
POV Ryan aji Prasetya.
5 tahun lalu adalah pertama kalinya aku bertemu dengan anak itu, saat itu dia tertidur di jendela kamarnya lalu aku jadi sering melihatnya, seperti hantu ia gentayangan di depan mataku, anak itu selalu asyik dengan dunia nya sendiri seakan dia satu satunya manusia di muka bumi ini, kami selalu berangkat sekolah sama-sama walau aku berjalan beberapa meter dibelakangnya, walau selama hampir 3 tahun ia tak pernah sadar akan kehadiran ku, jadi sebenarnya aku lah yang hantu, aku yang ber gentayangan disekitar nya tanpa ia tahu.
Bermula saat aku masuk SMA HARAPAN PELITA. Aku melihat anak itu satu kelas denganku, dia duduk di pojokan sana seakan hanya ada dia di kelas itu, dia selalu seolah-olah sulit untuk diraih, selalu terpisah dari semua orang, selalu menarik diri dari kerumunan orang, seakan dia ingin orang menganggap nya tidak ada, seperti ia tidak terlihat, lalu bagaimana aku bisa berteman dengannya?.
Seharusnya aku mengikuti Papa untuk pindah ke Jerman, semua sudah disiapkan, bahkan tiket sudah dibeli tapi anak itu mengubah semuanya. Entah apa yang membuatku sangat tertarik padanya, Dia hanyalah orang asing tapi hatiku seperti sudah mengenalnya lama, susah payah aku membujuk Papa untuk membatalkan kepindahanku, awalnya Papa tetap akan membawaku ke Jerman, lagipula orang tua mana yang tega membiarkan anaknya tinggal sendirian? Meski akhirnya aku berhasil membujuk Papa.
5 tahun lalu tepat hari ini aku melihatnya duduk di ayunan taman dekat rumah, sesekali ia berayun pelan wajahnya lebih bersinar di bawah sinar bulan, aku mendekati nya perlahan sampai cukup dekat untuk berdiri di belakangnya, wajahnya tampak sedih, entah kenapa hatiku sakit, aku bersandar di pohon dan mengawasinya.
Dia mendongak keatas dan mengangkat tangan nya seolah ingin meraih bintang lalu bernyanyi kecil dengan suara paling lirih dan sedih yang pernah aku dengar.
"*L*ook at the stars the color shines for you"
Lalu ia menjatuhkan tangannya, kepalanya kini tertunduk dan kakinya memainkan pasir di bawah ayunan itu kemudian terdengar suara terisak.
Apa ia menangis?
Aku tidak berdaya dibuatnya, tidak bisa menenangkannya walau aku ingin sekali, aku hanya bisa menemaninya dari balik punggung yang gemetaran itu,
Apa yang membuatnya sedih?
***
Author POV.
Beberapa jam sebelumnya.
Fia berdiri di anak tangga terakhir, melihat ibu nya disana rasanya seperti mimpi, gambaran masa lalu yang Fia rindukan
"Ibu sedang apa?" tanya Fia sambil berjalan mendekati sang ibu di dapur.
Lily berbalik melihat Fia, mematikan kompor dan menghampirinya.
"Anak ibu sudah bangun, duduk disini"
Lily menarik satu kursi, mendorong Fia untuk duduk di meja makan
"Ibu sengaja izin pulang cepat biar bisa masak makan malam kesukaan kamu"
"Kok tumben"
Lily menarik kursi untuk dirinya sendiri dan duduk disamping Fia.
"Ini kan hari ulang tahun kamu"
Saat fia membuka mata semuanya tampak terang benderang, begitu menyilaukan mata dalam hati Fia bertanya.
Ya Tuhan apa aku sudah mati?
Adegan berguling di dalam mobil terlintas di ingatan Fia, ingatan mengerikan itu membuat seluruh tubuhnya kesakitan, ia bergulung didalam mobil layaknya baju di dalam mesin cuci, Fia merasa sangat ketakutan dan tubuhnya bergetar hebat
Seharusnya aku memakai sabuk pengaman.
Fia ketakutan, dalam kesakitannya, ia berteriak memanggil ibunya lalu semua kembali gelap. Fia terbangun hanya untuk mengetahui kenyataan Ayah nya sudah meninggal, ia bahkan tidak bisa ke pemakaman Ayahnya karena masih belum tersadar saat itu. Fia terus menyalahkan dirinya sendiri sejak saat itu.
Kalau saja aku tidak bersikeras meminta Ayah ke pantai mungkin ... mungkin Ayah masih....
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
halo... readers... 😊😊
terima kasih sudah membaca hey Sofia. maaf masih banyak kekurangan..
mohon saran dan kritik nya ya .. jangan lupa beri love 💜
i purple you all