jadi terpecut untuk bisa memberikan Fia lebih dari apa yang diberikan Papa nya, ah..... Anak dan Ayah itu sedang bersaing untuk memanjakan Fia.
"Jadi kapan kalian akan menikah?"
"Ryan akan menemui ibu Lily untuk melamar Fia secara resmi baru nanti diputuskan kapan waktu yang tepat tapi Ryan masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, setelah pekerjaan Ryan selesai kami akan langsung terbang ke London "
"Apa itu proyek resort yang akan dibangun di Lombok?" tanya Ray.
"Iya Pah, kerjasama dengan Om Bagaskara tapi beliau sudah pensiun dan menyerahkan semua urusan perusahaan kepada Dinda si ulat bulu"
"Dinda teman kamu saat kecil dulu? sudah lama Papa tidak bertemu dengannya, bagaimana kabar Dinda? terakhir Papa dengar Dinda sudah lulus S2 di Stanford university "
"Dinda sudah bukan ulat bulu lagi Pah, dia sudah berubah menjadi kupu-kupu, dia berkelas, anggun dan sangat pintar" Ryan sangat antusias bercerita tentang teman masa kecilnya tanpa sadar Fia sedang menatapnya dengan tatapan sendu, Fia tak pernah mendengar Ryan bercerita tentang wanita lain dengan begitu bersemangat, betapa istimewanya Dinda ini sampai Ryan tersenyum sangat lebar dengan mata yang berbinar, ada perasaan tak menyenangkan di hati Fia, ia memegang dadanya yang terasa aneh, apa ini yang namanya cemburu? batin Fia berkata.
"Sabtu ini Om Bagas mengadakan pesta merayakan kelulusan Dinda, kita semua diundang"
"Kebetulan, kita harus datang Papa kangen juga dengan Bagaskara"
Ryan masih menceritakan pertemuannya kembali dengan Dinda, mereka bertemu ketika Ryan keluar kota selama 3 hari yang lalu, kenapa Ryan tak pernah bercerita tentang Dinda padahal ia begitu senang bertemu dengannya lagi, padahal mereka selalu melakukan video call setiap malam, Fia tersenyum pada dirinya sendiri ah, mereka hanya teman biasa, tak ada yang perlu ku cemaskan, iya kan? Fia meyakinkan dirinya.