Hey Sofia

Hey Sofia
Ada gadis yang ku suka




*** seperti langit yang menunggu pelangi setelah hujan, seperti itu aku mencintaimu***


°°°


Sofia berlari menuju gerbang sekolah, lupa dengan teman-teman nya yang menunggu diparkiran, ia terkejut dan melambatkan langkahnya heran dengan kerumunan anak-anak yang belum pulang sekolah berkumpul di satu titik, anak laki-laki berbisik serta anak perempuan berteriak histeris, beberapa anak ada yang sibuk mengambil foto, mereka seperti sedang berada di sebuah konser musik idola mereka, fia menengok ke sumber kehebohan itu berasal,


seorang pria berkaca mata hitam dengan setelan jas tiga lapis dan long Coat bersandar di Porsche hitam yang terlalu mencolok untuk diparkir di sekolah, ia diam sambil memainkan ponselnya tak bergerak, mirip seperti patung di museum madam Tussauds, ia seakan tak terpengaruh dengan kericuhan yang disebabkan olehnya tapi fia tak bisa menyalahkan mereka, fia pun berdebar melihat kesempurnaan Louis sebagai seorang pria yang seakan tak bercela, fia melangkah setengah berlari menghampiri Louis, Louis yang sadar akan kehadiran fia berdiri menjulang tinggi di hadapan fia,


fia mendongak dan menahan napas saat Louis secara anggun membuka kaca matanya dan kehebohan pun semakin menggila di belakang fia, Louis bertingkah seolah tak ada kericuhan yang terjadi karena kedatangannya atau mungkin dia memang sudah terbiasa dengan 'situasi selebriti' seperti ini.


fia ingat beberapa tahun lalu saat ia masih menjadi murid baru dan Louis adalah seniornya, suasananya mirip seperti ini, fia sering melihat para gadis diam-diam mengambil fotonya dan menjadikannya wallpaper ponsel mereka, bahkan teman sebangku fia waktu itu menjadikan foto Louis sebagai photo profil pada aplikasi chat nya, dulu para gadis akan berkumpul membicarakan Louis seakan ia selebriti papan atas.


###


putri melihat Ryan dan fia berjalan berlawanan dari tempatnya memarkirkan mobil, seharusnya mereka pergi bersama ke cafe dengan mobilnya,


putri dan yang lainnya menunggu dengan tidak sabar sementara Ryan dan fia berbicara dengan seorang pria tampan mirip Ryan hanya sedikit lebih tua, jarak mereka tidak terlalu dekat tapi putri bisa membaca gelagat Ryan yang berubah masam saat fia memberi perintah padanya, Ryan melepas tangan fia tapi wajahnya cemberut dan masuk ke mobil pria itu, apa ini artinya Ryan tak ikut?


Ayu mulai mendesak karena cuaca di parkiran lumayan panas, Ryan dan pria itu pergi meninggalkan fia berdiri seperti orang bodoh disana, saat putri mengira fia akhirnya datang, ia malah berlari menjauh setelah terlihat sedang menelpon seseorang,


hah anak ini benar-benar.....


putri menghela napas, akhirnya putri dan yang lain mengejar fia dengan mobilnya,. begitu mereka melewati kerumunan para gadis yang menggila mereka pun melihat fia sedang bicara dengan seseorang, dari jauh putri melihat pria yang bersama fia dan tidak bisa mengendalikan jantungnya, semakin mereka mendekat Semakin keras jantungnya berdentum dug dug dug dug saking kencangnya seolah jantung putri mau melompat keluar dari dadanya dengan paksa dan itu menyiksa.


Kanaya Putri Jasmine, adalah seorang siswa SMA yang juga seorang model, kecantikannya seperti maskot sekolah, ia teramat cantik dan pria yang mengantri untuknya bisa mencapai 2 lingkaran mengelilingi sekolah, namun putri tak mudah jatuh cinta, fia hanya tahu ia pernah menyukai Ryan dan sekarang sepertinya putri tak bisa mengalihkan pandangannya pada Louis,


°°°


bukannya pergi ke cafe seperti yang direncanakan, mereka malah ke restoran pinggir pantai dengan Louis yang entah bagaimana ikut bersama mereka, setelah perkenalan singkat di depan gerbang tadi Louis memesan private room sesuai dengan wataknya, ruangan itu berisi meja persegi panjang dengan 6 kursi yang mengelilingi nya, di ruangan itu terdapat kaca besar menjulang tinggi dengan pemandangan laut berada dibaliknya dan beranda untuk menikmati pemandangan nya, Louis dan fia duduk di bangku satuan saling berhadapan, dan putri, gema, Rani dan ayu, masing-masing berada di sisi mereka.


hidangan mewah diatas meja terlihat menggiurkan, tapi buat putri Louis adalah yang paling menggoda, ia melirik Louis secara diam dan elegan hampir tak kentara sama sekali, suasana private room cukup santai dengan percakapan ringan mereka selama makan, sesekali mereka tertawa dengan lelucon Rani yang selalu berhasil mencairkan suasana, walau pun Louis tetap dengan wajah datarnya tapi sesekali ia tersenyum tipis di sela-sela makannya mendengar tawa fia akibat lelucon Rani, karena merasa suasana sudah lebih rileks, Rani dengan berani bertanya pada Louis sesuatu yang juga sangat ingin diketahui oleh putri


"kak Louis, sudah punya pacar?" Louis tampak tak terganggu, Putri menyimak sama seperti yang lainnya, mereka hampir yakin kalau Louis pasti punya pacar dan kemudian jadi penasaran seperti apa gadis yang bisa memikat hati Louis


"belum..." jawabnya singkat,


fia melihat Louis yang tanpa ekspresi dan tanpa sengaja melirik ke arah Putri, ada binar tersembunyi di sudut matanya, orang asing pun tahu arti tatapan itu, sedang fia sudah lama mengenal Putri dan senyum yang tertarik sampai kebelakang itu tak pernah fia lihat sebelumnya, senyum itu apa untuk Louis? fia tertunduk dan mendadak jadi gelisah


"serius kak?" Rani yang tak percaya beralih ke fia.


"fia, kak Louis beneran ga punya pacar?" fia mengangkat kepala, semua mata tertuju padanya, fia melihat sekilas pada seringai di wajah Louis yang puas dengan kebingungan fia, ia memutar otak membalas Louis


"mana ada yang mau, muka judes gitu"


Louis terkekeh tanpa suara, Louis tak terpengaruh dan semakin membuat fia jengkel


"tapi ga mungkin kan ga ada yang di suka, siapa gitu....?"


Louis menaruh pisau dan garpu nya, kedua jarinya membentuk kepalan besar yang menopang dagunya, Louis melihat tajam ke arah fia yang kembali tertunduk, fia mengangkat kepala melihat putri dan kembali tertunduk


"ada gadis yang aku suka"


fia mendongak ke arah Louis dan berharap dalam hati Louis tidak se nekat itu, tidak setelah putri sudah jatuh cinta padanya. setelah puas menusuk fia dengan tatapan tajamnya, Louis bersandar ke belakang dan berkata pelan hampir berbisik dengan wajah tertunduk suara bergetar Louis berkata


"tapi sepertinya ia tidak melihatku"


"siapa dia kak? siapa namanya?"


fia semakin kehabisan napas, angin laut yang panas membuat keringatnya sebesar biji jagung, mereka saling bertatapan untuk waktu yang cukup lama, fia menggeleng dengan gerakan tipis dan hanya Louis yang sadar, Louis tersenyum dan menoleh ke arah Rani untuk menjawabnya


"aku panggil dia 'tas punggung'"


yang lain tertawa mengira louis bercanda tapi hanya fia yang berpikir....


dulu sekali, fia pernah mendengar kata tas punggung, saat itu mereka berjalan pulang dari sekolah, hari itu sangat panas dan fia bermandikan keringat, fia mengeluh sepanjang perjalanan dan itu membuat Louis pusing, fia yang dulu sangat manja dan juga berisik, maka Louis memboyong fia di punggungnya, itulah saat pertama kali Louis memanggilnya 'tas punggung'.


°°°°


Maya Angelica Wijaya dan ayahnya Bara Wijaya, wajar jika Ryan curiga, mereka tinggal diluar kota tidak mungkin mereka datang hanya untuk makan siang, Ryan memandang Ray yang sedang berbincang santai setelah selesai makan siang, Maya menyesap teh nya seakan itu teh paling enak,


"Ryan..." Bara memanggil Ryan


"gimana sekolah kamu?"


"lancar om?"


"rencananya kuliah dimana?" Ray dan Ryan saling lirik, mereka memang belum bersepakat soal ini? Ray baru akan membuka mulut sebelum Ryan memotongnya tanpa mengalihkan pandangan


"Ryan kuliah disini om" seakan menantang, Ray mengangkat satu alisnya sudut bibirnya berkedut menahan marah, lalu tersenyum sinis sebelum berkata


"kamu tahu Ryan, Maya mengikuti kelas akselerasi dan sekarang dia sudah lulus, banyak universitas dalam dan luar negeri yang menawarkan beasiswa untuk nya, Maya benar-benar gadis hebat, selain cantik dia juga sangat pintar, ini baru calon menantu idaman papa"


mendengar itu Maya tersedak dan tertunduk, Ryan bisa melihat telinganya memerah, "kenapa Maya? kamu mau kan jadi menantu om?" Ryan menatap Ray tak percaya, matanya bergetar dan warna putihnya berubah merah menahan amarah.


dengan tersipu malu Maya mengatakan hal yang membuat rahang Ryan jatuh ke meja, "kalau itu terserah om aja"


jari-jari ryan melengkung membentuk kepalan, kukunya terbenam keras hingga meninggalkan bekas merah, bagaimana bisa Ryan tidak dimintai persetujuan saat jelas-jelas ini menyangkut dirinya, Kini Ryan tahu maksud sebenarnya sang papa mengundang mereka makan siang, Ryan menolak pergi ke Jerman dan ini yang Ray lakukan padanya, Ryan benar-benar dipojokkan, ia tak di beri pilihan dan apapun pilihan yang diberikan Ray, fia sama sekali tak ada di dalamnya, napasnya seketika memburu menahan ledakan emosi, ia menutup mata dan bernapas perlahan sampai ia bisa mengendalikan dirinya


"Maya , bisa kita bicara berdua saja?"


###


Di restoran itu terdapat rumah kaca berisi berbagai macam dan jenis bunga, letaknya terpisah dari tempat mereka makan jadi mereka bisa berbicara secara pribadi, Ryan memasuki pintu yang seluruhnya dari kaca dengan Maya yang mengikutinya dari jarak dekat, hingga saat Ryan berhenti tiba-tiba wajah Maya membentur punggung Ryan yang keras, Ryan berbalik dan melihat Maya mengusap hidungnya serta dahinya berkerut tapi Ryan tak menghiraukan kesaktiannya, pada dasarnya Ryan punya kepribadian yang hangat dan ramah tapi entah kenapa hari ini ia cepat kehilangan dirinya, apapun itu jika menyangkut dia emosinya seolah meledak-ledak, dan Ryan saat ini sekuat tenaga meredam api yang ditimbulkan Ray,


"apa maksudmu tadi?" tanya Ryan


"soal apa?" Ryan menghela napas kesal, ia yakin Maya pasti tahu apa yang dimaksudnya, jadi Ryan hanya akan langsung ke inti nya,


"Ada gadis yang aku suka"


"lalu, masalahnya apa?" Maya mengangkat bahu dengan ekspresi polos, Ryan menutup matanya mencoba bersabar lalu membuka kembali dengan tatapan tajam,


"kita bahkan tak saling kenal, bagaimana bisa kau terima untuk dijodohkan? aku kira kau gadis yang mandiri dan modern"


Maya tertawa tipis dan menjawab Ryan dengan santai masih dengan wajah polos,


"Ryan, kita bukannya akan menikah besok, kita masih punya banyak waktu untuk saling mengenal, sejak pertama kali kita bertemu aku tak bisa berhenti memikirkan mu, aku sangat menyukaimu, beri aku kesempatan, aku yakin kau akan menyukaiku jika kita bisa lebih dekat"


"sudah kubilang, aku sudah punya kekasih"


"Ryan sadarlah...!! kita bukan dari keluarga biasa, tak peduli dengan siapa atau berapa banyak kekasihmu, kau akan tetap menikah dengan gadis pilihan papa mu, gadis yang setara dengan mu dan bisa menunjang karirmu"


"kau pikir menikah sama dengan bisnis?


"dalam kasus kita iya...."


Ryan tercengang betapa Maya begitu terus terang dan mengatakan langsung apa yang ada di pikirannya


"kau pikir saat ini hanya kau yang punya kekasih? apa kau Dengan polosnya berpikir bahwa wajah seperti ku....." Maya menunjuk membuat lingkaran didepan wajahnya sendiri.


"..... hanya mempunyai satu kekasih? tapi aku memilihmu karena aku benar-benar menyukaimu"


"kau gila"


" bagaimana aku bisa gila? apa mengejar sesuatu yang kusuka berarti kau gila?"


"aku takkan menyetujui ini dan kau bisa berhenti berharap mulai dari sekarang!!" Ryan maju dua langkah hingga tepat dihadapan Maya, jari telunjuknya mengarah ke Maya, "kau...." lalu mengarah padanya ".... dan aku" lalu Ryan menyimpan kedua tangannya di saku celana, berkata dengan suara pelan namun jelas dan tajam


"takkan pernah ada"


Maya terdorong ke belakang selangkah saat Ryan dengan sengaja membenturkan bahunya ke Maya, Maya melihat Ryan keluar dari pintu kaca itu, punggungnya tegap sempurna. Dengan penolakan Ryan itu justru menambah bahan bakar di semangat maya yang berapi, ia adalah orang yang kompetitif dan Ryan seperti tropi yang harus ia menangkan, senyum tersungging di wajah cantiknya lalu berkata untuk dirinya sendiri.


"kita lihat saja nanti, aku atau kau yang menyerah?"