Hey Sofia

Hey Sofia
Penyelinap cantik



halo readers 😊


happy weekend and happy reading 🤗


____________________________________


"ini bukan mimpi, ini aku fia"


Ryan membuka mata dan semua yang ia bayangkan berubah menjadi kenyataan, kepala nya benar-benar ada di pangkuan fia dan fia benar-benar ada di hadapan nya, ryan mendongak dan dengan mata yang kabur karena air mata ia bisa lihat dengan jelas kalau itu fia, kekasih hatinya datang menemui nya, ia tidak ditinggalkan, perasaan nya seketika melompat kegirangan, sebuah senyuman tertarik di wajah tampannya


"ini bener kan? ini bukan mimpi?"


cup


fia mencium kening Ryan lembut dan lama,


"rasanya gimana?" tanya fia


kini Ryan dalam posisi duduk, sengaja ia lakukan agar bisa dengan mudah memeluk fia,


"rasanya nyata"


jawab Ryan dengan penuh kegembiraan.


***


Ryan jadi lebih tenang setelah fia memberinya segelas susu hangat, ia sudah berbaring nyaman di ranjangnya, semakin nyaman dalam pangkuan fia, usapan fia di keningnya membuat Ryan sedikit geli tapi itu terasa menyenangkan.


"kau sudah lebih baik?"


"Hem.... kamu kok bisa kesini?"


"tadi di telepon omongan kamu aneh, aku jadi takut terus buru-buru kesini, ponsel ku sampai jatuh tau!"


"kamu bisa tau passcode rumah aku dari mana?"


"Dasar pikun, kan kamu sendiri yang kasih passcode nya ke aku, udah tua ya? sekarang aku mau panggil kamu bapak aja lah"


Ryan tersenyum, ia senang dengan usaha fia mencoba membuatnya melupakan kesedihan nya


"iya, kamu boleh panggil aku apa aja yang kamu suka asal kamu seneng"


"Duh... bapak hari ini penurut banget sih, gemes deh"


cubitan fia di pipi Ryan sama sekali tidak membuat nya sakit,


"aku seneng, aku udah kasih passcode ke kamu, makasih ya udah dateng"


"aku pacar yang baik kan?"


"iya , kamu pacar yang baik, kamu jadi istri aku aja lah... mau ga?"


"tergantung, seberapa baik kamu sama aku"


"iya, aku percaya"


"Aku kira tadi kamu bosen denger keluhan aku"


"masa aku kayak gitu, kamu bisa cerita apa aja sama aku, aku bakal dengerin semuanya".


Ryan sangat beruntung ada fia disamping nya, dulu jika ia mimpi buruk, ia hanya bisa menangis sendirian, kini tidak lagi, Ryan berjanji dalam hati nya akan memperlakukan fia dengan sangat baik agar Fia tidak pergi dari nya.


"jangan tinggalin aku ya" pinta ryan sedikit memohon,


"aku mau kemana seh? aku kan udah


jadi tawanan cinta kamu"


"tsk... kamu belajar gombal dari mana seh?"


cup


fia kembali mencium kening Ryan.


"dari kamu"


Ryan mengangkat tangan menyentuh pipi fia dan mengelus nya lembut.


"kamu ga pulang? ibu kamu gimana?"


"tadi aku keluar diam-diam, biasanya hari Minggu ibu bangun siang" fia melirik jam di dinding, sudah hampir satu jam fia di sana.


"aku akan pulang sebelum jam 6, bapak istirahat ya"


Ryan tak tahan untuk tertawa kecil ketika fia memanggilnya bapak


"kamu mau pulang sekarang juga boleh, aku udah ga pa-pa"


fia menggeleng tajam


"mau tunggu bapak tidur dulu baru aku pulang"


"ok"


fia membelai rambut Ryan, menyisir nya dengan jari tangan, rambut Ryan sehalus sutra, fia iri dibuatnya.


"mau aku nyanyiin lagu?"


"Hem... mau" Ryan memejamkan matanya lelah, kali ini dia pasti bisa tidur nyenyak.



"couldn't feel much better than the way i feel tonight, feels like i could live forever, feels like i could fly, when i thought i'd got it wrong you somehow make things right.


that's the way you make me feel, better than i've ever known it, better than its ever been, i cant seem to control it. the way you make me feel, like the sun coming up in the morning, like holding the world in your hand, in the way i could never imagine, the way you make me feel...."