Hey Sofia

Hey Sofia
The world that i live in is you




_to love you until my last breath_


****


"Kalau begitu, Fia pamit dulu"


Fia bangkit untuk bersiap pergi dan meninggalkan setengah hati nya untuk Louis, ia berhak marah, ia berhak untuk memintanya pergi dan Fia berkewajiban untuk memenuhinya.


"kau sudah selesai?"


"hah..?"


"siapa namamu?"


obat apa yang kakak minum hingga membuatnya amnesia?


"apa?"


"aku tanya siapa namamu?"


aku tidak mengerti arah pembicaraan ini tapi aku akan mengikuti arusnya, aku mau tahu apa yang mau dilakukan kakak.


"Sofia.."


Louis menjulurkan tangannya yang di sambut oleh Fia.


"halo Sofia, namaku Louis"


ah tangannya panas.


"halo... Louis..."


"kau sudah mengatakan semua yang ingin kau katakan dan aku mengerti, sekarang dengarkan kata-kata ku"


Louis menarik tangan Fia agar mendekat padanya, Fia menatap mata coklat Louis dan menahan napasnya,


"bagaimana kalau kita lupakan semua dan mulai dari awal, tak ada beban, tak ada Sakit hati hanya ada Louis dan Sofia, setuju?"


aduh, kenapa mataku tiba-tiba perih?


"kau menangis?"


"tidak...!! ini karena debu"


"debu ya? bukan karena kau terharu?"


"Fia bilang tidak....!!!"


Fia mengelap matanya yang mengemban sebelum itu sempat jatuh ke pipi dengan selimut Louis,


"kenapa kakak sangat baik dan pengertian?"


"kau menyesal kan memilih Ryan dan bukan aku?"


"tidak....!!"


"jangan bohong....."


"kak.....!!!"


aku sadar aku takkan bisa memilikimu seperti yang aku inginkan tapi ijinkan aku berada di sisi mu dan menyayangimu dengan kemampuan ku, melihatmu bahagia saja sudah cukup, aku tak mau mengeluarkan mu dari kepalaku karena itu adalah satu-satunya tempat dimana aku bisa memilikimu untuk diriku sendiri.


****


Samar-samar Ryan bisa mendengar suara tawa Fia dari dalam kamar, tanpa sadar Ryan tersenyum, itu adalah pertama kalinya setelah beberapa lama Sofia seperti patung dan hanya Louis yang bisa menghidupkan kembali Fia, walaupun itu melukai harga dirinya tapi itulah kenyataannya, Sofia yang ada dalam ingatan masa kecil Louis berbeda dengan Sofia yang sekarang jadi milik Ryan, seperti ada dua jiwa dalam satu tubuh yang bernama Sofia, memikirkan itu Ryan jadi kesal, masa ia harus berbagi Sofia dengan Louis?


Diam-diam Sony memperhatikan ekspresi wajah Ryan, Sony adalah profesional yang tahu bagaimana bersikap di hadapan orang lain, ia tidak membenci Ryan tapi juga tidak menyukainya, orang yang berada di hadapannya adalah sumber dari kesengsaraan yang Louis derita selama ini, bagi Sony salah satu orang yang terpenting dalam hidupnya adalah Louis, ia sudah seperti adik untuk nya, memberikan teh dan tersenyum pada Ryan hanyalah bentuk kesopanan Sony,


Dengan mataku sendiri aku melihat Louis merasakan cinta dan kerinduan yang mendalam namun harus menahan sakit karena memendam perasaannya, setiap penolakan Fia menghancurkan Louis tapi entah bagaimana caranya Louis selalu menemukan cara untuk bangkit dan mengejar Sofia lagi, ia selalu punya tenaga untuk melindungi Sofia dari apapun yang mungkin melukainya tanpa peduli bahwa ia sendiri juga bisa terluka dalam prosesnya. apa bocah ini bahkan tahu bagaimana mencintai dengan tulus dan tanpa pamrih? aku yakin cintanya tak ada seujung kuku dari cinta Louis pada Sofia.


Ryan menangkap basah Sony yang sedang menatapnya tajam dari balik kacamata bingkai emas tipis nya, Ryan adalah tipe yang berterus terang dan jujur, ia langsung bertanya pada Sony karena ia paling benci di perhatikan.


"apa yang aku lihat?"


"aku malah mau bertanya, apa yang Sofia lihat darimu hingga ia menolak Presdir, jelas Presdir lebih unggul disegala bidang, Presdir lebih tampan, lebih mapan dan lebih mengenal Sofia, ia tahu bagaimana memperlakukan Sofia dengan baik dan yang terpenting tak ada masa lalu yang menyakitkan di antara mereka"


"apa maksud mu?"


Sony tersadar ia terlalu banyak bicara, ini bisa berbahaya dan ia mengalihkan pembicaraan.


"ehem.... maksudku adalah apa kau bisa melindungi Sofia?"


"bicaralah terus terang, kau mulai menyebalkan"


"bagaimana dengan orang yang menyerang Sofia, apa kau sudah tahu siapa dia?"


"polisi belum menemukannya, tak adanya CCTV dan saksi disana membuatnya sulit di lacak"


"bagaimana kalian menemukannya? apa yang kalian lakukan? kenapa polisi tidak tahu soal ini?"


Sony menjawab pertanyaan Ryan dengan senyuman puas yang menyebalkan, menunjukkan tidak beegunanya Ryan dan omongan tentang 'melindungi' Fia hanyalah tong kosong belaka, Sony memperbesar jarak Ryan dengan Louis dan itu membuatnya kesal.


"apa kalian..... membunuhnya?"


"kami bukan kriminal, tapi ya, dia mendapat ganjaran yang pantas, kami memasukkan nya di Rumah Sakit Jiwa, di satu ruangan khusus tanpa pengunjung dan di pastikan tidak akan bisa keluar sampai akhir hidupnya, kau sadar sekarang apa yang mampu dilakukan Presdir pada orang yang berani menyentuh Sofia nya?"


Sofia nya dia bilang?


"siapa orang itu?"


"haruskah ku beri tahu?"


"katakan saja sialan!! siapa orang itu?!"


"baiklah, baik. akan kuberi tahu karena aku murah hati, dia adalah teman satu sekolah kalian, namanya Rendy"


Mata Ryan bergetar saking terkejutnya, jari-jarinya membentuk kepalan besar, ternyata ia sudah lengah


aku selalu tahu Rendy itu brengsek tapi tidak menyangka ia juga menjijikkan, bagaimana Louis bisa tahu itu dia? terlebih lagi bagaimana Louis bisa memasukkan nya ke Rumah Sakit Jiwa? Louis lebih mengerikan dari yang kukira, jika bunga sampai tahu, apa pemujaan nya terhadap Louis akan berubah jadi kengerian?


###


*apa yang sebaiknya kulakukan? ini kesempatan bagus untuk memberi cacat di kesempurnaan Louis tapi bunga tak bisa berhenti tersenyum sejak kembali dari apartemen Louis kemarin, mana tega aku merusak kesenangannya? untuk saat ini akan kusimpan saja, terkadang ketidaktahuan adalah senjata paling ampuh.


Bunga paling cantik saat mekar, untuk bunga yang satu ini kalau ia tersenyum, bahkan setelah tubuhnya berkeringat karena berlari di treadmill.


kaus oversize nya basah dan menempel di kulitnya yang cemerlang terkena lampu sorot Gym yang ada di rumahku.


ah sial, dia seksi sekali*


Ryan mengelus dadanya, mengira dengan begitu jantungnya bisa berdetak dengan lebih santai, Ryan terlalu meremehkan Sofia yang sedang dalam masa transisi menjadi gadis dewasa yang mempesona, semakin ia melihat jantungnya malah semakin tak terkendali seolah memaksa untuk keluar dari dadanya. Ryan sangat ingin memeluknya sekarang atau sedikit mencium nya atau banyak, namun ia mengambil napas dan membawa akal sehatnya kembali ke jalur lambat sebelum ia benar-benar lepas kendali,


"yank, cukup"


Ryan mengambil handuk besar dan menutupi Fia dari kepala.


"kamu ngapain? aku ga bisa lihat"


"mandi sana, aku tunggu di bawah untuk sarapan"


Ini adalah situasi berbahaya bagi Ryan, semakin lama Fia dirumahnya semakin buruk bagi kesehatan jantungnya, Ryan berencana untuk bicara dengan Fia dan mengirimnya kembali ke rumah jika Ryan ingin panjang umur.


Disekolah, cerita tentang Rendy sampai ke telinga Fia hanya saja berbeda versi, orang tua Rendy datang ke sekolah dan mengatakan Rendy harus pindah keluar kota, terakhir mereka bertemu tidak dengan keadaan baik, fia merasa sedikit bersalah karena sudah kasar padanya, hal itu membuat Ryan muak, bagaiman Fia bisa merasa kasihan pada sampah menjijikkan itu? Ryan mengingat percakapan nya dengan Sony dan kenapa ia memutuskan untuk menyimpan rahasia ini.


Beberapa hari yang lalu di apartemen Louis.


"kalian berencana menyembunyikannya dari bunga?"


"itu adalah pilihan terbaik"


"omong kosong!!! bunga berhak tahu tentang ini"


"kurasa itu bukan tindakan yang bijak, Sofia punya hati yang baik namun juga rapuh dan jika Sofia tahu penyerangnya adalah orang yang ia kenal, bukankah ia akan lebih terluka?"


"tahu apa kau tentang bunga? ia lebih kuat dari yang kau kira, kau bahkan tidak mengenalnya!"


"itu benar, tapi Presdir yang paling mengenalnya diantara kita berdua disini dan aku percaya pada penilaiannya, pikirkan baik-baik, melindungi rahasia ini berarti melindungi Sofia"


Itu hanya alasan karena Louis takut bagaimana bunga akan bereaksi pada hal ini, itulah yang Ryan pikirkan, Rendy memang bersalah dan ia pantas dihukum tapi memasukkannya ke Rumah Sakit Jiwa itu berlebihan, fia berhak tahu kebenarannya dan Ryan akan menjadi orang yang akan mengatakannya.




.


.


.


.


.


.


.


.


.


Happy Sunday and happy reading 🤗