
Sofia baru saja selesai mandi saat bel berbunyi, waktu itu menunjukkan pukul 5 sore, dengan rambut basah yang dililitkan handuk Fia membuka pintu, sosok yang mirip patung manekin berdiri didepan pintu rumahnya, memakai kaus putih polos, celana Chino hitam dan sneakers ditambah long cardigan berwana navy, rambutnya kelimis ditarik kebelakang menggunakan Pomade, biasanya ia membiarkan rambutnya jatuh alami. Fia benar-benar tidak terbiasa dengan pesonanya meski hampir setiap hari mereka bertemu.
"Kok belum siap?" tanya Ryan, yang ditanya mengerjakan mata bingung.
"Siap kemana?"
"Nonton"
Saat Ryan bilang untuk temani dia nonton, Fia mengira nonton DVD di rumah Ryan seperti yang biasa mereka lakukan, karena Ryan memang hobi nonton, setelah sadar ternyata dia salah Fia langsung memutar badan untuk berlari ke kamar dan meninggalkan Ryan di pintu. Fia bisa mendengar suara tawa Ryan saat menaiki tangga, Fia berhenti sesaat di anak tangga ke-lima dan ingat kalau ia belum mempersilahkan Ryan untuk masuk tapi sepertinya itu tidak perlu karena Ryan sudah menemukan jalannya sendiri, bahkan Ryan sudah duduk tampan di sofa ruang tengah Fia, masih terkekeh geli dengan tingkah si gadis cantik itu. Fia membongkar isi lemarinya dan tak ada pakaian yang cocok yang bisa paling tidak mengimbangi penampilan bak model Ryan,
ah masa bodoh, toh apapun yang kupakai tidak akan berpengaruh apa-apa, lagipula ini bukan kencan. iya kan?
gerutu Fia dalam hati.
Maka dipilih lah atasan floral dengan model off shoulder berwarna dasar navy dan celana jeans biru cerah plus sneakers. tanpa sadar baju yang fia pilih se nada dengan baju Ryan. setelah mengeringkan rambut basah nya dengan hair dryer Fia melirik jam di dinding.
sial sudah 40 menit
Fia hanya menaburkan bedak tipis dan lip tint agar tidak pucat.
Ryan duduk dengan nyaman di sofa sambil serius memainkan ponsel nya sampai tidak sadar Fia sudah berdiri di depannya.
"Maaf menunggu lama"
Ryan mengangkat kepalanya, memandang gadis itu seperti belum pernah bertemu sebelumnya, entah kenapa Fia jadi terlihat lebih cantik dari biasanya. Ditatap begitu intens oleh Ryan, Fia memandang dirinya sendiri.
"Kenapa? aneh ya?"
Tanya Fia sungguh-sungguh, ia merasa tidak percaya diri tapi Ryan menjawabnya dengan tersenyum.
"Cantik". kata Ryan tulus.
Mendapat pujian cantik dari mahluk indah bernama Ryan agak berlebihan buat nya, Fia berpikir dia tidak punya kelebihan apa-apa dan merasa rendah diri karenanya, meski begitu kata-kata Ryan membuat dada nya kesakitan, pipinya berubah merah seperti tomat matang.
"Terima kasih" Lirih Fia sambil menunduk untuk menyembunyikan kegugupannya, tak lama taksi yang dipesan Ryan pun datang, seperti seorang gentleman Ryan membukakan pintu untuk Fia, menaruh telapak tangannya diatas kepala Fia saat akan memasuki mobil untuk melindungi nya, setelah Fia duduk ia menutup pintu mobil dengan hati-hati dan berlari kebelakang mobil untuk berputar, sedetik kemudian Ryan sudah duduk disebelah Fia. taksi pun langsung menuju lokasi.
"Tidak apa-apa kan kita naik taksi?"
tanya Ryan setelah melihat raut wajah Fia yang kebingungan, bagaimana tidak? garasi rumah Ryan yang luasnya sama dengan rumah Fia itu dipenuhi dengan berbagai macam jenis mobil mewah, tapi Ryan memilih naik taksi.
"Iya, tidak masalah, tapi bukannya kamu punya mobil?"
Tanya fia penasaran.
"Mm... ada tapi aku dilarang menyetir sendiri"
"Kenapa?"
"Kata papa aku dulu pernah kecelakaan tapi aku tidak ingat kapan dan bagaimana kejadiannya"
ekspresi datar nya Ryan baru pertama kali dilihat fia.
"Kamu tidak ingat pernah kecelakaan? kok bisa?"
"Setiap kali aku coba mengingatnya kepalaku mendadak pusing, mungkin efek dari kecelakaan itu, Papa bilang aku sampai tak sadarkan diri sampai 3 hari, bahkan aku pernah sampai mimisan dan pingsan"
Kali ini Ryan tampak sedih.
"Aku pernah bertanya pada Papa tapi Papa bilang jangan mengingat hal yang membuatmu sakit nantinya, jadi aku berhenti memikirkannya, entah kenapa dada ku terasa sakit, mungkin akibat dari kecelakaan itu"
Ryan selalu tersenyum cerah sampai kadang menyilaukan, meski beberapa Minggu ini kami dekat tapi Fia hampir tidak tahu apa-apa tentang Ryan, yang Fia tahu hanyalah Ryan berasal dari keluarga kaya, sangat kaya malah, dengan kerajaan bisnis hotel yang dimiliki keluarganya, Papa nya adalah presiden direktur dari hotel ternama yang cabangnya ada di seluruh dunia, tapi Ryan begitu sederhana, ramah dan sikapnya lembut, siapa yang tahu ia menyimpan kenangan sedih sendirian, Ryan berhasil lari dan membuka lembaran baru dalam hidup, walaupun Fia tidak tahu sakit yang dia alami dalam proses nya.
"Antriannya panjang"
"Aku sudah beli tiketnya kok lewat M-TIk"
"Lho, bukannya hari ini aku yang traktir ya?"
Ryan hanya tersenyum dan mendorong bahu Fia untuk membeli popcorn, Sekarang fia mengerti, dia lah yang harus membayar popcorn nya.
"Kamu mau rasa apa?"
tanya Ryan
Setelah berpikir sebentar Fia menjawab
"Caramel"
"Minumnya?"
"Lemon tea"
"Ok"
Setelah menerima pesanan kami, kasir nya memberikan jumlah yang harus dibayar, lagi-lagi Ryan mendahului Fia.
"Kok popcorn nya kamu juga yang bayar?"
protes Fia
"Masa aku biarkan kamu yang bayar di kencan pertama kita?".
"Oh.... eh kencan?"
"Lho, memang bukan ya?"
.
.
.
.
.
.
.
.
halo readers 😊...
terima kasih sudah membaca hey Sofia.
jangan bosan ya... maaf masih banyak kekurangannya 🙏
i purple you all 💜💜