
Author POV.
Ryan dan Sofia semakin sering menghabiskan waktu bersama, makan malam di rumah Ryan juga sudah menjadi kebiasaan, hanya ada Ryan dan bibi Mae di rumah karena Papa nya mengurus cabang perusahaan di Jerman dan Mama nya juga sudah meninggal karena sakit 10 tahun lalu, rumah itu sudah seperti rumah Fia sendiri, Fia juga lebih suka makan malam di sana .... ya lebih baik dari pada sendirian setiap malam pikirnya, masakan bibi Mae juga menjadi alasan dia suka makan di sana, rasanya seperti masakan ibu nya sendiri.
meja makannya tidak terlalu besar ada 4 kursi kayu dan mejanya ditutupi kain putih polos. terlalu sederhana memang untuk rumah semewah ini, mereka menikmati puding mangga yang dibuat khusus untuk Fia atas permintaan Ryan, karena dia tahu mangga adalah buah favorit Fia dan anak itu pun sangat menikmatinya
"Suka banget ya?"
Fia mengangguk karena mulut yang penuh dengan puding dan sendoknya dijilati tanpa tahu malu.
"Imutnya..."
Ryan gemas dengan tingkah gadis itu. Fia seperti anak kecil yang kegirangan diberi makan, kepala Fia sangat kecil di telapak tangan Ryan, dia membelai rambutnya eh tidak lebih tepatnya merapikan rambutnya dan menyilangkan rambut Fia yang tergerai dibelakang telinganya.
karena sentuhan Ryan sangat lembut hingga membuat jantung Fia berdebar ga karuan sampai dada nya sakit, Fia ingin kabur dari situasi itu sebelum pipinya berubah merah, buru-buru Fia merapikan mangkuk pudingnya, ia tersandung kaki kursi saat berusaha lari dan mangkuk nya pun terjatuh.
"Eh..."
Suara nyaring mengikuti mangkuk kaca yang hancur menjadi bagian-bagian kecil berserakan, Bibi Mae yang terkejut berlari ke ruang makan untuk memeriksa suara apa itu, Fia ingin membereskan kekacauan yang di buatnya sebelum bibi Mae menyadari apa yang terjadi, Fia hendak membungkuk tapi Ryan menarik tangannya dan membuatnya berdiri
"Jangan nanti kamu terluka"
Fia bersikeras ingin membereskan pecahan kaca itu karena tidak mau merepotkan bibi Mae, Fia menarik kasar tangannya hingga hilang keseimbangan kemudian kakinya mendarat tepat dimana serpihan kaca itu berserakan
"Ah...!" pekik kesakitan Fia mengejutkan Ryan, kaki Fia seperti tertusuk jarum, jarum adalah yang paling Fia takuti, Fia hanya mematung dan gemetaran ditempat begitu melihat darah keluar dari kakinya, tubuhnya seperti ditarik ke atas, spontan ia memeluk erat leher Ryan agar tidak terjatuh dari gendongannya.
"Sudah kubilang jangan!"
suaranya tegas namun matanya bergetar cemas
"bibi Mae tolong bereskan ya"
nada suaranya berubah lembut
"I... iya mas Ryan".
Ryan membawa Fia ke ruang tengah, menaruhnya pelan-pelan di sofa, berlutut dan hati-hati mengangkat kaki Fia untuk melihat lukanya, Ryan meringis seolah dia yang terluka, ada sensasi geli yang Fia rasakan saat Ryan menyentuh kakinya, dada nya terasa lebih sakit dari kakinya sekarang
"Serpihan kacanya tidak terlalu dalam, harus segera dicabut tapi aku tidak punya pengait untuk mencabutnya"
"Lalu bagaimana?"
Fia panik mendengarnya. Ryan berpikir sejenak lalu tanpa ragu menghisap beling yang ada di kaki Fia. Fia terdiam shock dalam hatinya berkata
bagaimana dia bisa menghisap kakiku tanpa ekspresi jijik di wajahnya?
Ada ekspresi senang saat Ryan berhasil mengeluarkan serpihan kacanya...
"Sudah keluar" Senyum Ryan terbit.
Ryan bangkit, pergi mengambil kotak P3K dan bergegas kembali ke Fia, diambil nya plester untuk menutup luka nya dan mengoleskan krim untuk Luka memar akibat tersandung kaki kursi.
"kamu sudah tidak apa-apa sekarang"
"mm..?" Tanya Ryan. "Aku lakukan apa?". Ryan masih mengecek kaki Fia memastikan tidak ada luka lagi.
"Kaki ku kan kotor"
suara Fia mengecil di akhir kalimat karena malu, Ryan memandang gadis itu dan tersenyum
"Ga kok, kaki mu bersih"
"Kamu ga jijik?" Ryan tersenyum dan bangkit setelah memastikan tak ada luka lagi di kaki Fia. Ryan mengacak gemas puncak kepala Fia sebagai jawaban.
Ryan mengantar Fia pulang dengan sepeda nya. sampai di rumah ternyata Lily juga belum pulang kerja, Ryan hanya berani mengantar nya sampai depan rumah, tidak baik bagi laki-laki masuk ke rumah seorang gadis selarut ini saat orang tuanya tidak di rumah, pikir Ryan. setelah memastikan Fia baik-baik saja Ryan pun pamit.
Sebelum Ryan berbalik pulang, untuk ke sekian kali nya Fia bilang "terima kasih"
"kamu sudah bilang terima kasih sepanjang jalan tadi, mau sampai berapa kali baru puas?"
"Tetap saja kan..."
"Ok, kalau kamu sangat berterima kasih, kamu harus membayar ku"
"Oh, bayar berapa ya?"
"Temani saja aku nonton"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Halo readers 😊
terima kasih sudah membaca hey Sofia
terima kasih juga untuk love dan like nya.
i purple you all 💜💜