Hey Sofia

Hey Sofia
selamat pagi Ryan



Lagu itu melekat dikepalaku, sepanjang jalan kesekolah aku terus mendendangkannya, aku tidak pernah benar-benar memperhatikan sekitarku, aku tidak ingin menjadi anak yang menarik perhatian, aku hanya ingin melewati masa-masa SMA ku tanpa konflik dan perselisihan, ya begini saja lebih baik.


Seseorang bersandar di gerbang sekolah, apa ada shooting iklan disekolah ku? dia model yang tampan badannya tinggi dengan kaki jenjang tapi model itu memakai seragam sekolahku. Apa sekolah kami sedang membuat iklan untuk promosi sekolah? eh, model itu melambaikan tangan dan tersenyum ke arah sini. apa aku akan masuk tv?


"Bunga, Selamat pagi!!" teriaknya dr jauh.


lho dia memanggil namaku ya?


Lalu dia berlari kecil menghampiri ku


"Baru datang, dari tadi aku tunggu lho".


Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena silau oleh cahaya matahari yang ada dibelakangnya tapi aku ingat suara itu dengan jelas. Suara yang berat namun terdengar lembut, ya. Itu suara milik Ryan. dan memang hanya dia yang memanggilku Bunga.


Uh... aku benci dipanggil dengan nama itu.


"Kenapa?". Tanyaku seraya menghentikan langkah untuk melihatnya sambil memicingkan mata, aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa.


"Iya, kenapa ya?" Ryan menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal dan memamerkan deretan gigi putihnya yang rapih.


"Pengen aja nungguin kamu kangen kali ya"


Lanjutnya sambil tertunduk dan sesekali melirik ke arahku untuk melihat reaksiku.


Apa dia malu?


Aku menggeleng kepala, mengusir pikiran aneh itu. Bagaimana aku harus bereaksi jika tiba-tiba ada yang mengatakan itu padaku? apa aku harus senyum? tapi nanti dia salah paham. Disituasi ini seharusnya aku harus bersikap sopan kan? Tapi bersikap sopan itu yang seperti apa?


Ah... aku payah dalam hal ini.


Akhirnya aku hanya berjalan tanpa memperdulikan nya. Ryan berjalan beriringan di sebelahku, sepertinya dia menunggu reaksi dariku, bisa kulihat dari ekspresi wajahnya.


"Kau tahu jika ada dua orang yang berbicara salah satunya harus membalas itu namanya komunikasi dua arah"


kenapa sih dia mengikuti ku? eh tapi kan kita searah


"memang harus dijawab apa?"


"Ha... Ha... Ha... kamu itu benar-benar polos ya".


Aku menatapnya sekilas dan memilih mengabaikannya, sudahlah anggap tidak dengar apa-apa...


Sesampainya aku dikelas.


"Fia, selamat pagi"


Sapa sang ketua kelas cantik, Mona memang selalu ramah pada setiap orang, mungkin itu yang membuatnya disenangi guru dan juga murid-murid di sekolah ini. Sudahlah pintar, cantik, ramah dan tidak sombong. Paket komplit.


"Selamat pagi" Kubalas sapaannya.


"Selamat pagi Ryan"


Aku menoleh kebelakang mendengar Mona menyapa Ryan, sejak kapan dia dibelakang ku?


"Pagi Mona" balasnya ramah.


Aku duduk ditempat nyamanku begitu juga Ryan. Aku tidak ingat Ryan duduk di sebelahku.


Aku dan ketidakpedulian ku.


Ryan mengeluarkan earphone nya, bersandar santai di bangkunya dan mulai menikmati apapun itu musik yang didengarnya... Dia penyendiri .. dalam hal ini kami sama


Pagi ini kami disambut dengan Quiz dari pak Tinjak. Seisi kelas ramai dengan protes anak-anak karena mereka belum siap, Pak Tinjak bukan guru killer seperti kebanyakan guru fisika tapi dia sangat menikmati menyiksa murid-murid kesayangannya, semakin anak-anak protes dan memohon semakin puas beliau tertawa.


Ku Perhatikan Ryan santai dengan Quiz ini, aku ingat dia adalah juara umum di sekolah ini pasti mudah baginya mengerjakan Quiz ini. Ryan itu tampan dan pintar tak bisakah dia lebih sempurna dari ini?


Author POV.


Fia cukup yakin dengan jawabannya, bagaimana pun dia ranking 10 dari satu sekolah mungkin dia bisa menjadi juara umum jika dia mau sedikit lebih berusaha tapi Fia tidak ingin menonjol, ia hanya ingin melewati masa SMA ini dengan tenang. Masih ada 15 menit sampai pelajaran berikutnya. Pak Tinjak sudah keluar dan meninggalkan kelas dengan kericuhan. Fia lihat Ryan kembali asyik dengan earphone nya, bernyanyi pelan sambil memutar-mutar pensil dengan jari-jari lentiknya. dalam hati Fia berpikir bahkan jari-jarinya saja cantik, refleks Fia melihat jari-jarinya yang kecil dan kurus, sebagai perempuan Fia malu dan mengepal tangannya.


Jam pelajaran berikutnya adalah bahasa Indonesia. Pak Arif yang juga merupakan wali kelas membagikan form karir karena ini adalah tahun terakhir mereka sebagai anak SMA, bagi Fia menerima form karir 10 kali lebih menakutkan dari Quiz fisika tadi, ia dihadapkan oleh Kenyataan bahwa ini lah saatnya memikirkan masa depan, dulu Fia dengan tanpa ragu akan menulis komikus karena dia sangat suka menggambar tapi sudah lama sejak Fia menggambar, tangannya pasti sudah kaku sekarang. Lalu apa yang akan fia lakukan dimasa depan? Fia harus menggantikan ibu menjadi tulang punggung nantinya, jari-jarinya gemetaran matanya memerah dan dadanya sakit menahan air mata. Fia menghapusnya sebelum sempat menetes...


Dari mana seh datangnya debu ini? mataku kan jadi perih.