Hey Sofia

Hey Sofia
Kita Impas




looks can be deceiving


*****


"pah, aku bisa jelasin"


begitu Ray melihat fia datang dengan Ryan , ia tahu apa yang terjadi, Ray mengalami masa sulit dengan persahabatannya dan Wijaya, bahkan mungkin berakhir karena tindakan Ryan meninggalkan Maya di hari pertunangan nya, ia merasa darahnya mendidih, wajahnya merah karena marah bercampur malu tapi ia sadar ini terjadi karena ia memaksakan kehendaknya pada Ryan, rasa bersalah yang bergelayut di benaknya ketika ia hampir putus asa mencari keberadaan Ryan, kemarahannya menjadi hilang lalu berubah menjadi kecemasan, dengan kekuasaan nya ia kerahkan semua orangnya untuk mencari Ryan ke penjuru kota bahkan setiap stasiun, terminal dan bendara namun hasilnya nihil, tapi Sofia, gadis kecil yang terlihat lemah tak berdaya dan tanpa kekuasaan apapun berhasil membawa Ryan pulang dalam keadaan sehat dan meski terlihat lelah tapi ia memasang senyum di wajah nya, sesuatu yang langka beberapa Minggu ke belakang.


Ray selalu tahu Sofia gadis yang istimewa dan ia tak berhenti membuat Ray terkejut dengan apa yang mampu ia lakukan, karena itu Ray lebih tertarik bicara dengan Sofia ketimbang mendengar penjelasan Ryan yang sebenarnya yg tidak perlu, maka tanpa memperdulikan Ryan, Ray memusatkan perhatiannya pada Sofia.


"Sofia, om bisa bicara sebentar dengan mu?"


Ryan bergerak ke depan Sofia seperti benteng yang melindunginya dari serangan musuh, kedua tangannya membuka lebar, menyembunyikan fia di belakangnya.


"pah, bunga ga ada hubungannya dengan ini, semua salah Ryan, jangan libatkan bunga"


"Ryan , naik ke kamar dan tunggu disana"


"ga pah, Ryan ga akan pergi kemana-mana, papa bisa bicara dengan Ryan, bukan bunga".


alasan fia datang bukan hanya ingin menemani Ryan tapi ia juga ingin bicara dengan Ray, ini semua terjadi tiba-tiba dan mungkin Ray saat ini kebingungan dengan keputusan fia yang semula ingin pergi dari hidup Ryan, sekarang tiba-tiba ia kembali lagi, ia ingin menjelaskan dan meminta Ray menerima hubungan mereka, Ray sepertinya mengerti dengan keadaan fia karena itu ia meminta untuk bicara dengan fia,


Ray dan fia tahu mereka punya tujuan yang sama, maka fia menurunkan tangan Ryan yang menghalanginya dan berkata


"Yan, tunggulah di kamar, aku akan segera menyusul"


"tapi..." yang ingin Ryan katakan adalah ia takut fia pergi lagi darinya. hanya dengan tatapan mata Ryan, fia tahu apa yang di pikirannya


"jangan khawatir, aku takkan pergi lagi, aku sudah janji kan? atau kau tak percaya padaku?"


Ryan berbalik menghadap fia dan mencium punggung tangannya


"aku percaya padamu"


fia mengambil kembali tangannya dan mendorong Ryan menjauh


"pergi sana.."


sebelum berbalik Ryan sempat melihat telinga fia bersemu merah karena malu dan ia tersenyum tanpa sadar, Ryan berjalan ke arah tangga tempat Ray berdiri, ia berhenti tepat disamping Ray dan berbisik


"pah, baik-baiklah dengan bunga, ini bukan salahnya"


"kau pikir papa mu ini apa? monster? naik ke kamar mu!"


tanpa menjawab Ryan menuruti papa nya dan naik ke atas tapi sebelumnya Ryan menengok ke belakang sekali lagi untuk mengecek Sofia yang berdiri disana masih dengan senyuman nya, melambaikan tangan pada Ryan dan ia pun membalasnya, meski Ryan tahu Ray bukan orang jahat tapi ada sedikit kekhawatiran di hatinya, apa yang ingin di bicarakan oleh papa nya yang tak boleh ia ketahui.


Ryan kembali ke kamarnya dan berbaring dengan sepatu masih terpasang di kakinya, ia merasa beban dihatinya jadi sedikit terangkat karena sekarang fia sudah kembali bersamanya lagi dan mimpi buruknya akan berakhir, apapun hukuman yang di berikan Ray takkan lebih buruk dari pada berpisah dengan Sofia, ia akan menerimanya seperti itu adalah sebuah hadiah.


Ryan bangun setelah merasakan ketidaknyamanan akibat keringat yang menempel, ia berniat ke kamar mandi untuk menyegarkan diri sementara Ray membawa Sofia ke taman belakang rumah mereka, halaman belakang mereka seluas dua kali lapangan bola, Ray sangat suka bermain golf karena itu ia membuat mini golf di sana dan tentu saja lapangan basket untuk Ryan meski ia jarang sekali menggunakannya, Ryan lebih banyak bermain di lapangan sekolah dan sepulang sekolah Ryan hanya menghabiskan waktunya bersama fia,


***


bibi Mae datang mengantarkan kopi dan jus mangga ke sebuah gazebo berbentuk payung besar di kelilingi pagar kayu dengan tanaman rambat yang di rawat rapi tumbuh di sepanjang pagar, lalu ada barisan pot bunga aster berwarna ungu dan pink mengelilingi gazebo itu.


sudah lama fia tak bertemu bibi Mae, ia masih sekurus biasanya, ia masih tersenyum seolah tak punya beban di hidupnya, fia merindukan saat dimana ia selalu di usir oleh bibi Mae ketika ia ingin membantunya memasak, bibi Mae tahu tentang kedatangan fia dan ia langsung menyiapkan jus mangga seperti yang fia suka, ia juga memberikan cemilan wafer stik isi strawberry yang juga fia suka, setelah menaruh semuanya di meja bibi Mae menyapa fia.


"neng Sofia, apa kabar?"


"baik bi, fia kangen masakan bibi, fia juga kangen sama bibi"


Mae ingin mengatakan 'sering-seringlah datang, bibi akan membuat puding mangga kesukaan neng fia'. tapi ia merasakan pandangan tajam seperti elang mengarah padanya, ia melirik ke arah pandangan mata itu dan melihat Ray tersenyum padanya penuh makna, seketika itu keberanian bibi Mae menghilang, dengan cepat ia berpamitan.


"bibi masuk dulu ya neng".


fia menyadari kecanggungan bibi Mae akibat tatapan Ray yang melumpuhkan, fia tersenyum dalam hati, ia tahu itu hanyalah Ray yang tak sabar tanpa bermaksud kasar.


"terimakasih untuk jus nya bi"


"sama-sama neng"


terburu-buru bibi Mae pergi meninggalkan mereka dan memulai pembicaraan dengan mempersilahkan fia meminum jusnya, fia lebih tenang setelah meminum jus nya, bagi sebagian orang aura Ray bisa sangat mengintimidasi lawan bicaranya, dengan garis tulang rahang nya yang tajam dan sikap angkuh nya, Ray sering di salah pahami, saat berbicara Ray cenderung mengangkat tinggi dagunya seolah memandang rendah orang yang berada di depannya, fia menyadarinya tapi itu tak pernah mempengaruhi nya, mungkin karena fia terbiasa dengan Louis yang juga punya kepribadian hampir sama, dan fia menganut paham


'dont judge the book by its cover'


inilah juga yang menjadi salah satu alasan dari sekian alasan Ray menyukai fia, ia bisa membaca situasi dan pandai mengenali watak orang, Ray tidak melihat adanya ketakutan walaupun ia tahu apa yang akan mereka bicarakan adalah hal yang serius.


"terimakasih kamu sudah membawa Ryan pulang Sofia, om kehabisan akal mencoba mencarinya, bahkan on kerahkan semua anak buah om tapi kamu yang berhasil menemukannya"


"sama-sama om, waktu itu fia telpon Ryan berkali-kali sampai akhirnya di angkat, mungkin Ryan akhirnya bosan di telpon fia"


"atau mungkin karena itu telpon dari kamu makanya di angkat, om menelpon sampai ratusan kali tapi tidak diangkat"


"om, fia ingin mengatakan sesuatu"


mereka berdua punya maksud yang sama jadi siapapun yang memulai, fia pikir itu bukan masalah.


"katakanlah fia, jangan sungkan"


"mungkin om bingung dengan fia yang berubah-ubah tapi fia.. ingin tetap bersama Ryan, fia akan membujuk Ryan menjalani pengobatan bahkan bertemu dengan psikiater jika memang itu diperlukan untuk kesembuhan Ryan, fia akan menemaninya menjalani semua itu tapi fia tak mau berpisah lagi dengan Ryan, tolong ijinkan kami bersama om"


Ray meminum sedikit kopinya untuk melegakan tenggorokan nya yang kering lalu melanjutkan apa yang ingin ia katakan.


"Sofia, om berpikir dengan memisahkan kalian berdua berarti om melindungi Ryan, tetapi di jauhkan dengan ku malah membuat nya makin menderita, Ryan tak lagi bicara dengan om dan mimpi buruknya terus datang, saat ia tidur, Ryan selalu memanggil nama mu dan ia sering menangis dalam tidurnya. Ryan yang menghilang saat itu menyadarkan om bahwa apapun pilihan yang om ambil, om bisa tetap kehilangan Ryan, tapi jika ia bersamamu, om merasa Ryan berada di masa-masa paling bahagia nya, om bilang padaku semua yang om lakukan adalah demi kebaikan Ryan, dan kebahagiaan Ryan terletak ditangan mu Sofia"


fia mau tak mau sedikit tersentuh dengan kata-kata Ray.


"om..."


"fia, om salah dan om minta maaf padamu dan pada Ryan, on sendiri yang mendorong Ryan ke dalam jurang, sekarang sekali lagi dengan keegoisan om, om minta tolong padamu untuk selamatkan Ryan, hanya kamu yang bisa membantu Ryan keluar dari trauma nya, Sofia maukah kau menolong om?".


bagi fia kata-kata Ray penuh dengan kesungguhan dan matanya tulus, sebenarnya Ray tak perlu meminta maaf karena apa yang dia lakukan ia lakukan dengan pertimbangan dan kesadaran penuh tanpa paksaan dari orang lain atau pun Ray, dan ia juga tak perlu minta tolong karena demi Ryan, fia akan terjun ke jurang untuk menyelamatkan nya tanpa perlu diminta, kata-kata Ray adalah hembusan angin segar di hari yang terik dan oase di Padang pasir, fia penuh dengan suka cita di dadanya karena ini berarti Ray merestui mereka.


"tak perlu meminta maaf om, semua itu adalah keputusan fia sendiri, jadi ini juga salah fia, Ryan sudah melakukan banyak hal untuk fia dan entah sudah berapa kali Ryan menyelamatkan fia, paling tidak ini yang bisa fia lakukan untuk membalas Ryan, ibu bilang menemani Ryan di masa sulitnya adalah tanggung jawab fia, saat Ryan tahu akan kebenarannya pasti akan datang, tapi kali ini kita akan siap".


Sofia sesuai dengan harapan Ray, gadis itu berjiwa besar dan pengertian, dalam hati Ray merasa puas


"lalu apa kau berencana untuk merahasiakan tentang kecelakaan itu dari Ryan?"


"tidak om, setelah Ryan benar-benar sembuh, fia sendiri yang akan memberitahunya, fia hanya menunggu waktu yang tepat sampai Ryan stabil secara mental"


"kalau begitu, om serahkan Ryan padamu"


****


Ryan baru selesai berpakaian ketika pintu kamarnya di ketuk, ia bergegas keluar dari closet room dan membuka pintu, menemukan fia berdiri dibalik pintu membuat hatinya loncat kegirangan, ia menarik tangan fia masuk dan menutup pintu dengan kakinya, fia di dudukkan di tepi ranjang dan Ryan sendiri duduk di bawah kaki fia, dengan rasa penasaran Ryan bertanya pada fia.


"apa yang papa bicarakan? apa papa memarahimu?"


"kenapa om memarahi ku? kan kamu yang buat kekacauan dan kabur"


"yank, aku serius"


Ryan mengusap-usap dada nya


"aku deg-degan, takut kamu di marahin papa"


"aku ga pa-pa, kami tadi cuma ngobrol biasa... dan om, menyerahkanmu padaku"


"hah? maksudnya papa menyetujui hubungan kita?"


fia mengangguk sombong pada Ryan, setiap sel di tubuh Ryan bersorak senang, seketika Ryan mendorong fia dan mereka berdua jatuh diatas ranjang berukuran super besar milik Ryan, fia berusaha bangun tapi tubuh kecilnya bukanlah tandingan bagi Ryan, ia menahan fia hanya dengan satu tangan


"yan, jangan begini"


fia masih berusaha untuk lepas dari dekapan Ryan, tapi ia sama sekali tak berkutik


"jangan bergerak, tetaplah seperti ini sebentar, aku perlu mengisi dayaku"


"tapi ada papa mu di bawah, bagaiman jika om masuk dan melihat kita?"


"ini hanya sebuah pelukan.... tolong lah sebentar saja"


fia menjadi lemah dan tak mampu menolak Ryan dan tenggelam di dada Ryan yang keras, disana suara jantung Ryan terdengar jelas dan menenangkan, tubuhnya beraroma sabun yang menyegarkan, karena ia baru selsai mandi, semua itu ditambah dengan pelukan Ryan yang hangat fia segera menjadi nyaman.


Ryan mempererat pelukannya pada fia seakan ingin meremukkannya lalu berkata


"aku merindukan mu, sangat sangat sangat rindu padamu".


fia jelas merindukan Ryan sampai hilang akal tapi ia hanya menjawab dengan kata "Hem" sederhana


"jangan pergi lagi"


"ok"


Ryan memundurkan kepalanya agar bisa melihat wajah fia, mereka saling berpandangan dengan penuh cinta, Ryan membelai dan menyilangkan rambut fia ke belakang telinganya


"terimakasih sudah mencariku, sesungguhnya kalau kau tak datang, aku tak tahu harus kemana, kamu menyelamatkan aku"


"kurasa kita impas"


Ryan tertawa kecil karena kata-kata fia dan menjawab santai


"ya... kurasa kita impas" .


.


.


.


.


.


.


.


stay save and stay healthy every one