Hey Sofia

Hey Sofia
Goodbye my love




_to love you until my last breath_


_the one you love always be the one who hurt you the most_


****


Fia tak tahu sudah berapa lama ia berada dalam kegelapan, ia hanya bis mendengar suara langkah-langkah kaki dan orang-orang berbicara dengan suara mirip bergumam, kelopak mata fia terasa sangat berat dan membukanya adalah hal yang tidak mungkin, fia mencoba meminta air karena tenggorokan nya kering kerontang, ia sangat kehausan seperti sedang berjalan di Padang pasir untuk waktu yang lama, dan meskipun ia sudah berusaha keras sedikitpun mulutnya tak terbuka.


ada apa dengan ku? kenapa aku tidak bisa bergerak? kenapa suaraku tak bisa keluar?


fia merasa sebuah telapak tangan menyentuh dahinya, aneh nya meski tangannya dingin tapi terasa nyaman bagi fia, lalu seseorang berkata


"apa fia masih demam?"


itu adalah suara wanita yang lembut


"masih"


dalam keadaan apapun, fia bisa mengenali suara Ryan, ia terdengar lelah dan gelisah. suaranya bergetar dan berbisik seperti takut fia mendengarnya jika ia bicara sedikit lebih keras.


"apa fia akan baik-baik saja?"


Putri pun tak kalah cemas nya dengan Ryan


"kurasa begitu, kata dokter tak ada luka yang terlalu serius, kalau dia bisa melewati demam ini, dia akan baik-baik saja"


"fia pasti sangat ketakutan"


mengingat kejadian yang dialami fia, putri pun meringis.


"ya, dokter memberinya obat penenang, tubuhnya tak bisa berhenti gemetaran dan ia terus menangis dalam tidurnya, ini semua salahku, aku tidak menjaganya dengan baik"


Ryan terdengar semakin sedih dan putus asa.


obat penenang? inikah alasannya kenapa aq tidak bisa bergerak?


"kau menemukannya tepat waktu"


"aku takkan bisa memaafkan diriku sendiri jika aku terlambat"


"tapi, bagaimana kau menemukannya?"


"melalui aplikasi temukan aku yang ada di ponselnya"


"siapa yang tega melakukan ini padanya?"


"entahlah, tapi kupikir ini semua sudah direncanakan, orang itu sudah menargetkan bunga"


mendengar itu fia menjadi gelisah, semua itu benar-benar terjadi ketika fia kira itu hanyalah mimpi buruk, lalu gambaran tentang kejadian di gudang sekolah waktu itu berputar seperti roll film di kepala fia, ia melihat dirinya sendiri saat berjuang untuk bisa lepas dari pria itu, fia juga melihat dirinya di pukul dan di tarik, kepalanya di benturkan ke lantai, dan pecahan kaca yang menghujani nya, tubuhnya bereaksi menggelepar liar diatas ranjang rumah sakit, detak jantungnya berpacu semakin tak terkendali ketika ia ingat pria itu juga menyentuhnya, fia yang semula tak bisa membuka mulutnya kini berteriak histeris


"LEPASKAN AKU!! LEPASKAN AKU!!! JANGAN !!!"


tangan lembut menepuk-nepuk pipi fia, berusaha tenang dalam kepanikan, Ryan menenangkan fia.


"bunga... bunga bangun sayang"


fia membuka matanya secara tiba-tiba dan wajah malaikat Ryan mengatakan mimpi buruknya sudah berakhir.


"Yan.... "


"ya sayang"


"aku dimana?"


"di Rumah Sakit, lihat putri juga ada disini"


"fia, akhirnya kau bangun"


"put, bantu aku mandi, aku kotor"


fia berusaha bangkit dan hendak turun dari ranjangnya tapi Ryan dengan lembut menahan fia


"yang.... tenanglah, kamu sudah bersih, bajumu juga sudah di ganti"


"aku tidak kotor?"


"tidak sayang, kamu sangat bersih"


"aku tidak kotor.....?"


fia mengulang kata-kata nya dalam keadaan setengah sadar dan perlahan menjadi tenang lalu kembali jatuh tertidur.


***


ruangan kembali sunyi, tak ada yang terdengar kecuali detik jam dan sentuhan hangat di telapak tangan fia, akhirnya fia bisa membuka mata, tangan hangat yang menggenggam nya adalah tangan Ryan, ia tertidur di samping ranjang fia karena lelah terus menjaga fia, Ryan hampir tak pernah beranjak dari sisi fia selama ia tak sadarkan diri,


meski lemah, fia berusaha membangunkan Ryan dengan meremas tangannya dan itu berhasil, Ryan terperanjat dari kursinya dan melihat fia lebih dekat


"kamu sudah bangun?"


fia mencoba menggerakkan mulutnya dan berkata dengan suara lemah


"air... "


"kamu mau apa?"


Ryan mendekatkan telinganya ke mulut fia, agar ia bisa mendengar lebih jelas.


"aku....... haus..... "


Ryan mengambil segelas penuh air dengan sedotan, membantu dia duduk dan membiarkan fia minum sebanyak yang ia mau. kini tenggorokan fia tak lagi meraung kesakitan akibat kekeringan


"bagaimana perasaanmu?"


"kepalaku pusing"


"kamu tidur selama 2 hari 2 malam, wajar kalau kamu pusing"


"tapi aku masih sangat mengantuk"


"tidurlah lagi, besok pagi saat kamu membuka mata aku pasti ada"


"kamu jangan tinggalin aku"


Ryan naik ke atas ranjang fia yang memang cukup besar untuk dua orang, Ryan memberi pelukan dan menaruh kepala fia dalam dadanya


"aku takkan kemana-mana"


selama fia di rumah sakit, Ryan dengan penuh perhatian membantu fia meminum obat, mengoleskan salep di wajah memar fia dan memberi dia makan dengan tangan nya


"aku kenyang....?"


"satu suapan lagi...."


fia menggeleng dan menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan. Ryan menyerah dan kemudian membereskan makanannya dengan menaruhnya di pojok ruangan.


"Yan...."


"ya, apa ada lagi yang kamu mau?"


"apa polisi sudah menemukan pelakunya?"


Ryan awalnya ragu untuk menjawab, lalu ia berkata dengan nada sedikit kesal


"belum, dia menghilang di hutan jati belakang sekolah dan tidak ada satupun saksi mata tapi aku yakin ini ada hubungannya dengan Maya"


"kenapa kamu berpikir begitu?"


"kamu ingat soal kasus narkoba yang terjadi di Jerman?"


"iya..."


"polisi menyatakan kalau hotel bersih dan tidak terlibat dengan perdagangan narkoba"


"itu bagus, tapi apa hubungannya dengan semua ini?"


"benarkah? lalu apa yang Papa mu lakukan?"


"tidak ada, Papa memaafkan om Wijaya, dia melakukan itu karena sakit hati, anggap saja itu sebagai penebus kesalahan ku dan selama aku baik-baik saja kurasa Papa takkan mempermasalahkan nya"


diam-diam fia tersenyum, dalam hati ia berkata


om Ray benar-benar orang yang sangat baik dan pengertian..... seperti halnya Ryan.


"Papa jadi susah itu karena aku, yang terjadi padamu juga karena kecerobohan ku, maafkan aku sudah melibatkanmu, membuat nyawamu terancam.. aku benar-benar minta maaf"


"ini bukan salahmu, justru aku berterima kasih karena sudah datang dan menyelamatkan aku"


"hati mu sangat baik, aku mencintaimu"


"aku juga cinta kamu"


***


siang itu fia kedatangan tamu dari jauh, ia langsung terbang begitu dengar kabar dari Sony,ia bahkan belum beristirahat setelah 15jam perjalanan udara, yang ia mau adalah cepat-cepat bertemu dengan fia, Louis masuk dengan tergesa-gesa, dengan rasa cemas yang menyiksanya selama perjalanannya kembali


"Sofia..!!"


fia dan juga Ryan terkejut dengan kedatangan Louis yang tiba-tiba, bagaimana Louis bisa tahu tentang situasi fia dan jika Louis tahu bagaimana dengan ibunya? apa Lily juga tahu? begitu Sony terlihat di belakang Louis, fia pun mengerti. Sony pasti yang telah melapor padanya.


"kak L kok bisa ada disini? ibu dimana?"


Louis mengerti maksud dari pertanyaan fia


"aku tidak memberitahu nya, Sofia bagaimana ini bisa terjadi?"


fia lega ibunya tidak tahu, Fia tidak ingin membuat ibunya khawatir.


"Fia baik-baik aja kok,. besok sudah boleh pulang"


"kamu pulang denganku, Sony. ambil barang-barang fia dan bawa ke apartemen"


"tidak, bunga akan pulang denganku" sela Ryan tiba-tiba


berhadap-hadapan, Ryan tentu saja kalah tinggi dengan Louis tapi itu tidak menciutkan nyalinya untuk melawan Louis.


"Sofia akan ikut dengan ku" kata Louis dengan wajah sungguh-sungguh dan mengintimidasi


"dia harus ikut dengan ku, aku akan menjaganya"


"oh ya? terakhir kali kau katakan itu dan lihat apa yang terjadi padanya?"


"kak..... Yan.... jangan bertengkar"


Louis mengerjap menyadari kehadiran Fia, mereka berdua menahan diri dan menjaga jarak, fia bisa mendengar suara hembusan nafas kelegaan keluar dari mulut Sony, untuk sementara perang tertunda.


"kami tidak bertengkar, kamu mau kan ikut kakak pulang"


"Yan.... aku ingin bicara dengan kak L, bisa tinggalkan kami sebentar?"


"baiklah, aku akan keluar"


Ryan menuruti fia sedangkan Sony mengikuti perintah Louis, sekarang hanya ada mereka berdua di kamar.


"kak, kemarilah dan duduk di dekat fia"


Louis mendekat seperti yang fia inginkan


"terimakasih karena tidak memberitahu ibu"


dari jarak dekat Louis bisa melihat bekas luka dan memar di wajah fia, meski itu sudah hampir hilang, perban yang menempel di dahi fia mengingatkan Louis pada kecelakaan 6 tahun lalu dimana ia hampir kehilangan fia untuk selamanya, Louis tak mau itu terulang lagi, ia tak berniat untuk melepaskan fia dari pandangan nya.


"look at you baby, kamu pasti sangat kesakitan"


"tidak lagi, Ryan menyelamatkan fia"


"pulanglah bersamaku"


"fia ga bisa"


"bahkan meski aku memohon?


"fia berjanji untuk selalu bersama nya dan....."


fia sempat ragu tapi cepat atau lambat Louis juga akan mengetahuinya


"Ryan melamar fia"


"lalu....?"


"fia bilang 'iya'"


"apa? tapi kamu janji akan menikah dengan ku"


"maafkan fia"


fia mengatakan itu dengan mata yang berkaca-kaca, ia tak sanggup menatap Louis dan hanya bisa tertunduk


" Sofia, kembalilah padaku.... aku sangat mencintaimu dengan sepenuh hati"


Louis terdengar seperti merintih..... itu karena ia merasakan sakit yang sangat pedih. dengan hatinya yang terkoyak, ia mencoba berpegang pada apapun harapan yang tersisa, apa ini karena ia baru saja melakukan perjalanan jauh? tubuhnya terasa sangat lemas, seperti nyawanya perlahan meninggalkan raganya, dan setiap kali itu terjadi Louis merasa akan mati.


"aku juga mencintai kakak tapi....."


"stop!!!"


Louis tahu apa yang akan dikatakan fia, ia menghentikan fia mengucapkan kata-kata itu seolah itu akan mencegahnya dari rasa sakit yang baru, tapi Louis sadar rasa sakitnya tak dapat terhindarkan


"aku tidak mau mendengar itu, aku bukan kakak mu dan takkan pernah menjadi kakakmu"


fia dapat merasakan suara Louis yang bergetar, ia hanya bisa merasakan seberapa kecewa nya Louis sekarang


"jadi ini keputusan terakhir mu?"


kebungkaman fia adalah jawaban jelas yang di teriakkan di telinganya, entah dari mana Louis mendapatkan kekuatan untuk berdiri disaat ia merasa tak ada lagi tenaga yang tersisa, ia sudah hancur


"goodbye Sofia. ....."


"im sorry......"


"me too.."


****


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


halo....


setelah beberapa lama, Sofia sudah kembali up.


maaf 🙏 untuk kemunduran nya yang sangat lama...


i purple you all 💜💜