Hey Sofia

Hey Sofia
Harus Bahagia




Langkah kaki Fia tidak pernah seberat ini, ia merasa sangat lelah seakan tenaganya terkuras habis, yang dikatakan Dokter David tadi sore seperti cerita dalam drama,


Itu semua tidak mungkin nyata kan? Hikikomori? percobaan bunuh diri? dan dua kali? melihat Ryan tersenyum kupikir dia hidup dengan baik tapi di balik senyumnya itu ada penderitaan luar biasa yang Ryan rasakan, selama ini kupikir aku yang paling menderita tapi walaupun begitu, aku punya teman-teman dan kak Louis yang mendukungku, menemaniku memberi semangat dan mengangkatku ketika aku jatuh, berbeda dengan Ryan, ia melalui penderitaan itu seorang diri, merasakan sakitnya dan menelannya, tanpa aku tahu apa yang terjadi aku mengusirnya, menolaknya, menghakiminya, dan mendorongnya jauh tanpa memberinya kesempatan, ya Tuhan.... kenapa aku begitu jahat dan egois?


Dari kejauhan, Fia melihat Ryan berdiri di depan rumahnya, bersandar dan menatap jendela kamar Fia yang gelap, entah apa yang ada di pikirannya, menunggu seseorang tanpa tahu kapan ia pulang, tanpa kepastian sampai kapan ia harus menunggu, hati Fia menjadi sakit ketika mengingat kata-kata Dr. David sore tadi.


***


"Begitu Ryan sadar, ia depresi karena merasa sangat bersalah dan menganggap dirinya adalah seorang penjahat, ia ingin meminta maaf padamu tapi tak punya muka untuk berhadapan denganmu namun ia juga tak bisa hidup tanpamu, Ryan mulai kehilangan kewarasannya dan melakukan percobaan bunuh dirinya yang pertama dengan cara menyayat pergelangan tangannya, untung saja Ray menemukan Ryan tepat waktu, kalau saja ia terlambat...."


Dr. David tak sanggup meneruskan kata-katanya dan Sofia tak berani membayangkannya, ia menahan tangis dengan mengepalkan tangannya menjadi bentuk bola dengan semua tulang yang menonjol di jari-jari nya.


"Yang kedua, Ryan meminum 30 butir pil tidur, ia benar-benar sangat beruntung bisa lolos dari maut. Ray putus asa dan memohon agar Ryan berhenti, Ryan melakukannya tapi dia mengunci diri dikamar selama 5 tahun, Ryan tidak pernah keluar, itu membuat Ray frustasi dan berdampak pada bisnisnya, itu juga alasan kenapa Ray menjual rumahnya"


Ini sulit dipercaya, Azkaisar adalah hotel berkelas internasional dengan kekayaan jutaan dollar, sekacau apa keadaaan disana?


"Tapi Ryan terlihat baik-baik saja dok, kalau itu semua benar, bagaimana dia bisa keluar dari depresi nya?"


"Itu karena kamu Sofia"


"karena saya?"


aku bahkan tidak tahu kabarnya selama di Jerman, bagaimana bisa itu karena aku?


"5 tahun yang lalu Ray menunjukkan Webtoon mu pada Ryan, lalu seperti mukjizat, Ryan menata kembali hidupnya, menjalani pengobatan dan menemui psikiater, Ryan menjadi hidup lagi seperti sekarang, itu berkat kamu"


kenapa aku sama sekali tidak tersanjung dengan pujian dr. David? bahwa Ryan sembuh karena aku? kenyataanya aku sangat sedih dengan semua penderitaan yang Ryan alami, hatiku. menjadi sangat sakit.


Perjalanan fia berakhir didepan Ryan,


"kau sudah pulang?"


kenapa aku menangis sesaat setelah kulihat wajah Ryan? apa aku bahagia Ryan sudah kembali atau karena kenyataan baru yang aku tahu ia sangat menderita?


"Apa yang ... kenapa kau menangis? apa kau sakit?"


Kecemasan Ryan terhadap fia hanya membuatnya menjadi semakin keras menangis.


"Sofia, kau baik-baik saja?"


"Aku sangat merindukanmu, selama 10 tahun aku menunggu mu bertanya bagaimana keadaanmu disana, apa kau baik-baik saja? aku mengacaukan hidupku karena selalu memikirkan mu, lalu saat kau kembali, entah kenapa aku jadi ragu, aku marah karena kau bisa tersenyum dan tertawa seakan perpisahan kita tidak berarti apa-apa untukmu, aku pikir kau tidak peduli, aku pikir hanya aku yang menderita karena saking rindunya"


Air matanya tidak bisa berhenti, itu mengalir secara alami seperti sungai deras dan Fia tak mau repot-repot atau berniat menghentikannya, itu sudah lama ia pendam, sebelumnya ia selalu menangis sendirian dalam gelap agar tak ada yang mengetahuinya, sekarang ia ingin menangis, mengeluarkan semua isi hatinya, bebannya yang selama ini ia tekan kuat-kuat agar tidak keluar dan menjadi liar.


Sulit bagi fia untuk bicara sambil menangis, air mata membuat pandangannya kabur, air matanya selalu menemukan jalan untuk masuk ke dalam mulutnya dan membuatnya tak nyaman, Fia mengusap air mata dengan telapak tangannya yang dingin.


"Tapi aku salah, apa yang kau alami lebih berat, kau pasti sangat menderita kan?"


"Kau... apa.. apa yang kau katakan? aku baik-baik saja"


"Berikan tanganmu"


"Kenapa?"


Ryan menyimpan tangannya ke belakang, menolak untuk memberikan nya pada Fia, Fia mengambil tangan Ryan dan menarik lengan bajunya ke atas, disana Fia melihat bekas luka sayatan, tidak panjang atau dalam tapi itu terlihat menyakitkan, hati Fia remuk, luka itu yang Ryan coba sembunyikan, Fia mengusap bekas luka itu dengan perasaan hancur.


"Pasti sangat sakit sekali ya?"


Ryan mengambil kembali tangannya dan menutupi jejak luka itu, walau dalam keadaan gelap tapi sekilas Fia bisa melihat ekspresi wajah Ryan, ia merasa malu


"Ini bukan apa-apa, sungguh"


"Aku... sudah mendengar semuanya"


"Apa? darimana kau tahu?"


"Apa itu penting sekarang?"


"Sofia..."


kata-kata Ryan sangat lembut dan penuh penyesalan.


"Maafkan aku.... kau pasti kesepian di sana, pasti sangat sulit bagimu kembali kesini dan berhadapan denganku, tapi yang kulakukan malah menjauhimu, mendorongmu jauh... Aku minta maaf"


"Jangan, ini bukan salahmu, aku yang seharusnya minta maaf untuk semua hal yang menimpa mu, kau kehilangan Ayahmu saat kau paling membutuhkannya, maafkan aku untuk semua waktu yang kau lalui tanpanya, dan semua rasa sakitmu.... itu semua karena aku"


Tangan Ryan terasa dingin di kedua pipi Fia, matanya bergetar saat ia meminta maaf


"Aku tidak berharap kau mau memaafkan ku, bahkan aku rela kau membenciku tapi tolong jangan jauhi aku, kau boleh membenciku tapi aku ingin berada di sampingmu, aku tidak bisa hidup.... benar-benar tidak bisa hidup tanpamu, aku tahu ini egois tapi tolong, ijinkan aku bersamamu"


Bagaimana aku bisa membencimu? aku hanya punya cinta untukmu


"Peluk aku..."


"Apa?"


Bukannya mencaci maki aku tapi Fia malah ingin aku peluk?


"Bisakah kau memelukku?".


***


Kami berbaring dan hanya saling memandang untuk waktu yang lama, kami membicarakan semua hal dan ketika kami kehabisan kata-kata, kami hanya memandang satu sama lain, ini terasa seperti mimpi, Ryan ada di hadapanku.


"Kenapa lama sekali kau kembali?"


"Aku ingin menjadi lebih kuat untukmu, aku ingin kau bisa mengandalkanku, bersandar padaku, aku ingin menjadi pelindungmu, maaf membuatmu lama menunggu"


Napas Ryan yang hangat menyapu wajah Fia, mereka cukup dekat sampai Fia bisa mendengar setiap hembusan Napas yang keluar dari mulut Ryan.


"Tidak, kurasa melepasmu adalah keputusan yang tepat saat itu, kau mendapat perawatan terbaik disana"


"Aku ingin menebus semua waktu kita yang hilang"


"Bagaimana caranya?"


"Katakanlah apa yang kau inginkan, apapun itu aku akan penuhi permintaan mu"


Banyak yang ingin Fia lakukan tapi saat ini kepalanya dipenuhi dengan kebahagiaan sehingga ia mengatakan apapun yang terpikirkan olehnya.


"Aku ingin berkeliling melihat pemandangan kota di malam hari"


"Permintaan macam apa itu?"


Apapun yang kulakukan, kalau itu bersama denganmu, aku suka"


Ada semburat warna merah di pipi sampai ke telinga Fia, ah... dia malu, ekspresi yang selama 10 tahun ini hanya bisa aku mimpikan


Ryan membelai pipi Fia, mencoba menghapus warna merah itu tapi malah semakin membuat pipinya memerah, Fia menurunkan pandangan matanya dan mengatur napasnya yang sesak secara diam-diam, sentuhan Ryan yang tiba-tiba membuat paru-paru nya menggelepar.


"Kau sangat menggemaskan"


Mengetahui Fia merasa malu, Ryan menyembunyikan wajah Fia dalam pelukannya yang hangat, caranya memberitahu Fia bahwa jantungnya juga berdegup liar, bahwa bukan dia satu-satunya yang gugup, Ryan juga merasakan hal yang sama.


"Aroma mu membuatku gila"


"Oh, maaf aku belum keramas"


"Aku merindukan aroma ini"


"Kau rindu aku yang belum mandi?"


"kenapa? aku hanya merindukan apa yang menjadi milikku"


"Bagaimana bisa aromaku menjadi milikmu?"


"Semua yang ada di dirimu adalah punyaku, milikku, hanya aku, kau keberatan dengan itu?"


Fia mengangkat kepalanya dan menatap wajah Ryan sambil tersenyum, Ryan mencium kening Fia dalam dan lama, ciuman itu lembut sampai membuat sekujur tubuh Fia merinding.


"Apa yang kau pikirkan?"


Tanya Ryan sambil terus mengusap pipi Fia dengan ibu jarinya


"Apa kita boleh bahagia seperti ini?"


"Tentu saja, aku akan membuatmu sangat bahagia sampai kau berpikir sedang berada di alam mimpi, tapi ini kenyataan, aku akan lakukan apapun agar kau tersenyum, aku akan berikan dunia dan seisinya dalam pangkuanmu jika kau memang menginginkannya, apapun yang kau minta"


"Apapun itu?"


"Apapun itu"


Ryan menegaskan, wajahnya tenang namun kata-katanya penuh dengan kesungguhan, entah kenapa Fia ingin mempercayainya, kalau Tuhan mau berbaik hati padanya, mereka akan diberikan kesempatan untuk merasakan bahagia setelah semua yang mereka lalui bersama, mereka adalah dua benang yang terpisah, takdir yang mengaitkan mereka menjadi satu, kali ini biarkan mereka bersatu.


"Ya, kita harus bahagia"


.


.


.


.


.


.


.


Hope you like it.... episode yang kepending lama banget... maaf membuat kalian menunggu 🙏🏻🙏🏻🥰🥰