Hey Sofia

Hey Sofia
Ten Years of waiting, i still love you




Times that i spent without you.... it's torture


###


"kau sudah selesai?"


"ya"


"wow, ini sangat indah, kemampuanmu berkembang jauh lebih baik"


"pemandangan di Danau ini tidak pernah berubah meski sudah 10 tahun berlalu"


"kenapa kau suka sekali menggambar Danau ini, seperti yang kau bilang Danau ini tidak berubah, jadi secara teknis kau menggambar hal yang sama selama 10 tahun"


"karena aku suka Danau ini"


Karena di sinilah kencan pertama ku dengan Ryan, masih bisa kulihat bayangan Ryan berbaring di rumput dan aku mengagumi kesempurnaannya, aku ingat perasaan berdebar saat wajahnya sangat dekat dengan wajahku, aku ingat pertama kali Ryan menggenggam tanganku dan aliran listrik menjalar ke seluruh tubuhku atau bagaimana Ryan meminta ijin untuk menciumku dan bagaimana kakiku menjadi lemas setiap kali ia melakukannya, semua pertama kali ku menjadi miliknya, bilang aku gila tapi terkadang saat aku tidur, aku bisa merasakan hangatnya tubuh Ryan di punggungku, seakan ia memelukku dari belakang..... bagaimana aku bisa lupa?


"hey, kau melamun lagi? ayo pulang"


"iya..."


Louis membereskan perlengkapan melukis Fia, sementara Fia duduk di mobil menunggu Louis, Fia tak bisa menahan untuk menatap langit yang siang itu sangat terang, awan berkelompok dan bergerumul di satu tempat membuat bentuk-bentuk abstrak sempurna dan indah, bagi Fia bentuknya menyerupai wajah seseorang.


Bagaimana jika aku lebih berani dulu? jika aku menahan Ryan dan ia tak harus pergi. akan seperti apa hidupku sekarang?, sudah 10 tahun berlalu, apakah Ryan masih sama? wajahnya.. suara tawanya ... atau bahkan tingkahnya yang terkadang seperti anak kecil, bagaimana kabarnya?


Semua perlengkapan sudah dimasukkan ke mobil, Louis menutup bagasi mobil dan bergabung dengan Fia yang sudah menunggu di kursi penumpang.


"Semua sudah siap, sebelum pulang ayo kita makan malam, kau mau makan apa?"


"pasta?"


"kau membaca pikiranku"


Louis memarkirkan Audy nya di restoran yang membutuhkan reservasi sehari sebelumnya tapi Louis adalah VVIP, ia tak butuh hal sepele seperti reservasi, Louis selalu memilih private room karena ia tidak suka berbagi tempat dengan orang asing,


Setelah memesan makanannya, Fia permisi untuk ke toilet, di lorong toilet, Fia berpapasan dengan seorang wanita cantik,bertemu dengan wanita itu adalah hal yang paling ingin Fia hindari.


"Wah.. wah.. lihat siapa yang kutemui ini? sudah lama sekali, bagaimana kabarmu Sofia?"


"Teruslah jalan, tidak perlu menyapaku karena kita bukan teman"


Fia mencoba mengabaikannya, ia melewatinya tanpa melirik namun wanita itu menahan lengan Fia, mengambilnya dengan kasar


"Sudah 10 tahun berlalu dan kau masih menyimpan dendam? jika aku jadi kau, aku takkan mau bersama orang yang telah membunuh Ayahku, aku takkan Sudi memaafkannya, Ayahmu juga pasti akan menangis di kuburnya begitu tahu kau membela si pembunuh, aku ini menyelamatkanmu Sofia, seharusnya kau berterima kasih"


"Hentikan!! jangan bicara tentang Ayahku dengan mulutmu yang kotor itu"


"Jangan munafik Sofia, bukankah dengan perginya Ryan, kau jadi bebas mendekati Louis? dia juga tangkapan besar, dengannya kau tak perlu takut hidup susah, apa kau tidak sadar, huh? aku melakukan kebaikan untukmu"


"Aku tidak butuh belas kasihanmu"


"Cih,,!! kau dan harga dirimu itu"


Fia berhasil lepas dari cengkeraman nya dan hendak melangkah pergi meninggalkan wanita itu untuk melihat punggungnya


"Kau tahu, aku bersyukur Ryan kabur di acara pertunangan kami, Karen sekarang aku menikah dengan anak dari penguasa negeri ini, kau seharusnya melanjutkan hidupmu dan bahagia seperti aku"


Fia berbalik, menatap wanita itu dengan tajam,wanita itu tersentak ngeri, tak menyangka Fia bisa membuat ekspresi wajah yang sangat menakutkan


"Kau, mendapatkan kebahagiaanmu dari menghancurkan hidup orang lain, apa yang harus dibanggakan dari itu?"


Tatapan mata Fia melumpuhkan kaki wanita itu hingga ia tak bisa bergerak.


"Aku bertanya-tanya kenapa kau lama sekali, ternyata karena ini"


Louis datang dan mengambil posisi berdiri diantara kedua gadis itu


"Masuklah, aku akan berjaga didepan"


Fia awalnya ragu meninggalkan mereka berdua tapi ia harus benar-benar pergi ke toilet, lagipula hal buruk apa yang mungkin terjadi?


"Sampai kapan kakak bersikap seperti ini padaku?"


Louis mengambil sebatang rokok, mengapitnya diantara dua bibir. mengeluarkan pemantik namun berhenti sebelum api membakar nya, ia baru ingat sedang berada di restoran maka ia memasukkan lagi rokoknya dengan kesal, Suasana hatinya sudah buruk saat ia melihat Maya dan semakin buruk saat ia tak bisa merokok.


"Kak, kita dulu sangat dekat, hanya karena hal sepele kakak menjauhiku, aku menyingkirkan Ryan, aku membuka jalan untuk kakak, sekarang Fia sendirian Dan kalau kakak tak bisa mendapatkan hatinya jangan lampiaskan kemarahan kakak padaku"


Brak...!!!


Maya menghantam tembok di belakangnya dengan keras hingga menimbulkan bunyi dentuman, Louis mendorong Maya hanya dengan satu tangan, Maya berusaha melepaskan diri namun Louis terlalu kuat, sorot matanya yang seperti terbakar membuat Maya tak bisa bergerak.


"Kau harus belajar cara menutup mulutmu itu atau aku yang akan menutupnya dengan paksa"


"Kak, lepaskan aku"


Maya mulai merasa kesakitan di dadanya karena tekanan dari Louis, ia berontak tapi tenaganya bukanlah tandingan bagi Louis.


"Sekali lagi kau sakiti Sofia, aku takkan segan-segan, aku diam karena Sofia yang memintaku tapi jika kau berulah lagi, aku akan melakukan hal mengerikan padamu tanpa Sofia perlu tahu"


"Kak, kau berubah dan semua itu karena dia, kau juga melakukan ini demi dia!!"


"Bahkan jika Sofia masuk ke dalam neraka, aku akan menjemputnya dan mengeluarkan dia dari sana meski aku yang harus menggantikannya, apapun takkan pernah cukup untuk nya"


"karena itu... jangan berurusan dengan orang gila seperti aku"


Louis melepaskan Maya saat ia sudah mulai sesak, tak ada rasa kasihan sedikitpun dari Louis saat Maya terjatuh ke lantai, ia terbatuk-batuk dan mencoba untuk bernapas


"Pergilah sebelum Sofia melihatmu dan jangan pernah tampakkan lagi wajahmu itu di depan Sofia"


Louis tak pernah kasar terhadap wanita, ia terancang untuk selalu bisa mengendalikan emosi dan selalu memasang wajah datar tapi 10 tahun adalah waktu yang lama untuk seseorang bisa berubah, dalam 10 tahun Louis menyaksikan sendiri bagaimana Sofia berjuang dalam keputusasaan, Sofia adalah definisi sempurna dari mayat hidup. Fia mengurung diri di kamar, ia hampir selalu terbangun di temgah malam sambil meneriakkan nama Ryan, Fia tidak menangis, tidak tertawa atau bicara sampai ketitik Louis berpikir fia sudah mati rasa, akan lebih baik jika Fia menangis,paling tidak Louis tahu Fia sedih tapi Fia yang seperti itu membuat Louis bingung.


Membujuk Fia keluar rumah dan melanjutkan hidupnya adalah perjuangan tersendiri bagi Louis, di saat Fia mencobanya dan tak jarang berakhir dengan kegagalan, itu semakin membuatnya jatuh dalam lubang depresi.


Fia drop out dari kampus, kehilangan separuh berat badannya hingga harus di rawat di RS karena malnutrisi, ancaman Louis untuk memberitahu Lily tentang keadaan Fia berhasil membuat Fia bangkit, Fia kembali kuliah dan bertemu dengan teman-teman barunya, meski begitu Fia tidak pernah sama seperti dulu, ketika Louis berpikir Fia baik-baik saja justru di situlah puncaknya.


Suatu hari Fia berdiri di depan rumah Ryan, ada tulisan 'For sale" terpampang di depan gerbang, entah sudah berapa lama Fia berdiri disana memandang rumah yang dipenuhi kenangan antara ia dan Ryan. Rumah itu adalah satu-satunya harapan mungkin Ryan akan kembali, itu seperti tali yang menghubungkan mereka, sekarang tali itu putus, harapan Fia untuk kembali bertemu Ryan sudah benar-benar hilang, lalu untuk apa selama ini Fia bertahan? menanti Ryan untuk kembali datang hanyalah harapan kosong? mungkin Fia takkan pernah bisa bertemu lagi dengan Ryan.


Ketakutan itu menggerogoti Kepala nya yang kosong, Fia tak bisa berpikir apa-apa lagi, bahkan Fia tak bergerak sedikitpun saat hujan deras mengguyur nya, Fia benci hujan dan ia tak tahan dingin tapi hatinya jauh lebih sakit ketimbang itu semua, seluruh tubuhnya menggigil dan bibirnya membiru.


Gambaran keadaan Fia saat itu selalu menghantui di setiap mimpi buruk Louis, karena itu ia berjanji dengan dirinya sendiri untuk menjaga Fia dari apapun yang mungkin bisa membuatnya sedih apapun itu, Louis tak peduli jika ia harus melawan seisi dunia jika itu memang diperlukan untuk melindungi Fia.


Cara Fia bersembunyi dari rasa sakit dan kesepiannya adalah dengan menggambar, 5 tahun lalu Fia berhasil menjadi Webtoon artis di salah satu aplikasi membaca kartun ternama yaitu 'wowtoon'. Karyanya lumayan diminati dan memenuhi kuota pembaca serta like yang di butuhkan untuk bertahan menjadi author disana.


Daylight star adalah judul Webtoon Fia yang sudah memasuki season ke 4, ceritanya tentu saja terinspirasi dari Ryan, Daylight Star lah yang membuat Fia bisa bertahan,




Fia tiba dirumah hampir tengah malam, Louis berpamitan dan membawa Audy nya pergi, sedang Fia masih berdiri disana sampai Louis menghilang dari pandangannya, mata Fia lalu terpaku pada sosok bayangan berdiri dibawah tiang lampu jalanan, Fia selalu melihat bayangan Ryan dimanapun seperti itu adalah hal yang biasa, dalam bayangan Fia, Ryan tampak lebih dewasa, ia tumbuh lebih tinggi dengan proporsi tubuh yang sempurna, dada yang lebar dan tampak kuat, bahkan dalam gelap Ryan masih sangat mempesona.



*Apakah Ryan akan terlihat seperti itu setelah 10 tahun berlalu?apa jika aku bertemu dengannya aku akan langsung mengenalinya? oh.... aku bahkan membayangkan nya tersenyum, mana mungkin aku bisa melupakan senyuman yang bisa membuat jantungku berdebar sampai sekarang*,



"Halo bunga, lama tak jumpa"



*Wow... bahkan sekarang aku bisa membuat bayangan berbicara, suaranya sama seperti yang aku ingat, delusiku sudah hilang kendali, aku bahkan belum tertidur tapi sudah bermimpi indah*.



Fia tertawa penuh ironi karena kegilaannya sendiri.



*Ini pasti karena aku terlalu merindukannya hingga aku benar-benar sudah menjadi gila sekarang*.



Fia kembali ke kenyataan dan berhenti membayangkan Ryan. Fia berbalik meninggalkan bayangan itu dan hendak kembali ke rumah namun sesuatu yang berat menangkapnya dari belakang



*Bagaimana bisa bayangan terasa sangat nyata dan sehangat ini? aku bisa merasakan napas panas di tengkuk leherku, delusi macam apa ini*?



Sudah jutaan kali Fia membayangkan hal seperti ini terjadi namun selalu berakhir dengan kekecewaan, Fia tak mau hanyut dalam khayalan indah itu lagi. Fia pun bergumam



"Aku pasti sudah gila sekarang, membayangkan hal yang tidak mungkin"



bayangan itu berbisik dengan suara rendah di telinga Sofia.



"kau tidak gila... ini aku, Ryan. aku pulang"



.


.


.


.


.


.


.


.


.


💜💜💜