
_I want to know you more_
Sofia
****
Sofia berdiri di depan pintu rumah Ryan dan membunyikan bel meski ia tahu passcode nya, fia bisa saja langsung masuk seperti biasa tapi saat ini fia tak yakin dengan suasana hati Ryan, fia menunggu beberapa saat kemudian pintu di buka oleh Ryan sendiri. Ryan dengan wajah datar nya menyambut fia.
"Yan... " kata fia bersemangat namun Ryan membalasnya dengan reaksi dingin.
"mau apa ke sini?!"
ternyata benar Ryan marah, kini fia harus mencari cara untuk meredakan amarahnya
"aku mau ketemu kamu, kangen"
"pulang aja sana"
"Yan... dengar aku dulu.."
fia mengambil satu tangan Ryan untuk merayu nya
"jangan pegang, tangan ku lengket belum mandi!"
fia bisa menerima amarah Ryan dan ia juga tak keberatan dengan sikap dinginnya tapi begitu Ryan menghempaskan tangan fia entah kenapa hatinya menjadi sakit. fia terpaku tanpa bisa bergerak di sana,. apakah ini hari sialnya? kenapa semua orang memarahinya? setahu fia ia tidak melakukan kesalahan yang pantas membuatnya mendapat perlakuan seperti ini, pertama ibu mau pergi lalu Louis menatap tajam padanya dan sekarang Ryan dengan sikap kasarnya. sebenarnya fia melakukan kejahatan apa?
Ryan tersadar fia tidak mengikuti nya masuk, ia berbalik dan melihat fia dengan wajah putus asa dan mata memerah, ini pertama kali Ryan membuat fia menangis, ternyata rasanya sesesak ini di dada, seperti ada batu besar yang ditempatkan di sana,
Ryan mendekati fia secara insting dan merengkuh wajah nya dengan kedua tangan
"kenapa menangis?" tanya Ryan lembut
"aku cuma punya ibu, tadi pagi saat ibu bilang mau pergi aku sangat sedih, aku salah tidak memberitahu mu, aku minta maaf tapi aku bertemu kak L hanya untuk meminta bantuan padanya untuk membujuk ibu, itu saja jadi tolong jangan marah atau mengusirku"
fia di tarik ke dalam dekapan Ryan, gadis itu gemetar di bawah tangannya
"maafkan aku sudah kasar tadi aku sedikit cemburu, jangan menangis lagi ya"
"kenapa masih ga percaya? aku cuma cinta sama kamu" kata-kata fia dalam pelukan Ryan terdengar lebih seperti gumaman namun sangat jelas di telinga Ryan.
"iya aku percaya tapi kamu ga sendirian, kamu punya aku, sudah jangan menangis lagi, maafkan aku"
sekali lagi Ryan menenangkan fia, ia menepuk-nepuk pelan punggung fia sampai ia berhenti dan tenang.
"hey, kau harus melepas ku sekarang, aku benar-benar harus mandi, tubuh ku lengket"
****
sementara Ryan mandi fia menunggu dan menonton TV, begitu selesai Ryan turun dengan rambut masih basah dan hair dryer di tangannya, Ryan duduk di kaki fia dengan bersila, tanpa Ryan minta fia tahu apa yang diinginkan Ryan.
Ryan bermain game online selama fia mengeringkan rambutnya, Ryan sedang ketagihan game online dan saat ia bermain game semua orang disekitarnya seakan hilang, fia selesai dan menaruh hair dryer nya di meja lampu, fia suka memainkan rambut Ryan karena itu menyenangkan, rambutnya harum dan lembut hanya dengan shampoo, fia menyisir nya dengan tangan dan Ryan sepertinya menikmati sentuhan tangan fia,
"rambut mu sudah panjang"
"mm.. haruskah aku potong?"
"jangan, kau terlihat lebih keren"
"iya kah? kau pikir aku keren?"
tangan fia melingkar di sekitar leher Ryan dan mencium pipinya dari belakang
"pacarku paling keren" Ryan tersipu tapi matanya masih fokus di depan layar, merasa di abaikan, fia bersandar di punggung sofa.
"Yan..." tanya fia
"Hem..." jawab Ryan santai
"kau tahu kan ibu mau pergi ke London, aku mau tahu bagaimana rasanya tinggal sendiri?"
"rasanya sepi.... saat kau membutuhkan seseorang dan merasa kesepian tak ada siapapun yang menemanimu, saat kau sakit tak ada yang merawatmu... rasanya lumayan menyedihkan"
Ryan mengatakan itu dengan biasa dan terdengar tanpa beban padahal fia jadi gelisah jika memang itu kenyataan yang menanti nya. di tengah permainan Ryan tiba-tiba berhenti, Ryan yang sejak tadi mengacuhkan fia dan asyik bermain sekarang bangkit dan duduk di samping fia
"tapi kamu ga akan pernah merasakan itu, kan ada aku" fia seketika menjadi tenang hanya dengan pelukan Ryan dan janji nya yang manis.
"aku takkan pernah membiarkan mu sendirian, gunakan aku sebanyak yang kamu perlu"
benar, fia punya Ryan. apa yang fia takutkan selama ada Ryan? ia sangat amat bisa di andalkan
"bagaimana kamu bisa tahu apa yang aku pikirkan?"
"aku kan tinggal di kepala kamu" fia memandang Ryan tak percaya
"kamu masih ingat?"
"biarpun otakku ga berjalan normal tapi ingatan ku kuat, aku ga pernah lupa kalau itu tentang kamu, kapan pun kamu bisa telpon aku"
"ok.."
tapi, apakah yang Ryan katakan tentang hidup sendiri berdasarkan pengalaman pribadi? Ryan sudah 3 tahun hidup tanpa papa nya dan ia terlihat baik-baik saja, kehidupan seperti apa yang selama ini kamu jalani?
"Yan. apa itu yang kamu rasakan saat hidup sendiri?"
Ryan menjawab fia dengan senyuman yang juga berarti itu benar.
"kenapa kamu ga tinggal dengan papamu di Jerman? kenapa memilih tetap di sini?"
"aku tak ingin membuat papa khawatir terus, sejak kecelakaan, aku tak pernah berhenti menyusahkan nya, papa sering membawaku ke dokter dan aku sangat benci itu tapi papa terus memaksaku, katanya agar aku sembuh padahal aku sendiri tak tahu apa penyakitku, saat itu papa juga masih berkabung atas meninggalnya mama, satu hari saat usiaku 10 tahun, aku terbangun dari mimpi buruk, lalu aku mencari papa karena ketakutan, saat itu jam 1 pagi dan aku menemukan papa duduk tertidur di ruang kerjanya sambil memeluk foto mama, sepertinya papa habis menangis, aku tahu itu semua berat bagi papa tapi yang menakjubkan adalah keesokan paginya papa bertingkah seolah ia baik-baik saja, papa tersenyum dan tidak menunjukkan padaku betapa ia sangat kewalahan, papa bekerja, merawatku, melakukan semuanya tanpa mengeluh dan menjadikan ku prioritas utama tanpa memikirkan dirinya sendiri"
itu cerita sedih tapi saat menceritakan Ray, fia bisa melihat kekaguman di mata Ryan. dulu fia berpikir kenapa Ray sampai hati meninggalkan Ryan sendirian yang dalam masa pengobatan, sikap tak bertanggung jawab Ray ternyata hanya kesalahpahaman fia semata.
"papa ku sangat keren ya, aku sangat menghormati nya, karena itu aku memutuskan untuk mandiri, aku memilih tinggal ketika papa ingin pindah ke Jerman, agar papa bisa fokus pada pekerjaannya dan aku ingin buktikan pada papa bahwa aku baik-baik saja"
"bagaimana kau bisa bertahan sendirian?"
"awalnya berat, seperti yang kukatakan padamu tadi, semua itu benar-benar aku rasakan tapi sekarang kan ada kamu, aku jadi bisa keluar dari kegelapan... kamu cahayaku"
rasanya perih mendengar Ryan mengalami semua penderitaan itu, ia sakit tapi memilih untuk melalui nya sendiri karena tidak mau menyusahkan orang lain, Ryan tidak lemah, ia sangat kuat, lebih kuat dari yang fia bayangkan, malah lebih kuat dari nya, fia juga hancur dalam kecelakaan itu tapi ia punya ibu dan Louis di sampingnya, fia selalu bilang tanpa mereka fia takkan bisa apa-apa tapi Ryan.....
fia sedih untuk Ryan tapi ia juga senang karena ia jadi lebih mengenal Ryan, sisi yang tak pernah terungkap kini terkuak dan fia ingin lebih lebih lebih lagi mengenal Ryan.
"cukup tentang aku, bagaimana dengan mu? kamu ga pa-pa ibu pergi?"
"Hem... ibu sudah berbuat banyak untuk ku, paling tidak ini yang bisa aku lakukan untuk ibu"
Ryan mengusap punggung fia dan membagi kesedihannya
"kau tahu, ibu selalu tampak sangat bahagia saat merawat bunga-bunga nya, aku tak bisa menjadi egois dan menahan ibu ketika tahu ibu akan lebih bahagia jika ia pergi"
"lalu apa yang akan ibu lakukan disana?'
"kak L sudah menyiapkan toko bunga untuk ibu kelola, ibu pasti akan sangat senang seharian di antara bunga-bunga yang ia suka" membayangkan wajah ibunya yang bahagia fia merasa lega Lily membuat keputusan untuk pergi
"Louis.... dia perhatian sekali ya"
"kak L sejak dulu selalu seperti itu".
****
ada sesuatu yang ingin Ryan berikan pada fia, Ryan pamit sebentar untuk ke kamarnya, ia mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah, Ryan bersemangat dan tak sabar untuk menunjukkan nya pada fia,
ponsel Ryan yang tertinggal di meja berdering, fia lihat ada nama Maya di layarnya, fia tak berani mengangkatnya karena mungkin Maya bisa salah paham, fia membiarkan ponselnya berbunyi sampai mati sendiri.
Ryan datang dengan satu tangan di belakang menyembunyikan kotak hadiah fia, begitu Ryan duduk, fia langsung menyerahkan ponsel Ryan sambil berkata
"tadi ada telpon dari Maya."
"abaikan saja, ia terus menelpon ku seperti orang gila, dia juga pernah ke rumah tapi aku perintahkan untuk tidak membuka gerbang untuk nya"
"paling tidak kamu harus mengangkatnya dan meminta maaf, meninggalkan Maya di hari pertunangan nya pasti membuatnya sangat terpukul"
"kau berharap aku tidak kabur dan jadi bertunangan dengan nya?"
"bukan begitu, aku senang pertunangan kalian batal tapi jangan perlakukan Maya seperti itu, dia tidak pernah benar-benar berbuat jahat kan, dia hanya sangat menyukaimu"
Ryan mulai tak sabar, mood nya seketika menghilang saat fia menyebut nama Maya
"bisakah kita tidak membicarakan Maya?"
fia menyadari perubahan sikap Ryan dan mencoba mengalihkan pembicaraan
"kau bilang tadi ada yang ingin kau berikan, apa itu?"
Ryan mengeluarkan tangannya dari balik punggung dan memberikan kotak merah nya pada fia
"ini untuk mu"
fia mengambil nya dengan ragu-ragu, itu hanya kotak kecil berwarna merah biasa tanpa hiasan atau ukiran
"apa ini?" tanya fia
"buka lah"
kotaknya memang tidak istimewa tapi begitu fia membuka nya isinya jauh dari kata biasa, sebuah kalung dengan rantai tipis dan liontin berbentuk matahari yang berkilauan di depan mata fia, Kilauan terindah yang pernah fia lihat sepanjang eksistensi nya di bumi
"kau suka?"
fia masih terkejut, rahangnya menjuntai sampai ke lantai karena kemewahan yang berada di tangannya dan tak bisa berkata apa-apa.
"saat aku melihat liontin nya, aku teringat kamu, kupikir ini pasti sangat cocok dengan mu, kamu seperti cahaya buatku"
kalung itu di beli di Stephani & co. hanya ada satu di dunia, design nya sederhana tapi di buat dengan bahan kualitas terbaik dan di design oleh perancang perhiasan terkenal di dunia, Ryan membeli nya dengan kartu kredit unlimited dari Ray yang tak pernah Ryan gunakan sebelumnya, Ray pasti akan sangat murka begitu tagihan datang padanya tapi jika ia tahu kalung itu di beli untuk fia mungkin ia akan memaafkan Ryan
"aku tidak bisa menerima nya, ini berlebihan"
tentu saja itu reaksi yang sudah Ryan duga, fia memang selalu menolak semua kemewahan yang Ryan berikan untuk nya tapi kali ini Ryan tak menyerah dan fia tak boleh menolak nya
"kenapa Louis boleh memberikan mu sesuatu sementara aku tidak?"
"karena aku tidak punya apa-apa untuk kuberikan padamu sebagai gantinya"
"kau sendiri adalah hadiah terindah yang di berikan hidup untuk ku, kau hanya harus terus berada di sisiku, selain itu tak ada lagi yang ku mau"
fia melihat kalung itu sekali lagi, cahaya nya menyilaukan dan menggoda, bagaimanapun fia adalah seorang wanita yang menyukai keindahan tapi apa fia boleh menerima hadiah semewah itu? rasanya ada yang salah, fia tak mau orang-orang akan berpikir fia memanfaatkan pacar kaya nya untuk mendapatkan barang-barang mewah. selama ini Ryan hanya pernah membelikannya makanan di kantin sekolah, mungkin kali ini tidak apa-apa jika fia menerima nya.
selama fia berpikir, Ryan mengambil kalung itu dari tangannya
"sekali saja jangan tolak pemberianku"
Ryan kemudian mengalungkannya di leher fia
"ini benar-benar cantik"
"karena kamu yang pakai"
fia terlihat sangat cantik dan ekspresi nya menggemaskan, Ryan tak bisa menahan untuk mengecup bibir fia sesaat
cup
fia tak siap dan terkejut hingga ia mematung
"kenapa terkejut begitu?" tanya Ryan
"kamu ga minta ijin..." jawab fia polos, biasanya Ryan selalu meminta persetujuan fia sebelum Ryan mencium nya.
"kamu ga suka? ya udah aku ambil lagi ciumannya"
cup
sekali lagi Ryan mengecup bibir fia tiba-tiba
"ah... curang...!!!"
protes fia
Ryan mencuri ciuman nya sebanyak 2 kali, Ryan memanfaatkan keadaan saat fia lengah karena terpesona dengan keindahan kalung pemberiannya atau memang Ryan sengaja melakukannya?
fia bertekad membalas nya dan mengejar Ryan yang berlari mengitari ruang tamu, bersembunyi di balik sofa, menggodanya sampai fia kesal, semakin kesal fia semakin kencang juga tawa Ryan, begitu fia sudah mulai kehabisan tenaga dan kesabarannya, Ryan menangkap fia dari belakang, Ryan mengunci fia agar berhenti bergerak, fia berusaha melawan agar bebas dari penjara ryan
"Yan lepasin..."
"ga mau, sebelum kamu maafin aku"
fia sudah tidak bertenaga dan akhirnya ia berhenti melawan
"iya aku maafin, sekarang kamu bisa lepasin aku"
"tapi aku ga mau lepasin, aku mau isi ulang, boleh ya"
"Hem.."
Ryan menarik fia dalam pelukannya, sepertinya fia lah yang butuh untuk diisi ulang
"Yan... terimakasih untuk hadiahnya"
"mm... sama-sama"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
hope you like this episode 🤗
#stayathome
stay save and stay healthy 💪