
"because you bring out the best in me that no one else could do, that's why i by your side, that's why i love you"
****
fia mengikuti Lana memasuki lift, ia menekan tombol ke lantai paling atas di gedung ini, begitu pintu lift terbuka Lana mengarahkan fia ke kantor Louis, Lana hendak mengetuk sebelum pintunya terbuka dari dalam dan Louis berada di baliknya, Lana sedikit menunduk dan berkata
"saya mengantar nona Sofia sesuai perintah anda pak"
"Hem..." Louis melambaikan tangan sebagai perintah
"kalau begitu saya permisi" Lana berbalik menuju lift untuk turun ke bawah dan meninggalkan mereka dengan kecanggungan yang terasa kental, Louis tampak lelah dengan lingkaran hitam dibawah matanya yang coklat, begitu suara lift terdengar fia baru sadar dari lamunannya, Louis menatap fia dengan ekspresi datar seolah menunggu dia mengatakan sesuatu, lalu dengan terbata-bata kata-kata itu keluar juga
"fia datang mengantarkan oleh-oleh dari ibu"
Louis menerima bingkisan itu dan menyerahkannya pada Sony yang sejak tadi berdiri dibelakangnya dengan setia,
"terima kasih" kata-katanya terdengar tulus meski dengan nada yang dingin. Sony meletakkan bingkisan fia di meja dekat sofa dan mengingatkan Louis bahwa ia sudah ditunggu di ruang rapat, Louis benar-benar mengabaikan peringatan Sony.
keheningan yang melingkupi mereka terasa seperti seabad lamanya, Louis dan Sofia seperti bermain permainan memandang dimana orang yang pertama berkedip adalah yang kalah.
fia tidak bisa tahu apa yang Louis pikirkan, wajah tanpa ekspresi nya tidak terbaca , fia bahkan takut menanyakan keadaan Louis padahal itu alasannya datang, ini kah cara Louis mengatakan ia membencinya? apa louis berusaha memberitahu fia jangan datang lagi untuk menemuinya? memikirkan kemungkinan itu fia tak bisa membendung rasa sedih nya, matanya merah karena perih, fia memang tidak mengharapkan Louis menyambutnya dengan senyum dan kehangatan yang menjadi keahliannya tapi fia juga tidak siap mental diperlakukan dingin seperti itu, lalu perasaan apa ini? tiba-tiba hati Fia hampa dan kosong, bukankah ini yang fia inginkan? jarak yang jelas antara dirinya dengan Louis? namun fia tak menyangka rasanya akan sesakit ini, fia tahu ia harus pergi sebelum tangisannya pecah dan membuatnya terlihat menyedihkan di mata Louis,
"kalau gitu fia pulang dulu" fia memutar badan menuju lift tapi berhenti ketika Louis memanggilnya.
***
begitu Louis mendapat kabar dari Sony kalau Sofia ada di bawah, ia menjadi ceria dan tak bisa menahan untuk segera berlari turun dan menemuinya, itu sebelum Louis sadar status mereka yang sudah dibuat jelas oleh fia di malam badai itu, Louis terduduk lemas, ia mengaitkan jari-jarinya dengan siku diatas meja dan dahi menempel disana, berpikir ia sudah tidak bisa seperti dulu lagi, jangan sampai Louis mematahkan usaha fia membangun jembatan diantara mereka, usaha yang Louis yakin juga menghancurkan fia, Louis bisa tahu itu ketika fia meminta maaf dengan tersedu padanya dalam keadaan demam, maka Louis memasang wajah dingin pada fia sepanjang pertemuan mereka, Louis hampir berhasil sampai ketika fia berbalik pulang ia menangkap setitik air mata yang tertahan di ujung matanya, Louis didera kebingungan, kenapa fia menangis? apa Louis telah berbuat salah? Louis memanggil fia sebelum ia alat berpikir dan bertanya padanya, kini Louis melembutkan ekspresi nya
"kamu pulang baik apa?"
"naik taksi"
"mas Sony" Louis beralih ke Sony dan memberinya perintah
"ya pak" Sony maju ke sisi Louis dengan sekali langkah
"siapkan supir untuk mengantar Sofia pulang" Louis mengatakannya tanpa mengalihkan pandangan dari fia,
Sony langsing membuat panggilan telepon dan mengatur supir untuk fia sesuai perintah, Louis perlahan mendekat dan berhenti tepat didepan fia, gadis itu mendongak melihat Louis yang menjulang tinggi di hadapannya, mata coklatnya teduh tidak dingin seperti sebelumnya, pertahanan fia seketika itu runtuh dan ia mulai terisak
"aku ga bisa antar karena ada rapat.... kamu hati-hati pulangnya"
****
barulah setelah Audi itu menghilang dari pandangannya fia kembali dari lamunannya, ia membuka pagar rumahnya dengan kesusahan ketika kuncinya tersangkut, jari-jari fia bergetar hebat tanpa ia bisa kendalikan, ia melupakan kunci itu dan berbalik dengan cepat hingga ia limbung sesaat ketika seseorang memanggil namanya "bunga", fia seolah sedang berada di ruang hampa udara, paru-parunya berjuang mencari udara yang tidak bisa ia temukan,
matanya mulai berkaca-kaca menghasilkan pandangan kabur untuk nya tapi meski dalam keadaan mata tertutup sekalipun fia mengenali suara itu, fia mengalami 168 jam dalam kerinduan yang menyakitkan untuk saat-saat seperti ini, semua rasa rindu, sakit, marah dan prasangka berbaur menjadi satu bersamaan dengan Ryan yang berdiri dihadapan fia dengan senyuman mataharinya, meski kakinya terasa lunglai fia mengumpulkan tenaga yang masih tersisa di dirinya dan melangkah pelan namun mantab ke arah Ryan, begitu fia cukup dekat dengannya, fia bisa merasakan detak jantung memburu yang bukan berasal dari jantungnya, fia mengangkat sebelah tangannya yang masih gemetar dan menyentuhkannya ke pipi Ryan, fia terkesiap sedikit terkejut karena kulitnya bersentuhan, rasanya seperti terkena aliran listrik tapi fia suka karena sakitnya menandakan kalau ini nyata, berapa kali fia bermimpi bertemu Ryan dan saat tangannya akan menggapai hanya ada kehampaan disana,
Air mata mulai mengalir tanpa ijinnya, tidak deras, hanya Air mata kebahagiaan, louis menangkap tangan fia yang masih berada di pipinya, di cium nya telapak dan punggung tangan fia secara bergantian, tidak siap dengan itu, fia menarik tangannya yang sedang dicumbu Ryan, kini tangannya mengepal dan memukul tepat di dada Ryan yang keras, pukulannya lemah hingga lebih mirip seperti gelitikan
"aww... sakit yank" Ryan mengaduh sambil tertawa hanya untuk menggodanya, fia berkata "jahat" sambil terus memukulnya, Ryan membebaskan fia melampiaskan kekesalannya karena memang itu yang pantas ia dapatkan setelah menghilang tanpa kabar, ya. walaupun itu tidak sepenuhnya salah Ryan, Raytama lah yang sudah menyita ponsel dan dompet nya, ia harus menuruti kata-kata Ray jika ingin kembali dan bertemu dengan fia, maka itu lah yang ia lakukan, Ryan menahan semua rasa rindunya pada fia yang menusuk sampai ke tulang agar satu hari ia bisa melepas kerinduannya,
Ray tidak melewatkan kesempatan saat Ryan jauh dari fia, niat awal Ray adalah mengenalkannya pada putri dari rekan-rekan bisnisnya, putri-putri yang cantik dan dari latar belakang keluarga mengesankan yang sepadan jika disandingkan dengan keluarga Aji Prasetya, Ryan muak dengan semua pertemuan bisnis papa nya yang disusupi niat terselubung, malam itu adalah malam terakhir Ryan, ia tidak sabar menunggu besok dan bertemu fia,
Ryan dan Ray berada di pesta ulang tahun dari anak rekan bisnis Ray. Maya Angela Wijaya si gadis yang berulang tahun adalah putri dari teman semasa SMA Ray, Maya adalah gadis cantik dengan keanggunan yang luar biasa, ia punya daya magnet yang mudah menarik orang-orang untuk mendekatinya, ia tersenyum dan tertawa Sepanjang pesta menikmati perannya sebagai ratu malam itu, Maya sesekali melayangkan pandangannya ke arah Ryan dalam safarinya menyapa para tamu, Ryan sendiri sedang berada di beranda, ia menikmati malam yang sejuk, bulan terlihat lebih besar dari hari-hari kemarin, bulannya begitu dekat hingga ketika Ryan menjulurkan tangan ia bisa menyentuhnya, siluet sempurna Ryan dibawah cahaya bulan tertangkap oleh Maya, ia menghampiri Ryan dengan melenggak-lenggok layaknya kucing Persia yang manja
"Halo, boleh bergabung disini?"
" ini rumah mu nona, kau bisa berada dimana saja yang kau mau" Ryan menjawab tanpa berpaling, ia mengirim sinyal tidak tertarik yang sangat kuat pada Maya, bagi wanita sepintar Maya sinyal itu bisa ia mengerti tapi ia memilih mengabaikan nya.
" kau Ryan kan? anak dari om Ray?"
"entah kenapa aku tidak terkejut"
"oh, ayolah .. aku adalah gadis yang berulang tahun, bisakah keramahan mu menjadi hadiah ku?"
Ryan melirik Maya dan berpikir sejenak
"kau benar, tidak seharusnya suasana hatiku yang buruk kulampiaskan padamu, maafkan aku"
"kau beruntung hatiku sangat baik, aku memaafkanmu tapi dengan satu syarat"
"apa?"
"kita berteman"
****
Ryan tidak bisa lagi menahan diri nya untuk menarik fia ke dalam dekapannya yang hangat, memenjarakan fia dengan kedua tangannya, menyembunyikan wajah cantik fia yang menghantui Ryan di dadanya, bagaimana bisa tubuh mungil fia sangat pas dalam pelukannya? seolah ia diciptakan memang untuk di peluk olehnya, Ryan terbenam diantara leher dan bahu fia, menghirup dalam-dalam aroma khas bunga yang menggelitik, hidung Ryan mengenali aroma ini, aroma bunga yang mematikan, Ryan mengangkat bahu nya melilit fia semakin erat seperti ular yang melilit mangsanya, fia tak hanya pasrah menerima begitu banyak rindu dari Ryan, ia juga melingkarkan tangannya di pinggang Ryan, jari-jarinya mengunci disana dan tidak membiarkan tubuh Louis bergerak, dada Ryan yang keras dianggap seperti bantal berbulu angsa, tak ada kata-kata yang terucap dari keduanya melainkan tubuh mereka yang berbicara saling melepas kerinduan. setelah kebisuan panjang yang terasa seperti seumur hidup itu akhirnya Ryan berkata
"orang jahat ini merindukanmu".