Hey Sofia

Hey Sofia
Gunakan aku



halo readers 😊


selamat membaca


semoga suka


_____________________________________


"Aww .... sakit"


"Ini juga udah pelan banget, tahan sedikit"


fia duduk dipinggir kasur sementara Ryan berlutut dengan dua kaki untuk mengobati luka fia, tunggu. ini seperti de ja vu.


dengan sangat hati-hati Ryan mengoleskan obat di tepian bibir fia tapi fia masih saja mengeluh kesakitan dan itu membuat Ryan kesal, kesal karena tangannya tak bisa berhenti gemetar.


Ryan terduduk dengan dua kaki di tekuk untuk memasang plester di kedua lutut fia, gadis itu membaca air muka Ryan yang kesal.


"kamu marah?" tanya fia setelah Ryan selesai memasang plester nya, Ryan membereskan kotak P3K nya dan menjawab fia tanpa melihat


"ga, kenapa harus marah?"


"itu, muka nya kok gitu?" fia tahu kalau Ryan berbohong.


Ryan berdiri dan menaruh kotak P3K nya di laci kasur untuk kemudian duduk disamping fia, Ryan melipat kaki kirinya di kasur dan membiarkan kaki kanannya menjuntai ke bawah, ia memegang bahunya fia agar berbalik, kini mereka berhadapan


"kenapa muka aku? ganteng ya?"


"ish...." fia memutar bola matanya, menurunkan tangan Ryan dari bahunya dan membuang pandangannya keluar jendela.


"PeDe banget kamu" Ryan tersenyum kecil


"jangan imut gitu, nanti aku cium lho"


fia memutar kepalanya dan menutup mulutnya dengan kedua tangan


"ih ngomong apaan sih!?"


Ryan mendekatkan wajahnya, jantung fia seketika berdegup kencang


"kenapa?ga mau?"


Ryan terlalu dekat sampai fia bisa merasakan hembusan napas menerpa wajahnya, bulu-bulu halus ditangan fia berdiri, udara di kamar itu mendadak panas dan membuat wajah fia memerah seperti udang rebus, fia mendorong wajah Ryan dengan kasar tapi tidak menyakitkan.


"Bu..bukan gitu" melihat fia gugup Ryan jadi tidak tega, Ryan berdiri dan mengusap lembut rambut fia.


"tenang aku ga akan cium kamu kecuali kamu ijinin"


fia mendongak ke arah Ryan, mata mereka saling memandang beberapa detik.


"kamu istirahat dulu, nanti makan malam aku panggil kamu"


**


fia berbaring di kasur empuk yang dingin karena AC, memandang langit-langit kamar yang asing baginya, langit-langit kamar itu tidak pucat seperti kamar fia melainkan berwarna hitam pekat dengan cahaya putih kelap kelip, fia merasa seperti tidur di alam bebas beratap kan langit dan bintang sebagai penerang nya, ternyata sebagus ini kamar Ryan. ya, Ryan membawa fia ke rumahnya karena kebetulan ibu Liliana sedang dinas keluar kota untuk beberapa hari, tidak mungkin Ryan membiarkan kekasihnya sendirian di rumah dalam keadaan babak belur begitu, dengan membawa baju ganti dari rumah fia, Ryan memboyong nya menginap disana,


Ryan membuka pintu kamar, ternyata fia sudah tertidur pulas dengan posisi meringkuk seperti bayi, apa AC nya terlalu dingin? Ryan menarik selimut yang berada dibawah kakinya sampai ke atas, tubuh Fia meregang begitu selimut menyentuh kulit nya, ternyata benar dia kedinginan. Ryan merangkak naik ke kasur diam-diam agar Fia tak terbangun, ia berbaring sambil memeluk punggung fia,


"kalo begini kamu ga akan kedinginan lagi".


fia meras ada sesuatu yang melingkupinya, seperti selimut.... selimut hangat, begitu merasakan ada hawa panas di tengkuk nya, ia membuka mata dan mendapati Ryan sedang memeluknya, fia pikir itu mimpi tapi Ryan mempererat pelukannya, jantung fia berhenti seketika itu juga.


"kamu.... ngapain?" tanya fia sambil berusaha lepas dari pelukan Ryan.


"sebentar aja, aku mau peluk kamu, aku ga akan lakuin hal yang aneh-aneh, aku janji" kata Ryan menerangkan


"hal yang aneh-aneh itu apa?" tanya fia polos.


"tsk... kamu nih" dan hanya ada keheningan beberapa saat


"kamu tau ga, waktu Rani cerita soal teror itu aku sangat kesal, aku marah sama diri aku sendiri karena ga bisa lindungi kamu, ga bisa jagain pacar aku"


"itu ga bener" dia mengusap punggung tangan Ryan yang ada di perutnya, padahal sudah beberapa kali kamu selamatkan aku


"aku hampir gila karena ga bisa menemukan kamu"


"maafin aku" fia benar-benar menyesal


"karena itu.... gunakanlah aku"


"hah?"


Ryan melepas pelukannya, membalikkan badan fia hingga wajah mereka kini berhadapan.


"kalo kamu marah sama seseorang dan ingin balas dendam gunakan aku, biar aku yang balas dendam buat kamu.


kalo kamu ga suka sama orang dan mau dia pergi gunakan aku, biar aku yang singkirkan orang itu buat kamu, kamu ngerti kan?"


fia berbisik pelan "iya"


tatapan mata Ryan dalam dan menenangkan, Ryan membelai dan menyilangkan rambut fia ke belakang telinga


"janji sama aku, jangan pernah rahasia kan apapun dari aku, jangan merasa sakit sendirian, kamu punya aku"


"aku janji"


fia membenamkan kepalanya di dada Ryan, ia melingkarkan tangannya di pinggang dan Ryan membalas pelukannya. fia merasa sangat aman bersama Ryan, senang mengetahui kau punya seseorang yang bisa diandalkan, fia merasakan detak jantung Ryan yang bersahutan dengan jantung nya, fia tersenyum begitu tahu Ryan juga gugup, detak jantungnya adalah simphony paling indah di telinga fia.



.


.


.


.


.


.


.


oh ya, konflik sebenarnya akan muncul saat rahasia Ryan terungkap.


sabar ya lagi on the way 😄


terima kasih