Hey Sofia

Hey Sofia
Si gadis kecil dan bocah laki-laki



halo readers 😊


happy reading 🤗


kita flashback dulu ya sebentar 😁


____________________________________


Ting tong....


Bunyi bel berdering di kediaman Darmawan. Si gadis kecil mengekor sang ibu yang hendak membuka pintu, ada sesosok wanita yang hampir secantik boneka berdiri dibalik pintu itu, bersama nya ada seorang bocah laki-laki, bocah itu menatap si gadis kecil dengan matanya yang coklat dan jernih, gadis kecil itu terpana, baru kali ini ia melihat mata secantik itu, ia bersembunyi di balik tubuh sang ibu, merasa yakin yang dilihat nya bukan lah manusia karena yang ia lihat mirip seperti boneka Kent miliknya.


" Halo, perkenalkan nama saya Renata dan ini anak saya, Louis. kami baru pindah ke sebelah "


sang ibu menyambut tangan wanita cantik itu,


" wah tetangga baru, nama saya Liliana dan ini anak saya Sofia "


Sofia, si gadis kecil tak bisa melihat yang lain selain Louis si bocah laki-laki, di mata nya hanya ada Louis seakan bocah itu adalah pusat bumi ini, dia hanya berdiri diam dan fia lah yang mengelilingi nya, saat itu fia tidak mengerti kenapa jantungnya berdetak sangat kencang seperti habis berlari seharian, gadis kecil berusia 7 tahun itu asing dengan perasaan baru nya, karena minim pengalaman hidup ia tidak tahu bagaimana harus bereaksi di depan bocah laki-laki itu, maka ia hanya mematung disana, reaksi fia justru buat Louis tak nyaman, ia menganggap fia gadis kecil yang aneh karena terus menatap nya,


fia terus teringat senyuman manis dan mata indah Louis, ia tidak mendengarkan dongeng pengantar tidur dari sang ibu karena kepalanya dipenuhi dengan Louis, ia benar-benar tersihir oleh mahluk itu, fia penasaran dan bertanya kepada ibunya,


" ibu, apa kak uwis itu bidadari? "


" maksud fia Louis ?" fia mengangguk,


Liliana menutup buku dongengnya dan menarik selimut untuk menyiapkan fia tidur.


" kalau laki-laki bukan bidadari namanya"


" terus apa Bu?"


Liliana berpikir untuk kata-kata yang tepat.


" malaikat "


" malaikat...? dia cantik banget ya Bu"


" bukan cantik sayang, tapi ganteng"


" oooo.... " ekspresi fia seperti baru dapat pencerahan.


" kak, uwis itu malaikat yang ganteng ya Bu "


Liliana hanya bisa tertawa dengan kepolosan gadis kecil nya.


Tak heran jika fia begitu terpesona, Louis lahir dari ibu asal Indonesia dan ayah dari Landon, Inggris.


ia mempunyai kulit putih sebersih salju dan rambut sehitam malam dengan mata coklat yang bersinar seperti bintang, ia adalah arti sebenarnya dari sebuah keindahan dan usia nya masih 13 tahun.


perbedaan usia 6 tahun tidak menghalangi mereka jadi akrab, ya walaupun buat Louis awalnya dia adalah gadis kecil yang mengganggu dengan sifat polos dan ceria nya, Louis adalah anak yang serius dan dengan fia ia menjadi lebih rileks,


melihat fia setiap hari di rumah nya membuat nya terbiasa akan kehadiran fia, bukan tanpa alasan fia berada disana, karena Renata sebenarnya menginginkan anak perempuan dan fia adalah anak kecil yang lucu dan menggemaskan. Renata sangat menyayangi fia seperti anak sendiri.


fia selalu bersemangat ke sekolah karena Louis, mereka pergi ke sekolah yang sama, fia akan menggandeng tangan Louis sepanjang perjalanan mereka ke sekolah, Louis pun tak keberatan soal itu, tanpa sadar Louis sudah menyayangi fia,


" kak uwis, kakak malaikat ya ?" tanya fia polos saat mereka dalam perjalanan pulang sekolah


" i'm not " jawab Louis santai


" kak uwis ganteng banget, apalagi kalau senyum "


" my name is Louis, bukan uwis "


" iya, uwis " Louis mengusap dahi nya, ia baru menyadari ternyata dia tidak bisa mengucapkan namanya dengan benar, jadi ia mencoba mengajari nya.


" loouiiss .."


" uuwiiss.. "


Louis mengelus dada nya mencoba sabar.


" apa tuh kak? "


" kamu bisa bilang 'L' ?"


" 'L' " jawab fia dengan lantang dan jelas.


" kamu sekarang panggil aku kak 'L' aja "


"kak L...?"


"iya..."


"kak L..!!"


"iya .....!!"


"fia suka"


***


satu hari orang tua Louis mendadak harus ke Landon untuk urusan pekerjaan, Louis tak bisa ikut karena harus sekolah dan tidak mungkin ia ditinggal sendirian di rumah, maka Louis dititipkan di rumah keluarga Darmawan untuk sementara, Louis sendiri hanya pasrah dengan keadaan nya, tapi orang yang paling senang ya fia tentu saja, ia malah berharap Louis akan tinggal selamanya di sana, fia terus menempel pada Louis dan heran nya Louis sama sekali tidak merasa terganggu, saat Louis baru pindah dia merasa kan culture shock yang membuat ia sulit beradaptasi, apalagi dengan sekolah dan teman-temannya, jangankan berteman, menyapa saja mereka enggan, selain Louis adalah anak ' bule' ekspresi wajah nya juga dingin, Louis dianggap anak yang sombong, tapi dia tidak kesepian karena ada fia,


Liliana memanggil Louis untuk turun karena sudah jam makan siang, di sana sudah ada fia yang duduk manis di meja makan, Louis duduk dengan nyaman seolah itu rumah nya sendiri. Louis akrab dengan makanan Indonesia karena Renata sering memasak makanan indonesia saat masih di Landon, Louis terlihat menikmati makan siangnya, Liliana sengaja membuatkan dessert kesukaan Louis, kastil puding yang ia pelajari dari Renata.


" Tante tau dari mana Louis suka kastil puding?"


" mommy kamu yang bilang, resep nya juga dari mommy kamu, gimana enak?"


"it's really good, thank you"


senyum puas tergambar jelas di wajah Liliana


" ibu, fia mau menikah sama kak L" kata-kata fia yang tiba-tiba membuat Louis tercengang sedang kan Liliana menanggapi nya dengan santai, buat nya itu hanya ocehan anak kecil yang tidak perlu di anggap serius,


" memang fia tahu menikah itu apa? "


" tinggal sama-sama kan, kayak ibu sama ayah, fia mau tinggal sama kak L"


" tapi anak kecil ga boleh menikah tuh"


jawab Liliana masih santai, padahal Louis sudah gemetar mendengar nya.


" boleh nya kapan Bu? "


" kalau sudah besar " fia berpikir sejenak,


" kalau gitu saat fia sudah besar fia mau menikah sama kak L ya Bu"


pinta nya penuh harap.


" kok tanya ibu, tanya kak Louis dong, dia mau ga?"


fia beralih pandangannya pada Louis


" kak L mau ya nikah sama fia nanti "


Louis menggenggam erat sendok nya, berusaha keras menelan puding yang tersangkut di tenggorokan nya, dengan terbata ia menjawab


"i..iya"


" janji ya kak"


untuk kedua kali nya Louis tercengang dengan keberanian fia,


" janji "


kata-kata itu terlalu mulus keluar dari mulut nya, ia bahkan tak tahu bagaimana kata janji bisa ia ucapkan dengan mudah, ia tak mengerti bagaimana pandangan matanya yang polos bisa membuat jantung nya kesakitan dan apa itu keringat dingin di telapak tangannya? tidak mungkin kan ia menyukai fia...