Hey Sofia

Hey Sofia
Kesempatan Dari Tuhan



halo readers 😊😊


maaf baru bisa update sekarang 🙏🙏🙏


untuk yang masih setia menunggu kelanjutan hey Sofia... terima kasih banyak banyak pake banget banget.


i purple you


happy reading 🤗🤗


-------------------------------------------------------


**What's best for you doesn't mean it's best for me.


It's gonna be as easy as breathing if you're with me**.


***


Begitu Louis sampai di parkiran apartemennya waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, ia langsung menuju lift khusus penghuni dan menekan tombol yang membawanya ke lantai paling atas, penthouse Louis terdiri dari 2 lantai, di bawah terdapat ruang tamu besar dengan sofa besar yang menyambut begitu memasukinya, sedikit lebih ke dalam ada meja makan besar dengan jendela di satu bagian sebagai dindingnya, di balik bagian dinding nya yang lain berdiri dapur yang luas dan sangat bersih, menunjukkan dapur itu tidak pernah digunakan, di lantai atas terdiri dari 2 kamar yang masing-masing sama besar nya, semua yang ada di penthouse Louis itu besar dan luas, Louis sendirian duduk di sofa nya dan tidak pernah merasa begitu kesepian seperti sekarang,


Louis memijat kepalanya yang tidak sakit, ia tidak yakin apa yang ia rasakan, sekujur tubuhnya nyeri tapi ia tak tahu di mana pusat rasa sakitnya,


sebelum pergi Louis sempat melihat fia menarik Ryan masuk ke rumahnya lewat kaca spion tengah, Louis merasa sangat iri tentang itu, dia adalah Louis Arthur jr. pewaris satu-satunya dari LA grup, sebuah perusahaan bernilai ratusan juta dollar yang mampu mempengaruhi gejolak perekonomian suatu negara.


Dia Louis Arthur jr yang ketampanan nya sebanding dengan Dewa-dewa dalam mitologi Yunani, Louis memiliki alam semesta ditangan nya tapi bagaimana ia bisa iri dengan anak SMA seperti Ryan? ya, Louis memiliki semua harta di dunia, tak ada yang tak bisa ia beli dan bahkan banyak wanita mengantri untuk nya, tapi ia tak memiliki apa yang benar-benar didambakan nya, seseorang yang menjadi tujuannya mengambil arah yang berlawanan dengannya dan bersama orang lain, tidakkah ini ironis? ia punya segalanya kecuali Sofia?


Louis sangat mengenal fia, sejak dulu ia tahu apa yang ia mau dan ia tak mudah terpengaruh, meski jauh di dalam lubuk hati Louis, ia percaya Sofia juga mencintai nya, ia hanya terlalu setia pada Ryan. Oke, sejak kapan setia menjadi sesuatu yang buruk?


padahal akan semudah seperti bernapas jika fia memilih Louis,


Louis merasa kosong di perutnya, oh iya, dia tak sempat makan malam tadi, meski perih ia tak merasa ingin makan, Louis mengambil sebatang rokok untuk dihisap dan menghilangkan rasa gelisah nya, ia bangkit menuju beranda dan udara dingin langsung menusuk sel-sel nya begitu ia membuka jendela, tapi itu tak menghentikannya untuk terus berjalan, sesampainya diujung teras Louis melihat pemandangan kota dari atas penthouse nya, pelan-pelan Louis menikmati rokoknya walau bibirnya berkedut bekas dipukul Ryan. setelah puas merokok ia kembali ke dalam langsung menuju kamar dan mandi sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk tidur.


Louis membuat dirinya sibuk dengan meeting dan pertemuan bisnis, Sony sudah biasa dengan ritme kerja Louis yang cepat tapi kali ini ia benar-benar bekerja seperti orang gila sampai Sony pun kewalahan, mau bagaimana lagi? ia harus memikirkan sesuatu yang tak ada hubungannya dengan Sofia, Louis harus tetap waras dan memikirkan Sofia membuatnya hilang akal,


Malam harinya louis menghadiri sebuah pesta di salah satu hotel ternama, David Stronghold, tuan rumah pesta itu adalah anak dari teman dekat sang Ayah, Louis pribadi tak terlalu dekat dengannya meski mereka sudah saling mengenal sejak kecil, David hanyalah seorang anak manja penggila pesta dan juga seorang pamain ahli, dia sering berganti-ganti wanita semudah berganti baju, Louis memang butuh untuk disibukkan tapi datang ke pesta ulang tahun nya tidak pernah ingin ia lakukan jika bukan karena ayahnya yang meminta, seperti pesta-pesta yang pernah ia gelar sebelumnya, pesta sekarang juga sangat besar dan meriah, dihadiri banyak tokoh-tokoh penting masyarakat dan juga selebriti terkenal.


Louis duduk di sudut yang agak jauh dari keramaian, ia terlihat kecil duduk di sofa besar berbentuk 'U' dan jendela mozaik raksasa di belakangnya, Louis mirip raja yang sedang duduk di singgasana nya,


suasana ditempat nya duduk agak redup kecuali ada cahaya dari sinar bulan yang menembus kaca mozaik itu sehingga wajah Louis tampak berwarna-warni, ada kepulan asap putih yang secara teratur keluar dari mulut Louis, ia bersandar di sofa dengan kepala menatap langit-langit


ia merasakan tubuh nya akhirnya berontak setelah beberapa hari dipaksa bekerja diluar batas kemampuannya, mungkin ia terlalu keras dengan dirinya sendiri, pagi itu waktu Louis mendapat pesan text dari fia yang menanyakan apa ia baik-baik saja, ia mengerti arti pertanyaan itu di maksud kan untuk luka yang ada di bibirnya dan fia juga meminta maaf atas nama Ryan, bocah kecil anak SMA itu benar-benar beruntung, dia mendapatkan cinta fia, meraih kesetiaan fia, menikmati kasih sayang fia yang berlebihan dan sekarang ia bahkan mewakili nya meminta maaf, tak lupa fia juga merawatnya dengan penuh perhatian.


Awalnya bagi Louis, fia bersama Ryan adalah suatu kesalahan, ia sampai memikirkan bagaiman cara untuk memisahkan mereka tapi setelah Louis melihat ketulusan Ryan dan cinta fia yang dalam, Louis jadi tidak tega lalu kemudian berpikir untuk merelakan nya,


Bukankah kebahagiaan fia adalah yang utama? Louis bilang ia sanggup melakukan apapun untuk terus menaruh senyum di wajah fia lalu kenapa tak sekalian saja ia membebaskan fia untuk mencintai lelaki pilihannya tanpa Louis harus menariknya dan membuatnya kebingungan seperti malam itu.


Demi Tuhan, Louis tidak menyesal menciumnya, yang ia sesali adalah kenapa memaksanya, Louis pernah bertahun-tahun hidup tanpa fia dan walaupun itu menyiksa tapi ia masih bernapas dan bertahan, tidak menutup kemungkinan ia bisa melakukan nya di tahun-tahun ke depan.


mungkin inilah waktunya Louis benar-benar melepaskan fia, Louis menghisap kembali rokoknya, mungkin karena terlalu dalam ia pun menelan asap nya dan terbatuk, ia meluruskan duduknya untuk mematikan rokoknya di asbak dan minum untuk meloloskan tenggorokannya, alkohol yang ia minum tidak meredakan rasa gatal di kerongkongan nya yang kerontang, maka ia mengambil sebotol air mineral yang tersedia di meja dan menghabiskan semua airnya tak bersisa, di saat ia menaruh kembali botol itu, seseorang memanggil namanya


"kak, Louis?" Louis mendongak dan melihat seorang gadis berdiri dengan anggun di hadapannya, karena suasana nya redup dan gadis itu berdiri membelakangi cahaya Louis jadi tak mengenali wajah nya, mata Louis menyipit penuh tanya tapi mulutnya tertutup.


"kau benar kan kak Louis?" Louis memang tak bisa melihatnya dengan jelas tapi suara yang berdentang seperti lonceng itu tak pernah ia lupakan, lagipula ingatan Louis setara dengan gajah, begitu Louis menyadari gadis yang ada di depannya, ia tak bisa menahan untuk melihat sekitar dan menyapu ruangan itu dengan mata penuh curiga, seperti mencari seseorang yang tak ia ingin untuk ditemukan,


gadis itu menangkap gelagat Louis dan menyadari satu hal, ia tertawa kecil dan berkata "tenang kak Louis, kak Anna ga ada disini kok" mendengar itu Louis pun merasakan suatu kelegaan, Anastasia, teman kuliahnya dulu yang selalu menempel dan bergelayut di tangan louis memang sangat mengganggu, terakhir mereka bertemu adalah saat Louis mengajak fia makan malam di restoran fine dining, pertemuan mereka itu tak menyenangkan, malahan membuat Louis kesal karena ia merendahkan fia di depan wajahnya tapi berbeda dengan adiknya, ia sangat cantik, anggun dan luar biasa pintar, gadis ini beberapa kali lompat kelas, mengikuti kelas akselerasi dan menjadi mahasiswi termuda di universitas yang sama tempat Louis kuliah sewaktu di London dulu.


gadis itu mengambil tempat di samping Louis sebelum ia mengatakan sesuatu tapi tindakannya tidak membuat Louis terganggu, ia malah bergeser agar gadis itu bisa duduk dengan nyaman, suatu tindakan yang tak berguna mengingat sofa itu sangat besar.


"kak, apa kabar?"


"baik, kamu sendiri gimana kabarnya?"


"sehat kok, kapan kakak kembali ke Indonesia?"


"lumayan lama, memangnya Anna tidak cerita kalau kami pernah bertemu?" gadis itu berpikir sejenak dan mengingat-ingat sebelum menjawab


"mm... kayaknya ga deh, kakak buat kak Anna kesal lagi ya? kalau ga dia pasti cerita kalian pernah bertemu"


Louis menyesap minuman nya dan tersenyum sinis dengan wajah puas


"kak, jangan terlalu jahat sama kak Anna"


"kamu... sama siapa ke sini? Louis menghindari pertanyaan itu dengan pertanyaan lain, jelas ia tak senang membahas soal Anna dan gadis itu pun tak memaksa Louis.


"sama calon mertua" wajahnya memerah tapi senyum nya menunjukkan bahagia


"kamu mau menikah? apa tidak terlalu muda?"


walau pun ia pintar dan matang secara pemikiran tapi ia tetaplah gadis kecil yang usianya sama dengan fia


"ga sekarang juga nikahnya, pertama kita akan tunangan dulu dan setelah dia lulus sekolah baru kita menikah"


Louis tahu dibalik jubah keglamorannya dan semua perhatian yang ia dapatkan atas kejeniusannya, ia hanyalah gadis sentimentil yang bermimpi tentang pangeran berkuda putih yang datang dan berlutut untuk meminta nya,


"so, who's the lucky man? do i know him?"


"i don't know if you know him, but he is the son of the owner this hotel"


jantung Louis sempat berhenti berdetak untuk sesaat, mungkin karena suara bising dari musik yang kencang Louis jadi tidak bisa mendengar dengan jelas penjelasan nya tentang calon tunangannya, maka Louis bertanya untuk memastikannya


"Hotel yang mana maksud mu?"


"Hotel ini, Azkaisar Hotel" butuh sedetik bagi Louis untuk mencerna kata-kata nya, ia mengangkat gelas berisi alkohol dan meminumnya seolah itu air putih, Louis terlihat setenang biasa tapi dalam hatinya berkecamuk hebat, andai dada ini terbuat dari kaca, orang lain pasti akan bisa melihat badai apa yang sedang mengamuk disana, ia begitu hanyut dalam pikirannya sendiri hingga tak menyadari gadis itu telah meninggalkannya karena merasa terabaikan,


Azkaisar Hotel adalah milik Raytama Aji Prasetya, dan ia hanya punya satu anak, yaitu Ryan Aji Prasetya, bagaimana ia bisa menjadi calon tunangannya Maya Angelica Wijaya saat ia masih berhubungan dengan Sofia?


Louis bergumam kata 'calon tunangan' beberapa kali sampai akhirnya ia mengerti situasinya, ini adalah sesuatu yang pasti datang dari kepala Ray, Ryan tidak mungkin mengetahui hal ini, membohongi dan menyakiti fia bukanlah karakternya,


Louis berjalan melewati pesta, membelah kerumunan orang dan menuju pintu langsung mengarah ke lobby hotel, ia bertanya kepada salah satu petugas pria yang berjaga di lobby


" selamat malam, ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya pria lobby itu ramah,


"Aku ingin bertemu dengan Raytama, aku tahu dia di sini jadi cepat telepon dia dan katakan Louis Arthur ingin bertemu"


Louis tidak meminta tapi ia memberi perintah, pria lobby itu merinding dengan sorot mata Louis yang tajam dan nada suara yang sedingin es.


Ray menyambut Louis dengan enggan tapi ia tetap memperlakukan Louis dengan ramah layaknya tamu, mereka duduk dengan kaku dan berbagi ke engganan yang sama, bedanya Louis tak kan tersenyum dengan orang yang tidak diinginkannya, persetan dengan norma dan sopan santun, setelah 30 menit dalam kesunyian Ray akhirnya membuka mulutnya


"ini momen langka, kau sendiri secara sadar datang kesini"


"jangan menyanjung dirimu terlalu tinggi, aku sedang ada di pesta teman di bawah dan secara kebetulan aku bertemu dengan..... Maya"


Ray sedikit mengerutkan dahi tapi dengan lihai ia mengendalikan dirinya, ia tak menyangka Louis mengenal Maya dan dengan reaksi Louis saat ini, ia mengambil kesimpulan bahwa Louis sudah tahu tentang rencananya, yah.... cepat atau lambat pasti berita ini juga akan terkuak jadi buat apa di tutupi lagi?


"gadis yang cantik bukan?"


"ya... dan ia juga calon menantu mu" Louis mengawasi setiap reaksi kecil Ray tak satupun ekspresi luput dari pandangan tajam nya, Ray sedang tak mau bersusah payah dengan wajah pokernya, maka seketika itu senyumnya menghilang, Louis tercengang dalam diam saat ekspresi Ray berubah menjadi ekspresi lelah, seperti sedang menanggung beban berat, jika louis tak mengenalnya maka Louis pasti akan merasa kasihan tapi Louis mengencangkan bahunya dan mengeraskan rahangnya, tidak, ini Ray, orang terakhir yang harus dikasihani.


"bagaimana dengan Sofia?" tanya Louis menuntut,


"om minta maaf Louis, om sudah berusaha untuk menjauhkan Ryan dari Sofia, bahkan om sudah mengancam nya tapi anak itu benar-benar keras kepala" sekilas terdengar rasa frustasi dari kata-kata Ray,


"tapi itu berarti akan menyakiti Sofia" Louis mengatakannya sambil menahan emosi hingga kata-kata nya terdengar seperti mengeram.


"sudah tak ada cara lain Louis, jika Ryan tak mau meninggalkan Sofia maka buatlah Sofia yang meninggalkannya, buat ia tak menginginkan Ryan dengan begitu Ryan tak bisa berbuat apa-apa selain merelakannya"


Louis diam tanpa emosi, di satu sisi Louis menyadari kebenaran dari kata-kata Ray tapi mengetahui kenyataan bahwa fia pasti akan terluka dan Louis diam saja benar-benar membuatnya gusar, itu sama saja membunuh wataknya, bukankah baru beberapa jam yang lalu Louis menyerah akan fia dan bersumpah takkan menaruh apapun di wajah fia kecuali senyuman,


Tuhan begitu berbelas kasih pada Louis dan memberikan kesempatan untuk nya memenuhi sumpahnya, melihat Louis diam tanpa ekspresi Ray lalu menambahkan


"mungkin akan sulit pada awalnya, tapi ini jalan terbaik bagi mereka berdua, kecuali kau ingin mengatakan kenyataan yang sebenarnya pada Sofia dan kau tahu itu akan lebih menghancurkan mereka berdua"


Louis memberikan senyuman sinis pada Ray,


"kau sama sekali tak perduli tentang Sofia, kau hanya memikirkan dirimu dan anakmu"


Louis bangkit untuk menuju pintu, ia merasa sesak disana, mungkin tadi Louis terlalu banyak menegak alkohol hingga kepalanya terasa pusing, sedikit udara segar sepertinya bukan ide yang buruk, Louis membeku di depan pintu keluar karena Ray secara mengejutkan meminta maaf sekali lagi dengan nada tulus,


"om benar-benar minta maaf Louis, tapi Ryan adalah satu-satunya keluarga om yang tersisa dan om akan melakukan apapun untuk melindungi orang yang om sayang"


Louis menoleh pada Ray untuk terakhir kali dan menatap nya dengan dingin


"begitupun aku...."


.


.


.


.


.


.


.


.


.