
"Katanya pengusaha sukses, kaya raya masa ngajak makan malamnya di McD" Protes Fia yang sedang berdiri di depan counter untuk order makanan.
"Cerewet, cepat pesan, mau makan apa?"
"Fia nurut aja"
Louis mengajak Fia makan di restoran cepat saji yang ada di sebelah kantornya, dari semua restoran yang ada, kenapa Louis membawanya ke restoran cepat saji yang ada di sebelah kantornya?
Jam baru menunjukkan pukul 7 malam, biasanya restoran ini ramai dikunjungi orang-orang atau karyawan yang baru pulang kerja untuk sekedar nongkrong menghindari macet di jam pulang kerja atau yang benar-benar mengisi perut mereka tapi kenapa restoran ini begitu sepi? bahkan hanya ada mereka berdua disana.
"Ka, Fia sudah fitting baju terakhir, ga boleh berubah lagi atau Fia bisa diomelin Mas Igun" Ucap Fia saat Louis menata makanan di atas meja dengan bantuan mas mekdi, ada 2 big mac, 2 French fries ukuran besar, 1 Apple pie, 1 Smoke beef n cheese panini, 1 cheese burger Mcflavour fries with beef rasher bits, 1 Creamy McFreeze blueberry, Capuccino, Mcflurry Choco dan sundae strawberry.
"Terus ...?" Tanya Louis.
"Terimakasih, Mas" Mas Mekdi hanya tersenyum mengangguk dengan ucapan terimakasih Louis.
"Makanan sebanyak ini bisa nambah berat badan aku nanti!"
"Kata kamu nurut aja tadi"
"Kakak mau mengacaukan pernikahan aku ya?" Louis hanya menatap Fia tanpa menjawabnya, Louis yang begitu malah membuat Fia jadi merasa bersalah sudah menuduhnya. Fia tertunduk dalam, sangat dalam.
"Maaf" Bisik Fia
"Cepat makan" Titah Louis,
"Iya"
Fia dan Louis menikmati makan malam mereka, Fia yang katanya takut naik berat badan nyatanya makan lahap sekali, di satu tangan ada Big Mac, tangan yang satunya terus berganti mencicipi semua makanan yang ada di meja. Louis menggeleng melihat kelakuan Fia yang persis bocah, usianya sudah 29 tahun dan akan segera menikah tapi dihadapan Louis, Fia selamanya anak berusia 7 tahun.
"Kak, jam segini biasanya ramai lho, kok sekarang cuma ada kita berdua saja, aneh" Louis tak menyahut, ia sedang menikmati makanannya.
"Jangan-jangan..." Kata-kata Fia menggantung, menunggu respon Louis.
"Apa?" Tanya Louis.
"Kakak sewa tempat ini ya?"
"Hem.." Jawab Louis masih memakan Big Mac nya. Fia menganga lebar dan bertepuk tangan.
"Presdir LA grup memang beda"
"Udah kayak tagline TV aja".
***
Alunan musik diputar menemani makan malam mereka, Fia tidak asing dengan lagu nya tapi memang ia tidak tahu penyanyi nya.
"Lagunya enak, Kayaknya Fia pernah dengar tapi lupa-lupa ingat"
"Ryan pernah nyanyiin lagu ini buat kamu?"
"Ga, cuma pernah dengar di play list nya Ryan" Louis mengangguk, sesaat kemudian ia mulai bersenandung menyanyikan lagu nya. Louis menatap Fia lekat, mengurung bayangan Fia di dalam matanya yang coklat keemasan mirip warna madu, yang ditatap pun hanya bisa membisu, bahkan tidak bisa berkedip.
'But how do you expect me to live alone with just me? 'cause my world revolves around you it's so hard for me to breathe. Tell me how i'm supposed to breathe with no air, can't live, can't breathe with no air, it's how i feel whenever you ain't there, it's no air, no air.
Got me out here in the water so deep, tell me how you gonna be without me, if you ain't here i just can't breathe, it's no air, no air.
Fia mengerjap, nafasnya yang tadi sempat tertahan kembali berhembus. Fia bukannya bodoh dan tidak tahu maksud Louis menyanyikan itu, Fia tahu dan sadar dari tatapannya Louis bahwa pria yang ada dihadapannya itu sedang terluka, Sejak dulu Louis selalu berperan menjadi tangguh dan bisa di andalkan, tidak pernah sekalipun menunjukkan kelemahan, karena itu Fia selalu bersandar padanya, selalu bergantung padanya, percaya bahwa apapun yang terjadi padanya semua akan baik-baik saja selama ada Louis disampingnya, Tapi sekarang Fia tidak mengenali pria tangguh yang masih menatapnya nanar tanpa bersuara, pria itu tampak rapuh.
Setelah diperhatikan Louis memang terlihat lebih kurus, ada garis hitam samar di bawah mata coklatnya yang terang nyaris seperti warna emas, ya. Louis masih tampan tak bercela tapi awan mendung menaungi nya hingga Louis yang biasanya berpendar indah kini redup cahayanya, ada apa dengan Louis, apa ia bersedih atas pernikahan Fia dan Ryan?.
*tring...
tring*...
Dering ponsel Fia menghentikan kata-katanya, Fia melihat layar dan tertulis My Precious disana, Fia menimbang-nimbang haruskah ia angkat telponnya, Fia melirik ke Louis dan ponselnya bergantian.
"Angkat saja" Kata Louis, Fia pun menggeser icon hijau bergambar gagang telepon di ponselnya.
"Halo.."
"Sayang, sedang apa? lama sekali angkat telponnya, aku kangen"
"Oh, aku sedang makan malam, kamu sudah makan?"
"Aku baru sampai kamar, pekerjaan ku banyak sekali"
"Jangan terlalu keras bekerja, nanti kamu sakit, ingat pernikahan kita sebentar lagi lho"
"Justru aku melakukan ini agar nanti kita bisa bulan madu dengan tenang tanpa gangguan" Walaupun Fia tidak bisa melihat wajah Ryan tapi Dia tahu Ryan memasang ekspresi nakal disana. Fia sendiri pun sudah bersemu merah.
"Kamu makan malam dimana, seperti ada suara musik"
"Aku makan diluar bersama Kak L" Jawab Fia jujur, ia lupa mengabari Ryan soal Louis.
"...." Hening beberapa saat diseberang sana, namun hembusan nafas Ryan masih terdengar.
"Yan..." Tanya Fia ragu, ia takut Ryan marah.
"Besok kita ketemuan, ada yang mau aku tunjukkan ke kamu"
"Oke, jam berapa?"
"Bebas"
"Mm.. Sampai ketemu di hotel"
"Jangan pulang malam-malam " Fia mengangguk tanda setuju meski Ryan tak bisa melihatnya,
"I love you" Lanjut Ryan
"Aku juga"
"Apa?" Fia menghela nafas lalu melirik Louis sesaat dan berbisik
"I love you too"
Louis mendengus halus mendengarnya, tapi memilih menulikan telinganya.
Setelah selesai makan Fia diajak berjalan kaki ke gedung LA grup, Satpam disana tersenyum ramah dan membukakan pintu seolah sudah tahu Louis akan datang, Fia sendiri heran kenapa Louis mengajaknya ke sana malam-malam begini, gedung berlantai 15 itu sepenuhnya milik LA grup, lantai 1 dan 2 adalah divisi penjualan, lalu ada divisi pemasaran, divisi riset dan pengembangan, seterusnya sampai lantai paling atas yaitu tempat Louis berkantor.
"Selamat malam, Pak" sapa salah satu Satpam, Louis hanya mengangguk tipis, Fia yang berjalan dibelakangnya tersenyum canggung.
"Ini kita mau ngapain kak? ada kerjaan yang belum selesai?"
Tanya Fia, memang apalagi alasan orang malam-malam datang kekantor?
"Jangan ribut". ketus Louis.
Mereka menaiki lift dan Louis menekan lantai paling atas.
"Sebenarnya aku mau dibawa kemana?"