Hey Sofia

Hey Sofia
Bahaya



Halo readers 😊


semoga ga bosen ya sama cerita Hey Sofia.


terima kasih sudah membaca


semoga suka


 


Author POV.


Fia tidak bisa fokus selama pelajaran berlangsung, dalam perjalanan pulang pun dia masih melamun sampai tidak sadar kalau Ryan meneriakkan namanya


"Bunga !!!"


Fia merasa kan tangannya ditarik kebelakang dengan sangat kasar dan tiba-tiba hingga ia kehilangan keseimbangan, sedetik kemudian sebuah motor dengan kecepatan tinggi lewat tepat di tempat Fia tadi berdiri. Fia terjatuh pasrah


Bruk


Tubuh Ryan menghantam keras jalan ber aspal, terdengar erangan yang ditahan saat Fia jatuh diatas tubuhnya, matanya memejam menahan sakit akibat beban berat Fia, tangan kanannya menahan kepala gadis itu di dada nya dan tangan kiri memegang pinggangnya, Ryan memeluk Fia erat meski ia juga kesakitan.


Fia mengangkat kepalanya dan melihat ekspresi kesakitan Ryan, ia berguling turun dari tubuh Ryan setelah ia sadar kalo dirinya lah penyebab kesakitan Ryan. Fia membantu nya bangun, Ryan langsung mengamati Fia dari atas kepala sampai kaki begitu Ryan mendapatkan tenaganya kembali, terlihat jelas dimata Ryan betapa ia sangat mencemaskan gadisnya itu.


"Kamu ga pa-pa? ada yang sakit ga?" tanya Ryan panik, sebenarnya dia merasa nyeri di bahu akibat tangannya ditarik tapi apa Fia akan jadi orang egois yang mengeluh sementara Ryan sudah menyelamatkan nya


"Harusnya kan aku yang tanya itu, kamu ga pa-pa?"


"Aku baik-baik aja, yang penting kamu ga terluka, lain kali jangan bengong gitu ya"


"iya" jawab Fia sambil tertunduk


"Aku takut setengah mati tadi"


Fia teringat pesan teror di ponsel nya tadi pagi, apa ini yang di maksud orang itu? serius dia senekat ini?


ya, ini pasti dia, motor itu melaju kencang tanpa menoleh meski ia tahu ia hampir mencelakakan orang lain atau memang itu lah tujuannya, mencelakakan Fia?


Fia sempat bimbang, sesuatu yang lebih buruk bisa saja terjadi padanya jika ia masih berhubungan dengan Ryan atau dia mengikuti kata-kata si peneror itu dan putus dari Ryan?


tapi itu mustahil Fia lakukan, ia tidak bisa jauh dari Ryan, orang itu sudah menguasai hati dan tersangkut dipikirannya tanpa bisa keluar. Ryan begitu baik dan menyayangi Fia, sampai Fia berpikir kalau itu tidak nyata, Ryan membuatnya merasa istimewa dan berarti, ia tak mau kehilangan perasaan ini, ia tak mau kehilangan orang yang ia cintai, entah bagaimana pikiran takut kehilangan memberikan keberanian untuk Fia menghadapi semua ancaman dan teror demi memperjuangkan cintanya.


Setelah kejadian itu, sudah 3 hari Fia tidak mendapatkan pesan teror atau ancaman, dan juga tidak ada kejadian berarti, mungkin kah orang itu sudah menyerah? tapi akan selalu ada hujan sebelum datang pelangi, itu yang tidak Fia ketahui


Hari itu sudah jam pulang sekolah tapi Ryan masih di sibukkan dengan ekskul basketnya, jadi Fia dan teman-teman nya menunggu di kantin, sejak Fia menceritakan tentang insiden motor waktu itu, Fia tidak pernah ditinggal sendirian, pasti selalu ada yang menemani nya bahkan ke toilet sekalipun. Fia beruntung punya teman yang sayang padanya


mereka sedang menikmati makanan mereka saat seorang gadis dengan tubuh mungil menghampiri mereka, ia mengatakan pada Fia kalau Ryan sudah menunggu nya di depan gerbang,


ini aneh


dalam batin Fia, jelas-jelas Fia bilang akan menunggu nya di kantin, setelah menyampaikan pesan, ia langsung beringsut pergi seperti terburu-buru.


tak ada satu pun dari teman-temannya pernah melihat gadis mungil itu.


***


Fia berpisah dengan teman-temannya dan berlari menemui Ryan di gerbang sekolah, baru saja melangkah keluar gedung sekolah, tiba-tiba tangan kanan Fia ditarik ke belakang punggung nya dan mulutnya di bungkam sehingga Fia tidak bisa bersuara, "Ikut gue kalo Lo mau selamat" itulah kata-kata yang dibisikkan ke telinga Fia, lalu Fia di dorong paksa ke belakang sekolah, ternyata sudah ada dua orang yang menunggu mereka di sana. Fia dilempar ke tanah dan terjatuh cukup keras, kedua lutut nya mengenai kerikil kecil tajam yang merobek kulitnya hingga darah mengalir dari sana, Fia merasakan perih di kakinya. ia merasa pusing dan gemetar ketika melihat darah... betapa Fia takut dengan darah. Fia mencoba menyadarkan dirinya karena ada bahaya yang lebih besar dari sekedar takut darah, Fia berhasil memaksa dirinya berdiri, kini mereka berhadapan.


"Siapa kalian?!"